Profil instastories

CINTA YUSUF DI KAMPUNG TILAWAH

Cerpen NURWAHIDAH
 
 
 YUSUF DI KAMPUNG TILAWAH
 
 
Suara lantunan ayat-ayat suci Al qur,an disetiap selesai shalat magrib menjadi nada terindah di kampung tilawah, setiap keluarga menjadikan kewajiban mengaji selesai shalat magrib, hingga kampung ini lebih dikenal dengan kampung tilawah, sebagai kampung aman, dan relijius. Disinila kisah cinta Yusuf dimulai, cinta yang menjadikan manusia memuji Tuhannya, cinta yang membuat manusia menyeimbangkan rasa, antara angan dan nyata, cinta yang seharusnya membuat manusia semakin mulia, bukan justru  semakin menghinakan dirinya, dengan menghambakan diri pada sebentuk wujud.
Yusuf berjalan pelan, keluar dari mesjid menuju rumah kosnya, setelah selesai shalat magrib, seperti biasa pemuda yang bertubuh tegap itu menyusuri lorong yang dikanan-kirinya banyak tumbuh pohon pisang sehingga tampak remang, hanya cahaya lampu yang keluar dari kisi-kisi jendelah beberapa rumah yang dilewatinya, sejenak Yusuf menghentikan langkah, darahnya berdesir, sebab tiba-tiba didengarnya suara seorang perempuan yang sedang mengaji dengan lagu hijaz yang begitu merdu. Yusuf tak kuasa menahan diri, bulu kuduknya merinding, lantunan ayat-ayat suci itu benar-benar merasuk kuat kedalam jiwa Yusuf hingga kembali melanjutkan langkah, dengan mengendap-ngendap dibawah pohon pisang, Yusuf mendekati sumber suara itu yang ternyata berasal dari rumah pak haji Zamad. Tapi siapa yang mengaji di dalam rumah itu, setahu  Yusuf,  pak hajI Zamad hanya memiliki satu orang anak,  itu pun laki-laki dan istri pak haji Zamad sudah lama meninggal, lalu suara siapa itu? Yusuf pun kian menikmati lantunan Al qur,an yang bernada hijaz dengan segenap hatinya, dia terpukau dengan suara merdu itu, hingga tampa sadar menyandarkan punggungnya di batang pohon pisang sambil menikmati senandung indah itu,  begitu asyiknya Yusuf menikmati tilawah bernada hijaz  sampai tak menyadari kalau waktu isya telah masuk, tetapi dia segera tersadar setelah lantunan ayat-ayat itu berhenti berganti dengan suara adzan isya  yang berkumandang. Begitulah Yusuf, setiap selesai magrib  selalu mengendap-endap dibawah pohon pisang, dekat rumah haji Zamad untuk mendengarkan senandung Al qur,an yang begitu merdu, hingga rasa penasaran  tidak bisa lagi Yusuf simpan, Yusuf nekat bertanya langsung kepada pak haji Zamad,
     'Maaf, pak haji, aku mau tanya, boleh tidak?"
Yusuf berusaha mengusai diri agar rasa gugup itu tidak nampak oleh pak haji Zamad.
     "Bertanyalah, Suf."
Laki-laki setengah baya dan  nampak berwibawa itu menyimpul seulas senyum kepada Yusuf, kemudian memandang pemuda yang ada di depannya  sekilas lalu kemudian melanjutkan langkah, dan Yusuf pun kemudian mengikutinya.
     "Boleh aku tahu, siapa pemilik suara perempuan yang setiap selesai shalat magrib itu melantunkan ayat-ayat suci Al qur,an dengan sangat merdu?"
Mendengar pertanyaan Yusuf pak haji Zamad menghentikan langkah, lalu terbatuk-batuk seperti orang kaget.
     "Kenapa,  Yusuf?"
Mata pak haji Zamad melekat di wajah Yusuf membuat pemuda tegap itu gugup.
     "Aku hanya ingin tahu,  pak haji"
Melihat pak haji Zamad mempercepat langkah, Yusuf pun juga mempercepat langkahnya untuk mengimbangi langkah haji Zamad yang seakan sudah tidak menggubris pertanyaannya, hingga kemudian langkah laki-laki setengah baya itu memasuki rumahnya. Yusuf menelan luda kecewa, rasa penasaran itu semakin membuncah, seperti kerinduan yang mengusik setiap saat, menoreh setiap angan yang terlukis di cakrawala sang pemilik hati yang merindu.  Entahlah seperti ada suatu magnit yang menariknya untuk dekat dengan pemilik suara merdu itu, apakah Yusuf jatuh cinta dengan suara itu? Namun bagaimana cara Yusuf bisa mengenal pemilik suara itu. Kadang Yusuf tidak mengerti dengan dirinya sendiri, keberadaannya di kampung tilawah ini karena sedang melakukan beberapa riset yang berkaitan dengan tugas kuliah yang sudah hampir diselesaikannya. Tidak mungkin Yusuf akan memendam perasaan ini, sebab semalam saja Yusuf tak mendengar lantunan suara itu rasanya rindu setengah mati, Yusuf tak sanggup lagi, dia nekat menemui pak haji Zamad di rumahnya untuk melamar pemilik suara itu.
     "Sungguh, pak haji, aku ingin melamar pemilik suara itu, apakah pemilik suara itu anak bapak?"
Haji Zamad tersenyum memandang wajah Yusuf dibawah temarang lampu pijar diruang tengah.
"Baiklah, tapi kamu harus tahu, suf, anak bapak itu bukanlah gadis yang seperti gadis kebanyakan ..."
Sejenak Pak haji Zamad terdiam memandang langit-langit rumah, kemudian melanjutkan kalimatnya.
     "Zulaikha itu sejak kecil sudah terdidik menjadi perempuan shaleh sesuai dengan nazar ibunya sebelum meninggal, jika kelak beliau punya anak perempuan maka anak itu harus mengabdi kepada Allah, itula sebabnya Zulaikha aku serahkan kepada pesantren yang diasuh pamannya sejak kecil, dan baru beberapa bulan tinggal di sini bersama bapak."
Yusuf begitu seksama mendengar penjelasan haji Zamad, jauh kedalam hati, Yusuf berdo,a, semoga lamarannya diterima.
"Tapi Yusuf, Zulaikha punya syarat kepada siapa saja yang datang melamarnya, sebab sejak tinggal disini bersama bapak,  sudah ada tiga pemuda yang melamarnya, tetapi selalu mundur dengan alasan tidak sanggup memenuhi syarat Zulaikha."
"Apa syaratnya, pak haji?"
Yusuf seketika menyambut ucapan haji Zamad dengan deg-degan.
     "Cintamu kepada Allah harus diatas segalahnya."
Kerongkongan Yusuf terasa kering karena merasa aneh dengan syarat yang diajukan Zulaikha,   Yusuf fikir gadis shaleha itu akan minta rumah mewah sebagai maharnya atau mobil mewah, sebagaimana yang sering diajukan perempuan ketika mendapat lamaran.
"Bagaimana, Suf, apa kamu sanggup?"
"Sanggup pak haji."
"Kalau begitu, bapak menerima lamaran kamu."
"Alhamdulillah."
Seketika rona wajah Yusuf berbinar cerah, tak sanggup dibayangkan wajah Zulaikha secantik apa. Sementara melanjutkan perbincangan,   pak haji Zamad memanggil-manggil nama Zulaikha untuk membuatkan teh hangat. Mendengar nama Zulaikha dipanggil oleh ayahnya, dada Yusuf berdebar kencang, darahnya  berdesir, kedua tangannya berkeringat, malam ini matanya yang sudah lama merindukan wajah pemilik suara yang senantiasa melantunkan ayat-ayat suci Al qur,an dengan nada hijaz setiap selesai shalat magrib itu akan segera bisa Yusuf pandang secara langsung di depannya. Akan tetapi betapa kagetnya Yusuf, pemuda tegap dan bermata teduh itu jantungnya nyaris copot saat melihat sosok perempuan yang datang mengantarkan minuman teh untuknya, perempuan Itu memang cukup cantik dengan jilbab bermotif bunga-bunga, berpadu dengan baju terusan berwarna ungu terong, sekarang  sudah ada di depan Yusuf menyugukan minuman teh, setelah kemudian berlalu masuk ke ruang dapur, seketika Yusuf menelan luda getir, karena perempuan itu berumur kira-kira hampir limapuluh tahun. Namun Yusuf tidak mungkin mundur lagi, lamarannya sudah diterimah. Yusuf membuang nafas, digigit bibir bawahnya dengan kuat, apakah ini taqdir untuk Yusuf? Menikah dengan perempuan yang pantas jadi ibunya, tiga pemuda yang sebelumnya melamar Zulaikha dan tiga-tiganya mundur pasti bukan karena tak sanggup memenuhi syarat Zulaikha yang dianggap Yusuf begitu gampang, tetapi mereka mundur setelah tahu kalau Zulaikha itu ternyata seorang ibu-ibu. Yusuf tak sanggup lagi melanjutkan perbincangan, teh hangat yang ada di depannya pun enggan lewat dikerongkongannya, buru-buru Yusuf pamit untuk menguatkan hati, apa yang harus dikatakannya kepada mama di Surabaya, jika tahu Yusuf melamar seorang ibu-ibu, tetapi Yusuf sudah pasrah,  dirinya tidak mungkin mundur lagi apalagi dilihatnya haji Zamad begitu bahagia menerima lamarannya, Yusuf akan mencari seribu alasan agar mama bisa menerima Zulaikha sebagai menantunya, paling tidak, Yusuf akan menyuruh Zulaikha mengaji dengan lagu hijaznya supaya mama terkesima. dan dengan sahabat karibnya boby, apa salahnya Yusuf mengatakan yang sebenarnya.
     "Gila!l ngapaian pake ngelamar segalah sebelum ketemu orangnya!"
Boby menyesali tindakan Yusuf yang berlebihan.
"Mana aku tahu, Bob, kalau ternyata pemilik suara merdu itu adalah seorang ibu-ibu, padahal sebelumnya, aku yakin suara merdu itu pasti seorang gadis yang cantik."
"Tapi kenyataan? Ibu-ibu ..."
Boby tertawa renyah, membuat Yusuf meninju sahabatnya itu dengan kesal.
"Sudahlah, Suf, batalkan saja lamaranmu itu, bilang saja sama pak haji itu, kalau kamu tidak sanggup menerima syaratnya, beres, kan?"
Boby mengangkat alis, berusaha menyrmbunyikan tawa agar Yusuf tidak tersinggung.
"Enak saja kamu ngomong, trus bagaimana dengan perasaan pak haji Zamad?"
    "Dalam posisimu  sekarang, kamu harus lebih memikirkan masa depanmu, bukan perasaan orang lain."
Yusuf terlihat berpikir keras,
"Itu sih terserah, kamu,"
Boby angkat bahu, membiarkan Yusuf dalam fikirannya, diingatnya kembali suara merdu dari lantunan ayat-ayat suci Al qur,an yang bernada hijaz itu terngiang-ngian, jauh kedalam lubuk hati Yusuf sangat  merindukan suara itu setiap saat, baru beberapa hari saja Yusuf kembali ke Surabaya, rindu kepada suara itu sudah sangat menggigitnya.
"Uda deh, Suf, terima aja taqdirmu, nanti kali lain kamu cari yang kedua."
Boby kembali tertawa ngakak, tapi tak bisa mempengaruhi kerinduan Yusuf kepada lantunan suara merdu itu, suara itu sudah seperti bahagian dari hidup Yusuf, jwanya terasa sunyi jika tak mendengar suara itu, apakah cinta Yusuf termasuk cinta tampa wujud? Tetapi bila mengingat perempuan  yang menyuguhkan secangkir teh untuknya di malam itu, hati Yusuf membatu, tak ada getaran di sana, kecuali getaran keheranan, apa mungkin pemilik suara itu ternyata seorang ibu-ibu dan akan menjadi jodohnya, Yusuf pun akhirnya meneguhkan hati untuk mengajak mama ke kampung tilawah,  melamar secara resmi anak pak haji Zamad, soal mama nanti kaget, atau tidak setuju setelah melihat calon menantunya, itu soal nanti, yang penting Yusuf sudah memenuhi janjinya kepada pak haji Zamad. 
Segala sesuatu sudah Yusuf siapkan untuk mama sebelum sampai di rumah pak haji Zamad, dari mulai balsem untuk jaga-jaga siapa tahu mama pingsang begitu melihat wajah Zulaikha, sampai handuk kecil untuk mengopres dahi mama ketika panas mendadak, begitu mengetahui calon menantunya seumuran dengan dirinya. Sementara Yusuf sendiri sudah menyiapkan mental menahan malu dihadapan mama  dan pak haji Zamad jika itu terjadi.
"Ma, apa mama percaya bahwa Tuhan sudah menaqdirkan dengan siapa kita berjodoh?"
"Tentu, sayang, dan mama percaya dengan pilihan, kamu."
Yusuf tersenyum, walau terkesan dipaksakan, dia sudah memasrahkan diri kepada Sang Pencipta, kalau memang Zulaikha adalah jodohnya, dengan usia yang terpaut sangat jauh dengan dirinya, bukankah usia Nabi Muhammad Saw dengan bunda Khadijah juga terpaut jauh? tetapi mereka hidup bahagia dan melahirkan generasi-generasi mulia yang menghiasi tinta sejara peradaban manusia di sepanjang zaman, serta dimuliakan ummat muslim dibelahan bumi manapun.
Yusuf pasrah! Usia dan wajah bukanlah jaminan kebahagiaan.
Setelah sampai di rumah pak haji Zamad dan mama menyampaikan lamaran resminya kepada Zulaikha,   hati Yusuf mulai lapang, meski ada getaran gejolak jiwa berontak, kenapa telinganya begitu merindu daripada mata yang ada di kepalanya.
"Zulaikha! Zulaikha ..., sini, nak,  calon mertua dan calon suamimu ingin melihat wajahmu."
Suara haji Zamad yang memanggil nama Zulaikha, memaksa Yusuf menundukkan wajah begitu dalam, takut tentang apa yang akan terjadi setelah mama melihat calon menantunya, diremasnya tangannya sendiri, sementara keringat dingin mulai mengucur di dahi, Yusuf semakin menundukan wajah sehingga dia tidak bisa melihat seorang perempuan tinggi semampai dengan kerudung panjang dan wajah tertutup cadar duduk pelan diantara mereka, suasana terasa tegang, urat syaraf Yusuf nyaris berhenti, ketika mendengar kata-kata pak haji Zamad kepada putrinya,
"Zulaikha, anakku, buka cadarmu, calon suami dan calon  mertuamu ingin melihat wajahmu,"
Tangan gadis bercadar nan putih bersih itu pelan-pelan membuka cadarnya.
"Subhanallah! Kamu cantik sekali Zulaikha, belum pernah mama melihat gadis secantik dirimu, kamu seperti bidadari yang turun dari syurga."
Air mata kekaguman tumpah diwajah mama, sementara Yusuf sendiri tidak berani membuka matanya, apalagi memandang wajah Zulaikha. Cantik?
 bidadari? bukankankah Zulaikha itu seorang ibu-ibu, seperti yang dilihatnya malam itu? 
"Yusuf,  buka matamu dan lihatlah calon istrimu, nak."
Suara mama pelan, Yusuf pun dengan pelan membuka mata dan seketika mulut Yusuf ternganga melihat kecantikan Zulaikha, wajah bak rembulan yang bersinar, mata, hidung, bibir, alis dan semua yang nampak di wajah Zulaikha adalah perpaduan yang sempurna, wajah itu bak lukisan yang mempesona dan dilukis oleh Sang Pencipta, Yusuf hampir tidak mempercayai dengan penglihatannya sendiri, bahwa apa yang sekarang dilihatnya bukanlah manusia tetapi seorang bidadari.
"Sekarang tutup kembali cadarmu, nak, calon suami dan calon mertuamu sudah melihat wajahmu, dan sekarang kembali ke kamarmu."
Setelah haji Zamad memerintahkan putrinya untuk kembali ke peraduannya, untuk pertamakali dalam hidupnya Yusuf melihat kecantikan yang begitu sempurna, kecantikan Zulaikha layak ditandingkan dengan seorang bidadari, walaupun Yusuf belum pernah melihat sosok bidadari, wajah Zulaikha membuatnya mematung, darahnya berdesir, gemerincing rindu itu kian membuncah, setelah Zulaikha berlalu barula Yusuf tersadar dari rasa kagumnya, tetapi yang lebih mengherankan lagi perempuan setengah baya, yang mengantarkan teh kepada Yusuf malam itu ada diantara mereka, pandangan Yusuf yang penuh dengan kebingunan itu membuat pak haji Zamad menjelaskan bahwa perempuan itu adalah ibu sambung Zulaikha yang baru dinikahi pak haji Zamad satu bulan yang lalu.
1580368972822881-0.png
 
 
 
 
 
 
 
"
 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani