Profil instastories

Darurat

Darurat

“Badri! Kemari!” teriak Atuk Abdul yang baru saja balik ke gubuk reoknya kepada cucunya yang masih 11 tahun saat didapati tak ada orang di dalam gubuknya.

Badri yang sedang memancing di kali belakang gubuk mendengar teriakan kakeknya yang pergi sejak siang tadi sebelum ia bangun tidur siang. Kebetulan umpannya dimakan oleh ikan di kali. Sesegera mungkin Badri menarik kail pancingannya dalam satu hentakan keras. Ikan nila segera muncul ke permukaan dan melayang di udara. Badri berteriak kegirangan. Segera dipungutnya ikan nila itu dan beberapa ikan kecil-kecil lainnya. “Iya tuk! Saya datang!” Badri segera berdiri dan berlari menuju pintu belakang rumahnya sambil mengotong beberapa ikan kali yang salah satunya ikan nila tadi. 

Pintu belakang gubuk reoknya segera dibuka Atuk Abdul saat Badri sudah sampai di sana. “Ada apa, Tuk?” tanya Badri saat melihat wajah Atuk Abdul cemas. “Sejak saya bangun tidur tadi Atuk tidak ada di sini. Atuk tadi dari mana saja?” sambungnya.

“Ayo ke dalam dulu!” ajaknya sambil memegang bahu Badri. Pintu belakang gubuknya segera ditutup. Mereka menuju ke satu-satunya ruangan yang ada di gubuk itu yang hanya dibatasi oleh kain panjang yang sudah lusuh dan lapuk. Di ruangan buatan yang seadanya itu hanya ada dipan tanpa kasur dan hanya dialasi oleh tikar pandan yang sudah kusam dan berdaki. Mereka duduk di sana. Hanya mereka berdua. Istri Kakek Abdul sudah meninggal karena ditembak Belanda. Sedang orangtua Badri diculik oleh kaum penjajah tersebut karena melawan dan tak mau membayar pajak. Sudah 6 tahun yang lalu. Dan sepertinya nasib Amak dan Abak Badri juga berakhir diujung senapan penjajah.

“Atuk?” Badri melihat wajah kakeknya agak pucat dan berkeringat dingin yang bercucuran.

“Tadi, atuk dari rumah balai pertemuan. Atuk pergi dari pukul 2 siang tadi bersama orang-orang kampung lainnya buat rapat dan membahas rencana melawan penjajah. Dan keputusannya, kita akan lari masuk rimba.”

“Masuk rimba? Terus bagaimana dengan kampung kita? Kenapa harus lari, kita kan bisa melawannya.”

“Semua penduduk kampung akan ikut. Kita bisa melawan, kalau kita punya senjata yang sama. Ini tidak, mereka pakai bedil sedang kita hanya bambu runcing, golok atau parang. Mana mungkin?” ujar Kakek Abdul singkat.

“Mungkin saja, Tuk. Kita kan banyak.”

“Ang pikir, mereka hanya sedikit? Salah, Cu. Mereka lebih banyak dari orang sekampung kita ini. Kalau mau melawan langsung pakai bambu runcing, parang atau golok bukan begitu caranya.”

Badri hanya terdiam tak tahu apa yang akan dikatakannya. Masuk rimba yang bagaimana? Apakah bersembunyi dari Belanda?

“Sekarang ambil beberapa pakaianmu dan bungkus segera dengan sarung ini!” suruh Atuknya sambil menyodorkan sehelai sarung yang juga sudah lusuh. “Masukkan juga pakaian kakek ke dalamnya.”

“Baik, Tuk.”

“Kau sudah makan?”

“Belum.”

Kakek Abdul melihat beberapa ikan kali yang masih digotong oleh Badri.

“Bawa ikan-ikanmu itu juga!” Badri mengiyakan kata Atuknya.

Selesai berkemas, mereka segera meninggalkan rumah dan menuju ke balai pertemuan tempat penduduk kampung lainnya sudah berkumpul. Atuk Abdul dan Badri disambut oleh salah seorang pemuda yang nampak kekar dan berotot karena kerjanya sering mengangkut getah karet menuruni bukit.

“Atuk Abdul! Ayo kemari, kita akan rapat lagi untuk persiapan terakhir masuk rimba.”

Atuk Abdul mengangguk dan meminta Badri untuk menunggu sebentar di depan balai pertemuan. Beliau bersama para pemuda dan orang-orang tua lainnya segera masuk ke dalam untuk rapat dan merencanakan strategi. Hanya ada beberapa laki-laki yang berjaga di luar balai. Selebihnya yang di luar hanya wanita dan anak-anak. Mereka nampak cemas. Anak-anak ada yang menangis tapi ada juga yang tak peduli, mereka masih asyik saja bermain-main bersama kawan sebayanya di depan balai pertemuan.

Dari rapat singkat padat dan darurat itu, sudah diputuskan bahwa mereka akan menuju Bukit Paku. Yang konon kata orang-orang di sana berhantu dan berbahaya—ada harimau jadi-jadian. Salah satu saksi hidupnya ialah Atuk Abdul. Si tua sesepuh dan yang dihormati oleh orang kampung akan ilmu dan pertimbangannya. Ia jugalah yang mengusulkan untuk masuk ke Bukit Paku. Awalnya para pemuda dan orangtua lainnya tidak setuju. Atuk Abdul terus meyakinkan mereka hingga akhirnya mereka sepakat dan rapat seadanya itu berakhir. Atuk Abdul diangkat menjadi pemimpin rombongan. Warga kampung yang berjumlah sekitar 70  orang lebih itu segera berangkat ke Bukit Paku dengan membawa berbagai persiapan seperti pakaian, makanan, dan senjata.

Salah seorang mata-mata yang mengintai gerak-gerik Belanda tiba-tiba menyusul dari belakang sambil berlari kencang menuju rombongan yang dipimpin oleh Atuk Abdul. Dia memberi kabar, “Bapak-bapak dan pemuda sekalian, pasukan Belanda, sudah, berjalan menuju desa kita. Mereka bawa beberapa oto dengan bedil. Sebaiknya, kita, semakin mempercepat langkah!” terangnya dengan nafas yang ngos-ngosan. Namanya Ceking. Dia pemuda kurus dan larinya laju. Sengaja ditunjuk menjadi mata-mata karena dulunya ia suka menjadi maling dan kini sudah bertobat. Ceking nampaknya sangat setuju diangkat jadi mata-mata, selain bangga sekaligus bisa memperbaiki namanya yang sempat busuk dengan gelar tukang intip.

“Ayo, cepat. Wanita dan anak-anak maju duluan!” 

“Lekas! Lekas! Lekas!”

“Cepat! Nanti keburu malam.”

Atuk Abdul dan Badri dan beberapa pemuda tetap berada di barisan paling depan. Jalan menuju Bukit Paku nampak semakin dekat. Hutan dengan pohon-pohon karetnya yang tinggi mulai kelihatan. Kabut dingin yang seolah membuat suasana angker membuat beberapa orang kampung kembali mengingat cerita soal harimau jadi-jadian. Tapi karena terpaksa, mereka terus saja melangkah di jalan setapak yang di kiri kanannya ditumbuhi ilalang setinggi perut. 

Pasukan Belanda yang geram dengan kelakuan penduduk desa sudah sampai di desa Cimpu. Mereka sangat naik pitam. Si bapak-bapak bernama Jensen dan bergelar tensi tinggi segera memerintahkan anak buahnya buat memporak-porandakan desa miskin dan kecil di hadapan mereka itu. Hanya dengan beberapa letus meriam, gubuk-gubuk reot penduduk desa dan satu-satunya bangunan berkayu yang ada di sana—balai pertemuan—hancur lebur, sama rata dengan tanah. Asap hitam mengepul di udara. Melayang di langit senja yang semakin lama semakin gelap.

Jensen yang bertensi tinggi namun tahu taktik perang segera menyuruh pasukannya buat mengejar orang-orang desa Cimpu. Mereka lantas menuju ke arah timur, ke arah bukit barisan. Saat itu juga, desa Cimpu bisa dibilang hilang dari permukaan. Tinggal nama saja.

Suara letusan meriam dari desa Cimpu terdengar oleh mereka yang sudah memasuki Bukit Paku. Mereka menelan ludah. Desa mereka pasti sudah luluh lantak, bersisa hanya abu. Mereka hanya bisa pasrah, karena nyawa lebih berharga ketimbang harta. Dengan keyakinan dan harapan, mereka terus melangkah memasuki hutan Bukit Paku. Seperti namanya, di bukit Paku banyak ditumbuhi oleh tumbuhan paku. Orang desa Cimpu biasa menyebutnya paki,  yang sering mereka jadikan sebagai sayur dalam sambal rendang. Hanya saja, sedikit orang yang berani mengambil paki di sini, mereka takut dengan cerita harimau jadi-jadian tersebut. 

Akhirnya, sampailah mereka di ladang pisang, setelah sebelumnya melewati ladang pohon karet yang banyak dikelilingi oleh ilalang setinggi perut. Pohon-pohon pisangnya semuanya sudah berbuah. Ranum dan berwarna kuning pula, membuat orang-orang ngiler melihatnya. Atuk Abdul melarang mereka untuk mengambil pisang-pisang tersebut karena nantinya akan dijadikan jebakan.

“Para wanita dan anak-anak silahkan mengikuti jalan selanjutnya yang akan dibimbing oleh Cucuku dan beberapa pemuda.” kata Atuk Abdul. “Marni! Mana botol yang aku titipkan tadi?” serunya kepada yang bernama Marni.

“Ini, Tuk.” balas Marni si ibu muda yang menyeruak dari barisan wanita dan anak-anak.

“Terimakasih.” ujar Atuk Abdul. “Selanjutnya, silahkan ikuti Cucuku dan para pemuda ini! Kadir, jangan lupa pesanku” katanya ke salah satu pemuda di antara Cucunya.

Badri dan beberapa pemuda dan para wanita serta anak-anak itu terus mendaki Bukit Paku. Mereka menuju sebuah goa yang letaknya sangat sukar ditemukan karena tersembunyi di balik batu-batu besar dan berlumut, meninggalkan para pemuda dan orangtua laki-laki lainnya di ladang pisang. Atuk Abdul lantas membuka botol kaca bekas yang dititipkan pada Marni tadi. Botol itu berisi cairan ramuan khusus buatan keluarga Marni yang ahli membuat Tuba. 

“Ayo, kita harus bergerak cepat. Cari ranting kayu atau lidi dan celupkan ke dalam cairan ini. Kemudian tusukkan ke dalam pisang yang berbuah itu! Usahakan lidi atau rantingnya yang kecil! agar tidak terlalu jelas pisangnya berlobang!”

“Baik, Tuk!” seru mereka.

Mereka melakukan apa yang diminta Atuk Abdul. Beberapa saat kemudian selesai. Mereka lalu bersembunyi tak jauh dari sana. Di antara pepohonan, di balik batu, dan ada juga yang memanjat pohon yang rindang. Golok dan parang sudah siap siaga di tangan mereka masing-masing. Mereka menanti pasukan belanda yang dipimpin orang yang bernama Jensen.

Ketika semua para wanita dan anak-anak sudah memasuki goa kecil yang tersembunyi tersebut, Kadir lantas menyampaikan apa pesan dari Atuk Abdul, “Dengarkan ibu-ibu dan para bocah, jika ada sesuatu yang bergerak-gerak di tangan, kaki atau badan kalian, jangan kalian lihat dan jangan kalian sentuh. Biarkan saja. Apapun itu, dia tidak akan menggangu. Kami akan pergi dulu, Badri dan Julai akan tetap di sini, menjaga yang lain.” terangnya Kadir. Ia segera berlalu menuju kembali ke ladang pisang.

Pasukan belanda dibawah pimpinan Jensen sudah sampai di ladang pisang. Matahari sudah tenggelam dan perut para serdadu belanda itu sudah keroncongan. Mendapati ada pohon pisang yang berbuah ranum dan kuning, naluri membuat mereka segera menebang pohon-pohon pisang tersebut. Para pribumi yang melihat dari tempat persembunyian mereka masing-masing merasa sangat senang sekali. Tapi kesenangan mereka tidak berlangsung lama saat Jensen yang ahli taktik perang segera melarang pasukannya buat memakan pisang-pisang itu.

“Jangan! Mana tau sudah dikasih racun.” katanya dalam bahasa belanda.

“Kenapa tuan? Saya pikir tidak ada waktu bagi mereka untuk mengasih racun ke pisang-pisang ini. Mereka pasti lebih senang lari terkencing-kencing mendaki bukit sialan ini ketimbang memberi racun dalam pisang.” jawab salah seorang serdadu dalam bahasa belanda juga.

“Apa kamu tolol? Kalau tidak diracun, seharusnya mereka membawa pisang ini untuk mereka makan sebelum mati, bukan membiarkannya saja seperti ini.”

“Sama seperti sebelumnya, tuan. Saya pikir tidak ada waktu bagi mereka buat mengambil pisang-pisang ini untuk bekal makanan mereka. Mereka pasti lebih senang lari terpontang-panting mendaki bukit sialan ini ketimbang mengambilnya dulu.” jawabnya sengit.

“Iya tuan.” seru prajurit lainnya serentak. Rasa lapar membuat mereka spontan kompak berteriak.

“Hah! Kalian mau melawan perintahku?!” Jensen mulai naik pitam. Ia merasa dilecehkan dan tak dihormati oleh anak buahnya dalam perdebatan tersebut. Sebenarnya ia juga setuju dengan pendapat anak buahnya ini, hanya saja dia sudah terlanjur berkata kalau itu sudah diracun. Maka dari itu, dia pun meminta anak buahnya memakan pisang-pisang itu terlebih dahulu. Betapa senangnya para prajurit itu. Mereka langsung menyerbu pisang-pisang yang enak dan mengiurkan itu. Mereka makan dengan lahap, sampai-sampai pisang itu sudah mulai tinggal sedikit. Lama-lama Jensen tidak tahan juga dan dia pun langsung mencicipi pisang yang ranum dan manis itu.

“Enak bukan, tuan?” ujar si serdadu yang mendebatinya tadi.

“Terserahmu saja!”

Seketika, pasukan pribumi yang bersembunyi kembali senang bukan main.

Tapi kembali, kesenangan itu hanya berlangsung sesaat. Para wanita dan anak-anak yang sudah diminta untuk diam jika ada sesuatu yang bergerak-gerak menempel pada tubuh mereka tidak mendengar perintah tersebut, beberapa dari mereka berteriak kencang dan suara teriakan mereka yang nyaring membuat pasukan serdadu belanda mendengarnya. Jensen yang baru hanya makan beberapa suap langsung memerintahkan pasukannya buat menuju ke atas bukit ke seumber suara berasal.

Seketika para pribumi yang bersembunyi langsung kaget dan masih berdiam di tempat menanti aba-aba dari Atuk Abdul.

“Ayo, cepat! Nanti kita kehilangan jejak.” ujar Jensen.

Mereka berlarian mendaki bukit Paku. Meski hari makin lama makin gelap. Dan pandangan mereka kelihatan mulai berkunang-kunang. Tapi mereka pikir itu bukanlah suatu masalah. Sedangkan para pasukan pribumi segera keluar dari persembunyian dan diam-diam membokong mereka dari belakang. Sesuai perintah Atuk Abdul sebelumnya, jangan dibunuh dahulu, melainkan rampas senjatanya. Mereka segera melaksanakannya. Dengan mudahnya senjata-senjata yang sedang dikokang para serdadu itu berhasil mereka rampas dan para pribumi segera menodong para serdadu. Meski sebagian serdadu masih memegang senjata tapi mereka tidak melawan, karena sudah terjatuh dahulu ke tanah. Hampir semua serdadu yang terkapar. Hanya Jensen yang masih berdiri menatap berang kepada kaum pribumi itu.

“Kalian kurang ajar!” maki Jensen, “Rasakan ini!” Jensen mengambil pistol yang terselip di sakunya dan menembakkannya asal jadi hingga menggenai Atuk Abdul pada bagian dadanya. Atuk Abdul jatuh dan diam di tempat. Salah seorang dari mereka berhasil merampas pistol Jensen, ialah Kadir orangnya. Pasukan langsung diambil alih oleh Samsul, ia menyuruh yang lain untuk segera mengikat para serdadu belanda yang sudah pingsan maupun yang masih sadar, termasuk Jensen.

Tapi tanpa mereka sadari, jasad Atuk Abdul sudah berubah saja menjadi sosok harimau. Harimau jadi-jadian yang mereka dengar dari mulut ke mulut. Inilah dia silumannya. Harimau itu mengaum. Bulu kuduk mereka semua berdiri kontan. Para pribumi amat sangat ketakutan dan mereka segera lari mendaki bukit paku, menuju goa persembunyian. Mereka semua masuk goa dalam keadaan bersempit-sempitan. Sedangkan para serdadu belanda itu sepertinya sudah diamankan oleh harimau jadi-jadian Atuk Abdul.

Esok paginya, mereka beranikan keluar dari goa dan menuju ke ladang pisang. Di dapati di sana hanya ada sosok Atuk Abdul yang sepertinya masih tertidur di atas tanah berselimutkan daun-daun kering. Para warga itu segera mendudukkan Atuk Abdul dan mereka menyadarkan Atuk Abdul.

“Maafkan saya, ya? Saya terpaksa memanggil inyiak harimau itu, kalau tidak entah bagaimana nasib kita. He he.” Atuk Abdul tertawa.

Awal mulanya mereka takut dan ngeri membayangkan Atuk Abdul yang berkawan dengan inyiak harimau, tapi mengingat bahwasanya itu adalah keadaan darurat dan ia sudah berjasa membantu mereka semua, mereka akhirnya ikut juga tertawa. 

 

25 Oktober 2019

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani