Hati-hati, Pernikahan Dini Bikin Wanita Berisiko Kanker Serviks

Trending 1 week ago 7
ARTICLE AD BOX

Pernikahan awal menyebabkan dampak kesehatan salah satunya kanker serviks. Pernikahan awal menyebabkan dampak kesehatan salah satunya kanker serviks. ( iStock/Luke Chan)

Jakarta, Instastori Indonesia --

Pernikahan awal kembali menghebohkan Indonesia. Salah satu kasus pernikahan dini yang menjadi sorotan ialah pernikahan kakek 50 tahun dengan remaja berusia 14 tahun di Lombok. 

Banyak unsur yang melatarbelakangi terjadinya pernikahan awal atau pernikahan di bawah umur, mulai dari unsur sosial, ekonomi, bahkan budaya. Namun, diketahui akan ada dampak kesehatan yang muncul akibat pernikahan dini, salah satunya kanker serviks.

Disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Ernawati, kalau pernikahan awal dilakukan, tak menutup kemungkinan potensi terjadinya kehamilan. Hal ini dapat terjadi kalau pihak wanita telah mengalami menstruasi pertamanya yang menandakan kegunaan reproduksinya berkembang.

"Secara reproduksi dapat saja pada usia empat belas tahun kegunaan reproduksinya sudah berkembang, sudah mendapatkan haid pertamanya," imbuh Ernawati lewat pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com.

"Tapi ketika kehamilan terjadi pada remaja, maka yang perlu dipikirkan ialah kesehatannya saat dia hamil," katanya.

Ernawati juga menegaskan bahwa kehamilan usia remaja berisiko tinggi mengalami komplikasi pada saat kehamilan meningkat, seperti terjadinya komplikasi seperti preeklamsia atau hambatan pertumbuhan pada bayi risikonya tinggi pada kehamilan di bawah umur.

Preeklamsia merupakan masalah saat bunda mengalami tekanan darah yang tinggi saat masa kehamilannya.

"Dari sisi reproduksi yang lain kalau [remaja] melakukan kegunaan seksual sedini mungkin pada saat itu organnya belum matang. Jika serviksnya terpapar terlalu awal maka risiko untuk terjadi kanker serviks juga meningkat," tambahnya.

Serviks dapat disebut juga dengan leher rahim. Sedangkan kanker serviks terjadi ketika terdapat sel-sel di leher rahim berkembang secara tak normal dan tak terkendali.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi UNAIR lainnya, Birama Robby, juga menyetujui pernyataan tersebut.

"Salah satu unsur risiko kanker serviks itu pernikahan awal jadi hubungan seks yang dilakukan terlalu awal," paparnya.

Di samping itu, rupanya pemerintah sudah mengatur peraturan mengenai perkawinan dengan peraturan Undang-undang No.16 tahun 2019 pasal 7 yang menyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.

Peraturan pemerintah yang dibuat mempunyai dalih tertentu, salah satunya dari segi kesehatan reproduksi perempuan. Ernawati juga menjelaskan bahwa kegunaan reproduksi wanita mencapai fase perkembangan terbaik ialah saat mereka berusia 19 hingga 20 tahun.

"Fungsi reproduksi wanita dianggap sudah mencapai tahap optimum pada usia sembilan belas tiba dua puluh tahun," katanya.