Profil instastories

Datang dan Pergi

Hangatnya sang surya perlahan menghilang digantikan dengan munculnya cahaya rembulan. Angin malam mulai menusuk kulitku yang hanya terbalut cardigan berwarna hitam. Rambut hitamku yang tergerai dimainkan oleh sang angin. Aku memandang langit yang mengeluarkan semburat jingga di upuk barat.

Akumenyukai suasana ini. Senja. Terimakasih kepada sang pencipta yang telah menyuguhkan pemandangan yang sangat indah ini.

"Senja!"

Seseorang memanggilku dari arah belakang. Tanpa menengok pun aku sudah tau siapaborang yang memanggil namaku. Bintang. Dia adalah sahabatku dari kecil.

"Udah SMA masih aja suka liatin sunset,"ujarnya sambil ikutan menatap langit kemudian duduk disebelahku.

Sekarang ini aku sedang berada di taman komplek. Aku sering kesini hanya untuk melihat pergantian siang menjadi malam.

"Justru karena aku udah SMA jadi harus lebih mensyukuri keindahan semesta,"balasku seraya tersenyum.

"Iya deh sultan mah bebas!"

Aku tertawa mendengar jawaban Bintang. Sedangkan dia hanya memasang wajah datar. Setelah puas mengobrol aku langsung mengajaknya pulang karena langit sudah semakin gelap. Di perjalanan pulang Bintang kembali membuka topik obrolan.

"Tadi Surya nanyain kamu pas jam istirahat."

"Mau apa dia nanyain aku, mau nagih hutang? Maaf tapi aku anti menghutang sama orang. Apalagi laki-laki,"ujarku malas.

"Mana aku tau! Katanya dia udah nelpon sama kirim pesan sama kamu tapi nomor kamu gak aktif."

"Hpku mati dan aku juga nggak punya kuota."

"Pantesan gaptek"

"Apa?"

"Engga. Tadi ada ultramen lewat,"ngeles Bintang sembari mengalihkan pandangan.

"Boong banget!"

Setelah aku mengatakan itu Bintang tiba-tiba berdiri dihadapanku dan berkata,"Senja Gaptek. Gagap teknologi!"

Dia berkata sambil meleletkan lidahnya. Kemudian dia berlari menjauhiku karena tau apa yang akan kulakukan selanjutnya. Kunciran rambutnya bergerak ke kanan dan kiri.

"Bintang awas ya nanti aku bilangin sama ibu, kalo kamu sering tidur pas jam pelajaran!"Teriaku mencoba mengancamnya.

Tapi dia tak  menghiraukan ancamanku. Aku dan bintang terus saling mengejar sampai kami tiba di rumah. Rumahku dan bintang bersebelahan jadi aku dan dia sering berangkat bareng.

Bel istirahat berbunyi menandakan berakhirnya pelajaran pertama. Aku langsung bergegas menuju kantin karena tadi Bintang menghubungiku bahwa dia akan menunggu disana. Aku dan Bintang memang berbeda kelas. Bintang satu kelas dengan Surya.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kantin, ketika menemukannya aku langsung menghampiri dia.

"Lama banget!"

Bintang protes sambil mencebikan bibirnya.

"Kan dari kelas kesini itu jauh.Harus jalan kaki. Emang kamu pikir ini kayak film Harry Potter yang setiap orang bisa langsung berpindah tempat hanya dengan menutup mata?"

"Kali aja bisa. Khayalan kamu kan ged,"ledek Bintang padaku.

"Bodoamat Bin bodoamat!"

Bintang tertawa setelah aku berkata begitu. Kemudian di kembali membuka suaranya.

"Eh pesenan kita udah datang tuh!"

Bintang menunjuk seseorang dibelakangku. Aku menoleh ke belakang. Surya.

"Haii Sen!"Sapa cowok itu.

Surya menyapaku ketika dia sudah meletakan pesanan kami dan dia duduk dihadapanku.

"Hai juga,"jawabku sopan.

Aku balas menyapanya sambil tersenyum canggung. Selama kami makan hanya bintang yang banyak berbicara, aku dan surya hanya mengiyakan saja.

"Sen, nanti pulangnya aku anterin ya?"

"Aku bareng sama bintang."

"Eitss kata siapa? Hari ini aku gak bisa pulang bareng kamu. Aku pulang bareng Angkasa."

"Tapi..."

"Gak ada penolakan. Kamu pulang bareng sama Surya"

"Yaudah nanti aku tunggu kamu diparkiran ya Sen .Sekarang aku mau ada rapat ekskul dulu. Duluan ya Bin, Sen,"pamit Surya sebelum beranjak.

Setelah Surya meninggalkan kantin aku langsung protes pada Bintang. Tapi dia malah pura-pura tidak mendengar seolah aku ini adalah makhluk yang tak kasat mata.

Seminggu setelah aku diantarkan pulang oleh Surya aku semakin dekat dengannnya dan dia semakin perhatian padaku. Setiap kali dekat dengannya jantungku rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Gombalan-gombalan recehnya pun selalu membuat pipiku terasa panas.

Tepat ketika dua minggu aku dekat dengannya dia menyatakan perasaannya padaku. Ketika pulang sekolah dia membawaku ke sebuah taman di pinggir kota untuk melihat matahari terbenam.

"Senja Putri Aulia,"ucapnya tiba-tiba dengan suara yang lembut.

"Iya?"

"Will you be mine?"

Aku tersentak ketika dia mangatakan itu. Bukan karena aku tidak mengerti, justru karena aku paham sekali arti kalimat itu aku jadi bingung harus menjawab apa. Dia terus menunggu sambil menatapku.

"Sen..."

Aku gelagapan ketika Surya memanggilku. Lantas aku balas menatapnya.

"Eh, iya gimana?"

"Kamu mau kan jadi pacarku?"

Aku terus berfikir apa yang harus kujawab. Setelah berdebat dengan diriku sendiri akhirnya aku menganggukan kepala tanda bahwa aku menyetujuinya. Hari itu adalah hari yang bahagia untuk aku dan Surya karena kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih.

Hubunganku dan Surya baik-baik saja setelah satu bulan berlalu. Bahkan dia menjadi lebih perhatian dibanding dulu.

Ketika masuk bulan kedua aku merasa Surya sedikit berbeda, dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Tepat ketika dua bulan aku dan dia berpacaran dia tiba-tiba memutuskanku lewat aplikasi chat. Padahal aku masih sangat menyayanginya.

Aku berusaha melupakannya. Tapi kisahku dan Surya terukir sangat indah. Bintang selalu menemaniku ketika aku membutuhkan pundak untuk bersandar. Butuh waktu untuk kembali memulihkan hatiku.

Akhirnya setela sebulan aku larut dalam kesedihan, akumemutuskan untuk bangkut kembali. Bintang juga selalu memberiku semangat. Aku harus terus melanjutkan hidupku.

Bel pulang sekokah berbunyi menandakan berakhirnya kegiatan belajar pelajar. Aku langsung menuju halte untuk menunggu Bus .Kali ini aku sendiri karena Bintang pulang diantar Angkasa.

Akumenatap langit, cuaca hari ini mendung tapi tidak memberhentikan aktifitas para manusia dari hiruk pikuknya kemacetan kota.

Ketika aku berdiri di halte aku melihat seseorang yang dulu pernah berlabuh dihatiku. Dia meliriku sekilas seperti tidak mengenalku. Dibelakang jok motornya duduk seorang perempuan.

Sepertinya aku mengenal perempuan itu. Dia adalah teman sekelasku. Stella. Bagaimana mungkin Surya bisa secepat itu berpindah ke lain hati. Aku kecewa. Sungguh.

Bagaimana mungkin seseorang yang dulu sangat dekat denganmu bisa menjadi sosok yang sangat asing. Aku tidak percaya lagi dengan cinta. Kehidupan ini bukan hanya tentang cinta tapi juga impian.

Mulai sekarang aku akan mengejar mimpiku dan berusahamengabaikan cinta. Karena, aku yakin akan ada seseorang yang dikirim oleh Tuhan untuk menjagaku.

Dan mulai sekarang aku ingin berubah. Aku ingin menjadi sosok yang lebih kuat. Tidak mudah terbujuk rayuan para buaya itu lagi. Karena sekarang aku paham bahwa mereka datang hanya untuk pergi, lagi. 

TAMAT




Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani