Profil instastories

Dia Milikku

Perkenalkan, namaku Lisa. Umurku 18 tahun. Saat ini aku sedang sibuk mencari universitas untuk melanjutkan pendidikanku. Aku berencana untuk kuliah sampai S1. Dan akhirnya aku menemukan universitas di Surabaya yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalku.

 Kehidupan di kampus ternyata tidak seindah sinetron di tv. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Tapi aku bisa melewati itu, karena di kampus aku memliki dua orang teman, yang bahkan sudah seperti keluarga buatku. Mereka bernama Lim dan Adel.

Suatu hari, aku mendapat pesan whatsapp dari teman SMA ku yang bernama Rara. "Hey, sombong banget ya sekarang, udah gk pernah nimbrung di grub kelas" isi pesan Rara. Setelah melihat pesan itu, akupun tersenyum kecil, karena aku merasa sudah lama sekali tidak berhubungan dengan teman-teman SMA. Kita pun akhirnya chatting.

"Eh Rara, udah lama banget nih gak ketemuan ya, hahaha" (Lisa)

"Aku bukannya sombong tau, cuma lagi gak sempet buka hp aja, banyak tugas yang mesti diselesaikan, maaf ya" (Lisa)

"Haduh kamu ini, aku kangen kita kumpul se geng lagi" (Rara)

"Aku juga Ra" (Lisa)

"Kalau begitu, ayo besok Minggu ikut ke acara reunian" (Rara)

"Reunian? Siapa yang ngadain?" (Lisa)

"Mangkanya baca grub Lisa, hadehh. Si Rio yang adain, khusus acara kelas kita aja" (Rara)

"Hehehe, maafin lah. Berarti cuma kelas XII IPS - 2 ya?. Aduh gimana ya..?" (Lisa)

"Kenapa bingung sih, udah ikut aja. Kamu takut ketemu sama Nando? Ehem bakal CLBK nih wkwk" (Rara)

"Hihh, kamu ini suka yaa, nggoda temen sendiri" (Lisa)

"Aku bukannya takut, cuma gaenak aja ketemu dia, lagian kan aku dulu itu gak jadian tau sama dia, kamu tuh suka sebar gosip" (Lisa)

"Hahaha, sorry deh, pokoknya kamu harus ikut ya. Awas aja kalau gak dateng nanti, kita musuhan" (Rara)

"Idih, ngancem nih ceritanya" (Lisa)

"Bodo amat, pokoknya harus dateng ya, lokasi di SMA Harapan, jam 10 pagi, dresscodenya baju putih atau biru (bukan seragam sekolah loh ya) bawahannya bebas" (Rara)

"Iya deh, tapi gak janji ya" (Lisa)

"Pokok harus dateng! Oke, udah dulu ya, aku ada urusan, see you babes!" (Rara)

Chattingku dengan Rara berakhir pukul 11 malam. Setelah itu aku langsung tidur dan memikirkan tentang reuni itu besok pagi.

Malam telah usai, pagipun datang dengan sinar matahari yang cerah. Kebetulan sekali aku sedang libur semester 3. Waktu liburanku, kugunakan untuk membuat banyak karya seni lukis dan belajar memasak. Tetapi untuk hari Sabtu ini, aku  sedang tidak ingin melakukan apa-apa.

Aku hanya memikirkan, bagaimana jika aku datang di acara reuni nanti? Apakah kejadian masa lalu akan terulang kembali?. Aku tidak punya pilihan lagi, aku harus datang ke acara reuni besok. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Akhirnya aku bergegas ke kamar dan menyiapkan baju yang akan dipakai besok. Setelah selesai menyiapkan baju, akupun pergi tidur. 

Hari Minggu pun tiba, dan aku bangun kesiangan karena semalam aku seringkali terbangun karena tidurku tidak nyenyak. Aku bangun pukul 9, dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bergegeas memakai baju yang telah aku siapkan. Berdandanpun hanya seadanya. Setelah semua selesai aku langsung membuat sandwich untuk mengganjal rasa lapar dan minum air mineral. Setelah sarapan aku mengecek isi tasku, karena hal terbesar yang aku takutkan adalah, lupa membawa dompet. Akhirnya akupun berangkat dengan diantar oleh kakak laki-lakiku dengan motor gede yang ia punya.

Sesampainya didepan sekolah, aku menjadi pusat perhatian teman-teman yang sudah berkumpul di lapangan. Mereka menatapku karena suara knalpot kakakku yang kencang. Setelah kakakku pergi, aku masuk ke area sekolah dan menuju ke lapangan, tetapi aku masih saja menjadi pusat perhatian teman-teman. Mereka menatapku, seperti seolah-olah aku baru saja bertemu mereka, padahal kita sudah 3 tahun bersama di SMA.

Perasaanku pun semakin tidak karuan. Tak lama kemudian, seorang wanita menghampiriku, dan ternyata dia adalah Rara. "Wah siapa ini yang datang, tambah cantik aja" sambut Rara dengan pelukan.

"Kamu juga tambah cantik aja nih, maaf ya telat" ucapku. 

"Hey semuanya, lihat siapa datang bersamaku sekarang" teriak Rara sambil menggeretku ke kerumunan. Jantungku berdegup kencang, karena aku takut bertemu dua orang pria di masa lalu.

"Loh Ra, ini siapa?" tanya Beno.

"Dasar kamu ini, temen sendiri dilupain, ini Lisa. Yang suka jadi rebutan para cowok itu loh" jawab Rara sambil tertawa kecil.

"Oh yaampun, Lisa toh. Aku pangling sama wajahmu, habisnya kamu gapernah ngobrol di grub sih Lis" jawab Beno dengan kaget.

Selama percakapan berlangsung, mataku mencari-cari dua orang laki-laki yang aku takutkan. Namun, aku masih bisa menjaga image, sehingga tidak ada yang curiga kalau aku sedang mencari seseorang. Ternyata mereka tidak ada, dan akupun meminjam daftar absen yang dipegang oleh Rio untuk mendata siapa saja yang sudah hadir. Setelah aku lihat, Nando masih belum dicentang, dan itu tandanya dia belum datang atau tidak hadir. Tetapi, seorang laki-laki lagi yang aku takutkan telah datang, dia adalah Rava.

Aku tidak melihat adanya Rava di lapangan. Kemudian aku mengajak Rara untuk pergi ke kantin membeli minum. Saat akan masuk ke kantin, aku melihat seorang pria bertubuh proposional dengan memakai kemeja putih pendek dan ujung lengan bergambar batik berwarna biru. Saat aku menuju ke kios kantin yang ada di ujung, pria ini menoleh ke arahku. Dan ternyata dia adalah Rava. Jantungku berdetak semakin kencang, dan segera memesan minum. Saat itu Rava menghampiriku dan berkata "kamu Lisa kan?." Sejak saat itu, aku sangat gugup dihadapannya, namun aku harus bisa mengontrol diri supaya terlihat santai.

"Oh iya, ternyata masih ingat ya sama aku, haha" ucapku sambil tertawa kecil.

"Kamu ini ya, masih sama manisnya kayak dulu, mana mungkin aku melupakan wanita spertimu" jawab Rava sambil menggodaku.

Setelah mendengar aku berbincang dengan Rava, Rarapun langsung pergi dengan alasan ada seseorang yang memanggilnya karena urusan penting. "Keadaan macam apa ini!?" batinku. Keringatku bercucuran, dan aku segera mengambil minuman yang aku pesan. Rava menghampiri dan mengajakku kembali ke teman-teman. 

"Lis, kamu udah ada yang punya?" Tanya Rava.

"Maksudmu?" Jawabku

"Yaaa, seperti pacar gitu" jawab Rava dengan gugup.

"Oh pacar, belom ada" ucapku sambil memainkan tali tas selempang yang aku pakai.

"Belom ya, btw gimana kuliahmu?" Tanyanya lagi.

"Lancar kok" ucapku.

"Kamu masuk grub kelas kan Lis, aku nyari nomermu tapi gatau yang mana, rata-rata tanpa foto profil semua" jawab Rava

"Haha, aku masuk kok, cari aja nomerku yang belakangnya 8821" ujar ku

"Oke nanti aku chat ya"

"Siap"

Setelah sampai ke perkumpulan, aku diberi tahu Rara bahwa Nando udah datang. Lagi-lagi aku tidak melihat keberadaan cowok yang aku cari. Rara segera mengajakku bertemu dengan Nando, akupun segan untuk menolak ajannya, karena Rara ingin bertemu dengan Nando untuk menanyakan kabar. Ternyata Nando ada di Lobby sekolah, dengan memakai kaos lengan panjang berwarna putih bertuliskan tulisan Jepang dibagian depan, karena dari dulu ia sangat suka dengan hal-hal yang berbau Jepang. Saat bertatap muka dengannya, fikiranku sudah kosong, apakah ini mimpi? Dua orang tampan yang memperebutkan aku dulu datang setelah sekian lama. Nando hanya melirikku sambil dia berbincang dengan Rara. Setelah selesai, aku berharap Rara tidak meninggalkanku lagi, namun ia diajak ngobrol oleh seorang guru yang lewat didekatnya, sehingga otomatis Nando tidak ada lawan bicara selain aku yang dihadapannya. 

"Hai, apakabar, kamu tambah cantik aja" ujar Nando

"Nggak ah, biasa aja. Kabarku baik, kamu?" Jawabku

"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik" ujarnya

"Syukur deh, nikmatin acaranya ya" ucapku sambil tersenyum.

Saat itu Rara menghampiriku dan memintaku untuk menemaninya mengurus acara reuni bersama pengurus lain, karena acara segera dimulai. Akupun lega, karena aku tidak berlama-lama dihadapan Nando.

Acarapun berlangsung meriah, dengan diadakannya pertunjukan seperti band, grup dance, lawak, serta game dan masih banyak lagi acara lainnya. Acara berlangsung selama 3 jam. Setelah selesai, aku melihat Nando dan Rava sedang bersama, entah apa yang tengah mereka bicarakan. Sesekali Rava menoleh ke arahku, begitupun Nando. Akhirnya aku meminta Rara untuk ikut ngobrol dengan Nando dan Rava sementara aku mengerjakan urusannya. Tanpa penolakan, Rarapun setuju dan segera pergi.

Cukup banyak pekerjaan Rara yang aku kerjakan, sampai aku lupa kalau aku telah menyuruh Rara untuk ngobrol dengan dua laki-laki itu. Setelah pekerjaan ini selesai, aku duduk-duduk  dikursi samping pintu lobby sambil meminum air mineral ditasku. Tak lama kemudian Rara menghampiriku. Percakapan pun dimulai.

"Lis, capek ya?"

"Huh, lumayan juga ya, tapi sekali-sekali lah kek gini hahaha"

"Oh iya, tadi aku udah ngobrol sama mereka. Dan kamu tau apa yang kita omongin? Kamu Lis"

"Loh kok aku? Emang aku kenapa? Eh ambil kursi dulu gih, capek kan kamu berdiri gitu" 

Rarapun mengambil kursi dan duduk disebelah Lisa.

"Jadi gini, mereka tadi cerita soal masa lalu yang rebutan kamu itu loh, kamu inget kan? Lah aku sih gak banyak bicara, mereka yang banyak cerita. Nando bilang, kalau dia itu masih suka sama kamu Lis, tapi saat aku liat ekspresi wajah Rava, dia seperti murung gitu, padalan awalnya dia baik-baik aja, trus pas Nando pergi, Rava bilang ke aku, dia bingung Lis, dia juga masih suka sama kamu, tapi disisi lain dia juga gamau ngecewain sahabatnya. Aku bener-bener bingung mesti ngasih saran yang kayak gimana. Trus ya aku nyuruh untuk ngomong sama Nando soal perasaannya ke kamu, dia ngeiyain dan berusaha untuk bicara" 

"Ternyata benar, kejadian lama bakal terulang lagi. Yasudah, makasih ya Ra, udah mau jadi sahabat baikku" 

"Iya Lis santai aja"

"Ra, aku bingung sama perasaanku, jujur ya, sebenarnya aku dari dulu itu sukanya sama Rava. Kalau ditanya kenapa, aku gatau Ra. Tapi ya, Rava juga sahabatnya Nando, dan dia memiliki perasaan yang sama juga. Aku mesti gimana?"

"Lis, kalau kamu sukanya sama Rava, itu gak masalah kok, yang namanya perasaan itu gak bisa dipaksa. Nanti aku coba ngomong sama mereka"

"Huh, iyadeh... Maaf ya ngerepotin"

"Untuk sahabatku, aku tidak merasa direpotkan" 

Setelah aku selesai berbincang dengan Rara, akupun pamit pulang. Sesampainya di rumah, aku masih memikirkan cerita Rara tadi. Aku takut Rava dan Nando berselisih. 

Keesokan harinya, Rara menelfonku. Ia ingin aku bertemu dengannya disebuah cafe. Kami pun janjian pukul 7 malam. Setelah aku sampai di cafe, aku melihat Rara. Tapi dia tidak sendiri, ia ditemani oleh Rava dan Nando. Akupun kaget, karena Rara tidak memberitahuku jika ada mereka berdua. Akupun duduk disamping Rara, dan ternyata dia sudah memesankan minuman kesukaanku. Jantungku serasa seperti orang habis lari maraton, berdetak begitu cepat. Dan Rarapun membuka omongan

"Lis, maaf aku gak ngasih tau kamu, aku yakin kamu gaakan mau datang kalau aku kasih tau yang sebenarnya"

"Iya Ra, udah terlanjur juga kan, gaapa kok. Ngomong-ngomong ini ada apa ya?" 

"Gini Lis, Nando pingin bicara sama kamu"

Seketika aku seperti patung, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi. 

"Lisa, aku minta maaf karena aku udah suka sama kamu, aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu ke aku. Dan aku udah tau semuanya, Rara bilang kalau kamu sebenarnya suka sama Rava, ya meskipun itu menyakitkan buatku, mau gimana lagi, aku tidak bisa memaksakan kamu harus suka sama aku, maaf ya Lis" ujar Nando dengan senyum ikhlas.

Akupun menahan air mataku, aku tidak ingin mereka melihatku menangis, dan aku hanya bisa menjawab "Iya Nando, maafin aku juga ya." Setelah itu aku merasakan kaki Rara sedang menyenggol-nyenggol kaki Rava, seolah-olah ini waktu dia untuk berbicara. Ravapun berbicara, meskipun dia sedikit grogi.

"Lis, A..a..aku suka sama kamu. Apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?" Ujar Rava sambil memegang kedua tanganku yang dingin. Akupun menoleh ke arah Nando, dan ia berkata "Gaapa Lis, aku ikhlas, dan kita (Nando dan Rava) bakal tetep jadi sahabat kok." Aku pun semakin gakuat menahan diri, dan memeluk Rara dengan erat. Setelah Rara menenangkan ku, aku menjawab perasaan Rava

"Iya va, aku mau"

Ravapun tersenyum dan mencium punggung tanganku. Nando dan Rara tertawa bahagia melihat momen ini. Akhirnya Nando bisa mengalah dan ikhlas. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, dan aku harus cepat pulang. Rava menawarkan boncengan kepadaku, dan akupun menyetujuinya, meskipun aku sedikit malu. Kita pun pulang. Saat diatas motor, aku memeluk Rava dari belakang, akupun merasakan bahwa dia sedikit terkejut. Setelah itu, Rava meraih tanganku, dan dipegangnya sambil menyetir menggunakan satu tangan.

Aku tak pernah merasakan momen sebahagia ini....

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Febriman Gulo - Apr 21, 2020, 2:42 AM - Add Reply

Wow keren kaki kakak pantun nya 🙄 ehe puisi ehe dongeng itulah itu

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani