Profil instastories

I'm still write although you don't want to read it.

Demi Ibu

Langit seakan tak menampakkan sedikit tanda kecil pun untuk menurunkan hujan. Langit cerah dengan sinar mentari yang masih cukup dibilang pagi memancar dengan sinar oranye-nya mengenai wajah mulus seorang mahasiswi semester akhir yang kini tengah duduk dengan sebuah buku di pegangannya.

Gadis itu sesekali mendongak, sekedar menjawab sapaan dari teman-teman yang yang melewatinya. Ini masih terlalu pagi, kuliahnya dimulai pukul 09.00 waktu setempat, namun gadis itu datang satu jam lebih awal. Dan kini, ia hanya bisa menikmati secangkir coffee dengan setumpuk buku di meja kantin yang sedang ia duduki.

"Hey!" sebuah tepukan mendarat cukup keras pada bahu gadis itu.

Gadis itu mendongak, mendapati Fairus-salah satu temannya dari negara yang sama, menyengir cukup lebar ke arahnya.

"Tidak bisakah ucapkan salam?" tanya gadis itu dengan jenkel.

"Tina, kau tak berubah. Terlalu agamis," cibir Fairus seraya mendudukan dirinya pada kursi di depan gadis yang baru saja ia sebut Tina. 

"Agama melambangkan kepercayaan dan pedoman hidup, jika seorang tanpa agama kuanggap tak memiliki moral dan pandangan lurus." Jelas Tina. Ya, bisa dibilang Tina cukup mengerti sedikit-banyak mengenai agama yang dianutnya. Karena almarhum ayah Tina yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru mengaji di kampungnya dulu.  

"Secara tidak langsung, kau telah menghina kaum ateis yang legal di negeri ini." Fairus memperingatkan. 

"Aku tidak mencibir, aku hanya mengatakannya padamu karena kita satu paham," 

Fairus berdecak kesal, "Baiklah Tina. Aku tahu berdebat denganmu tak akan pernah menang." Fairus dengan sengaja menyeruput secangkir coffee milik Tina yang tak mendapatkan protes dari gadis itu, "Seharusnya kau memilih masuk hukum bukan psikologi," 

"Masuk penjurusan sesuai passion memang lebih baik. Namun masuk penjurusan sesuai kata hati pun tak akan menjadi buruk, selama hal itu kita laksanakan secara amanah." Tina menjelaskan. Dirinya memang cukup bijak dalam menyikapi permasalahan hidup. Tina bahkan pandai dalam berargumen, ia pandai dalam perhitungan dan teori-teori dalam ilmu sains semasa sekolah menengah akhirnya. Namun satu hal yang ingin Tina ketahui. Satu hal itu yang mengantarkan Tina berada pada fakultasnya saat ini.  

"Ya, ya, ya, aku tak lupa, kau seorang pendebat yang tangguh." 

Tina hanya tersenyum kecut sebagai tanggapan atas pernyataan Fairus itu.

 

🍀

 

Tina menapakkan kakinya di halaman yang sangat luas, di sebuah bangunan tua bergaya arsitektur Victorian bercampur dengan arsitektur modern. 

Tak sama seperti kegirangan teman-teman lainnya, Tina, gadis dengan toga hitam lengkap dengan topi berwarna senada itu menatap teman-temannya dari jarak yang cukup berjauhan juga dengan tangis yang mulai berderai. Matanya memanas tak kuasa membedung airmata yang memaksa keluar.  

Tina menatap apa yang kini berada di genggamannya, hal yang selama beberapa tahun terakhir ini menjadi obsesi juga tujuan hidupnya. Masih dengan tangis yang berderai, Tina menarik sudut bibirnya membentuk seutas senyuman manis. Ia menggenggam dengan erat sebuah benda berbentuk tabung yang di dalamnya berisi hal paling penting yang dicapainya. 

"Kok malah nangis sih, Tin?" Fairus mengelus pelan punggung Tina. Ia memang paling mengerti sahabatnya itu. 

Fairus menarik Tina untuk berdiri dengan menghadapnya. Ia kemudian menakup wajah Tina dengan kedua tangannya, mengusap air mata yang memang sengaja Tina jatuhkan dihari paling bahagianya ini. 

"Tin! Tujuanmu sudah tercapai. Sekarang, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Fairus. 

"Aku ingin menemui Bunda,"  

Gadis dengan kerudung putih itu turut meneteskan air matanya, tak kuasa membendung rasa haru atas sahabatnya. "Tina! Kau ingin meninggalkanku sendiri di sini?" Fairus mencoba memelas, padahal bukan itu yang ingin ia lakukan. 

"Maaf, aku sudah rindu Bunda." 

Fairus membetulkan sisi kerudungnya, ia mengangguk lemah, menatap Tina dengan perasaan senang yang beradu dengan sedih. Senang karena ini adalah momen kelulusan sahabatnya, juga sedih karena faktanya Tina akan pergi setelah ini. 

"Apa kau tak ingin melanjutkan penelitianmu di sini, lagi?" Fairus masih membujuk. Sejujurnya, ia tak ingin Tina pergi, karena selama ini hanya Tina lah orang yang menemaninya di negeri yang masih begitu asing baginya. 

"Kau tak akan hanya sendirian setelah kepergianku, dan negeri ini harus kau sapa, jangan kau anggap selalu asing!" jelas Tina seperti tahu apa yang ada di pikiran Fairus. 

"Iya ngerti, anak psikologi-eh, sarjana psikologi." Fairus langsung memeluk Tina dengan erat, seakan ia tak akan pernah bisa kembali bertemu dengannya. 

Tina membalas pelukan Fairus, keduanya masih dengan posisi yang sama cukup lama.

 

🍀

 

Vina menatap ke luar jendela yang menampakkan sebuah wilayah negara bagian yang ditempatinya selama empat tahun terakhir ini dari atas. Rasanya cukup berat meninggalkan negara itu. Negara yang mendapat julukan negeri kangguru itu pun telah menarik hati seorang Tina, karena sebelumnya Tina tidak pernah mencintai sebuah negara menyamai negara ia berasal. 

"Selamat tinggal, Melbourne! Aku selalu dan selamanya tak akan melupakanmu." gumam Tina dengan mantap. 

Setelah pesawat itu take off, Tina membuat dirinya senyaman mungkin, ia memejamkan matanya, mengingat kembali hal-hal terindah yang pernah ia lalui semasa study itu. kini impiannya telah tercapai, hanya tersisa satu hal saja, ibunya. 

Dan university of Melbourne yang selama ini ia tempati telah resmi ia tinggalkan setelah beberapa jam kemudian pesawat itu landing.

 

🍀

 

Tina menyeret dua koper cukup besar dengan kedua tangannya, tak ada sanak keluarga yang menjempunya sekedar memberi sapaan maupun ucapan selamat. Sesekali Tina menatap iri pada mahasiswa yang berada satu pesawat dengannya disambut dengan teriakan girang anggota keluarga juga dengan poster cukup besar bertuliskan "Welcome". 

Dibantu supir taksi untuk memasukkan barang-barangnya ke bagasi, Tina pun milirik jam tangannya. Cukup malam hanya sekedar untuk mengisi perut. Meskipun di pesawat sudah disediakan berbagai macam makanan, Tina tak menjamah satu pun dari makanan itu. 

Taksi pun melesat dengan kecepatan normal keluar dari kawasan bandar udara soekarno-hatta. Tina dengan perasaan bercampur antara lesu dan bersemangat tak bisa ia tunjukan dengan pasti. 

Setelah menurunkan barang-barangnya dari taksi, Tina membuka rumahnya yang lebih mirip seperti rumah hantu itu. ia kemudian meletakkan barang bawaannya di ruang tengah lalu setelah mengunci kembali pintu rumahnya ia kembali masuk di bagian penumpang taksi yang masih dipesannya itu.

Taksi itu kembali melesat dengan kecepatan normal menuju RSJ tempat motivasi hidupnya selama ini berada. Setelah membayar, Tina melangkahkan kakinya memasuki bangunan dengan papan bertuliskan RSJ Kenaga Jati yang terpajang cukup besar.

Ia mengikuti suster yang memandunya memasuki sebuah ruangan dengan nuansa putih yang cukup membuat hati Tina getir. Ia menatap sendu pada wanita yang kini masih terbaring dengan mata terpejam juga dengna tangan yang memeluk erat sebuah boneka.

Tina mendekat pada wanita paruh baya itu, duduk didekatnya, kemudian mencium punggung tangan wanita itu. "Assalamualaikum, Bun! Tina udah dateng," Tina masih tak ingin melepas genggaman tangannya pada wanita itu, seakan selama ini ia telah melakukan kesalahan besar.

"Bunda! Tina mau ngomong sesuatu, Bunda mau denger, nggak?" tanya Tina. Padahal jelas-jelas ibunya itu sedang tertidur cukup pulas, dan Tina hanya berkata lemah terhadapnya.

Tina menundukkan kepalanya, matanya memanas, air matanya mulai menetes. Dengan masih menggenggam tangan kanan ibunya dengan kedua tangannya, Tina tak bisa berhenti untuk bergumam sekedar menyakan kabar ibunya dan kondisi batin ibunya.

"Tina!" wanita paruh baya itu langsung bangun, ia menyandarkan punggungnya pada kepala kasur, menatap Tina-anaknya- dengan mata berbinar.

"Bundaa!" Tina memeluk ibunya dengan erat, menyalurkan kerinduannya selama bebearapa tahun terakhir ini.

Ibunya mengalami gangguan kejiwaan, namun Tina tak rela jika ibunya itu dikatakan sebagai orang gila. Bagi Tina ibunya adalah kebanggaannya. Tak akan ia biarkan siapapun mencibirnya.

 

🍀

🍀

🍀

 

Ini adalah kisah tentang Tina, sepenggal cerita yang menjelaskan tujuan hidupnya. Sepenggal motivasi yang menjadi tumpuannya meraih gelar psikologi di universitas ternama.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani