Profil instastories

Dia Imamku

    " Bersiaplah untuk melewati hari-hari yang rumit bersamaku. Melewati setiap menit yang ada hanya untuk merasakan pahitnya kehidupanku. Aku takut kamu takkan siap, aku takut kamu menyerah ditengah perjalanan. Tapi percayalah, aku akan selalu ada disampingmu, membiarkan bahuku basah dengan tangismu. Aku akan menuntunmu, memberikan semangat seumur hidupku. Aku tahu kehidupan yang akan kita lalui nanti, bukanlah kehidupan remaja yang kini sedang kita jalani. Nanti, akan ada banyak masalah disetiap hari dalam keluarga kecil kita. Kita akan sering menangis karena itu, atau mungkin, salah satu diantara kita akan berniat meninggalkan, dan mengakhiri masa depan dari keluarga kecil kita. Memang benar pahit rasanya. Tapi, kitalah yang akan meracik rasa pahit itu dengan manisnya semua hal saat kita saling memberikan semangat satu sama lain.
         Mulai sekarang, kita hanya harus sering-sering belajar dari kesalahan, mengambil makna dari semuanya. Ikuti apa yang harus diikuti, perbaiki apa yang ingin ditinggalkan, bukan malah meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Jika sudah waktunya nanti, kita akan mengingat bahwa hari ini kita pernah belajar untuk itu, kita akan lebih memahami semuanya. Kitalah yang akan membuat alurnya nanti, jangan membiarkan masalah mengambil alih fikiran kita, dan membuat kita berfikir bahwa " menyerah lebih baik. " Berbaik sangkalah pada apapun nantinya, jika ada masalah, kita bicarakan empat mata, dengan hati terbuka dan lapang dada, jangan malah diam dan merenungkan semuanya, apalagi dengan mengumbar dan menceritakan kepada orang asing disekitar kita. Belajarlah dari sekarang untuk percaya satu sama lain. ", Itu yang kau katakan padaku 7 tahun silam. 

 

 

Perkenalan

Namaku Khodijah, usiaku sekarang genap 30 tahun, aku adalah seorang ibu dengan 2 anak dan satu suami, jangan banyak-banyak, nanti repot. 

Suamiku adalah lelaki hebat yang kumiliki saat ini, dan anakku adalah permata paling indah dalam hidupku. Aku dan Rezy (suamiku) menikah pada tanggal 18 Juli 2013, pada saat itu usiaku 23 tahun, dan Rezy 25 tahun. Sebelum berlangsungnya sebuah pernikahan, aku dan Rezy belum pernah bertemu, hanya berkabar melalui ponsel, Fb dan juga kadang-kadang hanya lewat Telepon saja. 

 

Aku mengenal Rezy sudah cukup lama, tentunya bukan aku yang mengajaknya kenalan terlebih dahulu, pastinya dia. Aku masih ingat perkenalan singkat dimedia sosial waktu itu, tanggal 15 Juni 2010. Rezy mulai meminta perteman padaku diFacebook, aku sih cuek ya namanya juga perempuan, jual mahal gitu, ga lama setelah itu ada pesan masuk dimessenger ku, ku lihat siapa, ternyata dia, Rezy. " assalamualaikum, boleh saya mengenalmu, saya inginkan kamu menjadi teman saya, jikapun tidak, sekiranya kamu boleh jawab salam saya." Kaget bukan main, baru kali ini ada pria yang ngirim pesan ke aku dengan kata-kata baku yang teramat sopan, tapi tetap saja aku cuek, aku cuma bales dengan mengucapkan salam juga tentunya, " waalaikumsallam." Kataku, ga lama setelah itu, dia bales lagi, " Terimakasih." Ya Allah, aku rasanya ga tega gitu, terus aku cuma bales, " Ya. " Udah itu doang. 🤣🤣

 

Beberapa hari berlalu, dia juga udah ga pernah chat lagi, tapi masih sering like distatus aku, awalnya aku kira dia sama seperti lelaki lain, manis diawal doang dan ujung-ujungnya pasti ngilang entah kemana. Beberapa minggupun berlalu, dan betapa kagetnya aku ketika ku lihat ada pesan masuk dari dia, iya si Rezy, suamiku sekarang. 

 

Mulai keakraban

" assalamualaikum, dirimu apa kabar? Ku harap kamu slalu sehat." isi pesan dari Rezy. 

" waalaikumsallam, alhamdulillah saya sehat walafiat, sendirinya gimana? ". Tanyaku balik, entah kenapa responku cepat kali ini. 

" alhamdulillah kalau kamu baik, dan alhamdulillah juga saya juga baik, terimakasih telah bertanya :)". Jawab Rezy sopan. Coba deh bayangin, mana ada lagi pria sesopan itu. 😂

" iya sama-sama ". Jawabku kali ini agak cuek sih, yaaa mau ngetes aja gitu. 

" hmmm. Saya lihat dibio facebook kamu, kamu tinggal digarut? ". Tanya Rezy. 

" Iya, kamu juga digarut? ". Balasku juga bertanya, ya maklum, aku belum tahu dia tinggal dimana, soalnya ga pernah juga kepoin bio dia. 

" Garut deket mananya?, oh tidak, saya tidak tinggal digarut ". Katanya penasaran sih, mungkin. 

" Ranca buaya, emang kamu tinggal dimana? ". Jawabku. 

" oh Ranca buaya, saya tinggal diBangkabelitung ". 

" tw?, Bangkabelitung? Pulau mana tuh? ". 

" ga 😁, bangkabelitung ya pulau bangkabelitung ". Jawab Rezy sepertinya dia lagi ngelucu. 

" dih, kirain tw. Belum pernah denger sih ". 

"  hehe, iya sih memang, tempat tinggal saya terpencil, sampai-sampai dipeta saja ga ada. " 

" ya bukan gitu, maksud aku tuh, aku belum pernah denger soal bangkabelitung, didaerah mana sih. "

" Gimana ya, bangkabelitung tuh dulunya Sumatera Selatan, terus bikin akte sendiri jadi Kep.Bangkabelitung, gitu deh singkatnya. " Rezy lumayan lucu sih, dari cara bicaranya dia cukup humoris. 

" hehe, bikin akte, aku kira cuma manusia doang yang punya akte, ternyata pulau juga. "

" hehe iya, hmmm umurmu berapa kalau boleh tahu? ". Tanya Rezy. 

" hmmm, bulan Desember nanti masuk 20 tahun. "

" oh, masih muda ternyata, masih sekolah?. "Rezy kembali bertanya. 

" udah lama ngga. " Jawab ku ketus sih.

" oh, lulusan apa? " Ku rasa sekarang Rezy sudah seperti wartawan yang haus akan berita. 

" Lulusan Smp. " 

" Smp? Berarti selesai smp ga ngelanjut lagi gitu? " dia penasaran kali ini. 

" iya, gitu. "

" kenapa ga dilanjut, kan sayang. "

" ga apa-apa, males aja. " Aku memang cuma lulusan smp, maksudku, aku hanya punya ijazah smp, dulu sempet ngelanjut ke Sma, waktu kelas 2 akunya langsung berhenti, dan memutuskan untuk ga lanjutin sekolah. Aku cerita dikit kenapa aku berhenti sekolah. Aku berhenti sekolah bukan karena ekonomi, karena waktu itu aku ini ga disukai banyak orang disekolah, ya menurutku itu beban yang lumayan berat, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan mulai cari kerjaan aja. Oke kita lanjut. 

" padahal sayang banget loh, cari kerja sekarang susah, apalagi kalau kita cuma lulusan Smp, kadang Sarjana aja banyak yang nganggur. " Rezy bertanya seolah-olah mengoceh. 

" kalau cuma mau nasehatin aku mending ga usah, lagi males soalnya." ku rasa aku mulai sedikit kesal. 

" oh, maafkan saya, maaf saya sudah buat kamu jengkel, sekali lagi maafkan saya. " Jawab Rezy terlihat menyesal dan takut kalau aku marah. 

Padahalkan aku ga marah, cuma bete aja 😁. 

" iya ga apa-apa, saya juga minta maaf kalau emosi saya buat kamu ga nyaman, karena saya gini orangnya. "

Sumpah, ini pertama kalinya aku minta maaf ke cowo, entah apa yang ku fikirkan saat itu. 

" 😊 jadi sekarang kamu kerja dimana? Maaf saya malah lanjut nanya. "

" iya ga apa-apa, santai aja, aku sekarang ga kerja, lagi nganggur 😁. "

" oh ya sudah, kamu mau kerja sama saya? ". What! Baru kenal udah nawarin kerja, yang bener aja. 

" bentar-bentar, kita baru kenal loh, masa iya kamu nawarin kerja ke aku"

" kamu kenapa? Jangan takut, saya ga ada niat buat macem-macem sama kamu, saya cuma mau temenan aja. "

Jawab Rezy ketakutan kayaknya. 

" Bukan takut sih, gimana ya. Kamu aja jauh, saya belum kefikiran buat merantau sih. "

" ya sudah, saya juga ga maksain kamu, ga ada hak saya juga. "

" hehe iya. Maaf ya. "

" iya ga apa-apa. "

" emangnya kerjamu apa? " Tanyaku penasaran. 

" Saya kerja di PT.Wings Food, jadi helper, bahasa kasarnya sih kernet mobil box. "

" Oh gitu, terus kamu nawarin kerja ke aku, jadi Helper juga? " tanyaku kaget dong pastinya. 

" hehe, ga lah, masa iya wanita secantik kamu kerja jadi helper, angkat-angkat barang gitu, kan lucu. "

" ya terus jadi apa? "

" saya punya Coffe shop kecil-kecilan, jadi kalau kamu mau kerja sama saya, kamu bisa jadi Waiters ditempat saya, iya sih gajinya ga seberapa, tapi masalah tempat tinggal, kamu bisa tinggal dimess yang ada diCoffe shopnya. " Jawab Rezy lengkap. 

" Keren dong, digaji orang tapi juga ngegaji orang. "

" ya gitulah, prinsip saya gini, kalau saya cuma buka Coffe shop doang, saya ga bakal tahu kedepannya gimana, entah maju atau malah turun, jadi lebih baik saya buka usaha tapi sekaligus saya juga kerja, gitu. Jadi uangnya tuh muter. "

" bener juga sih, ternyata kamu cukup pintar. " jawabku agak sedikit menggoda. 

" cukup? Berarti harus banyak belajar lagi dong. "

" hehe, setiap orangkan harus tetap belajar, walaupun sudah pinter. "

" iya sih, bener juga. "

" udah dulu ya, udah malem, aku mau tidur dulu, kalau seandainya kamu chat akunya ga bales maaf ya, habis disini susah sinyal. " Kataku ingin menyudahi obrolan malam itu. 

" oh iya, kalau gitu boleh saya minta nomor handphone kamu? "

" eh, buat apa? " Aku kaget. 

" yaaa siapa tahu kalau kamu ga ada sinyal buat internet jadi saya bisa telfon aja, kalau ga boleh ya gapapa. "

" hmm, besok aja ya, insyaallah ada sinyal. " jawabku agak takut, karena aku ga mudah percaya sama orang, apalagi yang baru aja aku kenal. 

" oh yaudah, itu hak kamu. Selamat tidur ya, jangan lupa baca doanya, Assalamualaikum. "

" iya, waalaikumsallam. " Menurutku Rezy orangnya baik, dari awal dia chat, ga ada kata-kata yang aneh-aneh. Sepertinya aku udah buat anak Adam itu jatuh cinta, uhh pedenya aku. 

 

Esoknya

Siang ini, entah kenapa aku kepikiran sama Rezy. Sadar ga sadar, aku sampai rela duduk dipinggir sawah buat dapetin sinyal. Lumayan susah sih, maklum anak desa. Hampir satu jam aku muter-muterin sawah, sampai-sampai pengen manjat pohon, demi dapetin sinyal. Aku ga tahu apa yang ada difikiranku sekarang, rasa penasaranku kepada Rezy semakin besar, aku ingin tahu lebih banyak tentang Rezy. And then! Setelah lelah mencari, akhirnya apa yang ku cari sedari tadi bisa aku dapatkan, walaupun sering ngilang lagi, tapi setidaknya cukuplah. Tak ada pesan masuk sama sekali, akhirnya ku beranikan diri untuk memulai obrolan, walaupun berat hati. 

 

" assalamualaikum. " Salamku. Lumayan lama sih buat dibales sama Rezy, sekitaran 20 menitan lah. 

" waalaikumsallam, ada apa Dijah? ". Jawab Rezy setelah lama ku tunggu. 

" ga apa-apa, cuma mau nyapa doang." Jawabku. 

" tumben. "

" apanya yang tumben? ". 

" Tumben kamu chat saya duluan, kangen ya? 😁" Rezy sedikit merayuku dengan rayuan pasaran yang sudah sering ku makan dulunya. 

" Dih, pede banget. " Jawabku jual mahal kala itu. 

" hehe, maaf-maaf. "

" kenapa malah minta maaf. "

" ga apa-apa, suka aja. "

" kenapa kamu begitu mudah mengucapkan maaf, padahal kamu belum tentu salah. " tanya ku kepada Rezy. 

" hmm, karena minta maaf ga harus saat kita salah, ketika kita tidak salah, tapi kita meminta maaf, setidaknya kita sudah melakukan satu kebaikan. " Jawab Rezy, sepertinya dia sedang menceramahiku. 

" iya sih bener. "

" makanya. Eh, kata kamu disana susah sinyal? " Rezy kembali bertanya. 

" iya emang, ini lagi dapet aja sinyalnya, bentar lagi juga hilang. "

" dasar sinyal,kalau gitu, aku boleh dong minta nomor hp kamu, biar aku telfon saja, jadi kita bisa lebih lama ngobrol. "

" hmmmm, yaudah deh, nih 

085280439021."balasku dengan mudahnya memberikan nomor hpku. 

 

" hmmm, kamu lagi kerja?. " Sambungku. 

" iya, ini lagi istirahat makan siang. "

" oh yaudah kalau gitu, lanjutin aja. "

" iya. Eh, kamu udah makan?. " Rezy bertanya padaku, sok perhatian gitu. 

" hmm, udah kok. " Jawabku.

" bagus deh kalau sudah. "

Ketika aku ingin membalas pesan dari Rezy, thiiiing! Sinyalku hilang total. Akhirnya aku putuskan untuk pulang, karena bagiku lebih baik tiduran, karena tiduran itu cukup menyenangkan. 

 

Pertama kalinya menelpon

( Dirumah) 

   

Setibanya dirumah, aku duduk disebelah mamahku yang asik menonton tv, dengan kedua tangan yang sibuk merajut, entah apa yang dia rajut, tapi aku sering melihat kalau rajutan mamah cantik-cantik. 

Dirumah ku hanya ada 3 orang, mamah, papah dan aku. Aku anak bungsu dari 7 saudara. Kakak-kakak ku sudah menikah semuanya, dan tinggal dirumah mereka masing-masing. Memang benar, aku sering merasa bosan dan kesepian saat lagi dirumah. Biasanya kesepian itu aku tutup dengan kegiatan yang buat hatiku senang, contohnya seperti bikin kue. Aku memang tidak sepandai mamah dalam memasak, tapi saat aku meminta mamah untuk cobain kue buatanku, mamah selalu bilang kue ku enak. Mamah bilang gitu karena kue ku memang enak, bukan karena semata-mata ingin memuji ku saja. 

 

*gggggtttt.... 

Handphone ku bergetar, ku lihat ada panggilan masuk dari nomor yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku belum berani buat angkat telfon itu, yaaa kufikir panggilan tipuan lagi. 

" saha neng? " mamah bertanya sambil matanya menatap ke arah ponselku. 

" ga tau ini juga, belum pernah liat nomornya. " jawabku. 

" yaudah atuh diangkat. "

" hmmm, hentue ah mah, paling penipuan lagi. " Aku sering banget ditelfon sama nomor yang ga dikenal, kalau diangkat paling bilangnya kalau aku dapet hadiah mobil, basi banget. 

" yaa siapa tau penting. " jawab mamah bermaksud meyakinkan. 

" ga ah. " tak lama panggilan itupun terhenti, kurasa dia sudah lelah. 😁

Tak berselang 5 menit, nomor itu kembali menelfon. 

" angkat aja atuh neng, takutnya teh penting. " paksa mamaku. 

Yaa karena terpaksa, aku angkat saja telfon tersebut, tapi aku hanya diam tak bersuara, dan membiarkan manusia yang menelfon itu yang bicara. 

" assalamualaikum. " kata manusia yang ada ditelfon. Kemudian ku jawab karena rasa penasaran semakin menjadi-jadi. 

" iya waalaikumsallam. "

" maaf mengganggu, bener ini Khodijah? " tanya manusia itu, ku yakinkan bahwa dia adalah pria, karena mendengar suara berat dan serak-serak itu. Siapakah pria ini, aku diam tak menjawab hampir 5 menit lamanya. 

" hmm, iya, maaf ini siapa? ". Tanyaku ditemani rasa penasaran yang semakin kuat. 

" alhamdulillah kalau betul, ini saya, Rezy. " jawab pria tersebut. Aku kaget bukan main. Hingga akhirnya aku putuskan untuk masuk kedalam kamarku dan menyambung obrolanku dengan Rezy tanpa diketahui siapapun. 

 

    Saya rasa sampai disini dulu ceritanya, insyaallah akan saya lanjut dalam waktu dekat. Kenapa saya berani untuk publish sekarang? Karena ada satu orang yang ngebet banget pengen baca. 

      Percayalah, ini tak semudah yang dibayangkan sebelumnya. 

 

Malam yang indah

 

( Kamarku) 

 

" halo. " suara Rezy kembali memanggil. 

" eh iya, halo. "

" kamu kenapa? Seperti sedang ketakutan? "

" eh engga, ini, eee, engga kok. " jawabku mulai meracau. 

" tuh kan, sekali lagi saya tanya, kamu kenapa? "

Aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tetap tenang. 

" iya beneran, akunya ga apa-apa. "

" oh yaudah, kalau ada yang mau diceritain, ceritain aja ke saya. "

" eee, iya-iya. "

" kamu lagi dimana? " tanya Rezy. 

" lagi tiduran aja. "

" dasar pengangguran, hehe becanda kok, jangan ambil hati. " Rezy bercanda tapi nusuk banget ke hati. 

" iih, ya mau gimana lagi, kerjaan rumah udah pada kelar. "

" iya-iya, hmmmm saya ganggu ga? " tanya Rezy. 

" ga kok santai aja. "

" beneran? "

"  iyah beneran. "

" yaudah kalo gitu, kamu udah makan? " tanya Rezy, sepertinya dia udah mulai kehabisan bahan percakapan. 

" udah kok. " jawabku cuek bebek. 

" hmmm, bingung mau ngomong apa, hehe. " tuh kan beneran, dia udah kehabisan bahan obrolan. 

" hehe, kamu masih kerja? " tanyaku, yaa basa-basi aja. 

" bentar lagi pulang kok, ini masih digudang. "

" yaudah nanti aja ngobrolnya, kerja aja dulu. " kataku sok perhatian. 

" hmmm, iya-iya, nanti malam boleh saya telvon? "

" hmmm, boleh ga yah? " jawabku agak sedikit meledek, baru kali ini aku berani ngeledek cowo yang baru aku kenal. 

" iya gimana? "

" iya boleh, tapi jangan terlalu malem, takutnya udah tidur. "

" iya-iya ga malem kok, yaudah, saya lanjut kerja dulu, assalamualaikum. "

" iya waalaikumsallam. "

Rezy orangnya asik, untuk beberapa hari ini kurasa aku sudah mulai bisa mempercayai Rezy, tapi belum sepenuhnya. 

Waktu begitu cepat berlalu, perasaan tadi masih siang, tau-tau udah hmpir magrib aja. 

Kehidupanku untuk saat ini memang sedikit rumit, gimana tidak, aku sungguh dilema, ingin kerja tapi ga dapet kerja, pengen nikah tapi ga ada yang lamar. Iya bener, aku sudah mulai pasrah dan berharap secepatnya ada pria ganteng, kaya yang mau denganku, dan ingin hidup denganku, agar aku ga perlu cape-cape buat ngurusin hidupku, dan kurasa Khayalanku ini terlalu tinggi, hingga awan pun enggan untuk berpapasan dengan mimpi-mimpiku. Tapi apa salahnya, jika Tuhan sudah berkehendak, Kun fayakun, maka terjadilah. 

 

Sehabis shalat magrib, aku kembali kerutinitas biasa ku, ya membaca. Aku suka sekeli membaca, bukan hanya suka. Ketika aku membaca, aku merasakan hatiku damai, terkadang, aku juga suka menulis. Menulis tentang hidup yang gini-gini aja. Buku-buku karya Boy candra adalah buku kesukaanku, yang paling aku suka adalah buku " Sebuah usaha melupakan " banyak motivasi sekaligus kata-kata yang bisa buat pembacanya baper. Aku sering mengulang-ulang dalam membaca, yaa bukan semata-mata karena suka, tapi aku tidak punya waktu untuk membeli buku baru. Kalaupun mau membeli, aku harus pergi ke Bandung dulu baru bisa dapetin buku yang ingin aku beli, kurasa itu sangat memakan banyak waktuku, dan berfikir lebih baik membaca apa yang sudah ada ataupun membaca online. 

Pukul 18.59 waktu itu, entah kenapa aku tiba-tiba kefikiran Rezy. Apa aku sudah jatuh cinta? Ah mana mungkin jatuh cinta secepat ini datangnya. Tadi Rezy bilang dia mau menelponku, apa dia berbohong? Hust, kenapa aku bisa berfikiran buruk tentangnya. Mungkin saja dia lagi sibuk, jadi ga punya banyak waktu untuk ngobrol, yaaa mungkin saja. Waktu terus berjalan, tak terasa adzan Isya sudah berkumandang. Akupun bergegas untuk menunaikannya. Selesai shalat Isya, kuputuskan untuk tidur lebih cepat. Menunggu Rezy menelpon adalah satu kegiatan yang aneh untukku, kurasa diriku sudah berani menentang kehendak hatiku. Aku berbaring sembari melihat langit-langit kamarku dan berharap dapat sebuah inspirasi dari itu. Hujan turun tanpa aba-aba, hawa dingin mulai masuk melewati sela-sela jendela kamarku. Semua orang pasti berfikir bahwa dalam situasi inilah tidur bisa menjadi terasa sangat sempurna. Kenapa tidak, hawa yang dingin berkolaborasi dengan hangatnya selimut yang melindungi seluruh tubuh, sangat nyaman dirasakan. 

 

Handphone ku berbunyi, aku tersadar dari tidur nyamanku yang baru saja ku mulai sekitar setengah jam itu. 

 

" hah, Rezy  " betapa kagetnya aku ketika kulihat yang menelpon itu ternyata Rezy, sosok manusia yang ku tunggu-tunggu sedari tadi. Tak sempat untuk mengangkat telpon dan akhirnya Rezy mematikan panggilan itu, ku kulihat didaftar panggilan, ternyata Rezy sudah 5 kali menelpon tanpa responku. Tak lama dia kembali menelpon, dan akhirnya ku beranikan untuk mengangkat. 

 

" ya, assalamualaikum " kataku. 

" waalaikumsallam, kenapa baru diangkat. " tanya Rezy.

" eh maaf, aku ketiduran. "

" ketiduran? Berarti kamu sedari tadi nungguin saya nelpon gitu? " jawab dia percaya diri. 

" iih ga lah, aku lagi baca buku eh tau-taunya ketiduran. " jawabku mengelak, padahal sedari tadi aku memang sedang nungguin dia. 

" hehehe, yaudah kalo mau tidur, tidur lagi deh, maaf kalau saya ganggu. "

" ee ga kok, emangnya kenapa nelpon? " tanyaku sembari memperpanjang obrolan. 

" yakin saya ga ganggu? "

" iya engga, emangnya ada apa? "

" hmm engga, saya cuma mau ngobrol aja, boleh? "

" iya boleh, ngobrol apa? " tanyaku. 

" yaaa ngobrol apa aja. "

" yaudah mulai aja. "

" hmmmm, kamu lagi apa? " tanya Rezy yang menurut tak berbobot. 

" lagi tiduran aja, kamu? "

" ouh, kamu udah makan, saya lagi santai aja dikedai. "

" udah tadi, enak dong bisa nyantai. "

" bagus deh, enak ga enak. "

" kok enak ga enak? "

" ya enak ga enak, enaknya bisa nyantai, ga enaknya ya gada kerjaan. "

" yaudah bantuin karyawanmu aja. "

" apa yang harus dibantuin, semua udah dikerjain kok. "

" ya apa aja, nyuci piring kek, nyapu kek, atau apalah. "

" udah ada yang yang handle kalau itu. "

" yaudah cari aja yang belum ada yang handle. " jawabku. 

" ada sih yang belum ada yang handle. "

" apa. "

" mikirin kamu. " Rezy mencoba menggombal mungkin. 

" hehe, yaudah pikirin aja sesukamu. " jawabku yang dengan hati berbunga-bunga. 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani