Profil instastories

menulislah sebelum ditulis orang lain.

COKLAT & KEJU

Coklat & Keju ?

“O,ya! pesan brownis rasa keju 1 sama coklat keju 1. Bisa datang hari ini, kah?” Tanya Laila kembali lewat telefon genggamnya.

“Iya, mbak ! Nanti sore jam 3 kita bisa antar ke rumah. Mbak kirim aja nama, alamat, dan nomer telefon, Mbak!” Jawab Si Tukang Brownis.

Setelah kabar malam itu tersirat di telinganya, Laila bersedih. Hingga pagi itu tiba, Laila pun izin ke pondoknya. Tanpa menghiraukan omongan yang tidak enak dari pengurus yang telah memberikannya izin. Yang terpenting dalam hati dan fikirannya yakni bisa sampai ke rumah sakit.

“La, kamu buru-buru amat sih!” Tanya Aina. Sahabat karib di pondok.

“Iya, Aina. Ibu aku kecelakaan. Sekarang dirawat di rumah sakit.” Jawab Laila.

Laila, gadis berparas asli Jawa. Bertubuh tinggi, ramping nan cantik itu pulang menyusuri jalanan yang sangat terik akan sinar matahari pagi. Dengan rasa sedih dan campur aduk hatinya, membuat dia tanpa tersadar meneteskan air matanya. Ia mencoba menghubungi kembali nomer yang telah menghubunginya semalam. Dan ternyata memang benar, sosok Ibunya yang sangat ia idolakan kini, terbaringkan lemah di Rumah Sakit. Entah !

1 jam 45 menit. Setelah lamanya berada di perjalanan dari Pondok Pesantren hingga menuju ke Rumah Sakit Daerah setempat. Kini, Laila tibalah di depan Rumah sakit. Tanpa berfikir panjang, Laila pun langsung menuju ke Receptionits untuk menanyakan keberadaan Ibunya. Setelah berjam-jam Laila di Receptionits. Akhirnya, ia pun berjalan menelusuri lorong-lorong kamar Rumah Sakit itu. Hingga ia tiba di lantai 2. Ia tengok ke arah kiri, terpusat pada seorang laki-laki yang sedang tertidur lelap di bangku luar kamar. Ia menghampirinya dan menengok ke arah kanan dan ternyata kamar tersebut adalah tempat ibunya dirawat.

Tanpa berbasa-basi, ia pun masuk di dalam kamar itu. Perlahan-lahan ia membukanya. Hingga, tanpa tersadar air mata yang telah ia pendam semalam, kini terjatuh juga. Melihat Ibunya yang sedang terbaring di ranjang kamar, dengan balutan perban di kakinya. Layaknya tabrakan lari. Ia pun berlari menuju tempat ranjang itu. Mendekap erat tubuh ibunya. Hingga, Ibunya terbangun.

“Ibu, kog bisa seperti ini?” tanya Laila pada Ibunya.

“ Gimana, dengan ngaji sama kuliah mu, La?” Tanya Ibunya kembali.

Sungguh mulia hatimu. Meski engkau sakit, engkau masih tetap menanyakan kegiatan Laila di pondok. Meski engkau sakit, engkau masih tetap tersenyum, menghibur Laila yang sedang sedih dan menangis. Meski engkau sakit, engkau tak pedulikan dan tak kau rasakan. Ibu, ma’af! Laila belum bisa mewujudkan keinginan dan cita-cita ibu. Suara hati Laila merongrong dirinya untuk ingin melontarkan kesedihannya. Tapi, sama siapa dirinya bercerita?

“Assalamualaikum !”

“Wa’alaikumsalam, nak! Sini masuk!” Ucap Ibu Laila.

“Ibu, siapa dia?” Tanya Laila.

Sosok laki-laki itu, tidaklah asing bagi Laila. Seperti Laila pernah menemui laki-laki itu. Tapi, entah tempat dan keadaannya saat itu.

Laila pun tersadar. Sosok laki-laki itu, pernah ia temukan saat dia  mengikuti bedah buku “Tere Liye – Tentang Kamu”. Tinggi, berbadan gagah, berwibawa dan tanggap dalam berbicara.

“Dia, orang yang membantu Ibu. Saat kecelakaan itu, dan dia yang merawat serta menelfon kamu semalam. Nak, Adit! Kenalkan dia anak Ibu. Laila, namanya.” Pinta Ibu Laila.

“Saya, Adit.” Ucap Adit.

“Laila.”

“Adit itu, juga sama kayak kamu. Kuliah dan mondok di tempat kamu.” Ucap Ibu Laila.

Adit. Setelah berjam-jam dia meraba sosok Adit. Dan akhirnya, Adit memanglah satu tempat kuliah dan mondok disana. Perkenalan itu begitu singkat. Hingga akhirnya memisahkan antara mereka dengan kepergian Adit. Setelah berderingnya telefon genggam Adit. Dan penyisahan yang ada hanyalah janji dari seorang Adit pada Ibu Laila untuk bisa ikut merawatnya.

Keesokan harinya, setelah semalam ketiduran. Telefon genggam Laila berdering. Via sms pun yang masuk dengan bertuliskan “mau dibawakan coklat / keju?.” Kontak asing di Hp Laila tanpa nama. Laila merasa kebingungan. Ia bersandar di bahu Ibunya dan menanyakan kontak asing tersebut. Ibu Laila hanya tertawa dan tersenyum tipis. Dengan rasa ragu dan bimbang Laila membalasnya dengan “Coklat.”

45 menit kemudian. Datanglah sosok laki-laki yang berbadan tegap dan berjas hitam serta bersepatu dari bilik pintu yang terletak di pojok kamar. Adit. Sosok laki-laki yang berbeda dari kemarin. Terlihat rapi dan dewasa daripada kemarin.

“Sesuai pesanan tadi. Ada minuman coklat hangat, kue coklat, dan brownies coklat. Ma’af, bu! Adit nggak bilang dulu kalau itu nomer Adit yang sms tanya kurang sopan kayak gitu ke Laila. Dan maafin Adit juga, Adit nggak kasih kabar ke Ibu dari kemarin Adit waktu pulang.” Penjelas Adit pada Ibu Laila.

Dengan tersipu malu, Laila menerima barang pemberian Adit. Tanpa tersadar oleh Laila, Adit terus melihat Laila dengan tersenyum sendirinya. Adit menyimpan rasa pada Laila. 2 sisi remaja itu, mempunyai kemiripan sifat. Sama-sama menyukai coklat dan menulis buku. Tapi, lebih banyak sisi yang berbeda.. Adit yang lebih suka kehidupan organisasi dan perguruan namun, beda dengan Laila. Laila yang lebih suka dengan dunia tulis dan relawan pada masyarakat dan juga Laila membenci dengan dunia organisasi yang selalu berfikir kritis.

“Nak, Adit makasih banyak. Ibu belum bisa membalas apa-apa buat Nak Adit. Cuma bisa membalas dengan do’a. Semoga kebaikan Nak Adit terbalaskan oleh Allah. Nak, Adit suka sama Laila.” Tanya Ibu Laila

Dengan sangat terkejut diantara keduanya. Adit yang terkejut mendengar kata-kata Ibu Laila. Hati dia memang suka dengan Laila. Tapi, kenapa Ibu Laila juga tahu? Sedang Laila juga sangat terkejut dengan ucapan Ibunya. Semenjak adanya bedah buku itu, laila sangat mengaguminya. Dirinya sangat berharap bahwa di kemudian hari, dirinya bisa bertemu dengan dia. Paling tidak ada sisi yang sama dengan orang yang berbeda kalau dirinya tidak bisa menemukan orang itu.

Namun, kehendak Tuhan berkata lain. Do’a Laila terkabulkan. Dirinya telah dipertemukan oleh Allah. Adit. Yang selama ini dia tunggu-tunggu saat acara itu. Dengan rasa malu-malu, keduanya pun belum ada yang mengakui perasaanya. Ia hanya beranggapan kalau akhirnya nanti mereka berjodoh akan ditemukan kembali.

Melihat kondisi demikian, Laila merasa bingung. Dihadapkannya 2 pilihan dalam hidupnya. Apakah diteruskan kuliah sambil mondok dengan kondisi Ibunya yang lumpuh total dan sebatang kara di rumah. Ataukah dirinya berhenti kuliah dan mondok dan memilih untuk bekerja supaya bisa menghasilkan uang untuk kehidupannya sehari-hari.

5 menit setelah itu. Telefon genggam Laila berbunyi.

“Mbak Laila mau pesan apa?” Tanya sosok Laki-laki dibalik telefon genggamnya.

““O,ya! pesan brownis rasa keju 1 sama coklat keju 1. Bisa datang hari ini, kah?” Tanya Laila kembali lewat telefon genggamnya.

“Iya, mbak ! Nanti sore jam 3 kita bisa antar ke rumah. Mbak kirim aja nama, alamat, dan nomer telefon, Mbak! Jawab si Tukang Brownies itu.

“Siap ! Pak Tukang Brownies.” Goda Laila pada laki-laki itu.

“I,ya Laila! Adit nanti kesana jam 3 sore setelah kuliah Adit selesai. Tetap Laila pilih coklat saja. Jangan hiraukan yang lain. Meski keju lebih enak dan manis dan menarik. Tapi ada sisi lemah keju yang Laila tidak tahu. Adit dukung Laila dan Adit siap membantu.”

Kata-kata Adit membuat hati Laila tersentuh dan tak tersadarkan mengeluarkan air mata. Coklat. kata-kata itu semakin yakin bahwa Laila harus tetap kembali ketujuan awal dirinya saat menata niat untuk kuliah. Tetapi, banyaknya pilihan yang membuat Laila harus tetap milih dengan resiko yang besar. Namun, dukungan dari Ibu dan juga Adit menjadi semakin yakin dan mantap bahwa sosok Adit adalah jodoh terbaik buat dirinya. Dan ia harus tetap mempertahankan coklat itu.  

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani