Profil instastories

GHIBAH

     Sekelompok remaja wanita, tengah berduduk santai dihalaman musholla setelah melaksanakan sholat ashar.

“Ha, itu siapa yang pakai cadar?” tanya Sita. Dia melirik seorang wanita, yang berbalut gamis hitam, khimar putih serta cadar seirama dengan gamisnya. Wanita itu hendak berjalan menuju Musholla.

“Kok mirip Laya, bener tidak?” jawab Gita menebak.

“Dari bentuk mata sih, iya dia Laya. Aneh aja ya dia tiba-tiba pakai cadar!” sahut Shela.

“Kenapa kalian terheran? Bagus kali kalau dia pakai cadar. Kan cadar sunah muakad, yang bila dikenakan berpahala. Mungkin Laya ingin menguatkan imannya lagi!” jelas Dibah dengan lemah lembut, dia tidak ingin temannya berfikiran negatif.

“Bukan gitu Dib, iya yang kamu ucapkan itu benar. Tapi aku berfikir aneh, apa kalian ingat? Waktu kita lagi masak, makan, terus saat kajian kemarin. Laya itu sering mual-mual loh, terus pas aku tanya dia bilang nggak enak badan, kepalanya pusing,” jelas Hesti panjang lebar, sembari berbisik.

“Eh iya aku ingat dia....” ucap Shela terpotong.

“Syutt! Jangan dilanjutkan. Ingat nanti kalau kita asal menerka, entar jadi Ghibah lo. Udahlah ayo kita pergi, nanti malam ada kajian lagi!” ajak Dibah.

    Semua temannya tak ada yang bergeming, Dibah memilih pergi sendiri. Tiba-tiba mereka melihat Laya berlari keluar dari Musholla, Laya keluar sembari memegang mulutnya. Dibah menyusul Laya dia takut terjadi sesuatu pada Laya.

“Nah lihat tuh, jangan-jangan tebakkan kita benar lagi. Itu kenapa sih Dibah sok banget deh!” gerutu Hesti.

“Hahaha, biarin ajalah dia!” sahut Sita.

    Malampun tiba, Sita, Gita, Shela dan Hesti, mereka baru pulang dari kajian di Musholla. Mereka berempat satu Asrama, satulagi Dibah, tapi Dibah sedang menginap diAsrama adiknya, kebetulan adiknya mondok disana. Mereka semua sudah lulus, hanya saja sedang mengabdi dipondok pesantren itu.

“Eh kalian tau nggak?” ucap Gita membuat teman-temanya fokus menghadap dia.

“Udah jangan! Nggak ingat apa tadi Ustadzah ceramah tentang bergunjing, ngeri ah!” jelas Shela.

“Siapa juga yang mau bergunjing, sekarang ini fakta loh. Shel, lo ingat nggak, waktu dua malam yang lalu, kita habis dari ambil minum didapur Asrama. Laya pulang diantar sama seorang cowok....”

Flashback.

Gita dan Shela, baru sudah ambil air minum didapur Asrama, saat mereka berjalan menuju Kamar Asramanya, sebuah motor berhenti didepan pintu pagar. Merekapun melihat karena hari sudah malam, siapa orang yang akan datang. Ternyata Laya bersama seorang pria, Laya mengusap matanya dia sedang menangis. 

“Bang, Laya nggak mau dijodohkan. Abangkan Abang kandung Laya, Abang bantu Laya ya, ngomong sama Abah dan Ibuk!” pinta Laya sesegukkan.

“Udah dek jangan nangis, nanti Abang coba lakuin ya!” ucap Abangnya mengusap pipi adiknya yang basah karena air mata.

Gita dan Shela tidak mendengar pembicaraan mereka, mereka yang menyaksikan itu sangat terkejut, lalu merekapun memilih pergi.

Flashback Off.

“Ha aku ingat!” ucap Shela.

“Ih ternyata bener. Jangan-jangan itu pria yang sudah menghamili Laya,” tebak Hesti.

“Besok aja kita lanjuti, ini udah malem. Nanti kita harus bangun cepat untuk Tahajud,” jelas Sita.

“Eh iya benar.”

Mereka semuapun pergi tidur diranjang masing-masing.

***

“Git, Gita bangun! Aku lapar,” ucap Hesti.

“Hesti, tumbenan malam-malam gini kamu bangunin aku?” ucap Gita mengusap wajah ngantuknya.

“Gita aku lapar, memangnya kamu nggak lapar?”

“Aku nggak Hes,” jawab Gita.

“Yang lain udah duluan pergi makan, ayo Gita ikut!” ajak Hesti.

Gita melihat kesekeliling, dia melirik ranjang Shela dan Shita. Mereka sudah tidak ada ditempat tidurnya, lalu Hesti menarik paksa Gita untuk ikut dengannya. Gita terkejut karena Hesti tidak biasanya seperti itu, dan diapun mengikut saja. Saat didapur, tiba-tiba Hesti berlari dia seperti orang sangat kelaparan, Gita mendengar suara aneh, dia mengecek tidak ada siapa-siapa, seketika sebuah darah mengalir dari bawah meja.

Gita sangat terkejut, dengan pelan Gita melihat kebawah meja, betapa terkejutnya dia melompat kebelakang hingga terjatuh, dia menyaksikan Shela, Sita dan Hesti sedang memakan daging mentah dan itu bersal dari tubuh seseorang yaitu Laya yang lengkap dengan cadarnya. Gita menangis ketakuttan, Sita yang sadar kedatangan Hesti dia membawa sepotong daging menuju Gita, dari gerakannya dia menyuruh Gita ikut memakannya, Gita ketakutan, menangis, dia menggelengkan kepalanya.

***

“Anak-anak bangun! Tumben kalian telat tahajud,” panggil Ustadzah.

Mereka semua bangun dan terkejut, mereka semua saling pandang dan menampilkan wajah ketakutannya.

“Kalian Kenapa?” tanya Ustadzah.

“Ustadzah,” panggil mereka kompak dan memeluk Ustadzah sambil menangis.

“Kalian kenapa?” tanya Ustadzah.

“Aku berjanji tidak akan menyebut orang lain  lagi, walaupun itu fakta. Aku tidak mau memakan daging mentah saudaraku sendiri,” tangis Gita.

“Iya aku juga,” sahut yang lainnya kompak.

Merekapun menceritakan pada Ustadzah, kalau mereka sejak kemarin sedang menceritakan Laya yang tiba-tiba bercadar dan dugaan kehamilan Laya. Ustadzah tampak terkejut, lalu dengan tenang untuk menjelaskan pada mereka semua.

“Bukannya tadi malam, kalian sudah mendengar kajian tentang bergunjing. Apa kalian lupa? Ingat jika kalian menceritakan kebenaran saudaramu maka kalian sedang Ghibah, sedangkan jika itu sebaliknya kalian berdusta. Kenapa kalian tidak tanya langsung pada Laya? Sekarang Laya sudah dibawa kerumah sakit, dia terkena infeksi pencernaan, karena itu dia sering mual dan pusing. Ustadzah kecewa sama kalian, padahal kalian memiliki ilmu itu, tetapi tidak mengamalkannya, betapa ruginya itu, Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang,” jelas Ustadzah.

“Maaf Ustadzah, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan akan meminta maat pada Laya,” sahut Shela.

“Baguslah kalau begitu, ayo sekarang sudah hampir waktu subuh. Kalian sudah melewati Tahajud tadi,” ajak Ustadzah.

Didalam perjalanan menuju Musholla, mereka saling bercerita mimpi, mereka sangat terkejut karena mendapatkan mimpi yang sama.

“Mimpi itu karena Allah sangat sayang pada kalian, allah Swt menunjukkan pada kalian efek dari bergunjing. Jadi kalian tidak boleh untuk bergunjing lagi!” jelas Ustadzah.

“Baik Ustadzah, kami menyesal,” ucap Gita.

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain. Apakah antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik. Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (QS. AL-HUJURAT:12)

 

 

Karya : NURUL AMALIA

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani