Profil instastories

Saya merupakan anak bungsu dari Lima bersaudara dan saya ingin membanggakan ibu saya Yang telah memebesarkan saya Dan kakak -kakak saya dengan single parents.

Happy Birthday Emak 😘

Happy Birthday Emak😘

 

     Pagi yang dingin membangunkan ku dari tidur, hari ini aku akan segera pergi ke jalanan untuk menjual asongan. Aku menjual minuman, makanan, dan tisu, aku tinggal bersama bapakbapak, emak, dan adik ku. Aku anak pertama dari dua bersaudar nama ku Kintan Hasna Perdana dan adik ku bernama Dwi Raya Sastro widya, aku anak dari keluarga sederhana kedua orang tua ku hanyalah petani srabutan dan aku sudah tidak sekolah lagi sebab bapak dan emak harus membiayai Raya adik ku untuk meluluskan sekolahnya, dan aku harus mengalah. Aku sekarang menjadi gadis yang harus mandiri, sebab aku anak pertama aku banting tulang untuk membantu bapak dan ibu untuk mencari nafkah. Seperti biasa usai bangun tidur aku beres-beres dan bergegas untuk pergi berjualan, aku berjualan menggunakan tas khusus yang dibuatkan bapak untuk ku.

     "Aqua, roti, tisu," triak ku sambil berjalan menelusuri trotoar yang ramai dengan pejalan kaki. 

    Setiap hari pekerjaan ku seperti ini, mencari lembaran kertas mulia dibawah panasnya matahari. Sudah hampir setengah jam aku berjualan, dagangan ku baru terjual dua satu aqua dan satu roti. Sungguh melelahkan, tapi aku harus menjalaninya dengan ikhlas sebab banyak orang yang lebih susah dari ku. Matahari mualai menengah menandakan bahwa hari sudah jam 12:00 aku segera berteduh di bawah pohon rindang dekat dengan sekolahan SMP, aku menulis cerita di buku diary yang selalu ku bawa saat berjualan. 

     "Tuhan sangat baik pada ku, walau aku tak diizinkannya untuk menuntut ilmu tapi aku tetap di beri kelancaran hidup, paling tidak aku bisa membantu orang tua ku" ku tulis kata itu dalam buku diary. Bel istirahat kedua bunyi, anak-anak seumuran dengan ku berhamburan untuk mencari makan siang. Aku yang tadi nya duduk kini mulai berdiri di dekat pagar sekolah. Hanya ada satu anak yang mau membeli daganganku. 

     "Kak, aku mau beli aqua dan dua roti nya ya, " ucap nya sambil menyodorkan uang sepuluh ribuan. 

     Dengan ligat aku langsung melayani nya, tak lama kemudian anak-anak yang lain datang. Dengan cepat dagangan ku habis, kini aku sudah membawa kertas mulia itu atau yang sering disebut uang. Dengan hati gembira aku pulang ke rumah, setiba nya di rumah aku langsung masuk kamar dan melihat tanggalan. 

    "Satu minggu lagi emak ulang tahun" gumam ku dalam hati. Tiba-tiba terpikir dibenak ku untuk membelikan emak satu buah mukenah dan sajadah, sebab mukenah dan sajadah yang emak pakai sudah jelek. 

                             ******

     Hari demi hari telah beralalu, tinggal tiga hari lagi emak ulang tahun sedangkan uang tabungan ku baru terkumpul 150.000.00, dengan hati resah aku pergi ke pasar untuk menanyakan berapa harga mukenah dan sajadah yang baru. Aku berjalan sambil membawa kantong plastik yang berisi uang. Setibanya di pasar aku langsung memilih toko penjual mekenah dan sajadah. 

    "Mbak, itu harga mukenah yang sudah di parsel berapa? " tanya ku sambil menunjuk kearah parsel cantik berhias pita ping itu. 

   "250.000.00 dek, ada apa ya" 

   "Bisa disimpan dulu nggak mbak?  Soalnya uang saya baru ada 150.000.00" jawab ku. 

   "Bisa dek, nanti kakak tunggu dua hari kalau nggak adek ambil akan kakak jual, " ucap penjaga toko. 

   "Kalau nggak aku kasih dp dulu deh kak, nanti sisa nya aku antar kalau udah ada".

                              ******

    "ukh..., ukhuk... " suara batuk emak yang tambah parah membuat ku khawatir. Akan tetapi emak selalu menyakinkan ku bahwa beliau tidak apa-apa. 

    "Mak, emak nggak papakan? " tanyaku cemas. 

    "Nggak papa kok Ntan, mungkin emak capek aja, " tutur beliau menyakinkan. 

    Sudah semalaman emak batuk-batuk, akan tetapi pagi ini aku harus berjualan karena aku harus membayar parsel mukenah yang sudah ku beri dp. 

    "Raya, kamu kan lagi libur jagain emak ya," pjnta ku kepada Raya. 

     "Siap mbak, aku akan jagain emak selagi mbak sama bapak kerja".

    "Iya Ray, kamu jagain emak ya, " timpal bapak. 

    Senja sudah menampakkan rona jjngga nya. Akupun pulang kerumah sambil membawa parsel yang sudsh ku beli. Setiba dirumah aku kaget, sebab tak biasa-biasanya rumah ku ramai orang. Ku amati lebih dahulu sebelum aku berteriak panik, dan mata ku terhenti saat ku melihat bendera kuning yang di pasang apada tonggak yang sudah keropos itu. Ku berlari menuju rumah sambil menangis, dan ternyata batin ku benar. Bahwa yang meninggal adalah bidadari tak bersayapku yang sedang sakut batuk. 

    "Emak....," jeritku sambil memeluk tubuh yang sudah ditinggalkan oleh ruh nys untuk selamanya. 

    "Kintan, sudah nak..., kita harus kuat harus ikhlas dengan segalanya nak, " pinta bapak sambil memeluk ku. 

     "Emak, ini kan hari ulang tahun emak, kenapa emak pulang? Kintan udah beliin kado buat emak, " ucap ku sambil menggoyangkan jasad emak. 

     "Kak, tuhan lebih sayang sama emak, maka di hari ulang tahun emak tuhan memanggil emak untuk pulang, " timpal Raya sambil memeluk ku juga. 

    Tangisan haru kehilangan bidadari terindah sangatlah memilukan. Tetapi tangisan yang tak mengikhlaskan membuat bidadari ku berat untuk meninggalkan. Maka aku belajar untuk mengikhlaskan emak untuk pulang. 

 

I Love You Emak.  😘

Dharmasraya, 18 Desember 2019

 

    

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani