Profil instastories

Joy Rema Kamaruddin terlahir di Sabah, Malaysia 20 tahun silam. Sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan aktif sebagai Mahasiswa di Pulau Seribu Pura bahkan berhasil mendapatkan gelar sebagai Mahasiswa Berprestasi dikampusnya yang aktif berkarya dalam dunia literasi saat antologi cerpen pertamanya terbit dengan judul Jalan Pulang (2016) hingga saat ini sejumlah karyanya diterbitkan dalam antologi cepen, puisi, dan quotes diantaranya Makna Sebuah Pengorbanan (2017) Jejak Kehidupan (2018) Mimpi (2019) Merantau (2019) Peran Jurnalis Industri 4.0 (2019) Pahlawan (2020) Jangan Menyerah (2020) Hasrat Temu Harap Diri Bertemu Di Hatimu (2020) Masih Tentangmu Sahabat (2020) All About Ayah (2020) Gamang Merasuk Karya (2020).

Cinta Pertamaku

Kenapa kau peduli jika hatimu tidak mencintai – Tessa Mezilla

 

 “Mom, aku mau kuliah di Jerman.” Zella membuka suara.

“Kenapa harus keluar negeri sayang? Dad tidak akan memberi ijin, kau tau betapa dia menyanyangi putri satu-satunya.” Jawab Malia

“Aku kira dad hanya menyanyangi Cello..” Celetuk Zela

“Kau cemburu pada kak Cello?”

Gadis itu bungkam, kakaknya selalu saja suksess mendapat perhatian daddy saat berkumpul keluarga dan mereka sangat akrab bersama saat ngobrol dia bahkan tidak mengerti apa yang mereka bahas. Hal ini tentu saja membuat gadis itu sangat kesal.

“Zella, kak Cello akan segera mewarisi perusahaan keluarga kita tentu saja daddy harus mengajari kakakmu hal-hal seputar dunia bisnis.”

“Terserahlah mom, bantu aku agar bisa mendapatkan ijin kuliah di Jerman ya mom .. aku mohon.” Lanjut Zella

“Kamu belum memberitahu mom, alasan yang masuk akal untuk memintakan ijin bagimu berkuliah di Jerman.”

Gadis itu diam. Pipinya merah merona entah karena malu, mana mungkin dia memberitahu mommynya kalau dia menyukai seseorang secara diam-diam dan pria itu adalah sahabat kakaknya sendiri.

***

Tepat sebulan yang lalu Zela meminta ijin dengan orang tuanya untuk berkuliah di Jerman dan sempat beradu pendapat dulu dengan daddy yang super posesif itu, meski begitu dia berhasil mendapatkan ijin daddynya setelah ngambek 3 hari 3 malam tidak keluar kamar tentunya ada campur tangan Cello juga disana.

“Germany I’m here .. Zack I’m coming.”

Yah. Dia Tessa Mizella kini menarik kopernya keluar dari International Airport of Germany. Tentu saja keinginannya untuk berkuliah di Jerman adalah untuk mengejar Zack, cinta pandang pertamanya saat dia menemani kakaknya pada pesta perusahaan disanalah pertama kalinya dia mengenal Zack.

“Dek, kamu yakin dengan keputusan mu?” Cello bertanya kepada adik perempuan satu-satunya itu setelah dia membuat keputusan untuk membantu adiknya memintakan ijin pada daddy mereka.

Cello tau, adiknya menyukai Zack, beberapa bulan yang lalu pria itu mengabarkan bahwa dia akan melanjutkan studinya di Jerman dan kini dia berhadapan dengan adiknya yang ngotot untuk berkuliah di Jerman wuaah! sebegitu cintakah adiknya pada Zack? Cello tidak dapat menerima utuh alasan adiknya, namun cinta memang butuh berjuangan.

 

There goes my mind racing and you are the reason

That I’m still breathing I’m hopeless now

 

Lagu Calum Scott mengalun lembut ditelingannya melalui aerphone yang tidak dilepasnya sedari tadi.

“Aduh, capeknya..” Zella melempar tubuhnya diatas kasur apartment yang sudah disiapkan daddynya selama dia kuliah di Jerman.

“Aku dengar Zack sudah menyukai wanita lain, Zain menceritakannya pada kakak.”

Saat kakakanya itu menuturkan kebenaran tentang pria yang disukainya, hati Zella bagai disayat-sayat menjadi kepingan hati yang menyedihkan sakit, namun cintanya pada Zack meyakin dirinya bahwa dia akan sanggup melwati ini dan mendapatkan cinta pria itu. Yah satu hari nanti.

 

Kini gadis itu terlelap diakhir lagu .. You are the reason.

Drrtt .. drrtt .. ddrrt

Getaran ponselnya membangun Zella yang masih enggan membuka matanya, tangannya mengambil ponsel diatas nakas lalu melepas earphone yang masih melekat ditelinganya.

 

07.12 waktu setempat.

“Hmm, sudah jam 7 pagi ya.” Gumamnya pelan

Berarti aku tidur hampir 12 jam lebih!

“Aku belum mengabari mommy aku sudah disini, semoga dia tidak marah.” Kini tubuhnya sudah duduk menyamping hendak menuju kamar mandi, namun terhenti saat matanya menangkap sebuah pesan yang masuk.

Unknown:

Hai. Aku Zack teman kakakmu masih ingatkan? Cello bilang kamu sudah sampai di Jerman nanti jika ada waktu hubungi aku ya.

Jantung Zella berdegup kencang membaca pesan singkat diponselnya, bahkan jemarinya gementar saat mengetik balasan saking senangnya.

Tessa Mizella:

Aku akan menghubungi mu nanti kak.

***

“Tuhan kuatkan aku untuk mencintainya utuh .. bantu aku mendapatkan hatinya .. aku sungguh mencintainya Tuhan, bukalah hatinya untuk menerima ku.”

Zella menautkan kedua tangannya dalam khidmatnya dia berdoa sebelum tidur, yang bahkan sudah menjadi rutinitasnya di Jerman selama 2 tahun terakhir, memohonkan cinta Zack yang dia sendiri juga tidak tau kapan doanya akan dikabulkan.

Ting .. Tong

Bel apartement Zack berbunyi

“Zack, kamu ada tamu ..” Ujar Cynthia menhentikan aktivitasnya.

Seperti biasa Cynthia akan mendatangi apartment Zack untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan dihari libur, karena mereka satu kelas menempuh studi kedokteran disana.

Ceklek

Zack membuka pintu dan tentu saja Zella berdiri manis dengan senyumannya yang menawan.

“Sesuai dugaanku.” Celetuk Zack dalam hati.

“Kak, nanti sore sibuk ga? Temani Zella keluar makan malam ya.” Zella menghambur masuk kedalam bahkan sebelum mendapatkan ijin dari Zack.

“Anda siapa.” Zella terhenyak memandang seorang gadis yang duduk diruang tamu dengan wajah bantal, yah Cynthia menginap di apartment Zack semalam.

“Dia Cynara teman kakak, kami sedang mengerjakan tugas penelitian bersama. Kamu bisa datang lagi nanti ga? Aku tidak ingin diganggu!”

Zack mengelus mukanya kasar, lagi-lagi Zella mengintrupsi kebersamaannya dengan Cynthia, sunggu Zack tidak tahan dengan sikap kekanakan adik sahabatnya yang satu ini.

Jleb

Seakan ada saluran listrik yang menyentrumnya, tangan Zella gementar hebat, baru kali ini Zack membentaknya.

“Ja-jadi kakak terganggu dengan keberadaanku selama ini?” tanya Zella terbata, sendiri bahkan tidak ingin mendengar jawaban Zack untuk pertanyaannya.

“Ya .. kakak sedang mendekati Cynthia, ini waktu yang tepat untuk memenangkan hatinya juga kesempatanku untuk lebih dekat dengannya, jika kamu terus bersikap seperti ini, Cynthia akan salah paham.” Jelas Zack dengan sungguh-sungguh.

Kali ini, mungkin petir yang menyambarnya ucapan Zack tepat sasaran dihati Zella. Jadi beginikah akhir dari kisah cinta pandang pertamanya? Berakhir dengan pernyataan cinta sepihak setelah usaha pengejarannya.

“Kak, aku juga sedang memenangkan hatimu selama dua tahun terakhir ini. Apa kakak tidak sadar?” Zack membuang mukanya. Inilah akhirnya! Inilah yang ditakutkan Zella saat dia mengungkapkan isi hatinya.

“Aku menganggapmu sebagai adikku sendiri Zella, maaf aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu. Aku mohon berhentilah mencintaiku.”

“Kak! ..” kini Zella terisak.

“Berhentilah menangis Zella, tolong .. jangan membuatku merasa bersalah.” Ucap Zack sungguh, dia tidak bermaksud menyakiti perasaan gadis itu dia hanya ingin Zella berhenti mencintainya.

“Maafkan aku kak, jika selama ini keberadaan ku menyusahkanmu, maafkan aku jika rasa cintaku membebankan mu .. jika keinginanmu untuk aku pergi maka aku pergi, tapi jangan minta aku berhenti mencitaimu. Semoga kalian bahagia, aku pergi.” Zella putus asa, mungkin ini adalah jawaban Tuhan atas doa-doanya. Merelakan cinta yang dia perjuangkannya.

“Zella, kakak tidak bermaksud ..” Zack hendak menahan gadis itu, tapi usahanya gagal kini Zella sudah menghilang sempurna dibalik pintu apartmentnya.

Bruk!

Pintu dihempas kasar.

Zella berlari meninggalkan cinta pertamanya dalam keadaan kacau, hatinya hancur matanya bengkak dan matanya sembab.

13.45 waktu setempat – International Airport of Germany.

“Aku merelakanmu .. kak Zack berbahagialah.” Gumam Zella menitikkan air matanya.

Gadis itu menatap nanar koper miliknya, untuk apa lagi dia bertahan di Jerman, dia sudah sampai dibatas akhir dari mencintai yaitu merelakan. Setengah jam lagi penerangannya untuk kembali ke Inggris, dia pernah berjanji pada kak Cello, saat dia menyatakan perasaannya dan Zack menolak maka dia akan berhenti dan kembali pulang.

Tangan mulusnya melambai menahan taxi yang lewat, beberapa menit yang lalu baru saja dia menapaki kakinya ditanah kelahirannya itu. Pesawat yang dia tumpangi landing dini hari, menghirup udara Inggris benar-benar menenangkan hatinya Home!

Dia tidak memberitahukan Cello, tidak juga menghubungi kedua orang tuanya. Kepulangannya juga mendadak dan dia tidak berniat untuk menrepotkan kakaknya,

“Anter aku ke perumahan Marvel pak.” Ujar Zella saat memasuki taksi yang dia tumpangi, gadis itu memutuskan untuk bertemu dulu dengan kakaknya.

“Baik nona.”

Ceklek

Pintu apartment dibuka.

“Kak ..” suara Zella memenuhi ruangan itu.

“Kakak!!” teriak Zilla saat mendapati kakaknya duduk disofa ruang tamu sambal memainkan laptop buah setengah digigit itu.

Thomas Marcello, kakak satu-satunya Zella juga satu-satunya pewaris utuh dalam keluarga mereka, pria yang tampan dan sangat penyanyang terlebih jika itu bersangkut dengan Zella.

“Hei! Kamu dipulang.” Cello terkejut dengan tingkah adiknya yang secepat kilat memeluknya erat.

“Sejak kapan Zella diInggris?” Celetuk Cello dalam hati.

“Kamu pulang?” Ujar Cello sekali lagi saat gadis itu melepas pelukannya.

Tentu saja Celle terkejut dengan kedatangan adiknya yang satu ini, selama 2 tahun terakhir dia begitu gigih mengejar cinta pertamanya sampai dia enggan untuk pulang bahkan untuk menjeguk keluarganya saat libur saja dia tidak mau.

“Apa Zack menolak mu?”

Jleb

Pertanyaan kakaknya tepat sasaran, kini dia tak sanggup lagi membendung air matanya, dadanya sangat sesak, sejak penolakan yang dialaminya seakan ada beban berat yang menumpuk dipundaknya, dia lelah tangisnya semakin keras saat Cello mendekapnya dengan penuh kasih sayang.

“Dia hiks .. kak Zack .. hiks” Zela berusaha menjelaskan namun dia tidak sanggup, tidak ada kalimat yang berhasil keluar dari mulutnya.

“Shhhttt ..Menangislah.” Cello mengelus pundak adiknya pelan hingga gadis itu tertidur dalam sengukannya.

Ting .. Tong

Bunyi apartment Cello, baru saja dia ingin menindahkan adiknya ke dalam kamar sepertinya ada tamu yang datang, karena Zella tidur sambal memeluknya erat Cello mengambil ponselnya lalu menekan tombol merah kemudian memasukkan password.

“Masuklah!!”

Ceklek

“Zella!!” mata Zian membulat sempurna menangkap sosok Zella dalam pelukan kakaknya

“Zela di sini?” ujarnya tak percaya.

“Tunggulah disini kita bahas pembangunan resort setelah aku memindahkan Zella ke kamar.” Zain mengganguk paham.

Zella pulang? Dia masih tidak percaya, Zain sebenarnya suka dengan Zella, namun rasa Sukanya itu harus dia buang jauh karena kenyataannya Zella menyukai Zack, kakak kandungnya sendiri.

Kekecewannya semakin besar saat dia mendapati gadis yang dia cintai bahkan rela terbang ke Jerman dan studi disana memasuki jurusan yang tidak dia sukai hanya untuk mau mendapatkan perhatian Zack kakaknya – betapa mirisnya kisah cinta itu.

“Halo kak.” Zain menghubungi kakaknya di Jerman sambal menunggu Cello mengurusi adiknya itu.

“Halo Zain? Ada apa tidak biasanya kamu menelpon begini?” Tanya Zack disebrang talian.

“Aku berada diapartment Cello dan melihat Zella apa dia sudah menyelesaikan studinya disana?” tanya Zain basa-basi, tentu saja dia tau rentang waktu perkuliahan Zella selama 4 tahun dan pulang mendadak? Pasti ada sesuatu yang terjadi.

“Aku tidak tau Zain, kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri.”

“Kau menolaknya?” Zain melihat wajah Zella yang sembab dalam pelukan Cello dia mengambil kesimpulan bahwa Zack menolaknya.

“…” tidak ada jawaban.

“Kalau begitu jangan halangi aku mendekatinya” tutur Zain mantap.

“Apa maksudmu?” tanya Zack tak percaya dengan pernyataan adiknya barusan.

“Kakak sudah menolaknya berarti aku memiliki kesempatan untuk mendekatinya. Zella menyukaimu dan berusaha mendekatimu sekarang kau menolaknya aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”

“Terima kasih sudah melepaskan Zella.” Tutur Zain mengakhiri obrolan mereka.

“Zain .. zain!” Panggil Zack memastikan saat panggilan diakhiri sepihak.

Zak terhenyak setelah mendapat panggilan dari adiknya. Dadanya sesak nafasnya tak beraturan bahkan dia sangat marah saat Zain mengutakan niatnya untuk mendekati Zella.

“Kenapa aku begini?” Zack mengosok mukanya kasar.

“Zella..” gumamnya pelan.

Setelah kejadian itu Zack tidak tenang, antara rasa bersalah membentak Zella atau dia mencintainya Zack tidak tau, bahkan dia hampir tidak lagi memperhatikan kehadiran Cynthia.

“Kejarlah dia Zack, aku yakin kau menyukainya .. kenapa tidak kau memberikan gadis itu kesempatan untuk mencintaimu.”

Pernyataan Cynthia masih terngiang dikepalanya, mungkin aku terbiasa dengan kehadirannya sehingga aku lambat menyadari bahwa aku sebenarnya juga mencintai gadis itu. Zack menghempas ponselnya mengacak-acak rambutnya.

“Aaah! Apa yang harus aku lakukan!”

Sudah hampir genap seminggu Zella di Inggris, tidak banyak yang dia lakukan selain berdiam dikamar, Cello menyuruhnya untuk mengurus surat perpindahan perkuliahannya tapi dia menolak.

“Aku akan melanjutkan studiku disinikak, tapi nanti rasanya akum au ambil cuti kuliah dulu.”

“Kakak menghormati setiap keputusan mu dek. Tapi jangan sampai kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan.” Tutur Cello memandangi lekat adiknya yang satu ini.

“Bagaimana dengan Zack?”

Zella menggeleng pelan, memaksakan senyum dibibirnya.

“Aku akan berusaha untuk move on.”

“Nah, itu baru adik kakak!” Cello mengacak-acak rambut Zella.

“Kak! Kau merusak rambut ku.” Kini keduanya tertawa riang.

“Anak-anak mommy bahagia sekali.” Cynara memasuki kamar anak gadisnya dan mendapati pemdangan yang sangat menyejukkan hati. Zella dan Cello yang sangat akur sekali.

“Mommy!” Zella memeluk mamanya.

“Malam ini akan ada acara makan malam keluarga, bersiaplah nak, dan kau Cello jangan coba mencari alasan untuk tidak ikut bergabung.” Cello cengar-cengir mendapat perintah langsung dari nyonya besar.

“Zella.” Sekarang Cello menatap seriua adiknya saat mommy meninggalkan mereka berdua.

“Hmm.”

“Kamu dekat dengan Zain?” sontok mata Zella membulat sempurna.

“Apa maksud kakak?” Zella bertanya balik.

“Kebelakangan ini kalian berdua cukup akrab, hati-hati dengan Zain dek dia bukan pria yang baik-baik.” Insting seorang kakak sejati menguasai Cello, dia tidak ingin melihat adiknya terluka kembali.

“Kak, setiap orang bisa berubah.”

Ucapan Zella sontok membuat Cello menyipitkan dahinya, tapi dia tidak mau berdebat lebih Panjang lagi tentang ini. “Kakak hanya khuatir.”

“Aku tau” Zella mengelus lembut lengan kakaknya.

“Tidak usah khuatir, kami hanya berteman percayalah.”

 

***

 

Zella sudah siap dengan dress brokat purih selututnya, sapuan make up tipis nan elegan menambahkan aura kecantikan naturalnya.

“Kamu cantik sekali” celetuk Zain disamping Zella saat mereka sudah duduk dimeja makan.

“Terima kasih.” Zella tersipu malu.

Tentu saja keduanya diperhatikan oleh sepasang mata dalam diam, tidak lain adalah Cello, karena orang tua Zain juga adalah sahabat mommy jadi dia ikut diundang untuk ikut makan malam meski Cello sedikit tidak senang.

“Apa kabar semua?” Suara wanita paruh baya menarik perhatian setiap orang dimeja makan.

“Maaf kami terlambat.” Zella mematung pucat saat mendapati Zack ada disana bersama mamanya.

“Mata Zella dan Zack beradu pandang. Hampir saja jantung Zella meloncat keluar mendapati sosok pria yang kini berdiri didepannya. Kejutan macam apa ini!

“Zack kamu datang!” Cello berusaha mencairkan suasanan

“Iya.” Balasnya pelan.

“Duduklah.” Cello menawarkan bangku disampingnya, kini Zella dan Zack duduk berhadapan.

“Kenapa kau tidak memberitau kami kau kembali Zack.” Ujar Cynara basa-basi.

“Sengaja untuk memberi kejutan tante.” Sementara tatapannya tidak lepas dari Zella.

Kenapa dia cantik sekali” celetuk Zack dalam hati.

Zain yang menyadari kakaknya memandangi Zella sedari tadi merasa sangat tidak nyaman, tentu saja dia sangat terkejut menyaksikan kedatangan kakaknya yang super mendadak itu.

Sementara keluarga mereka mulai larut dalam obrolan ringan dan menyenangkan. “Zella bisa berbicara sebentar?” suara berat Zack membuat semua orang menoleh padanya. Tak terkecuali Zella yang sedari tadi menahan gejolak degupan jantungnya.

Zack bangkit kemudian berjalan menjauhi meja, dia tidak peduli dengan semua mata yang menyaksikan tindakannya itu.

“Ada apa kak.” Zella berjalan mendekati Zack berusaha menjaga nada suaranya normal.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku kamu kembali ke Inggris.”

Zella memaksakan senyumnya “Maaf, aku tidak mau membuat kakak khuatir.”

“Cello mempercayakan dirimu pada ku selama di Jerman, harusnya kamu memperhatikan per .. ehm reputasi ku didepak kakakmu Zella.”

Gadis itu tersenyum getir, kini hatinya tambah hancur.

Ternyata kau hanya memikirkan reputasimu dihadapan keluarga ku kak, tidak pernahkan sedetikpun kau memikirkan perasaan ku?” hawa panas yang menyeruak dimatanya berusaha ditahan Zella, jika perasaanya ditolak mentah-mentah setidaknya dia tidak terlihat lemah didepan pria itu.

Zella hanya diam, dia bahkan tidak berani menatap Zack dia takut nanti pertahanannya akan runtuh.

“Kenapa diam?” entah kenapa Zack merasa sangat tidak nyaman dengan diamnya gadis itu.

“Apa maumu kak!” Zella meninggikan suaranya tersulut emosi.

“Kau yang menyuruhku pergi, kenapa sekarang menanyakan tanggung jawab? kenapa sekarang kau kembali .. kenapa kau peduli jika hatimu tidak pernah mencintai.”

“Hiks . hiks .. aku malu kak! Aku sudah cukup malu dengan penolakan cintamu.”

“Ma-maafkan aku.” Zack mendekat hendak mendekap gadis itu namun Zella menepisnya. Zack seperti tertamparkan mendapatkan penolakannya.

“Jangan kasihani aku kak, aku akan membuktikan aku bisa bahagia tanpa cintamu.” Zella berpaling menyeka air matanya, pertahananya runtuh, namun dia tidak ingin memperlihatkan kekecewaannya pada keluarganya.

“Maafkan aku .. aku pergi” ketika Zella hendak pergi, Zack sudah menahan legannya, merekuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Zella memberontak berusaha melepaskan diri namun gagal, dekapan Zack semakin kuat dan erat.

“Aku mencintaku mu Zella.” Bisik Zack ditelinga gadis itu.

Deg

Kini Zella mematung, tidak ada respon apapun karena dia sendiri juga binggung dengan apa yang terjadi. Perlahan Zack melepas pelukannya mengapit pipi Zella menariknya mendekat lalu memberikan kucupan singkat didahinya. Gadis itu terbelalak, dia tidak tau harus merespon apa dengan semua perlakuan Zack.

“Apa yang kalian lakukan?!” sebuah suara mengintrupsi kebersamaan mereka.

Uppsss!

Zack lupa mereka berada tidak jauh dari ruang makan, tentu saja aksi mereka spontan disaksikan oleh keluarga besar yang ada disana saat itu.

“Ehemm.” Zack berdehem berusaha menghilangkan kecanggungan antara dirinya dengan Zella, dia melirik kesamping Zella sudah merona dan tertunduk saking malunya zack menggengam tangannya erat lalu membawanya ke ruang makan.

“Ma, om .. tante .. aku mencinta Zella dan aku memohonkan doa restu untuk hubungan kmai berdua.”

Zain .. Cello dan tentu saja Zella melotot sempurna. Belum mendapatkan kesadaran penuh akibat kucupan singkat Zack sekarang dia mendengar pengakuan dan permintaan restu dari seorang pria yang menolaknya beberapa hari lalu.

“Aku mencintaimu ..” Tutur Zack mengelus kepala Zella pelan saat gadis itu mengeratkan pegangan tangannya.

Akhirnya.

 

Inilah jawaban dari doa yang dia naikkan dengan tekun selama 2 tahun terakhir .. Tuhan bukankan hati Zack untuk ku .. Aku mencintainya utuh!

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani