Profil instastories

Cinta tak Halal

Sudah tiga tahun aku memendam rasa ini pada sahabatku sendiri, aku tidak tahu gimana perasaannya terhadapku. Apakah dia menganggapku sahabat atau lebih. Namaku Aisha Shania, berusia 21 tahun. Aku bekerja sebagai guru disalah satu paud di Bangka Belitung.

Pikiranku kembali fokus pada bunga yang ku tanam. oh iya, aku sangat cinta bunga. Banyak jenis bunga yang aku rawat, dari mawar, anggrek, melati, asoka, krisan bougenvile dan banyak lagi.

"Aish, sekarang bekerja dimana?" Pertanyaan Sabil membuat aku berhenti sejenak menggerakkan tanganku.

"Di pangkal bil." Jawabku seadanya tanpa menoleh padanya sambil meneruskan kegiatanku.

"Kerja apa?" 

" guru Paud" jawabku singkat, Sabil terus saja memberondongiku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dan aku masih tetap menjawab tanpa melihat wajahnya.

" masih lama ya disini?" Bukan niat mengusir atau gimana ya, aku hanya basa basi menanyakan itu. Karena aku juga sudah tahu jawabanya.

" belum tahu juga sih, nggak ditentukan." Jawabnya persis seperti dugaanku.

"Nggak enak ya kuliah online, teman aku juga kuliah online katanya nggak enak." Ujarku lagi.

"Enak kok" loh kok dia beda sendiri dari jawaban orang-orang yang pernah mengeluh tentang kuliah online karena pandemi yang ada.

Ku lirik dia sudah masuk ke dalam rumahnya, segera ku menghembuskan nafas lega. alhamdulillah selamat.

'Gini amat ya perjuangan move on' batinku merutuki kebodohanku. Iya, orang yang aku cintai adalah sabil, orang yang baru saja mengajakku bicara.

Dulu kami sangat dekat, sering mengerjakan tugas bareng, main game bareng. Tapi itu dulu, saat kami masih SMA.

Kami udah berteman dari kecil, tapi anehnya aku baru sadar kalau aku jatuh cinta padanya sejak aku lulus SMA. Tapi masih baik seperri itu, kalau sampai aku sadarnya waktu SMA, kan aku pasti canggung. 

Aku juga bukan tipe orang yang terbuka kalau soal perasaan, apalagi dia pernah bilang kalau dia tidak akan mau yang namanya pacaran. Oke kalau masalah itu aku setuju karena dalam islam tidak ada yang namanya pacaran. Ada juga sih, tapi pacaran setelah menikah.

Sabil sekarang kuliah di jakarta, aku juga nggak tau jurusan apa. Walaupun aku cinta, aku cuek aja. Toh cuma cinta dalam diam kan. 

Semua orang pasti mengira kalau aku bakalan memperjuangkan Sabil dalam Do'aku di sepertiga malam, tapi semua itu Salah besar. Aku malahan memperjuangkan agar aku bisa  melupakannya di setiap sholat ku. Kok bisa?

Ya bisalah, aku itu sadar diri, aku mah apa anak gadis dari keluarga miskin, sedangkan dia dari keluarga kaya. Lagipun dia juga nggak ada kayak tanda-tanda menyimpan perasaan yang sama terhadapku.

Hidup itu jangan di bikin drama, nyatanya cinta dalam diam seperti syaidina Ali bin Abu tholib dan Fatimah az-Zahra tidak mungkin menjadi bagian ceritaku.

Ceritaku ya paling cinta dalam diam dan tak terbalaskan, sedih ya kan kalau kedengarannya. Tapi aku biasa aja kok, karena aku yakin Allah punya Rencana yang lebih indah dari cintaku yang tak Halal ini.

Sekarang aku didekati seorang pria yang masuk kriteria menantu idaman kalau bagi ayah. Aku hanya bisa menunggu, apakah dia akan maju memintaku pada ayah atau hanya singgah mengisi beberapa lembar ceritaku.

Aku menyebutnya orang gila, bahkan adekku juga tahu kegilaannya, dia lagi gila-gilanya belajar agama. Dan juga gila mengajar agama padaku, padahal aku sudah tahu. Bukannya aku sombong sih, tapi aku memang dibesarkan dalam keluarga yang paham agama. 

Aku sebenarnya masih mencintai Sabil, sampai detik ini. Tapi aku sadar bahwa cintqku ini tak halal, dan aku yakin akan datang cinta yang halal suatu saat nanti tanpa aku duga.

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani