Profil instastories

HACKER

 

 

Kepala Biru pusing.

Rasanya dia sudah tidak sanggup memecahkan kasus ini seorang diri. Siapapun, help!

Menangani kasus pembajakan akun terkadang sulit. Apalagi kalau orang yang membajaknya benar-benar cerdik. Baru kemarin dia mengembalikan akun sosial media teman-temannya yang hack, sekarang sudah ada lagi yang melapor.

Menjadi seorang programmer itu memang berat. Lebih berat dari rindu malah!

Biru keluar dari ruangan yang disebut ruangan khusus. Sekolah sudah sepi, karna semua murid sudah pulang. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Berniat untuk mengembalikan kunci itu pada Satpam yang jaga di depan, dia malah dikejutkan oleh seseorang yang baru saja keluar dari Perpustakaan. Kebiasaan Biru yang suka latah ketika terkejut malah mempermalukan dirinya sendiri. Alhasil image cool yang sudah dia bangun sejak menjadi fansnya Coboy Junior runtuh dalam sekejap.

"Eh? S-sorry, aku gak sengaja buat kamu kaget,"ucap gadis berkaca mata dihadapan Biru. Dari wajahnya tergambar bahwa dia merasa bersalah.

"Ah, gak papa. Gue aja yang terlalu kagetan."

"Sekali lagi. Sorry, ya?"

"He'em."

"Y-yaudah kalo gitu, aku duluan."

Tanpa menunggu jawaban dari Biru,gadis itu langsung pergi dengan kepala sedikit menunduk .

Aduhh, malu gue latah di depan cewek cantik kayak gitu. Alamakk!!

***

Lagi-lagi Biru harus pulang sore. Pak Akmal, guru IT sekolahnya kembali memberikan tugas untuknya. Dia bilang kalau kasus ini tidak terlalu berat, jadi Biru yang harus mencoba menyelesaikan ini. Mentang-mentang Biru cuma anggota satu-satunya di klub ini, seenaknya mempekerjakan Biru. Tidak tahu apa, saking pusingnya terkadang Biru ingin bunuh diri saja!

Tapi ada alasan yang membuat dia mengurungkan niatnya, yaitu... karna dia belum pacaran.

Langkah Biru terdengar sangat jelas di koridor yang sepi. Sekolah kalau sudah kosong kayak gini sudah seperti kuburan saja. Kuburan juga tidak sesepi ini padahal.

Tidak ada aktivitas ekskul. Karena di sekolahnya ekskul diwajibkan pada hari libur, yaitu Sabtu. Sekolah Biru menerapkan sistem full day. Jadi setiap hari senin sampai jumat semua murid pulang pukul 4 sore. Itu kalau gurunya ada. Kalau enggak, jam 12 juga sudah pada bolos.

Biru ingat, dia harus mengembalikan buku yang minggu kemarin dipinjamnya dari Perpustakaan. Dengan segera Biru mempercepat langkahnya menuju Perpustakaan.

Baru saja cowok itu menginjakan kaki ke dalamnya dia mendengar seseorang tertawa.

"Haha... Rasain!!!"

Suara itu berasal dari sebelah barat rak buku. Dengan keberanian yang seadanya Biru mencoba mendekati suara itu. Biru tidak takut! Dia hanya sedikit merinding saja.

"Makanya, jangan macem-macem!!"

Suaranya semakin jelas. Langkah Biru kian mendekat. Jantungnya mulai berpacu dua kali lebih cepat. Keringat mulai bermunculan di pelipisnya. Tapi dia merasa suara itu bukan suara makhluk halus. Itu suara manusia!

Langkah Biru kian mendekat. Dia bisa melihat bayangan seseorang dari meja yang di dudukinya. Seharusnya yang lebih dulu menampakan diri itu matanya, agar ia bisa mengintip siapa orang itu, bukan ujung sepatunya. Alhasil dia tak perlu mendengar teriakan yang sangat melengking dari orang yang di intipnya itu.

"HUAAA HANTUUU!!!"

Ujung-ujungnya ketahuan kan!

"K-kamu ngapain disini?!"

"Gue mau balikin buku. Eh, dari sini gue denger suara gitu. Jiwa penasaran gue keluar. Ternyata, lo lagi."

Biru melihat gadis berkaca mata di hadapannya terlihat panik dan ketakutan. Wajahnya memerah. Biru malah ingin tertawa melihatnya. Lucu sekali!

Gadis itu sedang mengatur kembali nafasnya. Dia meneguk ludah, lalu kembali berbicara, "lain kali jangan ngintipin gitu. Aku kagett!! Ku kira tadi hantu."

"Hahaha... Oke, oke. Gue minta maaf. Tapi, tadi-"

Perkataan Biru terpotong saat gadis itu buru-buru menutup laptopnya dan memasukannya ke tas lalu pamit begitu saja.

Tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahunya. Biru tak berani membalikan badan. Tuhannn tolong!!!

"Woi, bro!"

Lahh?

Hantu bisa gaul juga?

Biru membalikan badan dan langsung mengembuskan nafas lega. Ternyata Alby, teman sekelasnya.

"Ngapain lo disini?"tanya Alby.

"Mau ngembaliin buku minggu kemaren. Lo sendiri, ngapain?"

Alby tiba-tiba terlihat salah tingkah. "Hehe biasa... Lo tau kan wifi disini kenceng?"

Biru mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata, "Lo..."

"Duluan ya bro!!!"

Alby sialan! Malah ninggalin lagi.

Biru merasa curiga pada dua orang itu.Tapi dia malah mengedikan bahunya dan Biru lupa satu hal... Nama gadis itu, siapa?

***
Sepertinya kepala Biru sudah mengeluarkan asap saking pusingnya. Dia berpikir terlalu keras. Kali ini dia benar-benar ingin menyerah. Sudahlah masa bodo!

Orang-orang ini sudah seperti tidak ada kegiatan lain saja. Terus meratapi akun media sosial yang kena hack. Dasar alay!

Cowok itu keluar dari ruangan khusus dan berjalan menuju kantin untuk membeli sebotol air. Setelah itu dia langsung menuju taman belakang dan langsung meminum air yang tadi dibelinya.

Biru memejamkan matanya merasakan angin yang membelai kulitnya. Saat membuka matanya, dia disuguhi pemandangan yang indah. Disana, tepatnya di bawah pohon yang besar, duduk gadis misterius itu. Di pangkuannya kembali ada laptop. Dari sini saja gadis itu sudah terlihat cantik. Apalagi dari dekat.

Gadis itu sepertinya sedang mengerjakan sesuatu yang serius. Beberapa kali alisnya saling mengerut. Menandakan dia sedang berpikir keras.

Biru jadi penasaran, apa sih yang sedang dilakukan gadis misterius itu?

Menulis, mungkin. Karena dua kali bertemu dengannya selalu di perpustakaan. Tipe cewek yang kutu buku.

Biru beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri gadis itu. Langkahnya cukup percaya diri dengan tubuh jangkung dan seragam putih abu yang selalu terlihat rapih.

Saat sudah di hadapan gadis itu, Biru justru hanya berdiri diam. Merasa cahaya mataharinya terhalang oleh sesuatu gadis itu mendongak setelah tadi hanya menunduk pada layar laptop. Gadis itu langsung menutup laptopnya dan langsung berdiri,berniat untuk meninggalkan Biru. Namun  salah satu pergelangan tangannya langsung dicekal oleh cowok itu.

"Kenapa sih setiap ketemu sama gue lari-lari mulu?"

"Bukan urusan kamu."

Dengan cepat, gadis itu langsung menarik tangannya dan buru-buru pergi dari sana. Tapi, ucapan Biru kembali membuat langkahnya terhenti.

"Nama lo siapa?"

Selama 5 detik hanya hening diantara mereka. Tanpa disangka, gadis itu menjawab pertanyaan Biru tanpa membalikan badannya.

"Bella Aprilia. 11 IPS 2."

Tanpa pamit, gadis itu langsung meninggalkan Biru, lagi.

***

Bella Aprilia. Sebelas IPS 2.

Biru terus mengulang kalimat itu. Entah kenapa, seperti ada tarikan yang memaksanya untuk terus mendekat pada gadis itu. Bella itu unik.

Gadis itu begitu kaku saat pertama kali bertemu. Lalu saat dia berteriak di Perpustakaan sisi menggemaskannya muncul dan  kemarin saat di taman belakang sekolah, dia begitu cuek. Benar-benar menggemaskan.

Selama ini, Biru kemana saja ya? Kenapa dia baru mengenal gadis itu sekarang. Padahal mereka satu angkatan. Cuma berbeda jurusan saja. Terlalu asik memikirkan Bella, dia sampai tidak sadar bahwa guru yang tadi mengajarnya telah keluar. Teman-temannya juga bersiap untuk pulang.

Biru hanya menganggukan kepalanya saat beberapa teman sekelasnya pamit untuk pulang. Hari ini dia belum bertemu dengan Bella. Biru berniat untuk ke Perpustakaan, siapa tahu Bella ada disana. Tapi, panggilan dari ujung koridor menghentikannya. Pak Akmal kembali memanggilnya.

"Jadi, kamu cuma ngedesain halaman daftar hadir saja. Ntar sisanya biar Bapak yang beresin. Oke? Bapak duluan ya, Istri Bapak sudah nelpon terus dari tadi. Good luck."

Biru mengembuskan nafas berat. Lalu menatap layar monitor yang menampilkan source code. Tugasnya memang tidak berat sih hanya melanjutkan aplikasi yang sudah dibuat, itupun cuma mendesain satu halaman. Tapi karna Biru sendirian semuanya jadi terasa berat. Disaat teman-temannya yang lain sudah rebahan di kasur atau nongkrong di kafe Biru masih saja berkutat dengan komputer.

Klub IT sebenarnya disebut klub yang tidak pernah maju. Bagaimana mau maju anggotanya saja cuma satu orang. Klub IT baru diresmikan tahun ini. Diawal-awal perekrutan anggota lumayan banyak yang daftar, sekitar 20 sampai 30 orang. Tapi, namanya juga seleksi alam pasti banyak yang gugur.

Disaat Biru hampir menyelesaikan tugasnya, terdengar bunyi bip yang lumayan keras dari komputer yang ada dibelakangnya. Komputer yang sudah diklaim milik Biru tepatnya.

Layar monitor menampilkan digit-digit angka yang sangat banyak dan sangat cepat. Biru mencoba menghentikan tapi yang ada komputer itu malah mati, tak lama kemudian hidup kembali dengan sendirinya. Sepertinya ada yang tidak beres. Benar saja. Sistem yang dibuat Biru error.

Biru mencoba melacak orang yang sudah membuat sistemnya rusak. Butuh waktu cukup lama karna  orang itu membuat sistem pengamanan agar keberadaannya tidak diketahui orang. Sayangnya usaha Biru sia-sia. Hari ini dia tidak mendapatkan apapun. Dia bertekad akan mencari tahu siapa orang itu, karena sepertinya orang itu juga yang telah meresahkan warga sekolah dengan menghack akun sosial media milik mereka. Untuk itu Biru harus berusaha dengan keras!

***

 

Pagi-pagi sekali Biru sudah ada di ruangan khusus. Setelah menyelesaikan tugas dari gurunya kemarin dia langsung menyalakan komputer yang sudah diklaim miliknya. Langsung saja dia mencoba masuk pada sistem yang kemarin untuk mengetahui keberadaan orang itu. Sudah setengah jam berlalu tapi Biru belum berhasil menetas sistemnya.


Dapat!

Kok, di kawasan sekolah sih?
Apa mungkin, orang itu murid sini juga? Atau justru salah satu guru?

Biru harus bisa menemukan titik lokasinya dimana agar ia lebih mudah untuk mengetahui dalang dibalik semua ini. Karna semuanya sudah jelas sekarang bahwa orang itu memang yang mengakibatkan kerusuhan di sakolah ini. Tapi, apa alasan dia melakukan ini?

Biru sampai harus bolos jam pelajaran dan berbohong pada Pak Akmal untuk menyelidiki ini.

Sekarang sekolah sudah mulai sepi karna murid sudah pulang. Biru masih melacak keberadaan orang itu. Sulit sekali rasanya untuk memasuki sistemnya.

Pukul 16.30 Biru masih berkutat dengan komputer. Perutnya sudah merasa keroncongan karena tadi dia hanya mengganjalnya dengan sebungkus roti.

Hari ini dia harus menuntaskan semuanya!

Setelah sekian lama, akhirnya dia mendapatkan titik lokasinya. Biru langsung keluar dari ruangan khusus dengan langkah yang lebar. Seragam putih abunya sudah bercampur dengan keringat. Langkah kakinya membawa dia pada ruangan bertuliskan, Perpustakaan.

Ruangan ini sudah kosong. Hanya dihuni oleh jajaran rak yang diisi oleh buku-buku tebal. Biru melangkah kearah komputer perpustakaan. Kosong. Tidak ada orang disini.

Masa sih dia salah melacak?

Tiba-tiba, terdengar suara orang bersin dari ruangan tempat para petugas Perpustakaan istirahat. Biru langsung berjalan menuju ruangan itu. Sekali lagi, terdengar suara orang bersin. Biru semakin yakin bahwa masih ada orang di dalam sana. Tanpa basa-basi lagi Biru langsung menarik knop pintu dan mendorongnya. Dengan mata membulat Biru berharap bahwa yang ada dihadapannya saat ini hanya ilusi.

"Lo?!"

***


Biru membawa secangkir coklat hangat dan jaket tebal miliknya. Dia memberikan itu pada orang yang ditemuinya tadi di Perpustakaan. Biru benar-benar tak bisa mempercayai ini. Orang itu tadi hampir mati kedinginan karena AC yang ada di ruangan itu tidak bisa dimatikan. Biru menatap orang itu yang kini memakai jaket miliknya.

"Kenapa lo ngelakuin semua ini?"ucap Biru.

Lawan bicaranya belum juga membuka suara. Biru kembali melanjutkan, "tindakan kayak gini bisa membuat lo masuk penjara tau."

Lawan bicaranya masih saja diam. Kesabaran Biru hampir habis. Tapi dia mencoba kembali sabar, dia harus ingat siapa orang yang ada disebelahnya kini. Biru mengembuskan nafas dan kembali berucap, "Bell."

"Jangan panggil aku Bell. Aku bukan lonceng!"

Ehh?

"O-ke. Gue panggil lo, Ella?"

"Aku bukan Cinderella!"

"Yaudah, oke! Bella, jawab pertanyaan gue. Kenapa lo ngelakuin semua ini?"

Bella mencoba mengatur nafasnya kembali, dia memang sedikit sensitif dengan namanya.

"Maaf. Tapi, kamu gak ngerti dengan perasaan aku Biru."

"Gimana gue mau ngerti, kalau lo belum cerita."

"Aku gak suka mengorek luka lama."

Keduanya kembali diam. Bella menunduk sementara Biru menatap ke depan. Angin malam berhembus membelai kulit mereka.

"Bella, plisss. Siapa tau gue bisa bantu lo?"

Sebelum bercerita, Bella mencoba untuk menguatkan dirinya. Dia menarik nafas dan memejamkan matanya sebentar.

"Waktu SMP, aku pernah dibully habis-habisan. Padahal semuanya cuma salah paham. Aku ingat, malam itu aku nganter abangku ke salah satu apartemen temennya. Kubilang, aku nunggu diluar saja. Tapi, sepertinya malam itu aku sedang sial. Tiba-tiba saja aku bertemu dengan Om dan Tanteku, mereka mau masuk apartemen. Sayangnya, kunci apartemen mereka ketinggalan di mobil dan Tante harus balik lagi. Saat itu, Om sedang dalam kondisi mabuk. Dan malam itu aku benar-benar sial, karna salah satu temanku yang ada disana mengambil potoku yang sedang merangkul Om lalu langsung membagikannya pada teman-temanku yang lain. Dari sanalah semuanya dimulai."

Bella mengembuskan nafas dengan berat. Lalu kembali berujar, "kehidupanku di sekolah gak pernah tenang. Pembullyan yang mereka lakukan bukan sekedar ucapan, tapi juga fisik. Sampai akhirnya aku bener-bener udah gak tahan sama tindakan mereka dan memilih buat pindah sekolah. Lalu memulai semuanya dari awal. Sebenernya emang udah dari dulu aku suka pemrograman, kayak buat aplikasi yang sederhana gitu. Lalu, bayangan ketika aku dibully hadir lagi dan dari sana aku kepikiran buat balas dendam. Eh, bukan balas dendam juga sih. Aku cuma mau sedikit bermain-main sama mereka."
Diakhir kalimat Bella tertawa geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bella, are you okay?"

"Hem? I'm fine. Aku gak papa kok."

"Tapi, kenapa harus ngehack akun? Terus, postingan yang lo hack juga bikin malu orangnya. Kasian tau."

"Kan, sudah kubilang. Aku cuma sedikit bermain-main dengan mereka. Aku cuma bermain dengan mereka yang dulu jahat padaku kok. Yang memposting poto hoax itu."

"Tapi, lo udah cukup buat mereka malu Bella. Memposting ulang unggahan zaman mereka alay?  Pantes aja mereka semua frustasi.  Lo tau? gue juga yang jadi korbannya! Pak Akmal nyuruh gue benerin semua akun yang kena hack! Lo gak kasian sama gue?"

"Aku tahu semuanya kok. Cuma, aku pengen tau aja kemampuan kamu sampai mana."Bella melirik Biru disebelahnya. Cewek itu tersenyum simpul.

Dalam hati Biru langsung mengumpat, sialan.

***
"Makasih."

"Santai aja."

Setelah perbincangan itu keduanya diam, dengan Biru yang masih duduk dimotornya dan Bella yang ada di depannya kini. Saat ini mereka sudah berada di depan rumah Bella. Padahal tadi Bella sudah menolak untuk diantarkan pulang, tapi Biru memaksanya.

"Yaudah kalo gitu, aku masuk dulu ya? Kamu hati-hati dijalan." Bella buru-buru membalikan badan dan berjalan menuju pagar rumahnya, tapi lagi-lagi langkahnya harus terhenti karna seruan dari Biru.

"Besok lo sekolah, kan?"

"Sekolah kok."

"Yaudah, ntar besok gue jemput lo. Kita berangkat bareng. Oh, jangan lupa bawa laptop kesayangan lo! Pak Akmal pasti seneng banget liat aplikasi buatan lo. Inget, klub IT butuh orang kayak lo. Yaudah, kalo gitu gue pamit dulu. Salam buat yang dirumah. E-em... Good night and... sweet dream." Biru langsung tancap gas setelah mengatakan kalimat sepanjang itu. Apa-apaan sih ngegas banget!

Tidak tahu saja kalau Bella juga mulai merasakan panas  di pipinya. Gadis itu langsung memasuki rumah.

Diperjalanan, Biru malah seperti orang gila. Senyum-senyum sendiri.
Ditemani bintang yang bertabur dilangit hati Biru mulai merasa hangat. Sekarang dia harus membuat program untuk bisa mengambil hati gadis itu.

Semua akan indah pada waktunya. Semua yang sedih akan bahagia pada waktunya. Dan cerita ini juga harus berakhir karna sudah waktunya. Terkadang apa yang kita lihat, belum tentu benar. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Jangan pernah berlaku jahat pada siapapun, karna kita tidak akan tahu apa yang bisa orang itu lakukan terhadap kita, bisa jadi baik atau mungkin buruk. Jadi bersikap baiklah pada siapapun, maka kebaikan akan menghampirimu.

 

TAMAT

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani