Profil instastories

Haruskan Ibu Pergi Secepat Ini?

Haruskan Ibu Pergi Secepat Ini?

Ibu, sosok wanita kuat yang menjadi kebanggaan putra-putrinya. Aku tak pernah menyangka kalau ibu akan pergi secepat itu.

Namaku Aisyah. Orang-orang biasa memanggilku Aish. Aku tinggal dengan Ayah, dan ketiga saudaraku. Ayah bekerja di sebuah TPU sebagai pengawas. Ayah harus bekerja setiap hari, karena dalam pekerjaannya tidak ada hari libur. Jika Ayah tidak berangkat berarti tidak digaji. Bahkan saat malam takbiran pun Ayah masih harus bekerja. Sebenarnya Aku tidak suka seperti ini. Aku juga ingin di hari special seperti itu Aku bisa berkumpul dengan Ayah, kakak, serta kedua adikku. Tapi apa boleh buat, Ayah harus bekerja demi kami. Aku kasihan dengan Ayah. Tapi tak banyak yang bisa kulakukan. Hanya doa semoga Ayah selalu diberi perlindungan dan kesehatan. Setiap malam lebaran, kira-kira jam 9 malam Ayah ditemani kakaku berangkat ke kota untuk melaksanakan tugasnya. Aku tetap dirumah bersama kedua adikku. Saat masih ada ibu kami akan keluar sebentar lalu kembali ke rumah menghabiskan malam takbiran berempat. Semenjak ibu meninggal, suasana malam takbiranku  semakin sepi, hanya ada aku dengan kedua adikku. Sesekali memang ada saudara yang datang namun hanya sebentar. Sedih pasti, tapi semua telah terjadi. Semoga Ibu bahagia dialam sana. Kini akulah yang harus menggantikan posisi ibu dirumah. Karena aku anak perempuan pertama dalam keluargaku.

Lima tahun sudah Ibu pergi. Dan tahun ini akan menjadi tahun ke enam aku merayakan hari raya tanpa ibu. Hari itu begitu menyakitkan bagiku, dan untuk keluargaku. Hari dimana sosok wanita yang sangat kami sayangi harus pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Hari itu aku dan adikku berangkat ke sekolah seperti biasanya. Pagi ini ayah tidak bekerja, karena harus mengantar ibu untuk check up. Ibu membonceng Ayah seperti biasa, hanya saja Ibu terlihat agak lemas. Ibu memang sering lemas seperti itu. Sekitar sepuluh tahun sudah ibu sakit. Sejak melahirkan adik bungsuku. Setiap bulan ibu harus rutin mengecek kesehatannya. Obat menjadi sesuatu yang harus dikonsumsinya secara rutin. Seperti camilan mungkin.

Sepulang sekolah aku tak mendapati ibu dan ayah dirumah. Kaka bilang Ibu harus dirawat di Rumah Sakit untuk sementara waktu.

“Kak, Ibu sama Ayah belum pulang?” tanyaku pada kakak yang sedang duduk diteras rumah.

“Aish, ibu dirawat, jadi ayah nemenin ibu. Kamu ganti pakaian, trus makan. Nanti kita kerumah sakit, bawa pakaian ibu sekalian.”

“Iya kak. Tapi ibuk ndak apa-apa kan ka? Trus adek mana kak?” tanyaku lagi mencari adik bungsuku yang sedari tadi tak terlihat.

“Iya, Ibu gak kenapa-kenapa. Cuma butuh istirahat disana. Kalo Adek dirumah bude. Biar dia disana dulu. Kata ayah adek gak usah diajak”

“owhhh” aku hanya mengangguk dan masuk kedalam rumah.

Karena cuacanya mendung, sebelum pergi kerumah sakit aku mengangkat jemuran terlebih dahulu lalu melipatnya. Belum selesai aku merapikan baju-baju itu, tante Tin, keponakan Ayah datang kerumahku dan berbicara kepada kaka dengan berbisik jadi aku tak mendengarnya begitu jelas. Sekilas aku mendengar tante meminta kakaku untuk merapikan ruang tamu.

Tapi kulihat wajah kakaku berubah sesaat setelah berbicara dengan tante Tin. Kaka seperti sangat shock, dan matanya berkaca-kaca. Aku heran, tak pernah aku melihat kakaku seperti itu. Apalagi sampai menangis.

“Sebenernya ada apa sih, kenapa kakak bisa nangis gitu. Tante Tin tadi ngomong apa.” Batinku.

Mata kaka masih berkaca, tapi dia tak mengatakan apapun padaku, hanya terus merapikan ruang tamu dan memindahkan semua kersi-kursinya.

Beberapa menit kemudian, nenekku datang dan tiba-tiba memelukku. Nenek menangis dan mengatakan bahwa aku harus sabar. Aku semakin bingung.

“Ada apa nek, kenapa nenek nangis. Sebenernya ada apa” tanyaku pada nenek, yang semakin kencang memelukku. Ditengah kebingunganku terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Karena penasaran aku keluar dan betapa kagetnya aku, mobil putih yang biasa kulihat dirumah sakit atau dijalan-jalan dengan suara sirine khasnya itu berhenti didepan rumahku, dan ayah keluar dari dalam mobil itu. Apa maksud semua ini Tuhan. Tubuhku langsung lemas, kedua kakiku tak mampu menopang berat tubuhku, hingga aku terjatuh. Ayah berlari memelukku dengan erat. Aku menangis sejadi-jadinya melihat wanita yang begitu kucintai dibopong oleh petugas rumah sakit dengan tubuhnya yang telah kaku dan pucat. 

“Ayah,,,ibu kenapa.. Ayah ini gak mungkin kan ayah. Ibu yah ibu….” Aku terus menangis sedang ayah berusaha untuk menguatkanku meski ia sendiri juga sangat terpukul.

“Sabar sayang, ikhlaskan ibumu. Ibu sudah kembali pada Pemiliknya. Ibu sudah bahagia. Ikhlaskan ibu nak.” Ayah berusaha menenangkanku meski ia juga masih menangis.

“Ayah, kenapa ibu pergi yah, kenapa secepat ini yah…Ini nggak mungkin kan yah, ibu gak boleh pergi yah” Aku masih belum menerima dengan kepergian ibu. Namun ayah terus menenangkanku dan mengingatkanku bahwa ini semua sudah menjadi takdirNya. Bahwa ibu sudah bahagia disana. Ibu tidak harus minum obat setiap hari. Ibu tidak harus merasakan sakitnya lagi.

“Sudah yah nak, ikhlaskan Ibumu. Biarkan dia bahagia disana. Allah lebih sayang ibumu. Ibumu sudah tenang disisiNya, jadi kamu harus ikhlas, relakan kepergian ibumu. Apa kamu ndak kasian sama ibu yang setiap hari harus minum obat begitu banyaknya. Ibu harus kesakitan. Ibu harus chek up rutin. Kan kasihan ibu nak. Sudah yah” Ucap Ayahku

“iya yah”, aku berusaha mengikhlaskan kepergian ibu. Benar kata ayah, kasihan ibu jika harus terus-terusan menahan sakitnya, dan minum obat-obatan sebanyak itu setiap harinya. Sepuluh tahun sudah ibu hidup seperti itu. Mungkin ini memang yang terbaik untuk ibu.

“Allah lebih sayang ibu. Allah ingin ibu tak lagi merasakan sakit. Semoga sakitnya selama ini menjadi penggugur dosa ibu. Pasti ibu bahagia disana. Jadi aku harus bisa merelakan ibu.” Gumamku.

“Ayah bagaimana dengan Reni ? tanyaku pada Ayah.

Reni adalah adik pertamaku. Saat itu Reni masih berada di pesantren. Karena ia memang melanjutkan sekolahnya dipesantren.

“Ayah tadi minta tolong kepada Pamanmu untuk menjemput Reni.”

“Apa dia tau kalau ibu meninggal?”

“belum nak. Ayah sengaja bilang kepamanmu untuk tak memberitahukan adikmu. Biar dia nggak nangis dijalan. Kasihan nanti kalo dia kepikiran di jalan.” Ucap ayahku menjelaskan.

Kasihan Reni. Dia pasti akan kaget sesampainya dirumah nanti. Aku tak bisa membayangkannya.

Orang-orang sudah ramai dirumahku. Bahkan jalanan ditutup karena penuh dengan pelayat. Orang-orang didalam membacakan Surah Yaa Sinn. Kami menunggu kepulangan Reni, sebelum Ibu dimakamkan.

Beberapa jam kemudian, Reni sampai dirumah. Reni terlihat bingung dan kaget melihat banyak orang-orang didepan rumahnya. Ayah menghampiri Reni dan menuntun Reni masuk kerumah. Aku masih tak bisa mengehntikan tangisku, terlebih memikirkan Reni yang kepulangannya disambut dengan kepergian ibu. Sesampainya didepan pintu, Reni melihatku menangis dan aku berlari memeluknya.

“Ibu Ren, ibu.”

“Ibu kenapa kak. Ibu kenapa”

Aku tak mampu mengatakan pada Reni, aku hanya diam dan menunjuk kedalam rumah.

“Astaghfirullah, Ibu…” Tangis Reni pun pecah. Ia berlari dan memeluk Ibu. “Ibu…Kenapa ibu. Bangun bu. Ya Allah.”

Aku menghampiri Reni dan memeluknya. Begitu juga dengan Ayah dan adik bungsuku. Sedang Kakaku masih sibuk mengurus untuk pemakaman ibu

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani