Profil instastories

Suka kopi, musik rock, dan kamu.

Dua Telinga

by : CahyaniSE

Prolog

Terimakasih pernah menjadi wadah menumpahkan lara. Terimakasih pula sudah berbaik hati sedikit menyembuhkan luka dan membuatku tertawa bahagia—meski tawaku sama sekali tidak terlihat dari sana. 

Terimakasih. Semoga ketika kamu tidak lagi menjadi Dua Telinga, aku tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat. Menjadi pribadi yang tidak lagi sering berkeluh kesah hingga membuat bebanmu semakin bertambah.

Sahabatmu

Dari pulau seberang

____________________________________

Tanganku bergetar seusai membaca sepucuk surat yang kertasnya mulai usang. Tadi pagi-pagi sekali, ketika aku hendak sarapan sebelum menyadap getah karet, seorang tetangga menggedor pintu kayu rumahku. Udara dingin seketika menembus tubuhku bersamaan dengan hadirnya wajah yang masih dihiasi liur kering saat aku membukakan pintu. Adalah Bang Teguh, lelaki tiga puluhan menyodorkan amplop putih lecek sembari berkata, “Kemarin aku lihat tukang pos mondar-mandir depan rumahku.” 

Aku membolak-balik amplop yang kini sudah berpindah ke tanganku. Sebelum aku bertanya, Bang Teguh segera menjelaskan lebih dulu.

“Langsung saja kutanya, cari siapa dia. Rupanya dia cari alamat kau.” Kumis tebalnya ikut naik turun mengikuti gerakan mulutnya. Dia menghentikan penjelasannya sejenak. Kali ini tangannya sibuk membalut tubuh gempalnya dengan sarung yang dia kenakan hingga kepala.

 “Orang itu hanya menulis nama kau dan alamat yang tidak lengkap. Membuat tukang pos bertanya kesana-kemari. Merepotkan orang saja,” sambungnya ketus kemudian pamit. Ingin melanjutkan tidur katanya.

Keningku berkerut, kiranya siapa gerangan yang masih meluangkan waktu mengirim surat di zaman yang serba modern ini?

Karena penasaran, buru-buru kubuka amplop itu dan mengeluarkan isinya sambil berjalan pelan menuju meja makan. 

Perutku keroncongan. Aku baru memakannya dua suap sebelum Bang Teguh datang. Bahkan segelas kopi hitam dengan kepulan asap masih teronggok membisu. Aroma nikmatnya menyeruak, melambai-lambai seolah ingin aku segera meneguknya hingga tak bersisa.

Namun, astaga! Tubuhku hampir kehilangan kendali. Rasa laparku hilang. Atmosfer ruang makan mendadak membekukan tubuhku. Penyesalan demi penyesalan yang hampir kulupakan, seketika muncul kembali.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.