Profil instastories

Drama

“Senang bertemu kalian semua.” 

 

Suara lembut itu menyapa indra pendengaran Rayhan. Kepalanya yang sedari tadi terbenam di atas permukaan meja perlahan terangkat. Netranya menangkap sosok yang berdiri di depan sana. Wajahnya terlihat begitu cerah dengan seulas senyuman di bibirnya.

 

“Silakan kamu duduk di sana.” Seorang wanita di sebelahnya berucap dengan tangan yang menunjuk ke bangku yang paling belakang.

 

Rayhan menolehkan kepalanya ke arah bangku di sebelahnya yang kosong. Entah apa yang dia pikirkan, hingga tidak sadar sebuah tangan terulur padanya.

 

“Namaku Rindu.”

 

Rayhan mendongak dan menatap gadis itu. Dia lalu membenarkan letak kursinya, sedikit memberi jarak dengan kursi yang akan ditempati Rindu.

 

“Gue Rayhan,” ucapnya yang mengabaikan tangan Rindu. Sementara gadis itu hanya tersenyum menanggapinya. Dia pun segera duduk di sebelah Rayhan.

 

“Salam kenal. Semoga kita bisa menjadi teman baik,” ucap Rindu tanpa adanya balasan.

 

Teman? Rayhan tertawa dalam hatinya.

 

Kelas pun dimulai. Sang guru mulai membahas materi minggu lalu yang belum sempat dijelaskan. Rayhan melirik Rindu yang tengah menatap ke arah buku paket miliknya. Dia mengembuskan napas dan menggeser buku itu ke bagian tengah meja.

 

Saat jam istirahat, sebagian besar murid tampak keluar meninggalkan kelas. Rindu terdiam memandangi mereka. Dia membuang napas. Kenapa tidak ada yang mengajaknya berkenalan?

 

Rindu menoleh pada Rayhan yang terlihat masih duduk di tempatnya. Wajahnya terlihat memandang ke luar jendela dengan sepasang headset yang terpasang di telinga. Semua orang terlihat begitu menikmati harinya, kecuali Rindu. Gadis itu mendesah kecewa. Namun di detik berikutnya dia merasa sesuatu menyentuh salah satu sisi telinganya. Lantunan sebuah lagu terdengar melalui headset yang dipasangkan Rayhan. Rindu menoleh pada laki-laki itu yang kini memejamkan matanya.

 

“Gak usah repot nyari temen. Mereka bakalan datang sendiri meskipun pas butuh lo doang. Mereka yang deketin lo, bukan berarti mereka mau jadi temen lo. Mungkin aja itu cuma drama.”


Rindu tersenyum tipis. Dia ikut memejamkan kedua mata dan menikmati lagu yang tengah diputar, bersama dengan angin yang berembus melewati jendela. Ucapan Rayhan benar.

***


Semua murid bergegas meninggalkan kelas begitu jam terakhir selesai. Hanya tinggal beberapa orang yang masih berada di sana. Rindu memakai tasnya dan menatap Rayhan yang masih berada di kursinya. Lelaki itu hanya tersenyum tipis. 

“Aku duluan, ya?” ucapnya dan hanya dibalas oleh anggukan kepala oleh Rayhan. Lelaki itu menatap punggung Rindu yang menjauh. Sementara Rindu kini mulai berjalan melewati beberapa orang yang tengah mengobrol di barisan paling depan.

Bruk!

Rindu memegangi kedua lutunya yang berdenyut. Seseorang menghampirinya dengan ekspresi khawatir. “Maaf, ya. Gak sengaja,” ucapnya dan langsung dibalas Rindu dengan senyuman.

Ketika gadis itu hendak berdiri, dia melihat sepasang sepatu di hadapannya. Rindu mendongak dan menatap siswa laki-laki yang tengah bersedekap menatapnya. Dan di detik berikutnya dia merasa kepalanya dilempari sesuatu. Rindu melihat pecahan cangkang telur. Bau amis menyeruak dari tubuhnya. Tawa beberapa orang menggelegar. Salah satu dari mereka terdengar membuka kantung plastik dan menjatuhkan sesuatu berwarna putih ke atas kepalanya.

Air mata Rindu jatuh seketika. Gadis itu lalu menatap Rayhan yang kini berjalan mendekatinya. Rayhan menatap dirinya yang masih terduduk di lantai.

Berharap dia ditolong, namun dada Rindu seakan dihantam oleh benda keras secara bertubi-tubi ketika Rayhan berjalan melewatinya begitu saja. Lelaki itu sempat menepuk pelan bahu salah satu siswa seakan menyuruhnya untuk meneruskan kegiatan nistanya.

Rindu baru saja ingin memanggil Rayhan sebelum sesuatu menghantam keras kepalanya. Seorang siswa melemparkan sebuah sapu dan pel padanya. Rindu menatap mereka semua, tidak terkecuali Rayhan dengan tatapan yang teramat kecewa.

“Mereka yang deketin lo, bukan berarti mereka mau jadi temen lo. Mungkin aja itu cuma drama.”

Rindu tersenyum kecut. Sekali lagi. Ucapan Rayhan memang benar.

“Harusnya lo dengerin ucapan gue tadi,” ucap Rayhan sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu.

- SELESAI - 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani