Profil instastories

Cinta Segiempat 🤔

“Hai! Kinarcan, lagi ngapain? Ko kuliah di kebun sih, nanti digigit nyamuk loh...!” Dia menyapaku sambil berteriak. Posisi dia saat itu sekitar 2 meter dari hadapanku. Aku dan teman-temanku sedang mengerjakan tugas mata kuliah Botani Phanerogamae di kebun Biologi.

“Lagi ngerjain tugas, masa jadi tukang kebun,” cetusku singkat. Karena takut menggangguku, akhirnya dia pergi. “Kinarcan, aku duluan ya, bye!” Dia pamit kepadaku sambil melambaikan tangan. “Okay Raivan, be carefull!,” sahutku sambil membalas lambaian tangannya.

Dia Raihan, aku berteman dengannya sejak SMA. Sekarang kami berkuliah di kampus yang sama tetapi di jurusan yang berbeda. Dia memanggilku dengan nama Kinarcan (Kinar cantik), dan aku memanggilnya dengan nama Raivan (Raihan tamvan). Nama ini merupakan nama kesayangan kami berdua. Semenjak SMA aku merasa Raihanlah teman terbaikku begitupun sebaliknya.

Aku dan dia selalu berkompetisi untuk menjadi mahasiswa paling hebat di kampus ini. Dia sering menyombongkan prestasi-prestasinya kepadaku. Rasanya, hatiku seperti dipanggang di atas api yang membara. Ingin kutumpas semua kesombongannya dengan prestasi-prestasi yang kupunya. Bukan dalam hal meraih prestasi saja, bahkan dalam hal mencari jodohpun dia tak pernah mau kalah denganku. Dia menantangku untuk menghadirkan seorang pendamping yang siap berada di sisiku ketika wisuda nanti. Akupun menantangnya dengan tantangan yang sama.

“Assalaamu’alaikum... wah, sepi sekali ruangan ini.” Aku memberi salam kepada Mr. Azmi, seorang tutor bahasa Inggris di kampusku. “Wa’alaikumussalaam... mulai kursusnya pukul 07.00 WIB Kinar, sekarang masih pukul 06.30 WIB.” Mr. Azmi menjawab perkataanku sambil melontarkan senyuman yang begitu manis, sampai meleleh hatiku ini. Akhirnya aku masuk dan duduk di tempat biasa, tempat yang langsung berhadapan dengan Mr. Azmi, tetapi kami terpisah oleh jarak yang lumayan jauh. Wajahku mulai memerah, tanganku terasa dingin, dan jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Untuk menutupi rasa gugupku, kukeluarkan buku latihan persiapan TOEFL. Jam tanganku menunjukkan pukul 06.45 WIB, tak ada perbincangan sedikitpun antara aku dengan Mr. Azmi, dan belum ada mahasiswa lain yang masuk ke ruangan ini. 

“Hayooo... lagi ngapain?” Raihan menyapaku sambil menepuk pundakku. “Astaghfirullaah... kamu hampir saja membuatku terkena serangan jantung. Aku lagi baca buku, pake nanya,” jawabku dengan kesal. “Baca buku, atau... lagi ngelamunin  Mr. Azmi, ko bukunya kebalik gitu?” sambung Raihan sambil berniat mempermalukanku di depan Mr. Azmi.

Mr. Azmi datang menghampiriku sambil membalikkan posisi buku yang kupegang. “Saya salut dengan Kinar, baca buku berbahasa Inggris dengan posisi terbalik itu merupakan skill yang luar biasa.” Sepertinya beliau ingin mencairkan suasana agar aku dan Raihan tidak bertengkar dan aku tidak merasa malu dengan tingkahku yang diluar logika ini.

Semakin bertambah frekuensi pertemuanku dengan Mr. Azmi semakin bertambah pula perasaan aneh yang kerap kali membuatku senyum-senyum sendiri. Setiap pertemuan dengan Mr. Azmi selalu menyisakan kesan yang sulit untuk kulupakan. 

“Kinarcan, aku boleh tanya nggak?” Raihan datang sambil membawakan dua gelas Thaitea (minuman dingin yang sedang nge-hits di kalangan mahasiswa). Aku dan Raihan duduk santai di gazebo kampus setelah jam kuliah selesai. “Boleh bangetzzz, apa sih yang nggak buat teman tersayangku ini.” Aku menjawab dengan senyuman merekah di wajahku, karena bahagia mendapat Thaitea gratis darinya.

“Kamu menaruh hati kepada  Mr. Azmi ya?” Sebelum pertanyaan itu kujawab, aku melihat Mr. Azmi sedang berjalan menuju tempat parkir. “Hallo Mr. Azmi! Where are you going?” Aku menyapa beliau dengan wajah bahagia, karena setelah mendapatkan Thaitea yang manis dari Raihan kudapatkan senyuman manis dari beliau.

“I want to go home, you want to go together?” jawab beliau dengan nada lembut dan lesung di pipi kanan dan kirinya itu semakin membuatku terpesona kepadanya. “Raihan, tampar aku! Aku nggak mimpikan?” Raihan tak menjawab pertanyaanku, dia langsung mengajakku pergi dari tempat itu.  

“Raihan, kamu tuh apa-apaan sih, aku belum sempat menjawab pertanyaan Mr. Azmi. Setidaknya kalau kamu melarangku untuk pulang dengan beliau, beri kesempatan kepadaku sebentar saja untuk menolak ajakannya dengan cara yang baik, tidak meninggalkan beliau begitu saja.” Aku kesal dan kecewa dengan sikap Raihan yang kerap kali merenggut kebebasanku untuk dekat dengan laki-laki lain.

“Kamu ingat pesan ayahmu kepadaku. Beliau memberi amanah agar aku menjagamu dari laki-laki yang baru kamu kenal,” sahut Raihan dengan suara tinggi yang sebelumnya tak pernah ia lontarkan kepadaku. Raihan sangat marah kepadaku. Akupun sangat kecewa dengan sikapnya yang selalu membatasi ruang gerakku. 

Semenjak aku berteman dengannya, memang tak pernah ada satupun laki-laki yang berniat mengenalku lebih dekat. Raihan selalu berada di sampingku, selalu melindungiku, dan aku yakin ia sangat menyayangiku. Jika ia terus-terusan membatasiku untuk dekat dengan laki-laki lain, bagaimana aku bisa menaklukkan tantangan yang ia berikan kepadaku.

“Mulai saat ini, aku mohon jangan terlalu mengekangku, aku bisa jaga diriku sendiri, apalagi sekarang sudah ada Mr. Azmi, aku yakin dia juga menyayangiku lebih dari kamu menyayangiku.” Aku memutuskan untuk tidak berteman lagi dengan Raihan. “Okay, jika itu yang kamu inginkan, nikmatilah kebebasanmu! Aku tak akan membatasimu lagi dekat dengan siapapun.” Ia pergi meninggalkanku dengan wajah kecewa dan melepaskan gelang di tangannya, gelang itu adalah tanda pertemanan kami selama 4 tahun ini.   

Keesokan harinya, aku melihat Raihan berjalan dengan gadis cantik yang bernama Aqilla. Aqilla adalah teman satu kelas Raihan. Raihan begitu asyik berbincang dengan Aqilla, sampai-sampai berpapasan denganku saja, dia tak menyapaku.  

Semenjak kehadiran Mr. Azmi dan Aqilla di kehidupan aku dan Raihan, hubungan pertemanan kami semakin renggang. Kini Raihan sibuk dengan gadis cantiknya itu, dan akupun semakin dekat dengan Mr. Azmi. Beliau berniat serius untuk melamarku sebelum aku dan Raihan wisuda. Yupzzz...  aku berhasil menaklukkan tantangan Raihan. 

Satu sisi, aku senang karena telah terbebas dari gangguan Raihan yang sering membuatku gagal untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Namun, di sisi lain aku terbelenggu oleh perasaan tak rela melihat Raihan dekat dengan Aqilla. Setiap aku melihat mereka semakin dekat, semakin sesak dadaku ini.

Di suatu pagi dalam keadaan kampus yang masih sepi, aku berjalan menuruni tangga, Raihan yang saat itu hendak berjalan menaiki tangga, tiba-tiba berbalik arah seolah-olah tak sudi berpapasan denganku lagi. Aku sadar, kebebasan dari segala gangguan Raihan yang selalu membatasiku untuk dekat dengan laki-laki lain memang hal yang aku inginkan. Tetapi, saat Raihan bersifat dingin denganku, hatiku justu terbelenggu dengan rasa kehilangan sosok yang begitu menyayangiku, menjagaku dengan setulus hati, kini sosok itu menghilang bak ditelan bumi. 

 

Sumber gambar: Cinta segitiga animasi

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.