Profil instastories

Datang dan Pergi

Alifano Jeroen

Ali. Begitulah panggilannya. Ia adalah satu-satunya sahabat cowok yang pernah aku miliki. Ya.. aku pernah sangat dekat dengannya, tapi semua itu hanyalah masa lalu. Masa lalu yang ketika aku mengenangnya, senyuman selalu terukir di bibirku. Dia cowok yang perhatian, perangainya manis, dan memahami tentang diriku. Sampai suatu hari, semuanya tak sama lagi. Kisah indah yang telah kami ukir bersama. Sekarang telah berganti menjadi kenangan Indah.

Dewi Abelagoen

Dee. Panggilan umum untuk diriku selama 17 tahun. Namun, tidak dengan Ali, dia selalu menganghilku "Bee". Aku anak yang pendiam, tidak suka bersosialisasi, dan temanku hanyalah buku, dimanapun dan kapanpun aku berada. Tidak ada yang istimewa dari diriku maupun kehidupanku sebelum Ali datang. Ali, tanpa permisi atau sekedar ungkapan salam. Ia menembus masuk ke dalam lingkaran kehidupanku, hari demi hari berlalu, dan tanpa aku sadari lingkaran itu telah mengikat kami dengan erat.

"Bee" aku merasakan ada yang menepuk-nepuk tanganku pelan. Aku pun membuka mataku. Pertama kali yang kulihat adalah wajah Ali. Aku menegakkan tubuhku menjauhkan wajahku dengan Ali. 

"Maaf bangunin kamu. Udah jam lima sore. Kamu engga pulang?" Ali menjelaskan maksudnya.

"Eh iya. Makasih ya." Aku melihat jam tanganku. Ternyata aku ketiduran sampai sore.

Ali berjalan kedepan, mengambil tas dan menggunakan salah bahu kanannya untuk menahannya. "Aku duluan" Ali tersenyum hangat, melambaikan tangan sambil berlalu pergi meninggalkanku.

Pertemuan tiga tahun lalu, awal dari cerita ini. Ingatanku waktu itu masih sangat jelas. Senyuman pertamanya kepadaku. Caranya menatapku. Aku tidak akan melupakannya.

....... 

Persahabatan tidak perlu saling mengerti. Karena sahabat akan saling menerima hal yang tak bisa dimengerti.

Aku termangu menatap poster di depanku. Memandangnya lama. Dua kalimat dalam poster itu membuatku berpikir. Bembacanya berulang-ulang. Sahabat dan persahabatan, alangkah beruntungnya jika aku memilikinya. Memiliki orang yang mengerti dirimu, bukanlah sangat menyenangkan. Ada tempat untuk bercerita dan berkeluh kesah. Aku tersenyum memikirkannya. Sayangnya, di detik berikutnya senyum itu telah memudar. Aku tidak tahu apakah Tuhan mengizinkan memilikinya. Selama ini aku hanya memendam masalahku sendiri. Aku menunduk menahan tangis. Entah mengapa dadaku tiba-tiba terasa sesak.

"Bee. Sedang apa." Aku mengangkat kepalaku. Menoleh ke kanan mencari sumber suara serak tadi. Aku mendongakkan kepala, seorang cowok sedang membaca poster yang sama dengan yang ku baca.

"Gapapa" balasku singkat. Ali kini telah menatapku hangat tak luput dengan senyumnya.

"Bee. Kamu mau ya jadi sahabatku" Ali mengucapkannya dengan semangat. Aku membaca matanya, seperti ada harapan disana.

Aku bingung, mengapa semuanya terjadi begitu cepat. Beberapa detik lalu, aku masih bertanya-tanya apakah aku diizinkan untuk memiliki seorang sahabat. Lalu sekarang Ali menawarkan dirinya menjadi sahabatku. Apa ini nyata?.

"Bee. Gimana?" Ali menyadarkanku dari lamunan.

"Ya" ucapku.

"Ya apa? mau apa engga?" Kata Ali lagi.

"Iya, Aku mau Ali" aku tersenyum menatapnya.

"Gitu dong yang jelas. Ha ha." Ali menepuk pelan puncak kepalaku sambil tertawa kecil. Aku pun ikut tertawa.

Hari kedua aku berinteraksi dengannya dan kami resmi menjadi sahabat. Awal dari kebahagiaanku. Pertama kali aku memiliki seorang sahabat. Sahabat yang nantinya akan mengajarkanku apa yang dinamakan cinta dan kasih sayang.

........

Bersambung...

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani