Profil instastories

GADIS BERKERUDUNG PUTIH

"Penuhilah harapan ayah, nak."

Kalimat ayah terus terngiang di telingaku, mengiringi  tiap langkah mencari tanah kelahiranku dan tempat bunda tercinta beristirahat selamahnya.
    Terbayang wajah ayah yang sudah memasuki usia senja, kulitnya keriput terpanggang matahari tak mengurangi kegagahan ayah waktu muda. Ayah memang hanya seorang buruh tani, tetapi beliau adalah ayah yang sangat aku banggakan, beliau menyekolahkan aku sampai sarjana sekaligus mendidik dan membesarkan aku seorang diri,  beliau menjadi ayah sekaligus ibu untukku  tiada kutemukan kata paling indah untuk mengungkapkan kebangaanku kepada ayah.
Kini ayah meminta sesuatu yang sulit kupenuhi, tetapi demi baktiku kepadanya kuanggukan kepala setuju. Dengan tekad itulah kulangkahkan kaki menyebrangi lautan untuk meminta restu di pusara ibu di tanah mandar.
    "Ana, adalah sebuah permata yang tidak nampak keindahannya karena belum kau asah, dan ayah yakin, pendidikanmu keluasan ilmu dan pengalamanmu sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya sebuah permata seperti yang kau inginkan."
    "Insya Allah, aku bisa memenuhi harapan ayah."
Itulah janjiku kepada beliau,  tetapi ayah begitu peka beliau tahu itu persetujuan terpaksa hingga beliau menarik nafas panjang, keningnya berkerut, kekecewaan itu tiada bisa disembunyikannya.
    "Apalagi yang kau cari, nak, ana itu gadis yang baik, santun dan shaleh."
Dengan menundukan wajah kurenungi uc apan ayah. Apakah aku bisa mencintai ana? Kuhadirkan wajah gadis itu yang seperti baby face dan sejuk seperti embun yang menetes, dia gadis yang shaleh tubuhnya selalu tertutup jilbab panjang dan Ana juga seorang guru ngaji. Sementara dibenak ini terbayang kesempurnaan hidup jika berpasangan dengan seorang gadis ceria, cerdas dan tentu saja cantik! Yang bisa menemaniku berdiskusi berbagai hal ... dan satu lagi gadis itu mampu menghadirkan riak-riak kerinduan jika tak melihatnya, membuat perasaanku berbunga-bunga, indah bagai pelangi di sire hari, dapat membuat jiwaku seterang matahari, tepatnya aku ingin cinta! Dan tak  hadir saat bersama Ana. Oh Tuhan! Hadirkanlah perasaan cinta itu demi ayah!
Ana ... Apa yang kurang pada dirinya?wajahnya cantik, putih bersih, matanya teduh, seteduh hatinya dan  manis sekali jika tersenyum, tapi kenapa aku tidak bisa menemukan kehangatan, tatapan mata teduhnya tidak bisa membuat hatiku bergetar, apakah aku bisa membangun sebuah rumah tangga diatas sebuah keterpaksaan?
     "Kak Anfal, kita sudah dipertunangkan, aku  tahu cinta itu tidak ada untukku, tetapi cukupla bagiku kita mampu memenuhi harapan orang kita masing-masing." 
Kalimat Ana  terngiang kembali, Ana benar-benar gadis yang shaleh, dia mau saja dijodohkan denganku yang nyata-nyata diketahuinya kalau aku tidak bisa menerima kehadirannya.
     "Aku akan menunggu sampai kak Anfal mencintaiku."
Wajah Ana dan ayah kini sering bergantian dipelupuk mata dan mereka berdua mengiringiku dengan do,a-do,a tulusnya. Dengan tekad kuat, aku harus mencari tanah kelahiranku  sekalogus mensiarahi makam ibu, menurut ayah aku dilahirkan di tanah mandar dan ibu adalah perempuan mandar yang terkenal dengan kesantunannya itu, kalau sekarang aku berada di sumatra itu karena ibu meninggal ketika melahirkanku, kepergian ibu merupakan pukulan berat bagi ayah hingga membawaku pergi jauh untuk membesarkanku seorang diri, dan kini setelah aku besar ayah menjodohkanku dengan seorang gadis sumatra yaitu Ana, dia adalah tetangga dekat kami hingga aku hapal betul pribadi gadis itu, untuk calon istri yang saleh dia begitu sempurna, untuk itu ayah sangat menginginkan Ana menjadi menantunya, dan sebelum melangsungkan pernikahan aku harus datang ke pusara ibu untuk memohon restu dan mensiarahi makam ibu di mandar.
Dulu aku sering bertanya kenapa ayah tidak menikah lagi, tapi jawaban ayah itu-itu saja.
    "Ibumu adalah satu-satunya perempuan yang ayah cintai yang tak tergantikan siapapun."
Namun mengapa ayah tidak mengerti dan menerima alasanku kalau aku tidak bisa mencintai Ana, dan ketika hal ini kuadukan kepada udztas Husain, beliau menjawab,
    "Bagi, seorang laki-laki memiliki seorang istri yang shaleh adalah karunia besar."
Aduh! Spontan kuraba kepalaku yang kejedot pintu bus yang kutumpangi, seketika lamunanku buyar. Kuperhatikan jalur jalan melalui jendela bus, jalanan macet total, ada penamatan massal, rupanya aku sudah sampai di tanah mandar. Selamah ini aku hanya mendengar cerita ayah tentang penamatan massal jika maulid tiba, dimana gadis-gadis cantik memakai pakaian adat naik diatas kuda menari diiringi rebana. Wah! Hatiku begitu takjub, tas ransel kugantung segera di pundak, segera aku menghampiri kerumunan orang-orang yang asyik menonton.
     "Dik, lagi ada acara apa, ya?"
Iseng aku bertanya.
    "Ini acara maulid memperingati hari kelahiran Radulullah."
    "ooh ... ?" Aku manggut-manggut seperti orang bodoh, tiba-tiba mataku basah, ada keharuan menyeruak kedalam rongga dadaku, rahmat itu sekarang terjadi di depanku, masyarakat berbaur penuh keakraban, penuh kebahagiaan dan untuk mengurangi kelelahan aku memasuki mesjid dan shalat ashar lalu melanjutkan perjalanan mencari makam ibu.
Saat kaki ini melangkah seorang gadis berwajah indah, memakai baju kurung kota-kotak berpadu celana model elegan, berkerudung putih nampak serasi dengan badannya yang semampai, dia tersenyum dan memperlihatakan sederet giginya yang putih tertata rapi, dia mendekat penuh keakraban.
    "Cari siapa, mas?" 
Terlihat lucu tapi menarik, tiba-tiba hati ini berdesir, kugaruk kepala yang tak gatal memperlihatkan alamat yang tertulis di atas kertas.
    "ooh, orang baru, ya?"
Dia kian menggemaskan.
    "Kalau begitu, mas kerumah saya saja dulu, menunggu antrian macet redah, baru mas saya antar ke tempat tujuan, mas."
Ini anak panggil mas melulu, emang aku orang jawa, apa? Meruntuk dalam hati kuulurkan tangan, dia menyebut nama. Kami berdua bercerita panjang lebar bahwa kedatanganku disini adalah untuk mengunjungi kerabat sekaligus mensiarahi makam ibu, hanya satu yang tidak kuceritakan yaitu soal Ana. Dan anehnya aku langsung akrab dengan Nisa begitu dia menyebut namanya.
Begitula awal aku mengenal Nisa, gadis berlesung pipi dengan segudang pesona yang dimilikinya, cerdas, lincah, dia sempurna di mataku, gadis mandar yang satu ini benar-benar mengusik ketenangan telaga hatiku, membuat jiwaku seterang matahari dan tampa terasa satu purnama sudah aku mengenal Nisa.
Di makam ibu aku menangis pilu, menyadari aku tidak pernah melihat wajah ibu,  kupeluk pusaranya, Tuhan kenapa begitu cepat engkau panggil ibuku, tampa sedikit pun aku pernah meminum air susunya.
     " Sudahlah, kak Anfal, biarkan ibu tenang di alam sana."
Suara Nisa menenangkanku, kedamaian seketika tercipta manakala gadis itu di sampingku. Apakah aku jatuh cinta?  Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta, sementara kepada Ana gadis yang dijodohkan denganku tidak segarit rindu pun ada di sana.
Kubiarkan rasa cinta ini tumbuh subur dengan segala keriangan sebagaimana orang lain jatuh cinta. Perasaanku kian tak terbendung, gadis itu benar-benar berdaya magnit luar biasa! Aku mulai menaruh harapan hari esok bersamanya, mengarungi bahtera rumah tangga, amanat ayah sudah mulai terkubur,  berkali ayah menelpon agar aku  segera pulang, namun kakiku enggang meninggalkan tanah mandar sampai kemudian suatu hari Nisa memperkenalkan seseorang sebagai tunangannya, langit seketika mendung, hati ini teremas-remas apalagi tunangan Nisa itu adalah keponakan ibu. Hangatnya daerah ini mulai terasa pengap, ternyata seperti inilah cinta, sakit! bagai duri merejam, aku teringat ayah dan Ana.
Ayah maafkan anakmu yang penuh dosa ini,  wajah Ana kian terbayang, wajah beby facenya, kesalehan dan keibuannya telah membawaku terbang ke langit penyesalan.
Ingin rasanya aku terbang menemui ayah dan meminta kepadanya agar menikahkan aku secepatnya dengan Ana, karena aku sudah mengenal cinta!
 
 
 
 
 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Marista Putri Ayuningtyas - Mar 15, 2020, 4:41 AM - Add Reply

https://www.instastori.com/penantian-di-bawah-derasnya-hujan-217

You must be logged in to post a comment.
Marista Putri Ayuningtyas - Mar 15, 2020, 4:42 AM - Add Reply

Baca juga ya kak cerita ku :)
Terimakasih

You must be logged in to post a comment.
Nurwahidah - Mar 16, 2020, 2:15 AM - Add Reply

Ok sayang kita saling follow

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani