Profil instastories

Cinta Yang Tak Terbalas

Embusan angin menerpa kulit tubuhku terasa dingin menusuk kalbu. Memeluk erat dalam kesendirian tak menjadikan diriku sosok yang kesepian. Sebagai anak yang tak diketahui identitasnya merasa dunia ini tidak adil, jika saja takdir tidak menentukan pertemuanku dengan sosok perempuan berhati malaikat dua belas tahun yang lalu.Entah bagaimana nasibku saat ini.  

“Bintang ... jangan di luar terus, Nak! Dingin. Cepat masuk!” Suara itu berasal dari dalam rumah yang selama ini kutinggali dan kuanggap tempat berpulang. Dulu, sejak pertama kali kedua kakiku melangkah ke rumah ini, hatiku tidak menerima. Aku ingin pulang, tapi tak tahu harus ke mana. Langkah kakiku terhenti karena hilang arah.

“Iya ... Ibuku sayang,” ucapku membalas sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Tepat saat itu ibu berada di hadapanku, membawa sup iga dalam mangkuk bulat di tangannya. Dia tahu aku sangat menyukainya.

“Ibu buatkan makanan kesukaanmu, Nak! Ayo makan!” Senyumannya tak pernah pudar, kasih sayangnya tak pernah hilang, hanya saja waktu yang mempercepat membuatku sadar jika ibu sudah tak lagi muda. Garis-garis halus begitu nampak di bawah kantung matanya, kulitnya putih hanya saja sudah tak lagi kencang. Betapa takutnya diriku pada waktu di masa mendatang. Aku ingin tetap seperti ini, bersamanya.

Wangi bumbu yang berasal dari sup iga menyergap penciumanku, kedua tanganku sigap mengambil alih mangkuk yang dibawanya, duduk di sebuah kursi panjang sederhana yang terbuat dari kayu. Ibu ikut menemaniku, duduk di samping. Kawanan cacing di perutku sudah tak bisa lagi dikompromi jika bersangkutan dengan sup iga special buatan ibu. Aku dudu

“Enak banget bu.” Suapan pertama membuatku terkagum-kagum dengan masakan ibu yang memiliki cipta rasa berbeda dari orang lain bahkan hotel bintang lima sekali pun.

Ibu mengelus rambutku sembari tersenyum kala melihatku tengah melahap makanan buatannya.

“Ibu takut, Nak! Takut kehilangan kamu.” Ucapannya membuat hatiku teriris, sendok yang sedari tadi ku genggam dengan setia kini dibiarkan tenggelam separuh bagian dalam mangkuk yang masih terisi kuah sup.

Tak terasa air mataku menetes begitu saja, tapi cepat kuhapus sebelum ibu yang melihatnya dan hal itu akan membuatnya sedih.

“Bintang akan tetap bersama ibu. Tidak akan pernah mencoba untuk pergi.” Aku tersenyum lalu memeluk tubuh ibu yang semakin kurus. Entah apa yang dia pikirkan akhir-akhir ini yang membuat tubuhnya menjadi kurus dari sebelumnya.

Dia menggenggam kedua tanganku. “Kamu sudah waktunya untuk memiliki hidup baru, keluarga kecil yang dilingkupi dengan kebahagiaan. Semua itu harapan para manusia terutama wanita yang ingin segera berkeluarga,” lirihnya. Kedua matanya merah bahkan di sana ada genangan cairan yang mendesak berusaha keluar.

“Hidupku sudah bahagia, Bu. Tak ada lagi yang kuinginkan selain ibu. Keluargaku cukup hanya ibu tak ada yang lain.” Kedua tanganku mengusap lembut permukaan pipi wanita paruh baya yang kini berurai air mata. Dia tak cukup kuat menahan cairan itu agar tak lolos begitu saja, dia tak bisa menyembunyikan kesedihannya terhadap anak angkatnya.

“Ibu tak bisa selamanya ada di sampingmu, Nak. Mungkin esok atau lusa kamu akan terpuruk atau bahkan bahagia. Ibu tidak bisa menjamin hidupmu bahagia atau kesedihan yang akan kamu dapat.” Dia meraba wajahku di mulai dari kedua mata sampai dagu yang terbelah dua.

“Ma—maksud Ibu apa?” tanyaku terbata.

“Ibu hanya ingin kamu bahagia, Nak! Meski suatu hari nanti bahagiamu tak bersama Ibu lagi.” Ibu melepaskan genggamannya dan mengusap air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.

“Bahagiaku hanya bersamamu, Bu. Bintang nggak punya siapa-siapa lagi, aku hanya punya Ibu.” Aku menangis.

Bahuku berguncang hebat tak kuasa saat membayangkan dua belas tahun lalu pertama kalinya seorang anak kecil berusia lima tahun berada di pinggiran jalan tengah meneduh dari hujan yang semakin deras. Anak kecil itu adalah aku. Seorang pengamen jalanan yang tak mempunyai tempat tinggal bahkan orangtua. Sejak kecil aku dibesarkan di sebuah panti asuhan, tapi genap usia lima tahun pikiranku berkeliaran ingin mencari sosok yang kurindu meski tak pernah tahu asal-usul mereka. Aku hanya menginginkan kehidupan yang utuh seperti anak yang lain di luar sana. Aku ingin mempunyai ibu dan ayah. Pencarian itu tidak membuahkan hasil membuat hidupku lebih sulit dari sebelumnya. Tidur di jalanan, kelaparan, mencari uang recehan, hingga akhirnya takdir mempertemukanku dengan ibu Seila.

Belaian kasih sayang kudapatkan darinya, dia adalah ibuku. Hatinya lembut bahkan selalu memberikan apa pun yang kubutuhkan. Dia tak tinggal sendirian, ada sosok lelaki yang selalu kupanggil ayah dan sosok pemuda yang kuanggap sebagai abang. Hidupku lengkap kala itu, tak ada lagi yang kuinginkan selain mereka. Dia baik dalam memperlakukanku layaknya sosok putri. Namun dua tahun kemudian tepat usiaku menginjak tujuh tahun, Ayah meninggal karena kecelakaan. Rasa kehilangan membayang hidup kami.

“Ibu ingin melihat kamu bahagia, Bin. Ibu kepengin kamu segera punya pendamping.” Perkataan ibu membuatku tersentak dari lamunan, kembali tersadar dari kenangan. Kutatap kedua manik mata ibu yang berbinar ada secercah harapan yang ditujukan teruntukku.

“Pendamping? Maksud ibu menikah?” tanyaku. Dia tersenyum sembari mengelus rambutku yang dibiarkan terurai menjuntai.

“Siapa yang akan menikah?” Suara itu berasal dari sosok lelaki yang selama ini kudambakan, dia abang angkatku.

Manik matanya menatapku sekilas lalu kembali memandang ibu yang tengah tersenyum ke arahnya.

Ibu meraih tangan kanannya lalu menariknya untuk duduk di sampingnya. “Adikmu. Bintang akan segera menikah,” ucapnya penuh harap.

Sorotan matanya mengkilat lurus ke arahku. Aku menunduk malu saat manik mata kami saling bertemu. “Dengan siapa, Bu?” Pertanyaannya membuat jantungku berdetak lebih kencang tak seperti biasanya.

“Anaknya teman ibu.” Kedua mataku menatapnya begitu pun sepasang mata abang Fariz bergantian menatapku dan ibu.

Dia keluar dengan langkah tergesa. Aku melongok ke arah pintu yang terbuka lebar dia berada di halaman rumah. Ibu menatapku tanpa mengalihkan tatapannya pada putra kandungnya.

“Bintang keluar dulu sebentar ya, Bu.” Kugenggam tangannya dan mengecupnya lembut lalu meninggalkannya.

 

🍀🍀🍀

Kulihat bang Fariz tengah tergugu menahan tangis. Dia tengah duduk sebuah kursi panjang sembari menundukkan kepalanya dalam. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku mencintaimu, Dik ....” Suaranya getir, kedua bahunya berguncang dan tubuhnya gemetar. “Bukan sebagai adik, tapi lebih dari itu.” Dia melanjutkan ucapannya. Perkataannya membuat jantungku berdegup kencang, dahiku bercucuran keringat dingin, darahku seolah tak mengalir. Bisa kupastikan wajahku seperti mayat hidup saat ini.

“Ma—maksud abang?” tanyaku seolah tak mengerti dengan ucapannya. Dia tersenyum simpul, kedua matanya begitu teduh membuatku nyaman saat berada di dekatnya.

“Aku mencintaimu, Dik. Selama ini aku memendam rasa yang seharusnya tidak ada. Namun aku kembali berpikir bahwa rasa ini mungkin dan tidak salah tempat. Kita tidak mempunyai ikatan darah. Aku berhak memilikimu sebagai seorang pendamping. Aku tidak pernah rela kamu bersama dengan lelaki mana pun. Aku mencintaimu.” Dia kembali menundukkan kepalanya, tak lagi menatapku yang kini tengah menatapnya tak percaya. Bertepatan saat itu, aku melihat ibu yang tengah berdiri di belakang kami. Dia terlihat bersedih, kedua matanya merah, dia menangis.

“Ibuuu ....” Abang Fariz menyadari panggilanku, dia menoleh ke belakangnya dan mendapati ibu.

“Kalian adalah anak ibu. Ibu tidak pernah merestui kalian untuk bersatu, karena kalian adik-kakak, “ sergahnya. Dia kembali masuk ke dalam rumah.

Jujur, aku pun memiliki rasa yang sama seperti abang Fariz. Perhatiannya yang membuat hatiku menetap dalam ruang hatinya. Entah sejak kapan perasaan itu menghampiriku karena rasa itu datang tanpa diketahui. Aku mencintainya. Hari inilah perasaanku terbalas olehnya, aku baru tahu bahwa ternyata abang Fariz yang kuanggap sebagai kakak nyatanya mencintaiku. Dia menaruh harap dalam hatiku, tidak berniat untuk sekedar singgah tapi menetapkannya sebagai rumah untuk berpulang.

Aku menggenggam kedua tangannya. “Cinta tak bisa diketahui sebab atau alasan dia datang, tapi cinta ada alasan untuk tidak saling berbalas. Karena sejatinya cinta tak harus memiliki tapi saling memberi dan menerima kenyataan jika takdir tak saling menjanjikan. Aku mencintaimu, Kak. Tapi aku tahu cinta tak harus memiliki dan tak harus saling mengikat dalam janji suci. Tetaplah menjadi abangku yang kukenal. Benar apa yang diucapkan ibu. Bukan alasan sedarah atau pun tidak, tapi kita memang kakak-beradik yang seharusnya saling melindungi dan saling mencintai sebagai saudara.” Aku beranjak dan meninggalkannya yang kini dirundung sedih.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani