Profil instastories

Debur Pesisir Laut

Debur Pesisir Pantai

By : Widia Purnamasari

 

Berdiri aku di sini. Di atas pasir putih nan lembut kupijakkan kedua kakiku yang lemah dan letih tuk bangkit dan berdiri. Menatap serangkaian pilinan cahaya di kain senja. Bermandikan warna-warna suci sang surya. 

Pikiran melayang...

Terbang berhamburan ke mana-mana.

Langit yang tadinya biru, kini berubah menyala merah. Bagaikan sang api yang membara. Siap melahap semua kenangan dan asa. Melalap semua yang ada. Melelehkan sejuta impian dan serangkaian harapan yang terwujud. 

Terkesima.

Bagaimana semuanya berubah dalam sekali hanyutan ombak.

Lihatlah, burung yang melayang di sana. Terbang rendah di atas lautan yang tenang. Permukaan yang tiada senyari bergelombang besar. Hamparan luas bak permadani pirus. 

Burung-burung yang kunamakan dia ialah camar. Akhirnya mendarat di bebatuan pantai yang tersedia. Menundukkan kepalanya yang serba keputih sembari memandang permukaan air yang tenang.  Bercermin diri ia di sana. Putih dan halus elok rupanya. Bulunya tampaknya sangat lembut dan tersisir rapi.

Sementara tak jauh dari posisinya berada, beberapa mil jauhnya dari mercusuar tampak satu hingga tiga ekor lumba-lumba. Lumba-lumba itu menari-nari mengikuti arus sang ombak.

Ombak itu berarak dari tengah samudera menuju ke tepian. Deburan yang mengikis sang pasir sedikit demi sedikit. Tampak malu rupanya, dia mendekati sang pasir. 

Ah... dia sama sepertimu.

Debur ombak dan desir hati.

Namamu dan pantai ini.

Dulunya, aku pernah berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Tanpa pernah melihat bahwa ada seberkas keraguan di pelangi matamu. Tampak malu untuk mendekati namun ternyata sakit tertusuk duri. 

Andai saja engkau sedikit lebih mengerti. 

Sedikit saja lebih peduli.

Sedikit lebih berani...

Andai kau mau menghilangkan sedikit saja keenggananmu itu. Mungkin semua tak akan begini jadinya. Tak seperti ini.

Andai juga bila aku mampu memberikan hatiku, mungkin ini takkan jadi seperti ini. Andai jika aku mampu memberikanmu kata cinta, tidak mungkin begini jadinya.

Kenangan yang menyerupai dirimu menyelinap masuk dalam ingatanku.

Maaf, tapi aku belum mampu. Mungkin untuk sementara ingatan itu harus terganti. Tapi aku belum sanggup. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.