Profil instastories

Gengsi-gengsi Tapi Mau

1. Minta digendong

Hari ini hari kedua Ayana bekerja di sebuah apartemen yang tak jauh di rumahnya. Kemarin Ayana hanya bekerja membersihkan apartemen itu saja lalu setelahnya pulang ke rumah. Ayana juga belum bertemu dengan bosnya itu karena katanya bosnya sedang pergi ke luar kota untuk mengecek keadaan kafe-kafenya.

 

Ayana menghirup udara dengan nikmat lalu mengeluarkannnya secara perlahan-lahan. Bibirnya tersungging lebar serta kakinya yang berjalan cepat menyongsong arah jalanan. Inilah hari pertama Ayana akan bertemu bosnya semoga saja bosnya sangat baik dan Ayana tidak mengecewakannya.

 

Ayana kini memakai atasan kemeja hitam dengan celana jeans hitam yang melekat pas di kakinya. Ketika tubuhnya sudah berdiri di depan pintu apartemen matanya melirik ke arah jam tangannya yang tenyata ia masih mempunyai sisa waktu tiga puluh menit. Ayana menimbang-nimbang apa ia masuk saja, ya? Tapi ini masih terlalu pagi. Dipikir-pikir ya sudahlah lebih baik ia masuk saja siapa tahu bosnya itu jadi senang kalau ia pagi-pagi sudah stay di apartemennya. 

 

Ayana memencet bel, saking semangatnya gadis itu memencet bel sebanyak sepuluh kali hingga tak lama kemudian pintu apartemen terbuka menampilkan wajah kusut seorang cowok. Matanya menatap kesal ke arah Ayana yang sumringah. Ayana menyapa dengan sopan bibirnya tersungging dengan lebar alih-alih dibalas sama juga yang ada cowok itu tanpa kata malah berbalik setelah sempat melengos ke arah Ayana.

 

Senyum Ayana luntur, gadis itu menyumpah serapahi kelakuan cowok tadi. Ayana kesal, songong sekali bos barunya itu. Pantas saja kalau ART-nya kabur-kaburan orang  kelakuannya juga begitu tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Ayana saja baru sekarang bertemu sudah dibuat kesal apalagi nanti ya. Apa Ayana akan bernasib seperti ART-ART lainnya? Entahlah, kita lihat saja sejauh mana Ayana bertahan. 

 

"NGAPAIN LO DI SITU? AYO MASUK ATAU LO MAU GUE PECAT!"

 

Suara yang terdengar nyaring hingga menusuk ke gendang telinga membuat Ayana berdecak lalu dengan segera memasuki apartemen dengan malas. Ayana celingak celinguk, kemana bosnya itu pergi. Apa dia kembali masuk ke dalam kamarnya, sepertinya begitu. Ayana memutuskan untuk mulai membersihkan apartemen saja. Ayana berjalan memasuki dapur, Ayana menaruh tasnya di atas meja makan setelahnya  langsung membereskan apartemen bosnya itu yang seperti kapal pecah.

 

Hanya butuh waktu tiga puluh menit, Ayana sudah beres dengan pekerjaannya. Sekarang tinggal kamar bosnya itu yang perlu Ayana bersihkan. Ayana mengambil sapu dan lap pel menjinjing di kedua tangannya. Sebelum memasuki kamar Ayan mengetuk terlebih dahulu pintu kamar bosnya itu. Kali ini Ayana hanya mengetuk tiga kali karena takut bosnya itu marah tadi saja sepertinya sudah kesal. Ayana mendorong pintu kamar itu setelah dipersilakan masuk. Pertama kali kakinya menapaki kamar yang dilihat Ayana adalah seonggok daging manusia yang tengah terlelap di atas tempat tidurnya. Tubuhnya digelung dengan selimut membuatnya seperti kepompong ulat saja. Ayana jadi geleng-geleng kepala melihatnya. 

 

Baru saja Ayana ingin menyapu lantai suara yang teredam selimut itu membuat Ayana menoleh. Bosnya itu ternyata kini sudah bangun dan

memanggilnya dengan mata tertutup serta tubuhnya yang masih berbaring di atas kasur.

 

"Sini lo!"

 

Ayana menoleh dan mata bosnya terbuka menatap wajah Ayana dengan sayu. 

 

"Kenapa om?"

 

Mata sayu itu tiba-tiba melotot, Ayana gelagapan seketika. Batinnya bertanya, apa ia berbuat kesalahan? Ayana jadi gemetar sendiri.

 

"Lo ngatain gue?!"

 

"hah?"

 

Bosnya itu melengos dan Ayana kebingungan. Perasaan Ayana tidak mengatai bosnya itu kok jadi marah-marah. Ayana menatap bosnya itu yang kini mengalihkan wajah darinya terlihat kesal sekali dan napasnya terdengar mendengus dengan keras beberapa kali. 

 

"A-apa om butuh sesuatu?"

 

Lagi-lagi mata bosnya itu melotot dan kini sudah menoleh ke arah Ayana dengan tampang sangarnya. Lagi-lagi Mendengus keras beberapa kali.  Membuat Ayana jadi mengganggap bosnya ini bengek sepertinya. 

 

"Jangan panggil gue om! Sekali lagi lo panggil gue om, minggat lo dari sini!"

 

Ayana mengangguk-angguk cepat. Gila, jadi karena itu bosnya marah dan membuatnya hampir dipecat. Memangnya apa yang salah dengan panggilan om. Kan panggilan itu cocok dengan kelakuannya yang suka marah-narah seperti omnya di Surabaya. Lagian kalau bukan manggil om Ayana harus manggil apa?

 

Garis wajah bosnya itu mengendur walau tampang kesal itu masih saja menempel di wajahnya. Kini dagunya mengisyaratkan Ayana untuk lebih mendekat dan Ayana manut mendekatinya. 

 

"Sini, bantuin gue bangun," ujarnya sambil duduk dari tempat tidur lalu kedua tangannya terbuka lebar mengingatkan Ayana kepada keponakannya yang jika ingin di gendong olehnya.

 

Ayana terdiam di tempat, wajahnya cengo, secengo-cengonya. Apa Ayana tidak salah mengartikan, bosnya ini secara tidak langsung minta di gendong olehnya?

 

Karena melihat asistennya ini diam, cowok itu berdecak sebal. Tangannya sudah pegal merentang tapi malah didiamkan. Ck, apa ia pecat saja asisten barunya ini?

 

"Ngapain lo bengong, cepetan bantuin gue bangun! Tangan gue udah pegel. "

 

Mata Ayana mengerjap, apa Ayana sedang bermimpi.

 

"Ck, kebanyakan mikir. Buruan!"

 

Ayana tersentak, gadis itu memilin ujung kemeja hitamnya pelan. Menatap bingung ke arah bosnya itu yang masih saja merentang. Wajahnya sudah kembali sangar dengan mata tajam menghunus mata Ayana. 

 

Ayana dengan ragu bertanya, "ba-bapak minta saya gendong?"

 

Mata itu kembali melotot membuat Ayana gelagapan kembali. Apa lagi salah Ayana gusti?

 

"Jangan panggil gue bapak, gue bukan bapak lo, ya! Panggil gue mas Ezra. " Ujarnya dengan tegas.

 

"i-iya mas."

 

"Ya udah cepatan bantuin gue bangun."

 

Ayana dengan ragu mendekat, tangannya dengan gemetar meraih pinggang cowok itu. Matanya menunduk Ayana tak berani menatap mata bosnya itu. Tiba-tiba saja tangannya di tepis kasar membuat Ayana mengaduh dan menarik tangannya dengan cepat. Ayana mengusap tangannya yang nyut-nyutan.

 

"Lo mau ngapain?" Ujar bosnya itu sembari melotot kesal ke arah Ayana. 

 

"Ya mau gendong masnya. Kan tadi minta digendong. Gimana, sih?"

 

Ayana jadi kesal sendiri. Matanya dengan berani menatap sinis bosnya itu. Masa bodo nanti kalau marah lagi kesabaran Ayana sudah habis. Bosnya ini banyak sekali maunya. Mana minta digendong lagi dikira situ bayi, badan segede kingkong saja mau digendong. Kalau tidak mengingat masa depan pekerjaannya Ayana mana mau.

 

"Bego! Maksudnya bukan gitu. Gue minta tolong lo buat bangunin gue-"

 

"Iya, minta di gendong, kan?"

 

"Jangan potong omongan gue. Gue paling nggak suka sama orang yang suka potong-potong omongan seenak jidat!"

 

Ayana kali ini terdiam, ia berusaha untuk mendengar perkataan bosnya yang songong itu. Ayana menatap Bosnya itu dengan sinis membuat cowok itu balik melotot. Cowok itu berdehem pelan, mengendorkan wajahnya sedikit.

 

"Maksud gue bukan gendong gue caranya tapi lo tarik dua tangan gue, ngerti?" Ujarnya dengan tegas. 

 

"Makanya pikirannya jangan penuh modus."

 

Ayana tersinggung, gadis itu berbicara dengan ketus, "nggak minat saya modus sama situ."

 

Tbc.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
anangudien - Apr 23, 2020, 12:02 PM - Add Reply

Wahh terus semangat berkarya kak

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.