Profil instastories

Deraian air mata Subhan

Plak

 

Sebuah tamparan hinggap di pipi ibu gue. Gue yang melihat kejadian tersebut gue tidak terima akan perlakuan ayah kepada ibu. Akhirnya gue menamparnya balik karena sangat geram sosok wanita disakiti oleh laki-laki.

 

Plak

 

"Pah inget ini Ibu yang papa tampar, kalau mau nampar nih pipi gue aja yang Ayah tampar," ucap gue kepada ayah gue karena perlakuan ayah gue.

 

"Udah kamu pergi tidur saja ngapain kamu ikut campur urusan orang dewasa!" bentak ayah.

 

"Bukannya gitu Ayah tau sendiri siapa yang tadi ayah tampar, hah!" gue melawan perkataan ayah, karena gue kasihan dengan perlakuan ayah terhadap ibu.

 

"Kamu sekarang udah mulai ngelawan ya!" bentak ayah sambil menatap mata gue.

 

"Maaf yah bukannya Subhan ikut campur tapi kan Ayah inget dong yah kalau yang Ayah lakukan itu salah!" ucap gue karena sangat geram kepada ayah.

 

Tiba-tiba ayah langsung pergi saja meninggalkan gue dan menuju ke kamarnya.

 

Tak berselang waktu lama ayah gue keluar dari kamarnya sambil membawa semua pakaiannya.

 

"Ayah mau pergi ke mana?" tanya gue kepada ayah.

 

"Maaf kan Ayah, Ayah mau pergi saja dari rumah ini karena Ayah merasa bersalah kepada ibumu," jawab ayah. "Ayah titip ibu ya Subhan." ayah pun meninggalkan kami karena ayah merasa bersalah kepada kami.

Semenjak ditinggal pergi oleh ayah, ibu sekarang sering sakit-sakitan. Namun kali ini ibu sakitnya sangat parah dan sebelum ibu meninggal ibu berpesan kepada gue.

 

"Subhan, janganlah kamu dendam kepada ayahmu sendiri." Ibu  menasihati gue dengan deraian air mata.

 

Tak disangka itulah ucapan terakhir ibu sampaikan kepada gue. Perlahan-lahan tubuh ibu menjadi dingin dan mata ibu sedikit demi sedikit terpejam

 

"Ibu....." Tangisan pun pecah saat gue melihat ibuku terkulai lemas.

 

Derai demi derai cucuran air mata membanjiri wajah gue. Namun gue belajar ikhlas untuk menerima kepergian ibu, tetapi itu semua tak mudah gue lakukan.

 

Seusai ibu meninggal akhirnya gue memutuskan untuk menemui ayah. Namun tak disangka ayah pun sudah mempunyai istri baru.

 

Tok... tok...tok

 

Namun tak disangka seseorang wanita yang keluar dari rumah ayah.

 

"Kamu siapa?" Tanya gue kepada wanita tersebut

 

"Saya istrinya bapak Joni," Jawab wanita tersebut.

 

"Hah? Tak mungkin kau bukan ibu tiriku, tidak..." Gue pun menangis sejadinya sambil meninggalkan rumah ayah tersebut.

 

Apa yang harus gue lakukan, sekarang  gue hidup sebatang kara.

 

Namun gu melihat sosok pengamen kecil yang sedang asyik-asyiknya bercanda di pinggir jalan. Akhirnya gue memutuskan untuk gabung bersama mereka.

 

"Hai" sapa gue kapada anak pengamen tersebut

 

"Siapa kamu" tanya salah satu pengamen tersebut.

 

"Tenang-tenang saya tidak bermaksud untuk berantem di sini saya ingin bergabung bersama kalian, apakah boleh?" 

 

"Boleh kok sini gabung saja bersama kami." Salah seorang pengamen tersebut mendekati gue dan merangkul gue untuk bergabung bersama mereka.

 

"Gue sangat merindukan suasana yang ceria seperti dulu yang gue dapatkan waktu orang tua gue lengkap," curhat gue kepada gerombolan pengamen tersebut.

 

"Lah kok bisa?" tanya seorang pengamen tersebut.

 

"Iya semenjak keluarga gue berantakan dan ibu gue juga meninggal gue menjadi anak yang tidak diurus," curhatnya perlahan-lahan air mata gue menetes di pipi gue.

 

"Santai aja yah kita di sini selalu ada untukmu," ucap salah satu pengamen tersebut sambil berusaha menenangkan gue.

Setelah berbincang-bincang dengan teman baru gue akhirnya gue pergi untuk mengamen di lampu merah.

 

Panas terik kami lalui demi sesuap nasi, Namun gue tetap melanjutkan mengamen.

 

Namun di situlah saya merasa ada rasa kekeluargaan yang telah hilang dalam diri gue.

 

Tak terasa matahari pun telah tenggelam. Akhirnya gue pun memutuskan untuk pulang bersama teman-teman baru gue.

 

"Bro ayo kita pulang sudah sore nih," ucap gue kepada teman-teman baru gue.

 

"Iya nih sudah mulai sore sebentar lagi mau Maghrib," jawab salah satu pengamen tersebut.

 

Tak disangka walaupun mereka dipandang oleh orang lain sebagai anak yang tidak baik tetapi mereka masih melaksanakan kewajibannya.

 

Setelah bersih-bersih badan gue langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.

 

Namun tak disangkanya lagi temen gue yang gue kira itu nakal tetapi no mereka adalah anak yang baik sama seperti gue mereka juga salah satu korban dari kekerasan di dalam keluarganya.

 

"Bro... gue salut sama kalian, gue kira kalian itu anak yang nakal," puji gue. 

 

"Ah kamu bisa aja, kita kan manusia sebagai manusia jadi harus patuh kepada sang pencipta," balas salah satu orang teman ngamen gue.

 

Perkataan tersebut yang menjadikan gue meneteskan air mata karena gue terharu mendengar perkataan mereka.

 

Akhirnya gue pun berpisah sama teman-teman ngamen gue tetapi ada salah satu dari pengamen gue yang bernama Fauzian.

 

"Bro... gue ingin menginap di rumah kamu ya," tanya Fauzian.

 

"Lah bro, kamu kan tau sendiri gue kabur dari rumah," jawab gue.

 

"Terus...kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Fauzian.

 

"Tidak tahu harus kemana?" jawab gue.

Akhirnya gue memutuskan untuk mencari rumah kosong untuk tidur pada malam ini karena tidak ada uang yang gue bawa.

Keesokan harinya gue dan teman-teman gue mengamen kembali karena tidak ada pilihan lain.

Seperti biasa gue mengamen di lampu merah dengan kondisi matahari yang sangat terik. Gue berjalan meminta disetiap mobil yang ada di lampu merah tersebut. Gue tak menyangka bahwa ada salah satu yang mobil yang gue kenal. Mobil tersebut adalah mobil ayah gue. Gue berusaha menghindar untuk tidak ke mobil tersebut karena gue sangat kecewa dengan apa yang telah ayah lakukan kepada ibu gue. Rasanya gue ingin membalaskan dendam kepada ayah gue namun gue mengingat akan nasihat ibu gue. Namun ayah gue melihat gue sedang berada di dekatnya. Akhirnya gue lari hingga tak terasa hingga gue berlari hingga ke tengah jalan dan dor... Gue tak sadarkan diri.

Tahu-tahu saya sudah berada di rumah sakit. Gue bertanya kepada suster yang suster yang meriksa gue.

"Sus... Kenapa saya berada di sini," tanya gue dengan penuh keheranan.

"Iya kamu baru saja mengalami kecelakaan akibat ditabrak mobil," terang suster sambil memasang infusan.

"Apa?" tanya gue dengan kagetnya.

"Iya... Dan kamu juga mengalami patah tulang."

"Tidak," teriak gue sekencang-kencanganya.

Tiba-tiba pada saat gue kesakitan seseorang mengetuk pintu.

Tok... Tok... Tok...

"Siapa?" tanya gue sambil mengusap air mata gue.

"Ini Ayah, Subhan kamu baik-baik saja kan?" tanya ayah.

"Tidak apa-apa kok," jelas gue kepada bapak untuk menenangkannya.

"Alhamdulillah kalo kamu baik-baik saja deh," ucap ayah bersyukur kepada Tuhan.

"Iya Ayah makasih banyak do'anya," balas gue.

"Kalau sudah sehat pulang ke rumah Ayah saja," bujuk ayah.

"Iya Yah nanti Subhan ke situ," balas gue.

Beberapa hari kemudian

Hari ini adalah gue sudah diperbolehkan pulang ke rumah karena kondisiku sudah mulai membaik.

Akhirnya gue pulang ke rumahnya ayah gue dan bisa berkumpul kembali bersama ayah gue meskipun gue masih merasa dendam tetapi harus gue hilangkan.



Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Romans - Apr 21, 2020, 5:21 AM - Add Reply

Menyentuh sekali kak ceritanya... Semangat...

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani