Profil instastories

Dear Argana (Bab 2)

“Fat, aku ada temen nih kayaknya cocok deh buat jadi cast kita!” kata Zeniya.

Zeniya itu kakak senior ku di kampus, dia selalu mendukung ku untuk menulis. Namanya Zeniya Lavitha Agatha, dia lah orang yang paling semangat tentang project ku. Kakak Zeniya yang satu ini baik sekali, ya meskipun terkadang menyebalkan haha..Namanya itu terdengar aneh bagiku, mustahil sekali bila ada yang mempunyai nama yang sama dengan dirinya. 

“Siapa?”

“Anak kampus ini juga, sih. Nanti aku kenalin, deh.”

“Oh, perlu kita seleksi dulu gak, nih?”

“Ajak dulu aja, siapa tahu cocok dengan karakter pemainnya,”

“Kita tinggal dua bulan lagi, lho.”

Dua bulan bukanlah waktu yang lama, ini saja belum sama waktu shooting.Untuk itu, aku harus meyakinkan teman-teman agar mau ikut terlibat dalam proyek ini. Karena waktu yang tak cukup lama, kami dengan cepat langsung memilih orang untuk menjadi kameramen, penata rias, make up,dan lain-lain. Kakak Zeniya berani menunjukku sebagai seorang sutradara dan penulis scenario. Sumpah, ya! Semua ini belum pernah aku lakukan selama ini.

Karena kami benar-benar tak mempunyai pengalaman dalam menulis skenario untuk FTV, Kak Zeniya memberikan saran untuk meminta bantuan temannya yang sudah berpengalaman dan karyanya sudah pernah ditayangkah di salah satu stasiun televisi. Namanya Nanda Argenio, dia adalah seorang penulis FTV di salah satu Production House (PH) ternama di Jakarta. Karena tidak ada pilihan lain, Kak Zeniya dengan cepat menghubungi Kak Nanda. 

Kak Zeniya masih menghubungi kontak Kak Nanda, sementara aku masih merapikan dialog-dialog yang ada di laptop ku. Hanya butuh waktu dua hari untukku untuk merapikan dialog itu. Keesokan harinya, kami bersama tim bertemu untuk memberitahu informasi tentang proyek ini. Kak Zeniya terlihat tersenyum semringah seperti mendapatkan sebuah undian berharga, langkahnya yang pelan dibarengi dengan senyuman di raut wajahnya. 

Aku sudah bisa menebak kenapa Kak Zeniya tampak senang sekali. Ya, dan akhirnya dia berkata, “Guys, Kak Nanda mau bantu kita, lho,” ucap Zeniya dengan tersenyum lebar. 

“What? Seriously?” teriak Fat sontak membuat Zeniya kaget.

“Beneran ih, kamu gak percaya,ya,” Zeniya dengan logat sunda-Nya. Zeniya langsung melihatkan chat-Nya bersama Kak Nanda. 

“Oh iya, Kak Zeniya pernah bilang, kan, mau ngenalin sama siapa tuh?” 

“Oh dia. Maaf ya aku lupa hehe..Nanti aku chat dia,ya.”

***

Keesokan harinya, kita bertemu di kampus tepatnya di lantai dasar kampus. Waktu itu aku ada jam masuk kampus jam delapan pagi. Ya, jadi aku bisa menunggu mereka agar bisa memulai sesuatu yang harus dibutuhkan. 

Saat waktu menunjukkan pukul dua belas siang, Zeniya bersama lelaki bertumbuh tinggi datang menghampiri Fat. Laki-laki itu mengenakan jaket berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam. Rambut terlihat biasa saja, tidak aneh juga. Dia menyapaku, lalu ia menyodorkan tangannya dan menyebutkan namanya,”Hai, namaku Nanda.”

Wow! Boleh juga, nih, gak norak juga, sih.

Setelah berkenalan dengan Kak Nanda, aku mulai membicarakan tentang proyek ini. Lalu, aku menjelaskan kenapa mau membuat proyek ini. Kak Nanda ramah sekali padaku, dia dengan senang hati mendengarkan pembicaraan ku. Dia tidak bisa membantuku sepenuhnya karena masih ada kesibukan lain yang harus ia kerjakan. 

Aku mulai mengeluarkan sebuah skenario dari tas ku, lalu aku memberikannya kepada Kak Nanda. Kak Nanda langsung membacanya mulai dari halaman pertama. Aku memperhatikan setiap tatapan mata, raut wajahnya dan senyumannya. Aku heran kenapa dia bersikap seperti itu, apa ada yang salah ya? Sebelumnya, aku tak pernah membuat skenario ini hanyalah sebuah coba-coba haha..

Setelah skenario itu ditutup oleh Kak Nanda, ia langsung menulis hal-hal yang penting yang harus ditambahkan dalam skenario. Terlihat banyak sekali catatan yang dituliskan tetapi aku tetap semangat demi menggapai mimpi ku. Lalu Kak Nanda langsung menjelaskan apa isi catatannya itu.

Ini adalah sedikit cuplikan sinopsis tentang Film Televisi yang akan kami lakukan.

Shadina (21 tahun) gadis cantik tetapi tidak pernah bisa lepas dari sosial media. Dia mulai berjalan mengelilingi perumahan di sekitar rumahnya. Dia mulai menjalankan aktifitasnya sebagai mimin sosmed di salah satu online shop. Dia menangis saat merasa di php-in oleh salah satu pembelinya di online. Sepanjang perjalanan, dia merasa bahwa usaha yang dilakukannya ternyata sia-sia. Dengan kondisi yang menyedihkan bagi dirinya, dia merasa putus asa sebagai mimin sosmed.

Dylan (18 tahun) mahasiswa program Diploma tiga Manajemen Bisnis yang lebih memilih untuk membuka usaha karaoke yang sedang maraknya karena kebanyakan orang menyukai karaoke. Dylan selalu berpenampilan seperti brondong. Dia sedang membawa perlengkapan untuk usaha karaokenya. Dylan yang sedang buru-buru membawa perlengkapan karaokenya, lalu Dylan tidak sengaja menggunakan sepeda motornya. Shadina yang sedang berjalan seketika dia kaget dan jatuh pingsan. Dylan langsung menghampiri Shadina yang telah terjatuh akibat ulah dirinya sendiri. Dylan berusaha menyadarkan Shadina yang telah terjatuh di jalan. Akhirnya setelah usaha yang dilakukan Dylan untuk menyadarkan Shadina akhirnya berhasil. Setelah beberapa menit kemudian, Shadina akhirnya sadar dari pingsan. 

Dika (19 tahun) tidak seperti Dylan yang memilih untuk membuka usaha daripada bekerja di perusahaan. Dika lebih memilih untuk bekerja di perusahaan. Dika sekarang bekerja di kantor pamannya. Dika selalu berpenampilan rapi dan memukau di hadapan teman-temannya. Dika dan Dylan adalah seorang kakak dan adik yang sangat berbeda pemikiran, penampilan dan juga profesi.

Setelah itu Kak Nanda berkata,”ini masih ada yang harus di revisi, ya.” Fat langsung berkata,”Oh, iya kak nanti aku revisi,”. “Overall, ini keren,sih.” puji Nanda. “Ini hanya coba-coba lho, kak. Aku belum pernah buat sebelumnya,” jawab Fat datar.

Walaupun begitu aku ingin menyingkirkan kegugupan ku di depan teman-teman ku. Tetapi Kak Nanda selalu memberikan semangat kepadaku, kita bisa melawannya bareng-bareng. Setelah mendengar hal itu, aku masih bersemangat untuk melakukan proyek ini. 

***

Saat itu tak sengaja Kak Zeniya mendapatkan panggilan video call  melalui Handphone. Dia pun segera mengangkat panggilan itu. Fat tak sengaja melihat Kak Zeniya yang terlihat berbicara dengan seseorang. Fat tidak bisa melihat secara jelas, yang ia ketahui itu pasti seorang lelaki. Fat pun bertanya,”Siapa kak?”

“Ada, deh.” jawab Zeniya dari ujung sana.

Kemudian Zeniya mulai datang kepada Fat, diikuti dengan beberapa orang lainnya yang terlibat dalam pembuatan Film Televisi. Tak semua orang hadir pada hari ini untuk rapat, karena ada beberapa dari mereka yang masih memiliki aktivitas di kampus, dan juga ada beberapa dari mereka yang mempunyai kelas tambahan disebut dengan make up kelas. Aku memakluminya mungkin karena mereka sekarang tengah sibuk-sibuknya. Oleh karena itu, aku mulai memperkenalkan beberapa teman ku yang baru saja datang termasuk Kak Zeniya kepada Kak Nanda. Kak Nanda bersedia juga membantu ku dan teman-temanku dalam pembuatan Film Televisi. 

Aku mulai menjelaskan bagaimana rencana untuk besok, tetapi pandanganku teralihkan oleh seorang pria tampan di antara kami yang sedang rapat. Dia dengan tubuh yang tinggi dengan mata berwarna biru dan wanginya yang membuat aku terpesona. Zeniya yang tak tahu akan kedatangan temannya itu, akhirnya lelaki itu menyebut namanya,”Zen,” sapa lelaki itu yang ada di belakang Zeniya. Zeniya pun menengok saat ada yang memanggil namanya. “Hei, aku seneng banget lho, kamu kesini.” Ucap Zeniya kegirangan. 

“Siapa, sih, Zen?”

“Ini lho dia yang mau jadi pemain kita.” Kata Zeniya.

Tiba-tiba Fat langsung berdiri dari tempat duduknya. Dengan cepat Fat menyodorkan tangannya kepada lelaki itu yang berdiri disebelah Kak Zeniya. “Hai, aku kenalin namaku Fatima, panggil aja Fat.” Lelaki itu juga mengulurkan tangannya kepadaku,”Namaku Argana Senja, panggil saja Gana.” Namanya Gana, Argana Senja. 

Aku belum pernah mendengar nama lelaki yang kalau dibilang cukup puitis. Senja itu selalu ada di setiap bait-bait puisi menggambarkan keindahan yang bisa saja hilang. Senja itu bagaikan pola dalam setiap penulis. Aku tak mampu berkata-kata, aku terhipnotis olehnya. Kak Zeniya langsung saja memperkenalkan Gana kepada teman-temanku satu per satu hingga yang terakhir Kak Nanda. Gana langsung saja duduk di sebelahku, wanginya masih tercium oleh hidung ku. 

***

Hari ini aku berniat menambahkan hal-hal yang dikatakan Kak Nanda tadi di dalam skenario ku. Aku juga akan menghapus beberapa hal-hal yang tak penting di dalam skenario ku. Malam ini juga ku harap dapat menuntaskannya, sehingga besok kita bisa memulai adegan pertama. 

“Pertama-tama kita ambil adegan waktu si cewek putus asa gara-gara di php-in sama customer-Nya.” Kata Fat seolah-olah menjelaskan adegan pertama. 

“Oke, Guys! Jangan lupa ini Ftv, bukan film atau sinetron. Sebisa mungkin harus seperti yang ada di Ftv,” sahut Kak Nanda. 

“Setuju Kak Nanda, ada yang mau saran kita shooting dimana?” tanya Fat.

“Gimana kalau kita shooting di kebun, biasanya tuh kebun suka ada lho di ftv gitu,” kata Zeniya. 

“Boleh banget, tuh biar gak mainstream. Aku sih, setuju,” jawab Azmi. Dia seorang cameramen yang ditunjuk. 

“Eh, by the way dimana yang mau jadi si ceweknya?” tanya pria itu. Dia yang akan menjadi seorang customer dari karakter tokoh Shadina. 

“Oh, iya aku lupa. Coba kontak si Amora. Namanya Amora Praveen Maisha anak Sastra Indonesia, dia pernah ikut kompetisi karya seni. “ ucapku. 

“Oke, aku kontak ya, Fat.” ucap Zeniya. 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani