Profil instastories

Hai, Xavera!

HAI, XAVERA!

Sabtu sore ini tepat sepuluh tahun setelah kamu menghilang. Sebelum kecerobohan seorang Berlian-- ya itu namaku, hingga aku bisa berkenalan, dan jatuh hati dengan sosok yang tidak kuketahui dimana keberadaannya sekarang. Masih di bumi atau sudah mati, entahlah. Entah sudah berapa ratus kali juga aku membaca suratnya, dan rasanya masih sama. Ingatan itu masih tetap kuat, kamu memang sulit untuk dilupakan, Al.

 

Hai, Xavera!

 

Begitu kamu menyapa, dengan nama belakangku. Saat kutanya kenapa kamu menggunakan nama belakang ketika memanggilku. Alasannya, "biar beda dari yang lain, kita harus jadi partner anti-mainstream, Ra." 

Dulu aku tak menjawab dan tersenyum getir, hatiku kecewa. Hanya partner ya, Al? 

 

Benar kata Ardi, kamu ibarat matahari bagi malam sepertiku. Bersinar, dan sangat berkilau. Aku nggak jago buat kata-kata yang menyentuh hingga membuatmu terjatuh loh, Ra. Jadi hargai tulisanku ini, ya.

 

Sayangnya kamu melakukan itu, Al. Kamu buat aku jatuh dalam pesonamu.

 

Kamu itu unik, perkenalan kita sungguh menarik. Surat yang kamu kirim buat Ardimu itu malah berakhir di tanganku. Aku cekikikan sendiri membaca isinya. Mau kujelaskan atau mau kamu bayangkan sendiri?

 

Tentu aku bayangkan sendiri, Aldiku sayang. Kalau mengingat itu aku malu sendiri rasanya, ceroboh sekali. 

Pertengahan kelas XI semester genap, aku berniat untuk menyatakan perasaanku pada Ardi lewat perantara Juan-- teman dekat Ardi. Sesuai dengan saran Inaku tentunya.

“Kamu yakin ini berhasil, Na?” tanyaku cemas.

“Ish, jangan cemas gitu dong! Percaya deh Ardimu itu pasti balas perasaanmu, lalu kalian pacaran dan aku pasti dapet traktiran," jawab Ina dengan bangga.

"Heh,” aku menginterupsinya. “Masa, sih, ini beneran aku yang harus mulai duluan?” tanyaku lagi.

“Kenapa nggak dicoba dulu?” timpal Ina.

“Duh, kalau dia jijik sama aku. Aku nggak maulah temenan sama kamu lagi," ucapku saat itu sebelum berlalu menuju kelas Juan.

***

Ah itu Ardiku, dia sedang berjalan menuju kantin tanpa Juan di sisinya. Bisa dipastikan aku bisa menitipkan surat pada Juan.

"Nanti … Lo kasih Ardi ya suratnya?"

"Lo … yakin?" ia tampak ragu.

"Banget! Awas jangan Lo baca!" jawabku dengan semangat agustusan.

Tapi surat itu malah berakhir di tangan Aldi. Sepertinya Juan salah dengar, pantas sebelumnya ia memastikan padaku dengan yakin atau tidaknya. Tentu Ardi dan Aldi adalah dua pribadi yang berbeda, Ardi terlalu sulit untuk disentuh perempuan, Si anak teladan sekolah. Sedang Aldi, hm … satu sekolah tahu kalau dia memang anak bandel, suka merokok, banyak poinnya, katanya sih sering main cewek, pemake dan tukang mabuk.

Waktu itu aku takut sekali. Takut semua itu benar, dan takut kalau tiba-tiba kamu datang padaku. Dan ya, kamu datang ke kelas mencari namaku, aku gemetaran tapi memberanikan diri dengan didampingi oleh Ina sahabatku. Kami bahkan menghampirimu dengan tangan saling bertaut loh, Al, kamu dulu memang semenakutkan itu.

"El, kok gue mendadak takut, ya," bisik Ina yang hanya mampu didengar olehku saat kami berjalan menuju daun pintu.

"Diem deh, gue lebih takut."

"Ketara, kok, jidat lu ampe penuh keringat begitu. Lucu!" Ina menimpali dengan tawa yang dibuat-buat.

"Pale, Lo!" umpatku padanya.

Saat sampai di daun pintu, pandanganku bertubrukan pada sosok jangkung pemilik netra berwarna agak biru, rambut dan penampilan yang berantakan dengan wajah yang terbilang tampan. Aku sedikit terpesona saat itu. Kamu memang tampan, Al. Selalu. Kamu sadar itu makanya suka gonta-ganti pacar, bukan begitu? 

Lalu kamu tiba-tiba memanggil dengan wajah bingung, "Xavera?" 

Aku terkejut tentunya, itu nama belakangku. "Maaf?" kataku sopan.

"Lo … Berlian Xavera?" tanyamu lagi saat itu.

     Aku mengangguk kaku, lalu kamu tertawa. 

"Kenapa?"

"Apanya?"

"Lo tertawa karena apa?"

"Lo dengan teman Lo lucu," ucapnya dengan masih ada sisa-sisa tawanya tadi.

"Terima kasih."

"Welcome to my world, Xaveraku," ia merentangkan kedua tangannya seperti akan memeluk seseorang.

Setelah kalimat itu diucapkan, Aldi makin sering menempeliku. Kemanapun aku pergi, dia pasti ikut. Hingga aku terbiasa, dan penasaran dengan hidupnya. Hingga kita berdua mulai saling membutuhkan satu sama lain namun tak ada ikatan yang jelas di dalamnya.  

 

Xavera … Xavera.

Aku heran kenapa kamu  masih mau dekat denganku, padahal kamu tahu kalau kamu bisa saja pergi dariku. Dan tentu kamu tidak terlalu tuli seperti Juan ‘kan? Kamu juga bisa menjalin hubungan dengan Ardimu itu kalau kamu pergi.

 

Aku penasaran dengan kehidupanmu. 

 

Aku tau kamu penasaran dengan hidupku. Hanya…

 

Hanya kamu nggak mau ‘kan orang-orang tahu sisi tergelapmu. Kamu nggak semenakutkan itu, kamu menakjubkan dan terlihat keren di mataku. Hal yang paling menakutkan saat mengenalmu adalah, ketika menyaksikan langsung pertengkaranmu dengan ayahmu. Aku takut kehilangan Aldiku, yang pada akhirnya aku kehilanganmu juga.

“ANAK TIDAK TAHU TERIMA KASIH, KAMU!” 

“Berterima kasih atas dasar apa saya terhadap, Anda? Saya akan berterima kasih, jika anda bisa mengembalikan ibu saya dan menghilang dari bumi bersama wanita itu!” ucapmu menantang. 

“Jaga ucapanmu!” lirih Ayahmu, emosinya agak melunak, namun tiba-tiba kamu mengamuk dan menghajarnya, hingga kalian saling pukul satu sama lain. 

Tanpa sadar aku menangis lagi, Al, saat mengingat betapa kejamnya ayahmu. Betapa beratnya Aldiku memanggul beban di masa yang harusnya ia lakukan untuk senang-senang. Dan ternyata aku salah. Kamu juga bersenang-senang, namun dalam versi yang berbeda.

 

Ya, aku tak mau kamu dan orang-orang tahu betapa hancurnya aku, Ra. Tapi terlambat. Karena kamu sudah mengetahui kelemahanku. Sudah nggak usah kamu tangisi takdirku. Aku senang ketika kamu senang, apalagi saat… 

 

Saat kamu bawa aku ke pasar malam dan mencuri first kiss-ku. Aku tertawa dan merona ketika mengingatnya sekarang. 

 

Ya gitu deh … aku minta maaf kalau lancang dan memperawaninya sebelum suamimu, ya. 

 

Tak apa-apa, Al.

 

Sampai mana kita tadi?

 

Sampai kamu mencuri first kiss-ku.

 

Kayaknya aku nggak akan nulis panjang-panjang deh. Isinya juga bukan pernyataan cintaku ke kamu. Xavera, bersama siapapun nanti, kuharap kamu bahagia. Aku minta maaf saat aku menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulutmu. Apa kamu kecewa? Apa kamu akan pergi sama seperti ibu, namun esoknya kamu terlihat biasa saja meski matamu sedikit sembab. Kamu habis nangis? Karenaku? Jangan menangisi aku…

 

Terlambat, Al. 

“Kita ini apa?” tanyaku saat kita sedang saling menyender dan berdiam di dalam kelas yang sepi.

“Teman … dekat?” jawabmu ragu sambil memainkan rambutku yang tergerai, yang sesekali kamu hirup aromanya. Aku saja sangsi atas jawabanmu, karena itu lebih seperti pertanyaan dibanding sebuah jawaban. 

“Apa semua teman dekat melarang temannya berteman dengan yang lain? Atau menggenggam tangan? Atau mencuri ciuman? Karena aku nggak ngerti … tolong dijelaskan,”  kataku dengan menuntut.

“Maksudmu?” tanyamu, lalu tanganmu berhenti.

“Kamu mencintaiku nggak, Al?” kamu langsung menatapku saat pertanyaan itu aku lontarkan.

Lalu mengalihkan pandangan dan menjawab dengan suara yang dalam, “Nggak.”

Aku tersenyum saat itu, dan seharian pula kita diam. Esoknya aku sekolah, menyapamu dan melakukan hari-hariku seperti biasanya walau ketika pagi mataku agak sembab. 

 

Maaf dan terima kasih, Ra. Untuk semuanya. Sepertinya ini paragraf terakhirku, aku hanya mau bilang. Kamu orang baik yang nggak pantas bersanding denganku. Percaya nggak? Kalau ternyata feelingku kamu menikah dengan Ardimu itu terealisasikan. Dia orang baik. Lalu kalian bahagia dan memiliki dua anak. Padahal setiap sebelum tidur aku yang selalu membayangkan momen bahagia itu bersamamu. 

 

Lalu kenapa kamu pergi? Tanpa pamit pula, kenapa tidak kamu realisasikan terlebih dahulu mimpimu itu? 

 

Aku mau sembuh. Dan nggak mau balik ke kota ini. Kota ini terlalu menyakitkan untuk jiwa yang sakit sepertiku. Kamu memang penyembuh bagiku, namun kalau aku bergantung padamu, siapa orang yang akan melindungimu? Jadi lebih baik aku pergi. Jangan menangis lagi … apalagi untuk Si brengsek sepertiku. Kamu layak dengan orang yang jauh lebih baik, tapi bukan aku.  

 

Tanpa sadar air mataku kembali berderai. Aku bingung dan kesal setiap membaca suratmu. Bingung kenapa kamu teguh untuk tetap pergi, sementara aku tahu, tak perlu kamu jelaskan, kamu juga mencintaiku. Dan kesal, karena kamu tidak mau jujur saja.

 

Xavera… jangan rindu aku. 

 

Nggak bisa… 

Aku masih menangis, hingga bahuku bergetar hebat. Sakitnya masih sama seperti pertama kali membaca suratmu, Al.

 

Jangan menangis terus, jangan buang air matamu untuk hal yang sia-sia. 

 

Biar saja, sampai kamu kembali dan menyesal telah pergi. Tapi brengseknya kamu nggak akan kembali. Bahkan aku tidak tahu kamu masih bernadi atau sudah mati. Karenamu aku jadi bicara kasar ‘kan? Padahal itu tidak boleh kulakukan, dengan masih menggenggam surat dalam keaadan menangis sesenggukan, aku mengelus perutku yang kian membesar ini.

Maafkan, mamah, ya, Nak. Mamah nggak bermaksud berbicara kasar, monologku pada calon anak keduaku.

 

Bahagia, ya meski tak bersamaku. Aku pamit. 

 

Iya, aku bahagia. Karena kamu benar, Al. Aku memang bersama Ardiku, kami menikah. Dan kini aku sedang menunggu anak kedua kami lahir. Betapa bahagianya aku? Tapi aku masih sering tersiksa oleh rindu. Kamu … tidak usah pamit. Karena itu membuat lupaku sulit. Rasanya percuma juga karena tanpa pamit saja kamu sudah terhitung pergi.

 

Selamat tinggal. 

 

Cukup, Al. Kamu memang ingin membuatku menangis lagi, ya. Nggak ada perpisahan, nggak ada kita, nggak ada semuanya. Jangan tulis selamat tinggal. Karena biarpun kamu nggak akan balik lagi, kenangan tentangmu, tentang kita, akan selalu terpatri dalam ingatanku.

 

Aku … mencintaimu, Xaveraku.

 

Dan tangisku memang benar-benar pecah sekarang. Seperti malam-malam sebelumnya. Dan selalu kalimat ini yang aku ucapkan dalam hati saat selesai membaca surat darimu. Kamu … bohong! Kamu bilang tak ada kalimat cinta. Tapi semua yang kamu tulis bagiku bukti kalau kamu cinta padaku. Aku nggak tau mesti gimana, Al. Aku bisa hidup tanpamu namun hatiku selalu mengingatmu.

"Nangis … lagi?" suara pria ini. Pria yang mau menerimaku, saat hatiku masih dibawa pergi oleh tuan tak berhati. Ia memelukku dan mengusap perutku yang kian membesar. Memberi kecupan singkat di dahiku lalu bertanya, "Sudah sepuluh tahun? Kamu mau apa?"

Aku memeluknya erat, masih sedikit menangis. Namun ini lebih baik. Kubulatkan tekadku untuk menjalani tahun-tahun yang lebih baik, tentu bersama Ardiku.

"Hei," ucapnya pelan lalu kubalas pelukannya.

"Aku bakar surat ini saja, ya? Lalu kita hidup tanpa bayang-bayangnya, bagaimana?" tanyaku.

"Yakin?" 

"Sangat. Aku mencintaimu sejak dulu,"  kataku mantap pada Ardiku, masih sambil saling memeluk tentunya. Ya, dia Ardiku, yang dahulu aku cintai. Sebelum semuanya tiba-tiba berbelok arah padamu. Oh kenapa mesti kuingat lagi kisah kita, Sayang? 

"Wanitaku ini, kenapa sangat to the point sekali. Jadi makin cinta," katanya dengan memandangku penuh cinta.

"Memang sebelumnya nggak, Mas?" ya, semenjak menikah panggilanku padanya berubah.

"Nggak," jawabnya enteng. Aku cemberut lalu mengalihkan pandangan, ia menoel pipiku. "Nggak sedikit, istriku," lanjutnya.

Lalu aku menoleh, saling tatap, hening sesaat dan kami tertawa bersama. Sangat kencang sampai Tiara-- putri pertama kami bangun dari tidurnya.

Al, aku capek. Aku nyerah, ikhlas kalau memang takdirnya kamu nggak akan kembali dan kita nggak bisa bersama lagi. Dimanapun kamu berada, dengan siapapun, sedang melakukan apa. Aku tidak lagi ingin tahu. Atau masalahmu yang masih bernadi atau sudah menyatu dengan bumi sekalipun. Yang aku ingin jalani sekarang adalah, kehidupan bersama pria yang kini menjadi ayah dari anak-anakku. Biar cerita kita hanya sebuah cerita biasa, yang memang jika dikenang sangat luar biasa. Tentu hanya untuk Xaveramu ini. Terima kasih dan maaf, Al. Sama sepertimu, untuk semuanya. Semua hari yang pernah kita lewati bersama.

  1.  

T A M A T

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani