Profil instastories

Hadirmu tak seperti kenangan fotomu

Hadirmu Tak Seperti Kenangan Fotomu

kebahagian sudah berkabar semenjak 2 bulan sebelum pernikahan, janii kehadirannya,  undangan yang telahku berikan,  bahkan kakaku sendiri juga yang mengirimkannya. 

Doa sudah selalu terucap baik dalam tulisan pesan ataupun saat bertemu dengan beberapa cerita seru tentang aku dan kakaku yang masih kecil senyum,  bahagia,  tertawa terlukis jelas di wajahnya, (hhee) semua sudah mengharapkan hari bahagia itu apalagi untukku yang harus melepas satu-satunya kaka yang kumiliki.  

Semua sudah di takdir dan mencai batas waktunya ini mungkin waktu kaka untuk menempuh kehidupan barunya 'barakallah atas pernikahannya teh nurul maafkan adik laki2 mu yang masih kurang Dewasa' tulis statusku atas rasa bahagia.   Kebahagianku bukan hanya itu,  tapi datang pula di saat akan akan terucap dalam pernikahan dirinya mengirim pesan tidak bisa hadir karena kesibukannya,  dia hanya bilang 'ternyata aku hanya tamu biasa bukan spesial yang harus di istimewakan' hingga akhirnya aku hanya berbalas pesan

Dengannya tanpa menyaksiakan ucap sakral sahnya pernikahan kakaku,  aku tak tahu knpa semua kebahagiaan yang sudah mucul sedua bulan yang lalu harus berubah menjadi kebahagiaan semu kesedihan. 

Aku hanya diam sesekali memandangi ponsel, memberikan senyuman palsu demi menutupi luka hati, memalingkan kekhawatiran keluargaku, saudaraku dan para shahabat tamu yang hadir kala itu. 

Pekerjaanku dilanjutkan memanggil setaip keluarga kaka untuk berfoto, hingga nenek yang sedang duduk berkata 'mana dia,  kenapa ga dateng? ' hanya tersenyum dan berkata 'katanya lagi sibuk,  klo mau juga harus ada yang jemput' jawabku.

'yah sudah jemput saja, nene pengin ngobrol sama dia' sontak kebingungan dengan ucaoan nene,  aku sedang menjalani tugas sedangkan nene meminta untuk menjemputnya.. 

(Ahh) pusing sudah tidak tidur semalam,  bertengkar dalam pesan,  dijelekan karena aku hanya pemberi omongan palsu,         dan sekarang harus bingun antara jemput dan menjalankan tugaskuu. 

Setiba pesan masuk dalam polsenku ternyata kakanya dia 'ini mau datang cuma ga ada yang jemput' tak ada angin dan apai aku menjawab 'yah teh aku antar jemput nanti'.

Bergegas mengambil motor dan pergi meninggalkan tugas dengan doa dari nene aku harus menjemputnya. 

Tak ada ragu,  tak ada takut hanya kenekatan yang ada dalam jiwa dan pikiranku,  membuktikan semua yang ku katakan bukanlah palsu,  yang aku lakukan bukanlah embel-embel kebohongan,  gerakku, usahaku untuknya serius sangat serius karena aku bukan bajingan pemberi omongan basa-basi-busuk.  

Tak ada yang bisa ku katakan lagi saat sampai dan mendatangkan dia di hadapan neneku.  Aku hanya ingin dia meyadari bahwa aku serius bukan sekedar belakaan semata,  

Sore menjelang gelap telah sampai untuk memulangkan semua keluarga ke rumah masing-masing, begitujuga dirinya yang sudah harus ku kembalikan pulang ke rumahnya, hatiku hanya merasakan inilah kebenaran rasaku,  inilah kebenaran cintaku padanya.  Semoga dia bisa menyadarinya. 

Semoga dia bisa belajar dari setiap keseriusan dalam berkorban mendapatkan, hingga malam untuk aku pulang dari rumahnya tiada yang ku rasakan selain rasa kantuk mendalam,  lelah tanpa tidur sejak kemarin,  juga perjalanan yang lumayan jauh jarak tempuhnya.  Hanya ada aku dan asap yang muncul dari bibir, guna memasukan zat adiktif untuk menahan kantuk dan lelah diatas sepeda motor.  

Inilah pilunya kisahku dahulu yang merasakan hangat manis cintanya,  dengan lembut kasih sayangnya,  berapa pertengkaran telah dilakukan tetapi hati takan pernah bungkam untuk tetap mencintainya. 

Yahh itulah masa lalu, biarlah semua berlalu dan takan pernah kembali,  hakikaynya ialah masa sekarang, hari ini waktu ini,  disaat kata sayang sudah tidak disukai,  disaat kata cinta sudah tidak akui,  dan disaat kata rindu hanya jadi buah pesan di ponsel.  

Ini mungkin sudah menjadi nasibku,  nasibku yang mencintainya,  mesti aku tak tahu pasti cintanya,  aku tak peduli karena Kehadirannya telah memberikan rasa optimis mesti hadirnya masih berupa harapan nyata atau palsu aku tak peduli. 

Cukup tau saja dia sedang apa, sudah membuatku sedikit tersenyum.  Terimakasih telah hadir dalam hidup ini,  bila ada sesuatu lagi dalam hatimu katakan saja dengan tegas baik itu cintamu,  bencimu, rindumu, atau bahkan perpisahanmu..  

Biar ku rela melepasmu pergi yang takan kembali,  biar aku nikmati luka hati yang dulu pernah kau cintai.. 

Biarkan hati ini kega menerima kenyataan,  pahit atau manis akan ku terima dengan ikhlas bahwa hari ini usahaku telah selesai dimatamu,  tapi bukan akhir dimata Tuhan yang akan terus memberikan jalan sebagaimana usahaku mendapatkan mu.  . . 

 

*Garut,  20 April 2020* for HSN

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.