Profil instastories

Epilepsi Syndrome

Epilepsi Syndrome

By : Widia Purnamasari

 

Epilepsi berasal dari bahasa Yunani “epilepsia” yang artinya adalah gangguan neurologis umum kronis yang ditandai dengan kejang berulang tanpa alasan, kejang sementara dan/atau gejala dari aktivitas neuronal yang abnormal, berle- bihan atau sinkron di otak. Epilepsi oleh Hipocrates diidentifikasi sebagai sebuah masalah yang ada kaitannya dengan otak. Epilepsi terkait dengan kinerja sistem saraf pusat di otak kita. Saraf di otak berfungsi sebagai koordinator dari semua pergerakan seperti, penglihatan, peraba, bergerak, dan berpikir. Pada penderita epilepsi, sistem saraf pusat di otak mengalami gangguan, sehingga koordinasi dari sistem saraf di otak tidak dapat mengirimkan sinyal ke sistem panca indera.

Terganggunya pengiriman sinyal ke sistem panca indera penderita epilepsi dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti pernah mengalami trauma kepala berupa benturan atau cedera dibagian kepala, atau menderita tumor otak. Penyakit epilepsi dapat muncul karena penderita mengalami kerusakan otak pada saat dilahirkan. Namun selain penyebab yang telah disebutkan di atas, penyebab epilepsi masih belum dapat dipastikan.

Epilepsi yang berkembang di tengah masyarakat adalah semacam penyakit yang ditandai dengan kejang-kejang tiba-tiba serta mengeluarkan air liur berwarna putih. Pada umumnya epilepsi dapat muncul karena penderita mengalami kelelahan atau mengalami benturan dibagian kepala, yang disusul dengan tidak sadarkan diri, terjatuh, tubuh tegang, lalu disusul dengan gerakan- gerakan kejang tanpa terkendali di seluruh tubuh. Kejang biasanya berlangsung paling lama lima menit. Sesudahnya penderita bisa mengalami sakit kepala, linglung sementara dan merasa sangat lelah. Biasanya penderita tidak dapat mengingat apa yang terjadi setelah kejang.

Gangguan epilepsi dapat menyerang pada siapa pun di seluruh dunia, anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan bayi yang baru lahir. Rentang usia orang dengan epilepsi adalah 20-70 tahun per 100.000 orang, dengan prevalensi jumlah 4-10 orang per 1000 (Baker & Jacoby, 2002). WHO (2009) menambahkan bahwa sekitar 50 juta penduduk di seluruh dunia menderita epilepsi. Sebanyak 90% orang dengan epilepsi ditemukan pada negara-negara berkembang, dan sebagian besar belum mendapatkan perlakuan sesuai yang mereka butuhkan.

Anak yang terserang epilepsi biasanya ditandai dengan gejala bengong dan melamun serta susah fokus kepada hal tertentu.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.