Profil instastories

Salah Rasa 1

'Geysha Alzeera' begitu nama yang tertera disaku seragamku. Aku duduk dibangku kelas IX bahasa 2. Tepatnya di SMAN Graha Multi. Dan aku merupakan seorang adik dari 'Febria Natta' yang saat ini telah menginjak semester 4 di kuliahnya.

Diusiaku yang sekarang, sudah tak mengherankan jika aku dekat bahkan berhubungan dengan seorang lelaki. Namun mirisnya, hubungan itu hanya sebatas harapan, bukan kenyataan!

Arka Ghifari, seorang pria dengan pembawaan tenang. Penuh kenyamanan bila berada didekatnya. Kami bersahabat sejak SMP. Saat ini, ia tengah duduk di kelas XII IPA. Tepatnya di SMA Garuda. Ya, sejak lulus dari SMP dulu, aku memutuskan untuk berbeda sekolah dengannya karna faktor rumahku yang jauh dari SMA Garuda. Namun komunikasi antara kami masih terus membaik.

Aku adalah, teman untuk harinya juga catatan untuk setiap kisahnya. Tak ada sebaitpun dari takdirnya yang tak melekat di memori ingatanku. Bahkan tentang Fisca. Wanita yang ia pilih sebagai teman hidupnya! Dan wanita beruntung untuk tolak ukur hatiku yang mengharapnya.

Siang ini cukup terik. Bahkan aku telah 10 menit berjemur dibawahnya. Sudah berulang kali punggung tanganku berusaha menghentikan keringat dipelipis yang tak kunjung henti. Namun semua tak berarti. Ponsel digenggamankupun menjadi target kekesalanku. Melihat pria yang telah membuatku menunggu tak kunjung mengangkat telfon dariku.

 

👦Gea, nanti siang temenin

Latihan basket ya! Jangan 

minta jemput *arka

 

Begitulah pesan yang kuterima tadi pagi. Namun kini, saat aku benar-benar menolak tawaran jemputan Kak Febi, Arka tak kunjung menjemputku!

15 menit berlalu. Keputusanku bulat bahwa aku akan meminta Fiona, sahabatku tuk menjemputku. Rasanya malas tuk sekedar pulang ke rumah. Mungkin sedikit baik jika aku sekalian berkunjung ke rumah Fiona.

Satu pesan singkat berhasil kulayangkan padanya. Tak butuh waktu lama, ia segera menyanggupi. 5 menit berselang, seorang gadis dengan rambut sebahu itu menghampiriku. Tawa khasnya menyapaku lebih dulu.

"Mangkannya Ge, jangan terlalu banyak ngarep lah.. si Arka tuh dah punya Fisca!" Hinanya sudah kuhafal.

Aku memutar bola mata malas. Membalaspun hanya akan memperpanjang perdebatan. Sudah dasarnya, Fiona tak pernah setuju jika aku bersama Arka. Tanpa perintah, aku segera naik dibelakang kemudinya. Membiarkan Fiona terus dengan ocehan khasnya.

"Kamu tuh bodoh banget sih Ge! Suruh nemenin latihan basket aja mau. Udah tahu ada Fisca, ya mana butuh dia sama kamu." Ia terus berlanjut dengan tawa hinanya.

Sejenak aku mulai tertegun. Memikirkan kalimatnya yang memang ada benarnya.

Aku memang terlalu bodoh dalam hal cinta. Menaruh rasa pada orang yang tak pernah menganggapku berharga. Menganggap ia merasa, apa yang kurasa. Dan membiarkan jiwa tersiksa, hanya untuk menunggu kepastian yang tak kunjung nyata.

Beberapa detik berlalu, suara bising klokson dari arah belakang cukup mengganggu. Disusul suara seseorang meneriaki namaku. Membuat Fiona menghentikan laju motornya. Kami melihat kearah belakang. Dugaanku benar, Arka.

"Gea, sorry. Tadi aku masih nganter Fisca cari buku buat tugas ekonominya." Jelasnya yang berhasil mendekat kearah kami berhenti.

Aku mengangguk untuk permintaan maafnya, "gapapa kok"

"Terus, kamu jadi kan? Mau nemenin aku latihan?"

"Gak bisa!"spontan Fiona menyela percakapan kami, "Gea pasti capek. Dia dah mbuang-mbuang waktu cuma buat nunggu kamu. Lagian kenapa gak minta temenin Fisca aja sekalian?!"

Belum sempat Arka menjawab aku segera turun dari motor Fiona, "makasih tumpangannya Fi. Aku lanjut sama Arka. Maaf ya" dari keputusan itu, semua dapat mengambil kesimpulan.

Fiona segera menyalakan kembali motor miliknya "terserah kamu ajadeh Ge. Aku pulang."

Sekali lagi, Arka kembali meminta maaf padaku, kubalas dengan senyum dan anggukan tulusku.

Lapangan kini yang kami tuju.

Aku menghela nafas panjang. Bahkan, dibelakang kemudinya, aku terus terfikir akan kejadian barusan. Aku memang sangat kesal pada Arka. Namun aku tak dapat tuk sekedar menolak permintaannya! Aku kecewa, aku juga sering terluka. Tapi saat itu juga, logikaku bergerak jauh menepis semua itu. Bahwa aku, mencintainya dengan sungguh!

Aku tahu, jika segala waktunya bukan untukku. Aku juga tahu, bahwa segala cintanya bukan untukku.Namun kesalahan terbesarku satu. Berharap kelak, masih ada kesempatan ia denganku! Hingga aku terbelenggu akan rasa itu.

Aku tak ingin tahu, seberapa besar ia nencintai kekasihnya itu. Yang cukup kutahu, masih ada waktu untukku. Dan itu cukup tuk membahagiakanku.

 

==❣==

Bersambung...

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani