Profil instastories

Suka kopi, musik rock, dan kamu.

Dua Buana

Karya: CahyaniSE

 

"Hey, lihat! Si Rudi itu beruntung banget, ya?" Maskudi bertanya entah pada siapa.

Paiman yang persis duduk di sebelahnya hanya melirik sekilas, tidak peduli. Ia mengibas-ngibaskan kerah bajunya yang berlumur peluh. Sementara Nurdin menadahkan gelas kaca berukuran jombo yang hanya tersisa bongkahan es batu di dalamnya kepada pemilik warung. Minta tambahan air katanya.

Keganasan Sang Surya amat dirasakan oleh ketiga pemuda itu. Tidak hanya raga mereka yang dijilatinya, pikiran mereka juga diluluhlantahkannya.

Kemarau panjang membuat sawah tadah hujan garapan mereka terancam gagal panen. Tanah di bawahnya retak-retak. Bahkan rumput-rumput liar yang menghiasi jalan setapak juga mulai mengering.

"Kalau saja kita pintar seperti Rudi, pasti sedang duduk-duduk di ruangan ber-AC. Tidak akan kepanasan," sambung Maskudi.

"Ya he'eh. Punya badan wangi, wajah tampan, dikejar-kejar gadis kampung pula. Tidak seperti kita ini." Nurdin menimpali. Ia kembali terduduk di depan Maskudi setelah menenggak sepertiga air dalam gelas kacanya.

Paiman mencomot selembar tempe goreng. Kali ini ia ikut membuka suara, "Bukan duduk-duduk di warung yang hampir rubuh ini."

Pemilik warung berdehem kencang, merasa tersindir oleh ucapan Paiman. Tawa mereka pecah memenuhi beranda warung di bawah guyuran radiasi matahari.

 

***

Seseorang bernama Rudi itu melintas di depan warung kopi Mak Jum dengan terburu-buru. Kesibukannya pagi ini membuat ia harus segera tiba di kantor kecamatan. Ia menganggukkan kepalanya sembari melempar senyum pada ketiga bujangan yang tidak bisa disebut muda lagi. Tawa ketiganya terjeda sejenak, balas mengangguk dan tersenyum pada Rudi. Juga Mak Jum yang terlihat sibuk menghidangkan sarapan bagi pelanggannya.

 

Hampir setiap hari, ketika Rudi melintasi warung itu, dia mendapati mereka tertawa gembira. Terkadang terdengar obrolan ringan meluncur dari mulut ketiganya saling bersahutan. Betapa menyenangkannya memiliki teman seperti mereka, batin Rudi.

Pernah pada suatu sore sepulangnya bekerja, Rudi ditawari Paiman untuk bergabung dengan mereka di warung Mak Jum seusai menggarap sawah.

"Terima kasih sudah menawari saya. Namun, mohon maaf, Mas. Saya harus buru-buru pulang," jawab Rudi menyesal. Sebenarnya ia teramat ingin, tetapi ibunya kini jauh lebih membutuhkannya.

"Ohalah, ya sudah lain waktu ya, Rud." Nurdin menambahkan.

Rudi mengangguk kikuk. Izin undur diri.

Dalam perjalanannya menuju rumah, Rudi bergumam, "Betapa beruntungnya mereka bisa menikmati hari dengan penuh tawa."

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.