Profil instastories

Untuk kenal lebih lanjut bisa hubungi melalui FB: Mubina atau Email: ubimubina@gmail.com

Gugur

#Gugur

 

Bab 1

 

Kaki ini mulai kesemutan karena terus meringkuk di dalam almari bersama Bang Aan yang terus menutup kedua telingaku. Lagi-lagi, ayah dan ibu bertengkar hebat karena adikku yang baru berusia empat bulan terus menerus jatuh sakit.

 

"Usahakanlah, Yah! Bagaimana nasib anak kita ini!" teriak ibu nyaring.

 

Tak ada jawaban yang terdengar, seperti biasa, ayah akan bungkam dan memukul ibu sebagai jawaban.

 

Ibu bersikeras untuk rawat inap, tetapi ayah menentangnya, alasannya tak punya cukup uang. Selalu berulang seperti itu semenjak kelahiran adik bungsuku itu. Aku merasa kasihan dan juga sedih, tapi anak kecil sepertiku tak mampu berbuat banyak. Hanya doa dalam hati yang terus terucap.

 

Setelah beberapa lama, terdengar suara pintu dibanting. Aku dan Bang Aan pun keluar dari almari dengan menghela napas berat.

 

"Bang, kenapa ibu dan ayah tidak pernah memerhatikan kita lagi? Apa mereka sudah gak sayang?" tanyaku sedih.

 

"Huss!" Bang Aan membungkam mulutku, "Bukan gak sayang, kamu tahu kan adik kita sakit terus semenjak lahir."

 

Aku mengangguk pasrah, entah sampai kapan hal ini akan berakhir. Rindu rasanya berkumpul dan bercanda dengan ayah dan ibu, rindu masakan ibu dengan senyuman dan juga saat bermain atau rekreasi bersama.

 

Semenjak adik lahir, rumah ini terasa suram. Aku tahu, ini bukan salahnya, takdirnya saja yang kurang beruntung.

 

"Hei!" teriak Bang Aan membuyarkan lamunanku.

 

"Hish! Apalah!" seruku mendengkus kesal.

 

"Mereka sudah berhenti, ayo kita cari makanan di dapur!"

 

"Ayo! Aku juga sudah lapar, Bang."

 

Kami mengendap-endap menuju dapur, melewati pintu kamar ibu dan ayah yang tampak sepi. Ayah pasti sudah pergi keluar, sedangkan ibu, aku yakin sedang menangis bersama adik di kamar.

 

Kami punya orangtua, tetapi seperti anak terlantar. Mereka tak pernah peduli kami makan atau tidak, sedih atau tidak. Mereka terus bertengkar semenjak ada adik bayi. Membuat kami berdua terpaksa dewasa lebih cepat dengan mengurus diri sendiri dan kebutuhan kami.

 

Padahal, usiaku baru enam tahun, aku yang tadinya hanya tahu bermain, sekarang menjadi lupa bagaimana rasanya bermain. Bang Aan seharusnya sudah masuk kelas dua SD, tetapi ia terpaksa putus sekolah sebab ayah tak mampu membiayainya.

 

Sesampainya di dapur, Bang Aan langsung memecahkan telur dan menggorengnya. Dia bagian memasak, dan aku yang mencuci piringnya.

 

Menjelang tengah malam, saat semua sudah terlelap. Tiba-tiba ibu berteriak nyaring, membuatku terbangun karena terkejut. Aku dan Bang Aan mengendap-endap mendekati kamar ayah dan ibu. Pintunya terbuka dan menyisakan sedikit celah.

 

Di dalam sana, mata ini bergetar menyaksikan apa yang terjadi, dengan cepat Bang Aan menutup mataku dan menyeret menjauh. Terlihat Bang Aan juga meneteskan air mata tanpa bisa ditahan lagi.

 

Ibu mengguncang-guncang tubuh kecil itu, berteriak seperti orang kesurupan dan terus menyalahkan ayah. Tubuh kecil itu terlihat lebih pucat dari biasanya, tak bergerak sedikitpun.

 

Kejadiannya begitu cepat, pagi ini jasad adikku dimakamkan. Ibu terus menangis hingga matanya bengkak, ia terus menyalahkan ayah yang tak mau merawat adik di puskesmas. Sedangkan ayah, dalam gurat wajahnya terlihat jelas rasa bersalah yang teramat, meskipun tak meneteskan air mata.

 

Proses pemakaman berjalan dengan lancar, Ibu dan Bang Aan masih berada di depan pusara, tak mampu menahan kesedihan. Sedangkan aku, hanya tertunduk dan termenung di belakang ibu, air mataku sudah kering sejak semalam.

 

Kami pulang dengan lesu, sesampainya di rumah. Suasana terasa mencekam, sepi tanpa jerit tangis dan tawa adik bayiku. Semakin berada di rumah ini, kesedihan terus menghantui kami semua.

 

Ibu tampak masih marah dengan ayah, sehari setelah pemakaman. Ibu mengajakku dan bang Aan pulang ke rumah nenek dari ibu. Sedangkan ayah, juga pulang ke rumah orang tuanya, yang biasa kupanggil "Ninik". Kami semua menghapus bersih kenangan tentang adikku, dengan menjual rumah itu.

 

***

 

"Ibu, kenapa ayah tidak ikut bersama kita?" tanyaku setelah ibu tampak tenang.

 

Ibu terdiam beberapa saat, wajahnya datar tanpa ekspresi, tetapi sedetik kemudian ia berusaha menampakkan senyuman, walau lebih terkesan dipaksakan.

 

"Ayahmu, mungkin kangen juga dengan Ninik."

 

Hanya itu yang ibu katakan, aku hanya termenung dan tak berani bertanya lagi meskipun sangat penasaran. Bang Aan juga menjadi lebih pendiam semenjak pindah bersama nenek. 

 

Di sini diriku sama sekali tidak punya teman bicara, sebenarnya nenek adalah orang yang galak dan pelit, setiap hari pasti ada saatnya aku dimarahi karena tak sengaja berbuat salah. 

 

Terkadang aku iri pada Bang Aan, ia tampak diperlakukan berbeda dan lebih baik dariku karena ia anak dan cucu pertama. Bang Aan juga membantu kerja di ladang sebab ia cukup besar dan mampu untuk membantu.

Sedangkan aku, hanya bisa diam di rumah dan mencuci piring kotor.

 

Aku juga sedih, karena Bang Aan tak lagi peduli padaku seperti dulu. Ia begitu berubah, seperti orang lain saja. Seandainya, aku yang lahir pertama, apa akan ada yang berubah? Entahlah. Otakku tak mampu mencerna pikiran orang dewasa lebih jauh lagi.

 

Begitu lelah dengan pikiran sendiri, stress karena sendiri, membuatku tak bersemangat lagi menjalani hari, tak ada lagi perasaan gembira menanti hari menjelang pagi, maupun gembira saat melihat matahari terbenam. Semua terasa hambar dan melelahkan. 

 

Setiap malam aku akan bermimpi tentang saat-saat kami bahagia, begitu indah sampai rasanya tak ingin bangun lagi. Ibu yang selalu tersenyum, ayah yang memujiku dan menyayangiku, menggendongku dipunggungnya. Semua saat bahagia terus berputar bagai kaset yang terus disetel ulang.

Membuat mimpi, jauh lebih indah dari kenyataan.

 

***

 

Tak terasa, satu bulan pun telah berlalu. Aku baru mengetahui fakta bahwa kedua orang tuaku bercerai semenjak mereka berpisah malam itu, pantas saja selama ini, ayah tak pernah sekalipun menengok kami.

 

Aku ingin marah, sedih dan juga kecewa. Saking sesaknya semua rasa itu tercampur aduk menjadi satu, membuatku perlahan mati rasa. Semua terasa hambar dan hampa. Kenapa? Kenapa ini terjadi? Siapa yang salah?  Pertanyaan ini terus berulang, memenuhi otakku. Membuatku kesal dan benci semua perasaan ini.

 

Lagi, hanya bisa menangis dalam diam. Sebab, jika sampai terdengar nenek, ia akan memukulku dan mengataiku anak lelaki cengeng dan tidak berguna. Bukan mauku menjadi seperti ini, kenapa ini terjadi? Dan aku juga benci ayah yang tak peduli dan memilih meninggalkan kami.

 

Jika itu anak-anak lain, mungkin mereka akan merindukan ayahnya. Namun, sayang sekali itu tidak terjadi padaku. Rasa takut dan benci ini, lebih mendominasi rindu itu. Separuh hatiku telah mati bersama perpecahan itu. Hilang tersapu badai yang memporak-porandakan keluargaku.

 

Bab 2

Hari ini adalah hari keberangkatan ibu ke negeri Jiran. Bang Aan tampak begitu sedih dan lesu mengekori ibu kemana-mana, sedangkan aku tak merasakan apapun, dan ibu juga tampak biasa saja menghadapiku.

Aku tak peduli ibu mau apa dan kemana, semua itu tidak ada hubungannya denganku. Menangis pun percuma, tidak akan merubah apapun. 

Kulihat mobil yang disewa ibu sudah tiba, seorang lelaki paruh baya turun dari balik kemudi. Disusul seorang anak perempuan, usianya mungkin seumuranku, rambut lurus, mata bulat, kulitnya putih dengan pipi tembam. Wajahnya lucu.

Selama ini, aku belum pernah berteman dengan anak perempuan seusiaku. Membuat mata ini terus memperhatikannya. Apa yang dia lakukan dan caranya berbicara dengan ibu tampak sopan. Dia pasti anak kesayangan ayahnya. Beruntungnya dia.

Saat aku diam-diam memperhatikannya, tiba-tiba tatapan mata kami bertubrukan. Membuatku mengalihkan pandangan dengan cepat, rasanya memalukan ketahuan memerhatikannya.

Awalnya kukira, dia akan takut melihatku dan menjauhiku seperti anak-anak lainnya. Namun, dia justru tersenyum padaku dan melangkah ke arah tempat aku duduk termangu sepanjang pagi.

"Hai, aku Rara. Namamu siapa?" sapanya ramah.

Mulutku terasa terkunci dan hanya bisa bungkam, padahal hanya seorang anak perempuan, tetapi kenapa membuatku gugup dan membisu seperti ini? Kesal. Itulah yang terlintas di hatiku.

"Maaf, kalau kamu merasa terganggu. Soalnya aku gak punya teman. Abaikan saja aku," lanjutnya dengan wajah masam kemudian duduk diam di sampingku.

"Rendi."

"Apa?" tanyanya tampak heran.

"Namaku, Rendi," ucapku pelan. 

"Ayo berteman!" serunya riang.

Rara mengulurkan tangannya dan kami pun bersalaman. Kami sama-sama tersenyum canggung dan kaku. Seolah kehabisan kata-kata dan memilih memandangi ibu bersama ayahnya mengangkut barang ke mobil.

Sembari menunggu para orangtua bersiap, Rara mengajakku bermain di sekeliling rumah, saat ia melihat pohon rambutan yang landai dan berbuah lebat, seketika ia pun menelan ludah. Lucu sekali ekspresinya.

"Kamu mau?" tanyaku padanya.

"Mau! Eh, tapi apa boleh?" tanyanya lagi.

"Boleh."

Aku pun pergi mengambil galah di belakang rumah, saat kembali, kulihat Rara menangis di atas pohon. 

"Kamu ngapain sih?" tanyaku sedikit kaget melihatnya nangkring di sana.

"Katamu tadi kan boleh ambil, ya kupanjatlah ... ta-tapi, lupa! Aku bisa manjat tapi gak berani turun," ungkapnya sesenggukan dengan mulut penuh rambutan.

"Hahaha, kamu ini konyol banget sih".

Tingkah Rara yang unik membuatku terhibur dan nyaman, aku senang dapat teman baru.

"Bentar! Aku panggilin ayahmu deh! seruku dari bawah.

"Jangan! Aku takut dimarahi ayah," ucapnya lesu.

"Astaga, terus gimana dong?" tanyaku frustasi.

"Kamu berdiri di bawah sini, buat pijakan aku," ucapnya mendapatkan ide. Terpaksa kuturuti keinginannya.Perlahan ia mulai menjulurkan kakinya dan berpijak pada pundakku. Namun, saat kaki kedua mulai berpijak, seekor ulat bulu jatuh mengenai tanganku yang melingkari pohon. Tak sadar, aku pun melompat dan kehilangan keseimbangan.

 

Bruuuk!

 

Rara menimpa tepat di atasku, punggungku terasa nyeri dan sakit. Sedangkan tanganku gatal dan panas.

 

"Aduh, gimana sih, kok kamu lepasin? Kan jatuh jadinya," sungutnya seraya berdiri.

 

"Aku lebih sakit tau, udah jatuh ketimpa gajah pula," ucapku kesal.

 

"Dih, siapa yang gajah!" serunya kesal.

 

"Bukan siapa-siapa kok, tadi ada ulat bulu, liat nih tanganku bengkak," sahutku mengalihkan perhatiannya.

 

"Ya ampun, kok bisa sih, ayo minta obat sama nenekmu," jawabnya seraya menarikku ke dapur.

 

Sesampainya di dapur, kami langsung menghampiri nenek, sejujurnya aku sedikif takut untuk bicara.

 

"Nek, minta obat buat Reno," ucap Rara mendahuluiku seraya menunjukkan tanganku. Seakan ia bisa membaca pikiran orang.

 

"Kenapa kok bisa kayak gini?" tanya Nenek seraya mengomel plus ceramah. 

 

***

 

Setelah diobati, kami pun duduk di teras depan sambil makan pisang goreng buatan nenek. Kulihat, persiapan ibu pun sudah selesai. 

 

"Rara! Ayo!" seru ayahnya memberi isyarat.

 

"Baik, Ayah!"

 

Kami pun berangkat mengantar ibu sampai ke pelabuhan, sepanjang jalan hujan rintik mengguyur bumi. Membuat udara menjadi dingin, kulihat ayah Rara mengulurkan jaket untuknya. Begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Membuat iri saja.

 

Sedangkan ibu, terus memeluk Bang Aan yang tak berhenti menangis. Aku menatap jalanan dengan tatapan kosong. Padahal aku di sini, Bu. Lihatlah sekali saja ... kumohon.

 

Secepat kilat kuhapus bulir bening yang hampir turun dari mata. Aku tidak mau terlihat cengeng di depan ibu. Meskipun hatiku juga sedih, rindu juga benci.

 

Kupejamkan mata, menahan isak yang menggerogoti dada, berusaha untuk tidur. Namun, aku merasakan sebuah tangan memegang bahuku. Membuatku kembali terjaga.

 

"Reno ... maafkan ibu, Sayang," ucapnya pilu.

 

Ibu memelukku begitu erat dengan air mata yang terus mengalir. Pelukan ibu begitu hangat, detak jantung ibu begitu cepat, aku merasakannya, semua perasaan ibu seolah mengalir kepadaku. Tak dapat kutahan lagi, runtuh sudah dinding ego yang mati-matian kupertahankan. Aku menangis sejadinya di pelukan ibu.

 

Rara menatapku dengan tersenyum penuh arti, aku pun membalas senyumannya. Ia seolah memberi kekuatan melalui senyumannya. Kuanggukkan kepala sebagai jawaban.

 

Setibanya di pelabuhan, ibu memelukku dan juga Bang Aan dengan erat.

 

"Bang, jaga adikmu ya, Nak?"

 

"Iya, Bu," sahut Bang Aan dengan mata yang merah.

 

"Reno, bantu Abangmu ya, Nak?" 

 

Aku mengangguk, ibu berpesan agar kami saling menjaga dan menyayangi. Perasaanku sedikit terobati dan dianggap. Kulambaikan tangan saat ibu mulai memasuki kapal. Ini adalah kali terakhir bisa bertemu ibu. Entah berapa lama, bulan kah, atau tahun kah, kapan kami bisa berkumpul lagi? Sesak rasanya.

 

***

 

Sepanjang jalan pulang hanya heninglah yang menyelimuti. Bang Aan termenung menatap jalanan dan rintik hujan yang tersisa, dia pasti sedih mengingat ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Saat aku mengalihkan pandang ke depan, ternyata Rara memperhatikanku sedari tadi melalui kaca mobil. Dia tersenyum menguatkan.

 

Merangkak senja, mobil berhenti di pinggir jalan, ayah Rara mengajak kami untuk makan, mengingat kami tak sempat makan siang. Ayam penyet pun menjadi menu pilihan kami, daging ayam goreng yang enak dan harum membuatku keroncongan seketika. Ditambah nasi hangat, sambal dan lalapan. Lengkap, meskipun aku tak begitu menyukai sayuran.

 

Tak butuh waktu lama, semua makanan sudah ludes. Kami pun melanjutkan perjalanan, menjelang malam kami tiba di kampung, tempat nenek tinggal. 

 

Ayah Rara berpamitan pada Nenek, Bang Aan langsung mengurung diri di kamar, sedangkan aku menunggu Rara mengajakku bicara lagi.

 

"Kapan-kapan, kita bertemu dan main bareng ya!" seru Rara bersemangat, padahal kami semua kelelahan setelah perjalanan jauh. Namun, Rara seolah pembawa energi positif yang baik. 

 

"Iya!" 

 

"Janji?" tanya Rara memastikan.

 

"Iya, janji."

 

Begitulah awal pertemuanku dengan Rara, penuh kekonyolan dan kenangan.

 

Bersambung ...

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani