Profil instastories

Hanya Tentang Kamu

Aku berjalan melewati koridor kampus bersama sahabat ku Vita, sambil sesekali membenarkan  anak rambut yang menganggu sudut mata. Ku lirik Vita sibuk membetulkan posisi jilbabnya yang selalu rusak tertiup angin.  Untuk menunggu mata kuliah berikutnya,  kami memilih  kantin untuk mengisi perut kami yang sejak pagi belum terisi. Karena jarang kami punya jam kosong bersamaan seperti ini. Biasanya kami memilih duduk di taman, atau pergi ke perpustakan bersama untuk mencari referensi untuk tugas  atau hanya menemani Vita mencari buku bacaan. Dia tidak pernah tidak memegang  buku di waktu senggangnya. Tiba-tiba langkah  Vita terhenti dan dia  menepuk jidatnya.                                                     

  “Ada apa?”  Tanyaku, yang juga menghentikan langkahku.      

 “Hampir saja aku lupa!”  Ujarnya dengan nada tinggi.

    “Apa?” aku memberi tekanan pada suaraku untuk meminta jawaban. 

  “Aku belum  bayar untuk semester ini.”

   “Mau aku temani?”                                                                  

 “ Tidak, aku sendiri saja.”       

“Aku tunggu di taman.” tanpa menjawab dia  langsung berputar arah kembali ke kelasnya.  Aku melihatnya hingga dia hilang di tikungan

  Seperti biasa taman terlihat ramai, aku mencari kursi yang kosong. Aku memilih duduk di sudut taman. Saat aku berjalan menuju ke sana aku melihat seseorang yang sejak setahun lalu mencuri perhatianku. Bahkan dipertemuan pertama kami. Langkahku terhenti selama dua detik dan lagi-lagi jantungku berdetak lebih cepat hingga aku bisa mendengarnya.  Aku duduk dengan posisi memunggunginya.  Sepintas ada penyesalan kenapa tidak duduk menghadap dia saja agar lebih leluasa memperhatikannya. Dia juga tidak akan menyadarinya karena dia bergurau dengan teman-temannya. Tapi hati ku selalu saja  tidak mau bersahabat  selalu saja berdetak saat kulihat wajahnya.                               

 Ketertarikan ku padanya berawal saat aku mencari  Vita di perpustakaan. Dan aku menemukannya di dekat jendela sedang asyik dengan dunianya bersama buku yang dibacanya. Aku tidak memanggilnya, karena jarakku dengannya cukup jauh, dan aku tau peraturan di ruangan ini . Aku menghampirinya. Kakiku tersandung   kursi dan hampir jatuh. Aku memegang kursi itu untuk menahan tubuhku. Ternyata kursi itu ada pengguninya. Seorang pria berkemeja putih yang sedang berkonsentrasi pada buku yang di bacanya. Ia langsung menatapku dengan pandangan datar. Seketika itu aku langsung melepas peganganku,  

“Maaf” Ujarku.

Dia tersenyum sekilas dan kembali focus pada  buku yang dibacanya. Sangat dingin bahkan untuk mengucapkan kata ‘iya’.  Tapi itu keren. Dan ternyata cukup menjadi alasan aku tertarik padanya. Entahlah saat dia menatapku dengan tatapan datar jantungku berdetak cepat dan aku yakin aku menahan nafasku selama lebih dari lima detik. Saat dia hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya dari wajahku, aku tertegun, diam disana beberapa saat hingga akhirnya aku ingat tujuanku datang ke sini,  aku pun meninggalkan  kursi itu dan melanjutkan langkahku menuju kursi didekat jendela, kursi paling jauh dari pintu.   

  Diam-diam aku mencari tahu tentang dia. Hanya Vita yang tahu soal ini, karena Vita satu fakultas dengannya aku memaksanya mencari tau tentang dia. Butuh waktu dua hari untuk membuat Vita  luluh. Dan setelah Vita mendapatkan informasi yang berhubungan tentangnya, Vita akan menceritakannya padaku di kamar kost  kami, dengan memangku bantal aku mendengarkan dengan seksama. Seperti anak kecil yang dibacakan dogeng oleh ibunya. Bahkan aku segera mengakhiri apapun yang sedang ku kerjakan,  jika Vita akan mulai bercerita tentangnya.

 Awalnya hanya tentang apa jurusannya, organisasi yang dia ikuti, jam-jam kosongnya di kampus. Dan pada akhirnya aku memaksa Vita mencari tahu hal kecil tetang dia, Vita  hanya menatapku kesal, tapi setelah kami sampai di kamar kost kami, dia mulai menceritakan yang ku pinta.     

 

Dan kisahku pun dimulai disini di taman ini.  Ku dengar suara derap kaki melangkah ke arahku. Aku menoleh ke belakang, aku kanget  demi melihat pantulan siapa yang ada mataku, dan dia memakai kemeja putih itu lagi. Dia  melipat lengan bajunya  sampai siku dan entah kenapa itu terlihat keren di mataku                                  

“Boleh  aku duduk di sini?” tanyanya, tapi aku masih dengan posisiku yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya dia berdiri didepanku 

“Boleh?” Dia mengulang pertanyaanya.  

“Iya boleh.” Jawabku sedetik kemudian, aku kembali menatap kedepan dia duduk disampingku. Dia meletakkan lengannya dipahanya itu membuatnya agak menunduk dan aku memainkan ujung bajuku. Berusaha mengalihkan kegugupanku.

   “Sedang apa?” Dia bertanya memecah keheningan di kursi ini 

  “Menunggu teman,”Jawabku cepat, tidak ingin dia menulang pertanyaannya lagi 

  Dan entah kenapa aku merasa angin berhembus pelan memainkan rambutku dan aku mengabaikannya. Sama sekali tidak merasa terganggu oleh anak-anak rambut yang menyentuh sudut mataku. Seakan semua orang yang ada di taman ini lenyap entah kemana, hanya aku dan pria berkemejah putih yang terlihat keren di mataku.

Di suatu sore saat matahari menjadi jingga di ufuk barat. Aku berjalan menyusuri trotoar sambil menutup hidungku dengan telapak tanganku, mencoba  melindunginya agar tidak menghirup asap yang keluar dari knalpot-knalpot kendaraan yang berlalu lalang

“Ini,” tangan seseorang terjulur didepan wajahku memberikan masker, aku berhenti  menoleh ke arah pemilik tangan itu, dia juga melakukan hal yang sama walau wajahnya tersembunyi di belakang masker, tapi aku mengenal betul wajah di balik masker itu. Aku masih saja melihatnya memastikan bahwa tak salah mengenali orang.

“Berhentilah membulat matamu saat melihat wajahku, ” Ujarnya

Aku tidak menjawab hanya memalingkan wajahku  darinya melihat   anak kecil yang merengek meminta mainan pada ibunya, padahal masing-masing tangannya sudah memegang mainan  .

 “Karena itu menakutkan.” Dia melanjutkan ucapannya yang terjeda beberapa saat.  

“Apa?” Tanyaku kembali melihat   wajahnya.            

  “Apa kau akan terus menutup hidungmu dengan tanganmu, atau  mengambil masker ini dan memakainya?” Aku lupa tanganya masih terjulur aku pun mengambilnya dan memakainya, lalu kami kembali melanjutkan langkah kami. Kali ini suasana antara kami sudah mencair,  dia menceritakan hal lucu yang kadang membuat ku tertawa lepas, terlebih saat dia memperagakannya, aku sampai harus memegangi perutku dengan kedua tanganku. Walau dia memakai masker aku tau dia tersenyum saat aku mulai memegangi perutku.                                                                           

Aku sudah mulai terbiasa dengan hadirnya di dekatku. dan seperti biasa dia muncul tiba-tiba di belakangku. Tidak bisa ku pungkiri aku senang dia melakukan itu. Seperti siang ini, aku duduk di bawah pohon di taman memeluk kedua lututku,  dia menghentakkan kakinya dibelakangku. Aku menoleh kebelakang. Untuk kesekian kalinya  dia ingin membuat kaget, awalnya memang dia selalu berhasil. Tapi kali ini tidak . Dengan ekpresi datar aku kembali melihat ke depan.                                   

 “Tidak kaget?” Tanyanya ketika melihat ekpresi wajahku yang datar 

“Tidak,  karena kamu sudah terlalu sering melakukan itu,”  jawabku  datar.

“Setidaknya kamu bisa pura-pura kanget,” grutunya berusaha menunjukkan padaku bahwa dia sedang merajuk

“Kenapa harus begitu?”   

   “Ya, agar aku senang”   

   “Haruskah kita melakukan adegan ulang?”  Tanyaku saat dia telah duduk disampingku.

  “Haruskah?”  Ucapnya sambil menempelkan jari telunjuknya di dagunya,  pura-pura berfikir apa dia sungguh akan melalukannya  lagi.     

 Saat dia bersikap seperti itu selalu saja aku tertegun memperhatikannya, sampai dia menyudahinya. Dan selalu saja aku tertunduk dan bibirku melengkung membentuk sebuah senyuman, yang akhirnya selalu ku akhiri sebelum dia menyadarinya. 

Semakin lama jarak antara kami semakin menepi. Semakin membuatku terpesona olehnya.  Apapun yang dia lakukan selalu membuatku tersenyum. Selalu saja aku berharap waktu tak bernah bergeser saat aku ada didekatnya. Selalu saja aku senang mencuri pandang saat dia sedang tidak melihatku.

Siang ini aku ke perpustakaan untuk mencari referensi makalahku. Aku menjinjit untuk mengambil buku itu, tapi ternyata tanganku masih tidak bisa mengambil buku itu, tiba-tiba ada tangan yang meraih buku, itu aku menoleh ke arahnya, dia hanya berjarak 50 cm dari tempatku berdiri, aku terpaku menyadari betapa dekatnya jarak kami. Jantungku berdetak cepat. hingga  aku takut dia bisa mendengarnya. Dia menggerakkan buku itu didepan wajahku.

“Bukunya nona,”  ujarnya sambil merilik buku yang dipegangnya. 

 Aku mengambil buku itu dan bergegas meninggalkan tempat itu, melangkah ketempat aku meletakkan tas dan laptopku. Dia mengekor di belakangku dan duduk di depanku. Aku berharap wajahku tidak memerah karena jantungku masih berdetak cepat, aku masih berusaha menenangkan jantungku. Tapi dengan adanya dia didekatku entah kenapa itu terasa sulit. Dia asyik dengan buku yang dipegangnya.  Dia  meneguk air yang ada di depanya. Sebenarnya aku yang lebih membutuhkan air itu. Aku memutuskan membuka lapropku dan mulai mengerjakan makalahku.   

   “Menyebalkan sekali.” Grutuku setelah hamper 15 menit membuka bukuku

 “Kenapa”  Tanyanya setelah mengangkat wajahnya dari buku yang sedang di bacanya. 

 “Yang kucari tidak ada juga di buku ini,” Jawabku kesal.

 “Benarkah, memang apa yang kau cari.”  

 Aku memutar laptopku. Dia melihatnya, dia tampak mengerutkan keningnya. Dan lihatlah aku kembali tertegun bahkan saat dia sedang serius. Aku yakin jantungku berhenti berdetak selama 3 detik. Sampai akhirnya dia kembali melihat ke arahku. Aku berusaha menampakkan wajah kesalku, agar dia tidak menyadari hal itu.

    “Kamu punya daftar bukunya?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaannya aku memberikan daftar bukunya  yang ku tulis dalam notebookku. 

  “Sepertinya aku tau dimana kamu akan mendapatkan dua sisanya.”

   “Benarkah?”  

    “Iya, tapi kita harus kedua tempat yang berbeda”

 “Tidak apa-apa, yang penting aku mendapatkan buku-buku itu,” jawabku antusias

  “Tenanglah”                                                                                                     ”Baiklah,” jawabku tersipu, aku yakin wajahku sekarang benar-benar telah memerah.

   “Jadi nanti setelah selesai kuliah kita bertemu di taman.”  Kemudian dia berdiri mengambil sisa air diatas meja. Apa dia melihat wajahku yang memerah dan pergi agar aku tak menyadarinya.

 Seperti yang dijanjikan kami bertemu ditaman setelah mata kuliah selesai. Dari kejauhan aku melihat dia membaca buku yang tadi dibacanya di perpustakaan, aku melangkah ke arahnya. Setelah  sampai di depannya dia tidak menyadari keberadaanku di dekatnya. Aku  kembali tidak terusik dengan anak rambut yang menyentuh sudut mata.. Entah apa yang membuatnya mengangkat wajahnya. Dia melihatku mematung didepannya. Dia metutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dia berdiri mengambil jaker yang ada disampingnya  

 “Sudah siap?”  tanyanya sambil mengenakan jaketnya.  

 “Sudah lama menunggu?” tanyaku karena dia tampak sangat asyik membaca buku

“Sekitar 45 menit” Ucapnya santai.                                         

 “Maaf membuatmu menunggu lama”.  Ujarku merasa bersalah.  

 “Sudahlah,” dia melangkah dan aku mengekor  dibelakangnya, sampai akhirnya kami melangkah beriringan.

 “yang ini bukan?”  tanyanya sambil menunjukkan buku yang di pegangnya. Dia memutuskan membantu ku setelah hampir 15 menit aku tidak juga menemukan buku yang kucari.

 “Iya!” jawabku hampir menjerit karena sangat antusias.   Aku menangkap dia tersenyum sekilas dan menyerahkan buku itu padaku.  

 “Bagaimana kamu menememukannya? Aku mencarinya hampir 15 menit,  dan kamu hanya butuh satu menit untuk menemukannya,”  ujarku setelah mengekor dibelakangnya. Mendekap buku itu. Entah karena aku memang membutuhkannya atau karena dia yang memberikannya.

“Entahlah,”  jawabnya datar sambil   melanjutkan langkahnya kearah kasir

  “Mungkin karena ini.” Dia menghentikan langkahnya membuatku melakukan hal yang sama dan berbalik arah ke arahku. Mengangkat botol yang di pegangnya.                                                      

     “Benarkah?” Aku menyipitkan mataku meragukan kemungkinan yang dia  ucapkan, dia mengangkat bahunya dan kembali langkahnya ke arah kasir. Setelah membayar aku memasukkan bukunya kedalam tasku. Dan kami keluar menuju toko buku selanjutnya.

Setelah 15 menit berjalan akhirnya kami sampai toko buku tujuan kami. Setelah  kami masuk kedalam  aku membuka tasku untuk mengambil  notebookku. Tapi aku tidak bisa menemukannya. Aku terus mengaduk isi tasku, tapi masih saja aku tidak menemukannya. Aku mengeluarkan satu persatu isi tasku dan menyerahkannya pada dia

 “Tolong pegang!”  pintaku tanpa melihatnya.   Hingga tasku kosong,  notebookku juga tidak ada di dalam tasku. Aku menggigit bibirku, mencoba mengingat  kejadian di toko tadi, aku ingat aku memang tidak memasukkannya ke dalam tasku. Pasti tertinggal di toko buku sebelumnya.

    “Apa kamu sedang mencari ini?”  Aku menoleh ke arahnya. Dia melirik tangannya yang sudah memegang  barang-barangku dengan kedua tangannya. Akupun meunduk untuk melihat  tangannya.  Aku tidak mengerti, dengan wajah bigung, aku kembali melihat wajahnya.

  “Lihat ke tumpukan barang-barangmu paling bawah,” ujarnya mungkin karena tidak tahan melihat ekspresi wajahku yang bigung. Aku menuruti perkataannya, dan menemukan notebookku. Aku kembali melihat wajahnya, kali ini dengan ekspresi kesal.

 “Ayolah!  hari sudah mulai sore, apa kamu akan terus melihat ku seperti itu atau kembali memasukkan baranng barangmu.”   

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?” tanyaku masih dengan kekesalanku. Sambil memasukkan barang-barangku. 

 “Apa kamu bertanya? dan kamu mengeluarkan barang-barangmu begitu saja. Harusnya kamu berterimakasih aku bertanya apa yang kamu cari.”  Aku mengangkat wajahku dan melihat wajahnya.

“Apa?” Tanyanya pura-pura tidak mengerti yang kumaksud. 

 Setelah memasukkan barang-barangku dan mengambil notebookku. Aku meninggalkanya yang masih tersenyum. Setelah mengambil botol yang dia letakkan di rak buku di sampingnya, dia menyusul langkahku. Sebenarnya aku sangat kesal dengan ulahnya,  yang sengaja membuatku mengeluarkan semua barangku dari tasku. Dia tampak sangat senang rencananya berhasil. Tapi aku bisa berdiri di dekatnya dengan jarak kurang dari 50 cm selama lebih dari 5 menit membuat aku menyadari bahwa aku senang dengan itu. Ketika ingat itu aku tersenyum. “Apa kau tau tempat bukunya.?” Tanyanya membuyarkan lamunanku.             

 Aku baru ingat  kalau dia yang tau tempat buku itu. Aku berhenti dan menyandarkan punggungku ke rak memberi  ruang untuknya melewatiku. Kali ini dia langsung membantuku mencari buku itu. Tapi aku yang menemukannya terlebih dulu. Aku menepuk bahunya menunjukkan buku itu. Dia mengangkat alisnya.

“Harusnya aku membuatmu kesal dari tadi ya.”  Ucapnya sama sekali tidak merasa bersalah karena telah membuatku kesal. Aku tidak menghiraukan ucapannya dan melangkah ke arah kasir. Saat kami keluar dari toko buku, matahari sudah condong ke arah barat. Dia masih saja berjalan di belakangku.  Setelah beberapa langkah aku menghentikan langkahku dan memutar tubuhku.

 “Jadi bagaimana kamu menemukan notebookku?” tanyaku.

“Kamu meninggalkannya di meja kasir dan aku membawanya.” Sebelum  aku melanjutkan pertanyaanku. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku dengan judul `karena kamu istimewa` dan memberikannya  padaku, aku pun menerimanya. Kapan dia mengambilnya, mungkin ini alasan  kenapa dia selalu berjalan di belakangku.

“Apa ini bisa membuat kekesalanmu hilang?” 

“Semoga.” Jawabku datar.                                          

“Tapi aku tidak suka membaca” Lanjutku. 

   “Sungguh?”  aku menganggukkan kepalaku.        

“Kamu cukup membaca judulnya.”  Ucapnya lalu melangkah meninggalkanku. Hingga hilang tertelan oleh matahari yang menjingga. Aku kembali melihat judul buku yang sedang ku pegang. ‘karena kamu istimewa’.

 

“Sudah selesai?” Tanyaku saat Vita melangkah ke arahku.  Vita mengangguk, aku tersenyum ternyata aku di sini sudah hampir satu jam.  

 “Kita masih punya 15 menit. Ayo ke kantin!”  

 “Ayo.” Kami meninggalkan taman. Aku lihat dia masih di sana, bergurau bersama teman-temannya. Aku berhayal sangat jauh bersamamu. Ternyata ketertarikanku padamu membuat alam bawah sadarku menciptakan ilusi tentangmu. Entahlah apa yang harus aku rasakan. Senang, karena aku memiliki serangkaian kisah indah bersamamu walau itu hanya dalam hayalku . Atau aku harus  mengasihani diriku sendiri, karena serangkaian kisah indah bersamamu  hanya akan menjadi  hayalku.        

“Bisa?” Tanyaku melihat Vita  kesulitan mengambil buku yang ingin di bacanya karena  berada di rak bagian atas.                

 “Tolong ambilkan.”  Pinta Vita,  akhirnya dia menyerah. 

 “Tanganku  juga  tidak akan sampai,  Vit”

 “Coba dulu,  kau kan lebih tinggi dari ku” 

 Aku menjijit untuk mengambil buku itu, tapi tetep tanganku  tidak bisa menjaukaunya. Tiba-tiba tangan seseorang terjulur di sampingku. Aku menoleh untuk melihat pemilik tangan itu. Ternyata adalah dia dan dia mengenakan kemeja putih. Aku terpaku membiarkan  pantulan  wajahnya berada di pupilku. Dia melirik tangannya dan tanpa sadar aku mengambil buku yang ada di tangannya. Dia berlalu dari hadapanku meninggalkanku yang masih terpaku di tempatku berdiri.

  “Sampai kapan kamu akan terus mengaguminya seperti itu.”  Tanya Vita membuarkan lamunanya.

 “Entahlah, Apa rasa kagum ini bisa hilang , Vita?”   

 “Bisa, tapi akan membutuhkan waktu yang panjang.” 

  “Apa itu akan menyakitkan”  

 “Tidak sesakit saat  kamu menyadari rasa kagummu membuatmu terjebak dalam semua hal tentangnya.”  

Andai kamu tahu aku masih mengagumi semua hal yang ada dalam dirimu.  Aku  lelah hanya memiliki kisah indah hanya tentangmu tanpa melibatkan dirimu dalam kisah indahku. Aku takut kisah indahku tentangmu tidak berujung. Aku memutuskan akan berusaha membuang rasa kagumku padamu agar duniaku tidak selalu berkisar hanya tentangmu. Aku berharap aku bisa mengayuh perahuku hingga akhirnya  perahuku menepi  dan bisa meninggalkan lautan tentangmu.

  1.  

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani