Profil instastories

Free Marriage

Free Marriage

Tinggal di rumah mewah tidak menjadikan seorang Karina bahagia. Ia bagaikan hidup dalam sangkar yang terikat kesengsaraan. Setiap hari selalu ada air mata yang mengalir dipipinya dengan awan mendung tidak pernah pergi. Karina selalu merasakan kesakitan tak bersyarat. Orang yang ia cintai dan ia sayangi tega menyakiti hatinya begitu dalam. Sudah tidak ada lagi kebahagiaan yang tertulis dalam hidupnya.

Seperti hari ini………..

Pagi-pagi sekali Karina bangun menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sudah 1 tahun mereka menikah karena perjodohan. Awalnya pernikahan itu berjalan dengan lancar, namun seiring berjalannya waktu pria itu berubah. Karina tidak bisa mengenal suaminya lagi. Lihat saja luka lebam dipipi kirinya dan bercak darah disudut bibirnya. Setiap hari santapan seperti itu yang ia rasakan.

“Sarapannya sudah siap, mas. Ayo kita makan.” Ajaknya saat melihat sang suami keluar dari kamar.

“Makan saja sendiri!! Masakanmu itu tidak enak. Apalagi melihat dandananmu itu membuatku mual.” Dengan sedikit menggebrak meja, Rasyid melenggang pergi.

Perkataannya tadi tepat mengenai ulu hatinya. Kembali air mata tumpah ruah merasakan sakit yang terus berdatangan. Tidak hanya hati tapi fisiknya juga.

“Ya Allah aku harus bagaimana lagi? Aku sudah tidak sanggup.” Racaunya menatap liquid bening berjatuhan dilengannya.

Beberapa jam kemudian, Karina yang tengah membereskan rumah berlantai 2 ini harus terusik dengan bunyi bel. Buru-buru ia berjalan menuju pintu depan.

Terlihat seorang wanita berhijab tosca menatapnya lekat. Ia tersenyum canggung menyembunyikan kesedihan yang dideritanya hari ini. Lagi dan lagi wanita berumur 21 tahun itu harus menanggung kehidupan yang tidak pernah ia minta.

“Lagi? Kenapa kamu masih bertahan dalam pernikahan ini? Sudah cukup kamu menderita, sekarang saatnya kamu terbang bebas, Karina. Bukankah kamu bermimpi ingin terbang?” Mbak Karin sahabat sekaligus saudaranya ini begitu perhatian.

Karina tidak mengatakan apapun. Ia terus mengulum senyum dan membawanya masuk lalu ia pun melengos menuju dapur. 15 menit berlalu, Karina kembali dan menyodorkan teh hangat padanya. Ia duduk disamping mbak Karin seraya menunduk dalam.

Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Sedari kedatangannya ia tidak mengatakan apa-apa. Terus bungkam dengan kegelisahan dalam hatinya. Merasakan ikatan tak kasat mata yang menjerat tangan serta kedua kakinya erat. Hidup serba mewah, barang apa saja yang ia inginkan bisa dibeli. Tapi pada kenyataannya ia tidak bahagia. Penuh derai air mata dan kesengsaran.

Bebas? Hanya sebatas angan tak bersua. Pelangi indah yang ia lihat waktu kecil redup tertutup kabut lebat. Angin tidak menerbangkannya, matahari pun enggan untuk menyinari hatinya yang gelap.

“Ini sudah menjadi bagian kehidupanku mbak. Dan aku harus menjalaninya. Bagaimana pun juga rencana Allah yang terbaik.” Diiringi senyum tulus mbak Kinan terharu. Ia pun menggenggam tangannya erat. “Mbak yakin kamu bisa menjalani semua ini. Eung menyambung perkataanmu tadi, Allah pasti sudah menyiapkan kebahagiaan untukmu dibalik air mata. Sabarlah dan serahkan semuanya sama yang Di Atas.” Karina mengangguk dan merengkuhnya dengan hangat.

Malam menjelang dan Rasyid pulang dari kantornya. Seperti biasa, ia menyambut suaminya dengan senyum tulus. Namun, bukannya ucapan mesra penuh cinta yang Rasyid lontarkan melainkan perkataan bak pisau belati menyayat hati. “Sudahlah jangan memberikan senyum bodohmu itu. Aku sudah muak.” Ia diam memandang kebawah menahan kegetiran. “Mas, aku ingin menjadi penulis.” Ucapnya setelah beberapa saat bungkam.

Rasyid menatapnya lekat. “Ahahahahaha, jangan mimpi kamu. Ingin menjadi penulis? Berpikir saja tidak bisa hahahaha, sudahlah jangan bermimpi kejauhan.” Mimpi yang sudah ia kubur sejak lama mencuat kepermukaan. Perkataan Rasyid tadi terus menerus melukai dirinya. Sudah cukup, ia tidak ingin terjerat dalam sangkar emas yang membinasakan.

“Sudah cukup mas!! Aku tidak kuat lagi hari ini juga aku minta kita pisah!!” Tegasnya tanpa gentar sedikit pun. Rasyid menyeringai dibuatnya, “Akhirnya kata-kata itu keluar juga. Baiklah aku talak kamu dan pergi sekarang juga.” Karina mengangguk dan bergegas membereskan barang-barangnya.

Mulai detik itu juga ikatan yang menjeratnya perlahan memudar.

.

3 tahun berlalu. Setiap hari Karina berjualan nasi kuning untuk menyambung kehidupannya. Setelah berpisah dengan Rasyid ia harus hidup seorang diri tanpa adanya keluarga. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak ia kecil. Ia sebatang kara tanpa mempunyai siapa pun di dunia ini. Selesai berjualan ia menghabiskan waktunya bersama pena dan kertas putih. Merangkai kata dan menjadikannya sebuah kalimat sabung menyambung. Perlahan tapi pasti kehidupan yang semula mencekam berubah menjadi cahaya menyilaukan. Karina sudah berhasil membebaskan dirinya dari jeratan takdir yang membelenggu. Kini ia dikenal sebagai freedom women. Wanita yang mampu bebas dari kejahatan sang suami. Ia juga berhasil menerbitkan buku pertamanya berjudul “Terbebas Jeratan Takdir.” Ia berhasil mewujudkan mimpinya untuk kembali melihat pelangi setelah hujan badai.

Tidak hanya pelangi yang ia nikmati, tapi juga senja. Setiap sore ia selalu duduk di depan jendela melihat lukisan Tuhan yang satu ini. Semburat merah jingga di langit memberikan efek ketenangan.

Sudah menjadi kebiasaan, sejak memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya Kirana selalu termenung menikmati ciptaan Tuhan.

“Benar, dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan setelahnya. Dulu mungkin aku seperti burung yang terjebak dalam sangkar. Meskipun terlihat mewah diluar tapi tidak ada kebahagiaan apa-apa didalamnya. Sedih, pilu, sakit menjadi santapan wajib. Orang-orang melihatku sebagai wanita beruntung. Tapi pada kenyataannya tidak sama sekali. Kini ku nikmati kebebasan dengan tersenyum bahagia. Allah tidak pernah salah memberikan cobaan pada setiap hamba-Nya. Ternyata kebahagiaan ini sudah merenggut kesedihan itu.”

“Di balik awan gelap pasti terdapat matahari yang siap bersinar. Sekarang kamu sudah menemukan titik itu. Burung yang sering terjebak dalam sangar kini terbang bebas di angkasa lepas. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaanmu, Karina.” Mbak Kinan datang merengkuhnya hangat. Ia tersenyum haru mendengar semua penuturannya.

‘Kebebasan, bukan berarti tanpa ikatan. Aku memang sudah terbebas dari jeratan takdir yang membelenggu. Setiap hari hanya ada luka dalam pernikahan ku. Tapi sekarang semua itu sudah menjadi jalan cerita penuh makna. Allah menghadirkan mas Rasyid untuk menguji kesabaranku. Kebebasan dan terikat dengan Allah menjadi pilihanku sekarang. Jalan kehidupan berliku-liku dan setiap cerita pasti mendapatkan akhir yang bahagia atau sebaliknya. Dan ternyata jalan yang ku pilih berbuah manis. Bebas, terbang tinggi mencapai langit membuatku lupa perihnya luka lama. Air mata itu sudah mengering berganti dengan senyuman. Dan berkat mas Rasyid juga aku bisa berada dititik ini. Bak burung keluar dari sangkar aku bebas sebebas-bebasnya, mengekspresikan diri bermain dengan kata-kata penuh makna. Jalan kehidupan ini menjadi cerita penguat diri dan juga orang lain yang memiliki takdir yang sama. Kita tidak sendirian, ini sudah menjadi rencana Allah yang memiliki akhir yang bahagia. Karena setelah badai pergi pelangi indah menyertai. Kebebasan yang terikat kebaikan serta kebahagiaan…..’

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani