Profil instastories

Diary Story : Menggapai Impian di Turki

   Aku bersyukur masih bisa menulis. Menulis semua kenangan terindah atau pun terburuk dalam hidupku. Kenangan indah yang kutulis akan membuatku bahagia saat mengingatnya. Lalu kenangan buruk akan membuatku bersyukur bisa melewati masa terpuruk itu. Inilah sepenggal kisah perjalananku berjuang menggapai impian. Yang aku sendiri pun tak tahu pasti apakah kisah ini akan berakhir dengan aku sebagai pemenang dalam perjuanganku. 

“Turki, tunggu diriku. Aku akan segera datang,” ujarku dengan linangan air mata. Sembari jemariku mengusap sebuah foto Blue Mosque dan Maidens Town yang ada di album ponselku.

   Sejenak kemudian aku terpaku menatap dompet milikku. Kubuka dan kulihat seberapa banyak isinya. Ah, lagi-lagi dompet ini membuatku mendesah lelah. Hanya ada dua lembar uang berwarna biru yang jelas tak akan cukup untuk membayar biaya bimbingan beasiswa. Tatapanku beralih pada gelang emas yang kupakai. Jika aku menjualnya, pasti hasilnya akan lebih dari cukup untuk kebutuhanku meraih beasiswa. 

“Naira, kamu kenapa?” Tanya Ibu yang telah berdiri di sampingku. 

“Bu, aku mau ikut bimbingan beasiswa supaya punya peluang lebih untuk lolos seleksi. Aku butuh uang yang lebih banyak. Boleh, ya, kalau aku jual gelangnya?”

“Tidak perlu, Ra. Ibu masih ada uang. Itu nanti untuk tabungan kamu saja.”

   Ibu masih terus melarangku untuk menjualnya, namun aku tak ingin menyusahkannya. Akhirnya aku tak menjualnya dan memakai uang ibu. Dengan keyakinan hati yang kuat, aku mulai mengikuti bimbingan beasiswa. Aku semakin gencar berdoa dan berusaha. Meminta doa dan restu ibu tak kalah penting juga. 

   Hari pertama pendaftaran beasiswa dibuka, sesuai dengan bimbingan dari mentor aku pun langsung mengunggah semua dokumen yang diminta pihak pemberi beasiswa. Hingga tiba saatnya pengumuman tahap administrasi. Aku mendapat balasan email bahwa aku lolos ke tahap wawancara. 

           ——————————————————

   Sudah lama tidak melanjutkan tulisan ini. Aku merasa Allah sedang menguji diriku. Saat itu, aku yang sedang menunggu hasil wawancara pun mengalami depresi. Sebuah ucapan yang sering kudengar bahwa untuk menggapai impian itu harus lebih banyak berkorban memang benar. Setelah kurasa semuanya baik-baik saja, tak kusangka ada ketidaksetujuan ayah pada impianku. 

   Ucapannya begitu tajam hingga mampu mematahkan semangatku. Aku semakin pesimis dan terpuruk saat ayahku sendiri yang mengatakan bahwa aku tidak pantas mendapatkan beasiswa itu. Ayahku mengatakan kalau anak perempuan tak perlu sekolah tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Akan kutulis semua yang kudengar dan kuingat.

“Kamu itu perempuan, buat apa sekolah tinggi-tinggi?! Akhirnya juga jadi ibu rumah tangga setelah menikah. Lebih baik adikmu saja yang sekolah tinggi, bila perlu sampai ke luar negeri. Itu karena dia lelaki, dia akan jadi kepala keluarga saat dewasa nanti. Lha, kamu? Semua perempuan itu akan menjadi ibu rumah tangga yang akhirnya jadi kacung suaminya! Jangan mimpi bisa dapat beasiswa kuliah di luar negeri!” ucap Ayah berapi-api. 

“Memangnya kenapa jika aku perempuan?! Aku pun tidak ingin menjadi budak kebodohan!” bantahku tegas. 

“Beraninya kamu—” tukas Ayah seraya hendak melayangkan tangannya untuk memukulku namun segera ditepis oleh ibu yang sedari tadi hanya mendengarkan pertengkaran kami. 

   Ibu menangis tersedu kemudian berkata, “Jangan pernah memukul anak perempuanku. Aku tidak akan pernah rela kamu melakukan itu!”

“Kalau begitu aku tidak akan menikah! Sejak kecil aku diasuh dan dirawat oleh ibu dengan penuh kasih sayang. Ibu rela melakukan apa pun untuk membahagiakan aku. Lalu setelah aku bahagia dan banyak hal telah ibu korbankan, mengapa aku harus menjadi seorang kacung lelaki yang bodoh?!” sergahku kemudian masuk ke kamar dan mengemasi pakaianku. 

   Kuambil semua barangku dan foto tentang impianku. Aku tak ingin menderita lagi. Satu-satunya tempat yang akan menjadi tujuanku adalah rumah eyang. Di sana aku selalu dimanjakan. Ketenangan dan kebahagiaan pun kudapatkan dengan mudah di sana.

Ibu mencegah saat aku sampai di ruang tamu, “Jangan tinggalkan Ibu, Naira.”

“Aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Aku hanya akan tinggal bersama eyang sampai pengumuman beasiswa nanti. Berikan aku restumu, Bu. Doakan aku, semoga bisa mendapatkan beasiswa itu,” ucapku sembari mencium takzim tangan Ibu. 

“Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Ra. Ini untuk bekal kamu. Ibu berharap semoga kamu bisa mendapatkan beasiswa itu,” ujar Ibu seraya mengangsurkan uang untukku. 

“Terima kasih, Bu. Aku tidak akan pernah bisa membalas semua jasa Ibu. Aku pamit, Bu,” tandasku. 

          ——————————————————

   Hari ini pengumuman lolos seleksi beasiswa yang aku nantikan. Jantungku berdebar-debar. Sejak pagi aku selalu memantau ponselku. Berkali-kali aku membuka dan menutup aplikasi email demi segera melihat email balasan. Menjelang siang, hatiku semakin tidak tenang karena telah mendapat email balasan. Kuyakinkan diriku sesat sebelum membukanya. Ponselku terjatuh saking terkejutnya diriku. Aku tidak salah lihat, Allah mengabulkan doaku. Ya, aku menjadi salah satu orang beruntung yang mendapatkan beasiswa impianku. 

          ——————————————————September, 2013

                                  •••

 

   Wanita berparas anggun itu tersenyum hangat sesaat setelah ia menutup buku yang dibacanya. Kepingan-kepingan kenangan pahit bagai menyeruak dari ingatannya. Naira memandang buku hariannya cukup lama dan hampir saja ia menitikkan air matanya. Tatapan netranya memandang sekeliling ruangan tempatnya berada untuk menghalau kesedihannya. Hingga sentuhan lembut di bahu mengalihkan atensinya. 

“Naira, aku memanggilmu dari tadi,” ujar Mert—suaminya. 

“Mert, terima kasih banyak. Tanpa dukungan darimu, aku tidak akan bisa seperti sekarang,” ucap Naira. 

“Itu semua hasil perjuanganmu. Sementara aku hanya mendampingi dirimu.”

“Kamu masih mengingat semua sahabatmu, kan? Ada sahabatmu yang ingin mengunjungi kita. Tadi dia menelepon, karena kamu tidak ada jadi aku yang menjawab teleponnya,” lanjut Mert. 

“Kosakata yang kamu kuasai semakin banyak. Kamu juga semakin fasih berbahasa Indonesia,” kagum Naira.

“Itu karena kamu yang selalu membantuku. Satu lagi, aku sudah memesan tiket pesawat untuk ibu. Kemarin malam saat kamu sudah tidur, ibu meneleponku. Dia bilang sangat merindukanmu. Lusa ibu sudah tiba di Istanbul.”

   Naira merasa sangat bahagia atas semua pencapaian yang diraihnya. Allah benar-benar mendengarkan dan mengabulkan semua doanya. Namun begitulah, kehidupan selalu memiliki dua sisi. Sisi paling baik yang Naira dapatkan ialah dengan terwujudnya semua impian dalam hidupnya. Sisi terburuk pun ia terima tak lama setelah merasakan sisi baiknya. Orang tuanya bercerai ketika ia menempuh pendidikan impiannya. Sebelumnya, Naira merawat Ibu dan Eyangnya yang belum ingin meninggalkan Indonesia. Kini, Naira telah menetap di Istanbul karena Allah mempertemukan dirinya dengan jodohnya di sana. 

   Sekarang, wanita itu kembali bersiap untuk menggapai impian selanjutnya. Setelah menjadi Sarjana Fakultas Linguistik, Naira berencana akan melanjutkan pendidikannya di Jerman. Naira selalu yakin, bahwa Allah selalu memiliki rencana terindah untuk kehidupan semua makhluk ciptaan-Nya. Ia pun merasa, yang terjadi dalam hidupnya adalah bagian dari rencana indah Tuhan untuk dirinya. 

 

                            S E L E S A I

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani