Profil instastories

FRIENDS

Judul : FRIENDS

      Suara bunyi hujan yang turun terdengar di telingaku. Aku turun dari kasur dan berjalan di tuntun dengan tongkat yang kuambil di samping tempat tidurku. Aku berjalan dengan hati-hati sampai ke jendela. Ku raba tembok ketika berjalan. Sampai di jendela ku singkap korden dan ku buka kaca jendela. Percikkan hujan yang masuk seketika menerpa wajahku.

Ku keluarkan satu tanganku dan ku tadah air hujan. Seketika rasa dingin yang ku rasa di telapak tanganku. Dan hembusan angin yang masuk melalui jendela menembus kulitku.

Derit pintu terdengar. Menandakan seseorang memasuki kamarku.

“Taehyung, bibi bantu bereskan barangmu, ya?”Tanya seseorang itu. Ah, ku kenali suaranya. Itu adalah bibiku yang datang dari Daegu. Yang katanya berjanji akan menjagaku.

Kedua orangtuaku telah meninggal.  Dua hari yang lalu, tepatnya. Meninggal karena kecelakaan yang juga membuatku kehilangan penghilatanku. 

Bibi akan membawaku pindah ke Daegu. Karena tidak mungkin jika aku harus sendirian berada di sini. Ayolah, sekarang aku buta! Aku tidak dapat melakukan apapun sendirian. Aku pasti membutuhkan seseorang untuk membantuku.

Sayang sekali, aku akan merepotkan bibi dan Seokjin hyung. Anak bibi yang usianya tiga tahun lebih tua dariku.

“Astaga Tae! Kenapa kau berdiri di jendela?”teriak bibi. Sepertinya dia terkejut dan langsung menarikku. Ku dengar suara korden yang ditarik dan kaca jendela yang di tutup.

Bibi mengambil tongkat penuntunku dan menuntunku ke kasur dan mendudukkan aku di kasur.

“biar bibi yang memberesekan pakaianmu dan memasukkan-nya ke koper!”

Aku hanya mengangguk dan terdengarlah suara-suara yang ditimbulkan oleh bibi yang sibuk membereskan barangku. Memasukkan-nya ke dalam koper.

      Daegu, di sini sekarang aku tinggal bersama bibi dan puteranya. Setiap kali liburan waktu kecil, aku selalu ke sini bersama ayah dan ibuku. Menurutku, Daegu adalah kota yang indah selain Seoul. Tapi sayangnya, aku tidak bisa lagi menikmati keindahan-nya. Sekarang semuanya yang ku lihat—hanyalah gelap.

“Hai, aku Jimin!”seru seseorang yang tiba-tiba datang menghampiriku. Di saat aku sedang duduk santai di kursi bambu di depan rumah bibi. Dia duduk di sampingku dan mencoba memegang tanganku. 
Mengarahkan untuk berjabat tangan.

“aku Park Jimin dan kau siapa?”tanyanya.

“Taehyung, Kim Taehyung,”jawabku.

“Kau adiknya Seokjin-hyung, ya?”

Aku mengangguk.”iya. Lebih tepatnya aku adik sepupunya.”

Dari perkenalan itu, aku dan Jimin menjadi dekat. Dia selalu datang ke rumah dan bermain denganku. Rumahnya sendiri sangat dekat dari rumah bibi.

“Taehyung-ah, aku bawa buah stroberi untukmu. Aku memetiknya sendiri di kebunku. Ayo, di coba!”

Jimin datang pada waktu sore hari sambil membawa keranjang yang penuh dengan buah stroberi. Lalu menyuapiku buah stroberi itu dan rasanya lumayan manis.

Jimin juga sering membawaku ke bukit yang katanya di sekitarnya di  penuhi bunga daisy yang bermekaran dengan sangat indahnya. Di sana ku rasakan angin yang bertiup ke arahku dan menerbangkan helaian rambutku. Rasanya ingin aku melihat indahnya bukit itu.

“Jimin-nie, jika aku dapat melihat kembali. Selain bibi dan hyung, aku ingin sekali melihat wajahmu,”ucapku kepadanya.

“aku berdoa itu terjadi Tae. Aku harap kau dapat melihat,"ucap Jimin.

Ku rasakan sesuatu yang dia taruh di kepalaku. Tanganku naik untuk menyentuhnya.

"Itu mahkota bunga yang ku buat. Kau kelihatan seperti pangeran di negeri dongeng memakai itu,"puji Jimin ke padaku. Aku hanya bisa tersenyum.

"Terimakasih."

Jimin memperkenalkanku dengan seorang gadis yang usianya beda dua tahun dari kami.  Kim Sohyun, gadis berumur enam belas tahun yang merupakan sepupu dari Jimin. Aku yakin dia cantik ketika Jimin menyuruhku untuk menyentuh wajahnya. Aku dapat merasakan itu.

Sama juga seperti Jimin yang kuyakin adalah pria yang tampan. Aku sungguh ingin melihat mereka.

"Sohyun, aku juga ingin melihat wajahmu. Jika aku dapat melihat. Bibi dan kak Seokjin  sedang mencarikan donor mata untukku."

" oppa(kakak), jika kau dapat melihat--wajah yang harus kau lihat adalah wajahmu sendiri. Oppa itu sangat tampan. Aku yakin kau akan kagum dengan wajahmu. Jika kau sudah melihatnya."

"Sohyun benar Tae. Kau harus tahu jika kau tampan,"ucap Jimin--membenarkan perkataan Sohyun.

Sungguh, aku senang memiliki Jimin. Dia sangat baik dan selalu menjagaku. Dia selalu berada di sampingku. Walau terkadang aku berpikir bahwa aku adalah beban untuknya. Tapi Jimin  menggenggam tanganku dan berkata,

"Kau itu bukan beban ku Tae. Kau sama sekali tidak menyusahkan. Aku dengan tulus ingin berteman denganmu. Aku dengan tulus akan menjadi matamu. Menuntun-mu kemanapun. Kau tidak usah berpikir terlalu jauh. Berpikir jika kau menyusahkan ku,"ucapnya.

Hari itu Jimin memelukku dengan sangat erat dan akupun membalas pelukannya. Entah kenapa aku merasa begitu emosional. Air mataku mengalir di pipiku. Dan kemudian suaraku yang  menangis terisak-isak mulai terdengar. Jimin mengusap-usap punggungku dan dia juga menangis. Dan hari itu, kami pun menangis bersama di atas bukit.

Pada hari Minggu, di saat aku terbangun.  Suara bel sepeda terdengar di telingaku. Aku segera beranjak dari kasurku dan mengambil tongkatku. Dan berjalan ke luar.

Terdengar suara Jimin memanggil.

"Taehyung! Hari ini ku bawa kau jalan-jalan naik sepeda."

Kak Seokjin menuntunku untuk duduk di boncengan sepeda Jimin.

"Pelan-pelan ya, Jim,"ucapnya.

"Siap, Hyung"

Sepeda pun melaju dengan cukup pelan. Aku dapat merasakan angin yang berhembus-- membuatku menyunggingkan senyuman. Aku merasa sangat senang. Ku pegang pinggang Jimin dengan erat.

Terdengar suara bel sepeda dari arah belakang kami dan suara Sohyun terdengar, berteriak memanggil kami. Ternyata Sohyun mengikuti kami dengan sepedanya.

Ini sangat menyenangkan. Naik sepeda itu menyenangkan walau bukan aku yang mengayuhnya. Tapi sensasi merasakan angin yang berhembus rasanya begitu damai.

Ku katakan Jimin selalu ada untukku. Tapi entah kenapa pada suatu hari-- Jimin tidak datang menghampiriku. Hanya Sohyun dan ku katakan kepadanya di mana Jimin tapi dia hanya diam. Lama sekali diamnya. Baru kemudian dia menjawab.

"Jimin oppa pergi ke Busan. Mendadak sekali makanya tidak beritahu Taehyung oppa."

Tapi bukan sekali Jimin tidak datang dan alasan Sohyun ialah dia pergi ke Busan untuk bertemu neneknya, katanya. Dia selalu pergi. Dan pernah pergi begitu lama. Membuatku merasa kesepian. Walau ada Sohyun menemaniku tapi aku selalu merasa membutuhkan Jimin. Karena hanya dirinya yang memahami ku. Ku ceritakan segala keluh kesah ku padanya. Segala rasa sedih dan rasa bahagiaku. Yang semua itu tidak dapat ku ungkapkan kepada Sohyun.

"Aku menyukaimu oppa. Ah, tidak!Lebih tepatnya aku mencintai oppa sebagai laki-laki"ucap Sohyun kepadaku pada suatu hari.

Sungguh, aku tidak percaya ini. Dia menyukaiku. Seorang yang punya kekurangan. Aku buta.

"Aku tidak peduli. Aku menerima oppa apapun kondisinya."

"Tapi, Sohyun. Aku bahkan tidak tahu apakah aku dapat melihat suatu saat nanti. Jika aku tidak mendapatkan pendonor yang cocok, aku mungkin akan menyusahkanmu jika kau bersamaku. Maafkan aku,"ucapku.

Ku harap dia dapat mengerti. Tapi kurasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirku. Oh, Sohyun menciumiku! Cukup lama bibirnya menempel kemudian dia berucap, "aku tidak peduli."

Itu adalah ciuman pertamaku yang diberikan oleh gadis berusia enam belas tahun, Kim  Sohyun. Aku rasa, aku harus menceritakan ini ke Jimin. Aku ingin mendengar reaksi darinya ketika dia tahu bahwa sepupunya dengan beraninya mencium sahabatnya.

**

Jimin mengajakku untuk menemaninya melihat bintang di malam hari. Walaupun Seokjin Hyung dan bibi sempat melarang. Karena cuaca tentu sangat dingin jika pergi malam-malam ke bukit untuk melihat bintang. Tapi dengan bujukan dariku mereka pun menyetujui. Tapi aku harus memakai jaket yang tebal agar aku tidak kedinginan.

"Taehyung, aku ingin sekali menjadi bintang yang paling terang di langit. Jika aku menjadi bintang, apakah kau bersedia melihatku setiap malam?"

Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Jimin. Kenapa dia ingin jadi bintang? Tapi aku menjawab saja.

"Aku tidak bisa melihat Jimin. Bagaimana aku bisa dapat melihat bintang?"

"Jika aku bisa, aku ingin sekali memberikan mataku untukmu."

Aku menimpalinya dengan tertawa. Ku pikir Jimin tidak serius dengan perkataannya.

**

Kembali lagi, kembali lagi aku tidak merasakan Jimin di sampingku. Sohyun pun tidak datang. Di hari diriku mendapatkan kabar yang menggembirakan. Kata bibi, aku sudah mendapatkan seorang pendonor. Sungguh aku bahagia. Itu berarti aku akan segera melihat. Aku akan melihat wajah bibi dan Seokjin Hyung lagi dan tentu dapat melihat wajah Jimin dan Sohyun.

Tapi aku sedih, Jimin dan Sohyun tidak ada di sampingku ketika aku akan menjalani operasi dan disaat aku membuka mataku dengan mata baruku. Aku juga tidak melihat mereka. Mereka tidak ada! Dan itu membuatku sedih. Kemana Sohyun? Bukankah dia mencintaiku?. Dan kemana Jimin? Dia sahabatku, kan.

Dan nyatanya kenyataan pahit dari kebahagian ini, kurasakan. Sohyun datang di suatu hari di malam yang dingin ketika aku melihat bintang di bukit sendirian. Hanya sendiri!

Dia mengatakan kepadaku jika mata yang ku gunakan untuk melihat ini adalah mata Jimin, sahabatku. Aku menggelengkan kepala tidak percaya. Tapi itulah kenyataannya. Jimin sakit, dia adalah penderita kanker. Umurnya tidak lama lagi. Maka dengan itu dia rela memberikan matanya untukku agar aku dapat melihat kembali.  Untuk sahabatnya.

Aku menangis terisak di pelukan Sohyun. Aku merasa percuma dapat melihat jika tidak ada Jimin di sampingku. Aku ingin melihat Jimin. Ingin sekali!

Sohyun memperlihatkan foto Jimin kepadaku lewat ponselnya. Benar dugaan ku, Jimin sangat tampan. Ada foto Jimin dan diriku juga yang pernah Sohyun ambil.

"Jika oppa merindukan Jimin oppa. Pandanglah bintang yang paling  terang di langit. Aku yakin Jimin oppa akan muncul jika kau merindukannya karena dia pasti juga merindukanmu,"ucap Sohyun.

Aku mengangguk dan tersenyum. Ku tatap langit yang dipenuhi bintang. Ada satu bintang yang sangat terang. Ku yakin itu adalah dirimu, Jimin. Terima kasih karena telah menjadi sahabatku. Terima kasih untuk mata mu yang indah yang kau berikan kepadaku. Aku dapat melihat lagi. Itu karena mu.

Catatan Jimin:

Kim Taehyung, itu namanya. Seseorang dengan beraninya ku hampiri dan akhirnya ku masuki dunianya untuk ku tarik dan ku perkenalkan dengan duniaku.  Dia tampan tapi sayang memiliki kekurangan. Dirinya buta. Tapi aku berjanji kepada diriku sendiri untuk menjadi matanya. Aku akan menjadi mata Taehyung .  Tapi sayang aku tidak bisa berada di sampingnya selalu. Penyakitku membuatku lemah. Sehingga terkadang aku harus dirawat di rumah sakit dan tidak bisa menemani Taehyung. Ku pesankan Sohyun untuk mengatakan kepadanya bahwa aku berada di Busan. 

Kata dokter, tubuhku semakin hari semakin lemah. Aku merasa sudah tidak kuat lagi. Dan ingin menyerah. Ku katakan kepada ayah dan ibu bahwa aku ingin mendonorkan mata ku ke Taehyung. Semula mereka tidak setuju. Tapi aku terus memohon dan akhirnya mereka menyetujuinya. Mereka sudah ikhlas bila aku akan pergi.

Taehyung, aku tidak bisa di sampingmu selamanya. Tolong, jaga pemberianku baik-baik. Aku menyayangimu! Kau adalah sahabatku. Pandanglah bintang jika kau merindukanku.

Taehyung tersenyum membaca catatan Jimin.  Sohyun memberikan itu kepadanya. Dia sudah membaca itu hampir ribuan kali. Tapi dia tidak pernah bosan.

Seorang wanita yang sedang berbadan dua menghampirinya dan memeluk dirinya dengan erat dari belakang. Itu adalah Sohyun, yang sekarang menjadi istrinya. Mereka menikah dua tahun yang lalu.  Pada tanggal 13 Oktober bertepatan dengan ulang tahun Jimin.  Sekarang ini Sohyun sedang mengandung buah hati mereka. Taehyung berbalik memandang istrinya. Dipeluknya istrinya erat dan diciumnya keningnya.

"Besok, ayo kita ke makam Jimin!"

Selesai

 

The cast

 

Kim Taehyung

 

Park Jimin

 

Kim Sohyun

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani