Profil instastories

I'm tryna write everything.

Hari ke-300

"Yerin, apa kau ingat? Besok adalah hari ke tiga ratus kita. Apa kau belum ingin bangun juga? Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu bersamaku? Kau kan suka sekali ke pasar malam. Bagaimana kalau kita ke sana? Ah, tapi kau belum bangun juga. Bagaimana dengan lima porsi samyang? Kau pasti akan meloncat-loncat kegirangan."

"Bangun, bodoh! Aku akan ke sini lagi besok. Kalau kau belum bangun juga, aku tidak akan mengunjungi ruangan serba putih ini lagi. Camkan, ya!"

 

Aku tersenyum. Alarm perjalananku sudah berbunyi lagi. Ternyata Jisung benar-benar tidak pernah bosan berceloteh dengan diriku yang masih tidur selama 25 hari ini. Ini benar-benar membuatku semakin semangat untuk berjalan ke ujung pintu sana. Pintu yang sangat dicari-cari oleh orang-orang sepertiku. Sesekali aku berlari, tidak sabar untuk keluar dari ruangan kosong ini. Aku ingin melihat terangnya dunia. Aku merindukan ibu, ayah, kakak, dan Jisung kekasihku. 

 

Setelah perjalanan yang cukup panjang ini, akhirnya aku mulai melihat dengan jelas pintu itu. Aku semakin kegirangan. Langkah kakiku semakin kupercepat. Aku tidak ingin berlama-lama lagi di ruangan kosong ini. Tak lama kemudian aku berhasil meraih knop pintu itu. Dengan tangan bergetar, aku mencoba untuk menarik knop itu. Lagi-lagi aku mendengar suara ibuku. Namun beda dengan suara ibu sebelumnya, suaranya saat ini terdengar seperti orang yang sangat bahagia. Apa ibu tahu bahwa aku akan segera keluar dari ruangan kosong ini?

 

Dengan mantap, knop pintu itu aku tarik. Namun setelah pintu terbuka, sebuah cahaya langsung masuk begitu terangnya—sampai mataku harus kukedipkan berkali-kali. Tak berselang lama, mataku pun mulai merasa terbiasa dengan cahaya itu. Hingga kemudian aku melihat dua wajah yang sudah lama aku rindukan—ayah dan ibuku. "Yerin! Yerin! Kau benar-benar sudah bangun?" Itu suara ibuku. Suara yang juga selalu ku dengar saat aku masih berada di ruangan kosong sana. Dan kini aku tahu, bahwa aku sudah kembali ke dunia.

 

***

 

Satu hari setelah aku sadar.

 

"Wah ... nakal sekali perempuan ini. Kau pasti bangun karena aku iming-imingi pasar malam dan lima porsi samyang. Benar-benar ...." ucap Jisung sembari mengacak-acak rambutku dengan kasar.

 

"Ya! Tak bisakah kau bersikap lembut dengan pacarmu sendiri?" sahutku pura-pura kesal. (*Hei!)

 

"Tidak bisa. Tidak, tidak, tidak. Kenapa kau baru bangun, hm? Kalau tahu kau akan bangun setelah aku iming-imingi itu, pasti aku akan melakukannya sejak dulu. Kau pasti mendengar semua ceritaku, kan, waktu kau masih koma?"

 

Aku tersenyum. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Maksudku, berpikir bahwa aku bangun dari komaku karena diiming-imingi jalan-jalan ke pasar malam dan juga dibelikan lima porsi samyang? Ya ampun ... padahal aku tidak berpikiran sejauh itu. Yang aku pikirkan hanya keluar, keluar, dan keluar dari ruangan kosong itu. "Anniya, aku tidak selicik itu. Aku bangun karena sudah menemukan jalan keluarku. Bukan karena omong kosongmu itu. Apa kau percaya bahwa aku ditempatkan di ruangan kosong saat manusia bilang bahwa aku sedang koma?" (*Tidak,)

 

Jisung menggeleng, membuat bibirku mengerucut secara spontan. "Apa kau akan bilang bahwa kau berada di alam lain?" tanya Jisung yang langsung kujawab dengan anggukan kepalaku.

 

"Mana aku peduli dengan alam lain itu. Yang penting kau sudah bangun sekarang." kata Jisung dengan wajah serius.

 

Aku mengedikkan bahu, mengiyakan. "Ah, ya! Tepati janjimu sekarang! Ini hari ke tiga ratus kita, kan? Aku sudah bangun. Dan sekarang kau harus menepati omongan kosongmu kemarin itu."

 

"Mworago? Kau bilang janjiku ini omong kosong? Ya! Memangnya kau akan pergi ke pasar malam dan makan lima porsi samyang dengan keadaan seperti ini? Kau ingin aku dibakar hidup-hidup oleh ayahmu, ya?" (*Apa yang kau katakan?) jawab Jisung yang terlihat kesal denganku. Hihihi ..., biar saja. Jisung memang seperti itu. Dia paling tidak suka jika perkataannya itu dianggap omong kosong. 

 

"Kalau begitu, harusnya kau tidak usah bilang seperti itu kemarin."

 

"Wae? Agar kau tidak bangun dari komamu, huh?" (*Kenapa?)

 

"Ne." (*Iya.) jawabku dengan santai. Sontak setelah aku menjawab seperti itu, Jisung pun menoleh dengan tatapan tidak terima.

 

"Kau ini hati-hati kalau bicara. Apa kau mau mati sebelum menikah denganku, hm? Memangnya, kau tidak mau membuat Jisung kecil, ya?" ujar Jisung langsung memasang muka mesumnya.

 

"Tidak. Aku tidak mau kalau kau tidak menepati omong kosongmu. Setidaknya satu porsi samyang." jawabku sembari bersedekap dada seperti anak kecil.

 

"Kau ini belum boleh makan mie, bodoh! Setelah rencanamu ingin aku dibakar hidup-hidup oleh ayah, kau juga ingin aku disuntik mati oleh doktermu, huh?" balas Jisung yang berhasil membuatku tertawa.

 

"Oke-oke. Aku hanya bercanda. Sekarang aku mau tidur." ujarku lalu menarik selimut tebal yang ibu bawa dari rumah.

 

"Ya! Ya! Ya! Kau tidak ingin melakukan sesuatu denganku? Astaga ... ini hari ketiga ratus kita, Yerin." kata Jisung dengan gemas sembari menarik selimutku ke dekapannya.

 

Aku terkekeh mendengar perkataan Jisung, "Kau ingin kita melakukan apa? Tidur bersama? Ranjang rumah sakit tidak muat untuk berdua. Sana pulang saja!"

 

Cup!

 

Tanpa aba-aba, Jisung mencium bibirku sekilas dan tersenyum tanpa dosa. "Setidaknya seperti ini." ujarnya lalu mengedipkan sebelah matanya. Aigoo, ini ciuman pertamaku setelah aku terbangun dari komaku. 

 

"Jaljja!" (*Selamat malam!) ucapnya lalu tersenyum dan mengacak-acak rambutku dengan lembut.

***

 

Dua minggu kemudian.

 

"Kau ingin naik apa lagi?" tanya Jisung padaku. Aku menggeleng. Aku sudah cukup lelah menaiki wahana-wahana di pasar malam ini.

 

"Aku ingin kau membeli permen kapas itu." ujarku yang disambut oleh kernyitan dahi milik Jisung.

 

"Kau tidak boleh makan permen, Sayang." 

 

"Bukan aku. Tapi kau. Kau yang akan makan itu."

 

"Mwo?! Tidak. Tidak mau. Kau mau membuat lidahku gatal-gatal, ya? Aku tidak mau untuk yang satu ini." (*Apa?!) protes Jisung dengan muka-muka takut. Melihat itu, aku pun terkekeh. Niatku untuk mengerjai Jisung pun semakin besar.

 

Aku memicingkan mata dan mendekatkan kepalaku dengan Jisung, "Kau yakin tidak mau, hm?" ucapku yang malah membuatnya lari. Melihat itu pun aku tertawa terbahak-bahak. Masih dengan tawa yang keluar dari mulutku, aku pun berlari menyusul Jisung yang tidak sekalipun menoleh ke arahku.

 

Dan malam ini pun, aku dan Jisung menghabiskan waktu dengan berlarian menyusuri pasar malam.

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani