Profil instastories

Gadis Tidak Beres

Gerak langkah semakin melambat, Raka masih sibuk berfikir keras sebelum masuk ke ruangan serba putih di dalamnya terus jauh. 

 

Dia teru menimbang dengan keputusan paling apik, akan setuju atau berlari pergi.

 

           "Anak Mama mau makan, apa?"

 

Ekor mata Raka beralih pada sumber suara. Tampak seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk menggendong boneka usang dan sudah jelek. Mendadak merasa kasihan, membayangkan jika seandainya itu adalah mamanya.

 

Tepat sekali. Dia sudah berada di rumah sakit jiwa sekarang. Mau tidak mau, ia mengikuti langkah Reza, sahabat karibnya yang sudi mengantarnya mencari pekerjaan.uk

 

Namun, Raka hampir tidak percaya jika Reza membawanya ke rumah sakit jiwa. Katanya, ini merupakan pekerjaan besar.

 

      "Jangan lupa pilih saya ya! saya jamin, kehidupan Anda sekalian, akan aman dan damaai! Jangan lupa pilih sayaa!" 

 

Kali ini membuat Raka tersentak kaget. Di depan sebuah pintu, berdiri seorang pria yang masih muda. Memegang poster bergambar dirinya sendiri yang tampak rapi dalam balutan jas hitam.

 

Tersenyum miris, itu adalah orang yang tidak berhasil memegang kekuasaan. Kasihan.

 

       "Raka, kita sudah sampai." Reza berhenti dan melihat Raka yang masih sibuk memandang ke segala arah. Menikmati setiap hal menyedihkan namun sudah biasa baginya. 

 

Bagaimana tidak, Reza sudah sering datang ke tempat ini. Jadi, ia sudah lebih tau bagaimana keadaan yang berlangsung. Setidaknya, batinnya mulai mampu menyesuaikan.

 

       "Raka," panggilnya lagi tidak mendapat respon.

 

       "Rez, apa engga salah?" Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

       "Apanya yang tidak salah? kamu sudah berada di jalan yang benar. Sekarang aku mau tanya, bagaimana perasaanmu melihat orang-orang seperti mereka?"

 

        "Aku ...." Raka kembali melihat ke arah wanita paruh baya yang menggendong boneka tadi. Kembali mengingatkan pada mamanya.

 

      "Kasihan," lirihnya kemudian.

 

      "Nah, jiwamu saja sudah terima kalau kamu pantas bekerja di sini. Kamu harus membantu menjaga mereka dan menyembuhkan mereka." 

 

        Raka mengerling tidak mengerti. "Rez, aku tidak punya keahlian apapun di bidang ini. Aku hanya lelaki bodoh yang tidak kuliah. Di sekolah aku juga ...."

 

        "Malas, tukan tidur, anak nakal, dan segalanya. Aku tau!" potong Reza cepat.

 

        "Nah, itu kau tau sendiri!"

 

        "Sudahlah. Sekarang, ayo masuk dulu. Kamu harus kenalan dengan atasan tempat ini. Dia ramah dan baik. Aku yakin, kamu pasti nyaman berada di sini,"

 

Raka kehilangan kata-kata. Andai saja ada pekerjaan lain, tentu ia akan memilih untuk pergi saja.

 

        "Raka, aku tidak punya banyak waktu. Ayo?" 

 

        "Oke." 

 

 

                                ***

 

 

        "Kamu hanya tamatan sekolah menengah atas saja?" 

 

Raka baru saja akan mengangguk, namun kalah cepat dari Reza.

 

      "Dok, tapi dia anak pintar. Dia hanya kurang cepat untuk melanjutkan studi.  Saya yakin dia bisa bekerja di sini," ujar Reza membuat Raka melongo. Bahkan baru beberapa menit yang lalu, Raka sendiri mengatakan dia malas, bodoh, dan segalanya.

 

Dokter yang sudah berlanjut usia itu mengangguk perlahan. Pandangan tajam ke arah Raka, seolah sedang berusaha mengamati sesuatu.

 

      "Siapa namamu, Nak?" 

 

      "Raka." potong Reza cepat membuat Raka mencibir kesal, karena Reza kembali memotong pembicaraannya.

 

       "Reza, saya sedang bertanya pada Raka, Kenapa dari tadi kamu yang menjawab?"

 

      Reza terkekeh pelan. "Maaf, Dok."

 

       "Jadi, Nak. Apa kamu yakin untuk bekerja di sini? Kamu tau sendiri, kan. Bagaimana situasi ini? Ini adalah Rumah Sakit Jiwa. Kamu akan berhadapan dengan orang-orang yang tidak normal."

 

Raka menelan ludah dengan sulit. Ini memang bukan keinginannya. Tapi jiwanya yang sudah berontak ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar.

 

       "Sa-saya yakin, Dok."

 

       Dokter Kim tersenyum. "Saya memang membutuhkan sosok anak muda sepertimu. Kamu datang di saat yang tepat, Nak."

 

Raka dan Reza saling pandang tidak mengerti. Dokter Kim tertawa pelan.

 

       "Reza, kamu tau putri saya, kan?"

 

Raka membelalak kaget hingga akhirnya mengangguk. Diliriknya Raka yang tidak mengerti.

 

       "Saya ingin Raka bekerja di rumah saya saja. Dia tidak perlu tinggal di sini." ujar Dokter Kim

 

        "Merawat anak Dokter di rumah?" tanya Reza kembali.

 

         "Iya. Kenapa? Kamu takut Raka akan terluka? Dia masih muda. Saya yakin dia bisa menjaga anak saya. Lagi pula, saya memang butuh anak muda, bukan orang tua yang sudah berumur."

 

          "Memangnya anaknya Dokter sakit apa?" tanya Raka bingung.

 

          "Kamu akan tau sendiri nanti, Nak. Kamu mau, kan? Oh ya, masalah gaji, kamu akan saya bayar jauh lebih besar ketimbang bekerja di sini. Bagaimana?"

 

         "Jauh lebih besar, Dok? Berapa?" 

 

         Dokter Kim sontak tertawa pelan. "Uang mukanya akan saya transfer malam ini juga. Sekitar ... dua puluh juta."

 

          "Apaa?" kaget Raka melongo. Sementara Reza mendesah tak percaya.

 

          "Itu baru uang mukanya. Kalau kamu mau bekerja, tiap bulannya akan saya tambahkan."

 

          "Sa-saya mau, Dok!" angguk Raka mantap tanpa ragu untuk berfikir lagi.

 

           "Bagus!" tegas Dokter Kim.

 

 

.

.

 

Simak selanjutnya.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani