Profil instastories

Suka kopi, musik rock, dan kamu.

Dua Telinga (Bagian 1)

BAB 1 

Di Luar Sedang Hujan

Aku merebahkan diri pada dipan bambu yang berada di beranda rumah. Aroma tanah basah akibat hujan beradu dengan aroma pisang goreng buatan mamak memasuki rongga hidungku. Mataku menerawang langit-langit yang mulai keropos dan dihiasi sarang laba-laba di beberapa bagian. Tampias air sesekali mengenai ujung kakiku.

Biasanya—jika tidak hujan— aku dan mamak sudah sibuk menyadap getah karet sejak pagi buta. Dilanjut mengumpulkan gumpalan getahnya dari batok kelapa yang nantinya akan diserahkan ke pengepul. 

Jika matahari mulai terasa menyengat kulit, mamak menyudahi pekerjaannya dan mengajakku pulang untuk makan siang. 

Usai makan, mamak kembali disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah. Bahkan sekiranya selesai lebih awal, mamak akan membuat pisang goreng untuk dititipkan di warung dekat jalan besar.

"Untuk tambah-tambah penghasilan," kata mamak sewaktu kutanya. Tidak sekalipun tampak gurat kelelahan di wajah mamak.

Sejak bapak jatuh sakit hingga tidak memungkinkan bekerja, mamaklah yang menggantikan bapak mencari uang agar nyanyian di dalam perut kami tidak lagi terdengar.

Sementara kedua kakakku bekerja di kota kabupaten. Satu di mini market, satu lagi di toko kelontong. Mereka hanya pulang sesekali. 

Pernah selintas ingin mengikuti jejak kakak-kakakku bekerja di kota agar penghasilanku bertambah. Nantinya bisa kugunakan membeli jaket baru atau menambah uang belanja mamak. Namun, tidak tega rasanya melihat mamak menyadap getah karet seorang diri.

Teriakan mamak dari arah dapur membuyarkan lamunanku. Aku terperanjat. Dipan bambu mengeluarkan suara berderik. Buru-buru kupakai sandal jepit dan berjalan cepat menuju dapur.

"Ini kau antarkan ke warung Pak Cikmu, ya!" perintah mamak sembari menyodorkan plastik putih dengan alas kertas minyak berisi pisang goreng. 

"Hujan-hujan begini, Mak?" tanyaku agak sedikit ragu. 

"Iya. Cepatlah! Selagi masih panas pisangku ini." Kali ini mamak melotot. Selain pekerja keras, aku lupa menceritakan bahwa mamakku ini memang galak.

"Tapi–" Belum selesai kalimatku, mamak sudah berbalik badan menuju ruang tengah. Entah akan melakukan apalagi.

Aku mendengus sebal. Mengambil jas hujan plastik dan mengenakannya sembarang—setidaknya agar kepalaku tidak terkena hujan hingga membuatku demam. Kemudian mengayuh sepeda menyusui jalanan berlumpur dan penuh kubangan air. Melewati rimbunnya pepohonan karet menuju jalan besar.

***

Aku menyenderkan sepedaku pada dinding warung paman. Lelaki paruh baya itu terduduk di atas kursi kayu panjang depan warung. Ditemani gelas kopi yang isinya tinggal sepertiga. Jemarinya mengapit rokok. Sesekali disesapnya pangkal benda itu kemudian kepulan asap meluncur dari mulut serta hidungnya.

"Tumben sepi, Paman," tanyaku berbasa-basi membuat lelaki itu menoleh ke arahku. 

"Kau tidak lihat ini sedang hujan, kah?" Paman mendelik. 

"Eh, emm, ini gerimis, Paman. Bukan hujan," kataku berusaha menjelaskan dengan memasang wajah sok polos.

"Ah, anak Siti satu ini dari dulu selalu buat aku kesal." Paman bersungut-sungut. Mulutnya menyesap rokok sekali lagi sebelum membuangnya ke tanah, lalu menginjaknya.

Aku menahan tawa sambil melangkah masuk ke dalam warung. Wajah keriput paman terlihat makin lucu saat ia sedang marah. 

"Aku letakkan di sini saja ya, Paman?" tanyaku lagi pada paman. Ia hanya ber-hem pelan, malas merespon.

Kuletakkan pisang goreng buatan mamak pada wadah plastik transparan. Kemudian mencomot dua biji sebagai pengganjal perut.

"Eh, dagangan mamak kau pun kau makan?" 

Aku mengangguk. Lapar. Begitulah kira-kira ekspresiku menjawab pertanyaan paman.

Kini aku duduk berjejer di sebelah paman. Kembali menatap keindahan rintik gerimis yang makin menderas. Mulutku masih sibuk mengunyah pisang goreng terenak se-Rimbo Ulu, sebelum detik berikutnya ekor mataku menangkap bayangan perempuan berbaju abu-abu berjalan mendekati warung.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.