Profil instastories

Epidemiologi HSV-1 dan HSV-2

Epidemiologi HSV-1 dan HSV-2

By : Widia Purnamasari

 

Prevalensi antibody HSV-1 pada sebuah populasi bergantung pada faktor-faktor seperti Negara, kelas social ekonomi dan usia HSV-1 umumnya ditemukan pada daerah oral pada masa kanak-kanak, terlebih lagi pada kondisi sosial ekonomi terbelakang. Kebiasaan orientasi seksual dan gender mempengaruhi HSV-2. Prevalensi HSV-2 lebih rendah disbanding HSV-1 dan lebih sering ditemukan pada saat usia dewasa yang terjadi karena kontak seksual. Studi serologis pada populasi juga populasi juga menunjukkan bahwa 2-4% adalah karier asimptomatik dan merupakan suatu continual virus reservoir untuk terjadi infeksi baru (Lynch MA,1996).

          Prevalensi HSV-2 pada usia dewasa meningkat dan secara signifikan lebih tinggi Amerika Serikat daripada Eropa dan kelompok etnik kulit hitam dibanding kulit putih. Seroprevalensi HSV-2 adalah 5% pada populasi wanita secara umum di inggris, tetpai mencapai 80% pada wanita Afro-Amerika yang memiliki usia antara 60-90 tahun USA.

          Herpes genital mengalami peningkatan antara awal tahun 1960-an dan 1990-an. Di Inggris laporan pasien dengan herpes genital pada klinik PMS meningkat enam kali lipat antara tahun 1972-1994. Kunjungan awal pada dokter yang dilakukan oleh pasien di Amerika Serikat untuk episode pertama dari herpes genital meningkat sepuluh kali lipat mulai dari 1970 menjadi 160,000 tahun 1995 per 100.000 pasien yang berkunjung. Disamping itu lebih banyaknya golongan wanita dibandingkan pria karena disebabkan oleh anatomi alat genital 9 permukaan mukosa lebih luas pada wanita). Seringnya rekurensi pada pria dan lebih ringan gejalanya pada pria (Wadell R,2000).

          Studi pada tahun 1960 menunjukkan HSV-1 lebih sering berhubungan dengan kelamin oral dan HSV-2 berhubungan dengan kelamin genital. Ataupun dikatakan HSV-1 menyebabkan kelainan diatas pinggang dan HSV-2 menyebabkan kelainan dibawah pinggang. Tetapi didapatkan juga jumlah signifikan genital herpes 30-40% disebabkan HSV-1-HSV-2 juga kadang-kadang menyebabkan kelainan oral, diduga karena meningkatnya kasus hubungan seks oral. Jarang didapatkan kelainan oral karena HSV-2 tanpa infeksi genital. Di Indonesia sampai saat ini belum ada angka yang pasti (Felming,1997).

PATOGENESIS

          HSV-1 dan HSV-2 yaitu termasuk dalam family herphesviridae, sebuah grub virus DNA rantai ganda lipid enveloped yang memiliki peran secara luas pada infeksi manusia. Kedua serotype HSV dan virus varicella memiliki hubungan dekat sebagai sub family virus alpha herphesviridae. Alfa herpes virus menginfeksi tipe sel multiple, bertumbuh secara cepat dan secara efisien menghancurkan sel host dan infeksi pada sel inang. Infeksi pada natural host ditandai dengan lesi epidermis, seringkali melibatkan permukaan mukosa dengan penyebaran virus pada system saraf dan menetap sebagai infeksi laten pada neuron, dimana dapat aktif kembali secara periodic. Trasmisi infeksi HSV sering kali berlangsung lewat kontak erat dengan pasien yang dapat menularkan virus lewat permukaan mukosa  (Silverman,2001).

          Infeksi HSV-1 dan HSV-2  biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui droplet pernapasan atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi. Seseorang terpajan HSV-1 pada umunya sebelum pubertas. Kulit dan mukosa merupakan pintu masuk sekaligus tempat multiplikasi virus yang menyebabkan sel lisis dan terbentuknya vesikel (Collier L,1996).

          HSV-2 biasanya ditularkan secara seksual, setelah virus masuk kedalam tubuh herpes, terjadi penggabungan dengan DNA herpes dan mengadakan multiplikasi secara menimbulkan kelainan pada kulit. Waktu itu pada hospes itu sendiri belum ada antibody yang spesifik. Keadaan ini juga dapat mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat. Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional dan berdiam disana serta bersifat laten. Infeksi orofaring HSV-1 menimbulkan infeksi laten diganglion syaraf trigeminal, sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten digangliatrieminal, sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten di ganglia dorsalis sakralis. Bila pada suatu waktu ada factor pencetus, virus akan mengalami reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadi infeksi rekuren. Pada saat ini dalam tubuh hospest sudah ada antibodi spesifik sehingga akan mengalami kelainan. Faktor pencetus tersebut antara lain : trauma atau koitus, demam, stress fisik atau emosi, sinar uv, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus tidak dapat diketahui dengan jelas penyebabnya. Penularannya hampir selalu melalui hubungan seksual baik genital, ano genital maupun oro genital. Infeksi oleh HSV dapat bersifat laten tanpa gejala klinis dan kelompok ini bertanggungjawab terhadap penyebaran penyakit. Infeksi dengan HSV dimulai dari kontak virus dengan mukosa (orofaring, serviks, konjungtiva) atau kulit yang abrasi. Replikasi virus dalam sel epidermis dan dermis menyebabkan destruksi seluler dan keradangan (Corey L.1995).

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS