Profil instastories

Doa untuk Sahabatku

     Kepulanganku dari Yogyakarta tak lantas membuatku lupa tuk menemuimu. Meski setiap kali kubawa ingatanku padamu mataku tak pernah berdusta untuk meneteskan stiqps air mata yang menjadikan ingatan akan kenangan tentangmu. Langkahku terasa berat setiap kali mengunjungi tempat peristirahatanmu. Akal ini selalu menolak jika berharap apa yang kulihat didepan mataku adalah sebuah mimpi. Akan tetapi, kenyataanlah yang membangunkanku jika sekarang hanya makammu yang bisa kulihat.

"Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian..." (Q.S Ali ''imran : 185)

     28 Agustus 2013 tepatnya hari Rabu pukul 16.33 WIB, Allah memanggil sahabatku ke sisi-Nya. Dia adalah Putra. Kami bersahabat sejak kami duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Persahabatan yang kami jalani tidak begitu saja terjadi tanpa ada hikmah yang Allah selipkan dibalik kisah kami. Kami adalah dua orang yang berbeda selain karena aku perempuan dan Putra laki-laki. Kami memiliki sifat yang berbeda. Aku adalah seorang remaja yang pendiam dan pemalu sewaktu dulu di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan Putra adalah seorang remaja yang ceria, humoris, dan pandai bergaul dengan siapapun. Akan tetapi, kami mempunyai kesamaan yaitu sama-sama menyukai diskusi baik itu mata pelajaran ataupun tentang lainnya. Kami sering menyempatkan waktu untuk belajar kelompok di sekolah maupun di rumah kami secara bertiliban dengan teman-teman kami yang lain.

    Tak terasa waktu berjalan cepat hari perpisahan Sekolah Menengah Pertama pun tiba. Kami harus berpisah dengan meneruskan ke Sekolah Menengah Atas impian kami. Meskipun demikian persahabatan kami masih terjalin sampai di bangku Sekolah Menengah Atas walaupun kami jarang bertemu. Kami masih sering berkitib pesan atau SMS untuk menanyakan kabar sesekali kami saling membakam komentar di Facebook. Sampai akhirnya aku dan Putra mulai sibuk dengan urusan sekolah kami dan akhirnya aku pun kehilangan kontak dengan dia karena kami sudah berganti nomer telepon.

     Hari naas itu tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sebelum hari itu terjadi beberapa kali aku sempat memikirkannya. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk mengontak Putra kembali lewat Facebook. Dan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya kalau itu adalah percakapan aku dan Putra terakhir kalinya. 

     Di percakapan itu aku menceritakan kejadian kecelakaan yang belum lama menimpaku. Betapa Putra sangat khawatir mendengarnya. Namun dengan gaya khas nya Putra yang selalu bercanda , Putra malah pertama kali menanyakan keadaan apakah motorku baik-baik saja hehehe...tapi setelah itu dia tetap menanyakan keadaanku. Yah itu adalah kecelakaan yang pernah kualami dengan truk saat bulan ramadhan. Alhamdulillah, aku jatuh ke sisi kiri jalanan sehingga hanya luka ringan, sedangkan motorku mengalami kerusakan cukup parah. Dan tidak pernah aku bayangkan sama sekali bahwa kecelakaan yang menimpaku akan terjadi pada Putra hingga merenggut nyawanya.

     Putra mengalami kecelakaan dengan truk yang mengangkut barang. Pada saat itu, Putra baru saja selesai berlatih Paskibra di sekolqhnya. Putra masih menggunakan seragam putih abu-abu dengan berdasi pada saat kejadian. Sebelum kejadian, Putra meminta izin untuk pulang ke rumahnya dengan nenggmenggu sepeda motor teman Paskibranya. Putra sempat ditawari temannya untuk diantar karena hari itu Putra terlihat kelelahan setelah melakukan berbagai kegiatan sekolah. Akan tetapi, Putra menolaknya dia bersikukuh untuk mengendarai sepeda motor sendiri tanpa harus diantar. Akhirnya dengan berat hati, teman Putra pun mengizinkannya. Setelah selesai sholat ashar, Putra segera pulang ke rumah. Sekitar pukul 15.30 WIB Putra bertemu dengan Hana, teman Putra sekaligus sahabatku juga sewaktu di Sekolah Menengah Pertama. Mereka bertemu di depan sekolah Putra. Pada saat itu juga Putra menanyakan kabarku dengan Hana. Bukan hanya itu, Putra juga sempat meminta nomer ponselku yang baru. Kemudian dia segera pergi ke rumahnya kurang lebih tiga puluh menit sebelum akhirnya Putra di panggil oleh Allah SWT untuk selamanya.

     Hari itu aku sedang berada di suatu perumahan elit untuk melakukan foto album kenangan kelas XII SMA. Aku berada ditempat itu dari siang hari hingga malam hari. Selama melakukan persiapan properti untuk keperluan foto kelas, aku tiba-tiba saja teringat sama Putra. Aku hanya berfikir itu perasaan rindu kepada seorang sahabat yang lama tidak berjumpa. Aku menanggapinya dengan perasaan wajar. Tanpa aku tahu bahwa itu adalah pesan yang Allah sampaikan untukku. Setelah sholat isya, giliranku dengan kelompokku untuk melakukan sesi foto. Tiba-tiba ditengah sesi istirahat, salah seorang teman laki-laki di kelasku menanyakan tentang Putra kepadaku.

" La, kamu dulu SMP Negeri 3 Harapan Bangsa kan?" Tanya Andi temen kelasku tadi dengan wajah panik setelah melihat ponselnya. 

" Iyah, Ndi memangnya kenapa?" . Tanyaku penasaran karena Andi tiba-tiba menanyakan asal SMP ku.

" Bearti kami kenal sama Hermansyah Saputra kan?" Tanya Andi semakin ingin tau.

" Iyah, itu sahabatku. Kenapa sih Ndi?" Tanyaku semakin penasaran.

" Tadi sore sekitar pukul 16.33 WIB, dia mengalami kecelakaan dengan truk dan seketika meninggal dunia ditempat kejadian La. Di sosial media sedang booming banget ngomongin kejadian itu." Dengan wajah serius menceritakan kepadaku.

" Astaghfirullah Andi , kamu tuh kalau ngomong jangan seenaknya saja yah. Hati-hati kalau bicara Ndi. Bercandamu ga lucu." Saat itu aku marah karena aku ga percaya sama Andi dan menurutku Andi hanya berfuyra.

" Eh beneran,  aku ga bohong." Jawab Andi meyakinkan.

" Ahh itu cuma hoax doang. Berita murahan." Kata Febi salah satu teman satu kelompok foto album kenangan denganku.

" Yasudahlah kalau ga percaya, kami cek aja di sosmed " Andi pergi meninggalkanku dengan sedikit wajah kesal.

" Sudah La, jangan dengarkan Andi sebab Andi memang begitu orangnya. Mending kita lanjutin take foto nya aja, soalnya ini udah malam." Kata Febi mencoba menenangkanku.

       Di tengah keadaan panas antara Aku dan andi, tiba-tiba datanglah satu teman laki-laki kelasku yang lain menghampiri aku dan Febi. Dan dia menunjukkan informasi beserta foto Putra di lokasi saat kejadian berlangsung. Tubuhku langsung lemas, aku ga tau apa yang harus aku lakukan, seketika aku menangis. Dan aku dengan masih menangis berusaha kuat untuk menghubungi Hana menanyakan kebenaran informasi yang aku terima dari temanku itu.

" Assalamu'alaikum, Han ini Lala" suaraku serak dan berat

" Wa'alaikumsalam...La..aa.." Suara Hana terbata-bata seperti sambil menangis.

" Han, kamu kenakkamu kenapa nangis dan sepertinya di sekitarmu ramai sekali banyak suara" Tanyaku panik dan semakin bergetar tubuhku.

" La..., Putra La, Putra meninggal dunia tadi sore karena kecelakaan" 

      MendengarHana mengucapkan hal itu membuatku semakin keras menangis. Aku tidak percaya jika Putra sahabatku pergi untuk selamanya. 

     Besok paginya selepas izin mengurus dispensasi akhirnya aku diizinkan sekolahan untuk izin takziyah ke rumah Putra bersama beberapa teman SMP ku yang saat itu satu sekolah SMA dneganku. Hari itu aku memberanikan diri untuk melihat jenazahnya terakhir kali. Tubuhku lemas tak berdaya , aku masih menganggap ini seperti mimpi. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, kini Allah pertemukan aku dengan Putra dalam keadaan Putra sudah tidak bernyawa lagi. Setelah itu, aku pun turut serta mengantar jenazah Putra ke pemakaman sebagai tempat peristirahatan yang terakhir kalinya.

" Ya Allah , ampunilah segala dosa dan kesalahan sahabatku almarhum Putra. Tempatkanlah dia di sisi-Mu dan terimalah segala amal perbuatannya saat di dunia, Aamiin."

       Peristiwa itu terjadi sudah 5 tahun yang lalu lebih. Melalui kepergiannya aku banyak hikmah darinya. Kini aku sedang terus belajar untuk semakin memperbaiki diri. Darimu aku belajar bagaimana menjadi seorang hamba yang lebih baik. Karena hanya Allah yang mengetahui waktu kematian setiap hamba-Nya. Dan sebaik-baik manusia adalah di keadaan akhirnya. 

     Tetesan hujan mulai berjatuhan dan lantas menyadarkanku dari lamunanku. Makan Putra memang sudah mengering namun ingatan tentangnya tidak akan pernah hilang sekalipun banyak hal yang kulali sampai saat ini. Suatu saat aku pun akan berada ditempat seperti didepan mataku, di makam. Namun kapan itu hanya Allah yang tau. Hanya bekal amal ibadah yang harus dipersiapkan untuk menunggu ajal itu datang. Lama-lama tetesan hujan semakin deras berhatuhan, aku langkah kan kakiku meninggalkan pemakaman Putra. Hujan pun semakin deras jatuh ke tanah menutupi air mataku. Perlahan-lahan aku berjalan keluar dari arah pemakaman. Setiap kali aku merindukan-Nya, hanya doa yang selalu kupanjatkan kepada Allah. Semoga kau tenang di sisi-Nya. Selamat jalan sahabatku darimu aku banyak belajar menjadi seseorang yang lebih baik, terima kasih Putra.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.