Profil instastories

CINTA ONLINE

CINTA ONLINE

“Beib, Beib, bangun, hey bangun udah pagi,” ucap seorang perempuan yang selalu membangunkanku setiap pagi bila aku belum bangun.

 

“Iya sayang ini juga bangun.” Aku terbangun dan mengecup bibirnya, dia terdiam sejenak sampai akhirnya kembali cerewet.

 

“Mandi mandi bau tau cium cium,” ucapnya menyuruhku mandi.

 

“Haha iya Beib aku mandi,” ucapku seraya menuju kamar mandi.

 

Yaaaah teringat masa dimana kita masih bekomunikasi lewat sebuah smartphone genggam dan memendam rasa rindu yang jarang terbalaskan. Berawal dari sosial media tempat dimana banyak orang bersandiwara dan mendapatkan sebuah penghasilan tambahan karena menipu seseorang.

 

“Udah cepetan mandinya, trus kita sarapan nanti terlambat kerjanya," ucap perempuan dari luar kamar mandi.

 

“Iya Beib ini sudah,” aku menjawab sambil membuka pintu kamar mandi.

 

“Sayang,” ucap istriku manja sambil melompat dan memelukku.

 

“Eh, eh ... apa apaan ini, berat sayang,” balasku yang sedang menahannya keberatan.

 

“Hehe ke kasur," istriku membalas manja, lebih manja dari orang manja.

 

“Oh jadi gitu, yaudah ayok." Aku berlari membawanya ke kasur dan melompatkan diri agar kita berdua terjatuh ke dalam sebuah benda yang berbentuk persegi panjang yang empuk itu.

 

Karena kamar mandinya ada di dalam kamar, jadi tidak terlalu untuk jauh membawanya ke kasur. Ya, kami hanya berpelukan saja karena aku memang harus berangkat kerja.

 

“Semangat sayang makannya,” ucap istriku menyemangati sambil memberiku suapan.

 

“Amm ... nyam nyam, iya sayang siap, kamu juga semangat ya beres-beres rumahnya," balasku sambil sedikit tertawa.

 

“Jangan berlepotan makannya sayang,” ucap istriku yang sepertinya greget dan akhirnya membersihkannya.

 

“Gapapa kan ada kamu sayang wkwk," balasku sambil tertawa.

 

“Yeee dasar,” balasnya.

 

Sarapan pagipun selesai, aku pamit untuk berangkat kerja. Aku berangkat bekerja hanya menggunakan skuter tua yangku beli pada masa muda dulu.

 

Teringat kembali kenangan masa pacaran. Rencana bertemu di sebuah kota dan akhirnya bertemu. aku pikir dia bohong, aku pikir dia akan mempermainkanku, tapi ternyata tidak.

Aku bertemu dengannya di terminal bus karena memang memakai bus.

Kita bertemu dan rasanya itu malu-malu bahagia, yaaah kamipun jalan mengelilingi kota walau aku tidak tahu harus melangkah kemana, karena ini memang hari pertama aku keluar kota sendiri dan tidak mengetahui wisata kota tersebut. Berjalan kemana-mana asal jalan berdua, sempat nyasar karena menaiki angkut dan takutnya gak bisa pulang ke tempat semula tadi pertama kita bertemu.

Untung saja aku ingat jalan mana saja yang di lalui angkut tadi, kamipun berjalan sampai ke terminal lagi dan memutuskan untuk istirahat di masjid besar Bogor, karena memang dulu pertama kali kita bertemu di Bogor, terminal Baranangsiang.

 

Sesampainya di tempat kerja, aku di sambut hangat oleh karyawanku. Aku adalah Bos di perusahaan ini, istriku tidak mengetahuinya. Ya, sekitar 30 tahun aku menjabat sebagai pemilik perusahaan disini, entah nanti bakal di jual atau tidak.

 

Waktu di Bogor hanya berbekal keberanian dan sedikit uang jajan, nanti malampun tidak tahu harus tidur dimana. Aku yang selalu mengotot untuk ke hotel, walau aku tahu uangku hanya mampu menyewa satu malam saja. Aku hanya tidak ingin bidadari duniaku tidur di trotoar, tapi ... .

 

Tok ... tok ... tok.

 

“Permisi pak,” suara pintu di ketuk seorang karyawan.

 

“Iyaa, silahkan masuk,” suruhku, memintanya masuk.

 

“Ini ada berkas yang harus bapak tanda tangani,” dia menyodorkan kertas yang harus saya tanda tangani.

 

“Baik,” jawabku seraya menandatangani kertas tersebut.

 

Aku memutuskan untuk memeriksa surat masuk, agar pekerjaanku tidak terlalu berat. 

Dulu berpikir kalau jadi bos itu mudah, gak perlu kerja, tinggal serahin aja semuanya ke sekretaris sesudahnya menikmati hidup tanpa sebuah pekerjaan. Jadwal hari ini, periksa surat masuk, langsung tanda tangani, lalu rapat.

 

“Ahh, selesai juga pekerjaan hari ini, tidak perlu lembur,” gumamku dalam hati.

 

Aku memutuskan untuk pulang, sampai akhirnya di perjalanan ada seorang pedagang sate dan aku berhenti sebentar untuk membeli sate ayam, karena memang aku dan istriku tidak menyukai sate kambing.

 

Di perjalanan pulang teringat kenangan yang lumayan mengiris hati ketika dulu kami bertemu di Bogor.

 

“Beib handphoneku mana?,” tanya seorang perempuan yang membangunkanku.

 

“Bukannya tadi sama kamu,” jawabku sambil menggesek mata karena habis bangun tidur.

 

“Gak ada, kamu jangan bercanda dong,” balasnya dengan nada gelisah.

 

“Serius? Kan tadi di cas sama kamu,” ucapku untuk meyakinkan bahwa handphonenya benar-benar hilang atau tidak.

 

“Serius sayang, handphoneku hilang, tadi kan di cas disini” dia bicara dengan nada sedih sambil mencari-cari.

 

“Yaudah kamu tenang dulu ya.” aku berusaha membuatnya tenang.

 

Tetapi handphonenya benar-benar hilang, sepertinya ada pencuri yang mengambilnya saat aku sedang tertidur. Kejadian yang membuatku meneteskan air mata, bingung bagaimana dengan nasib long distance relationship, tidak ada kabar, pulang membawa kesedihan. Keadaanku yang masih di bangku sekolah tidak bisa membelikannya handphone baru, masihku ingat handphone yang hilang itu merknya samsung j2 prime, warna gold.

 

“Selamat datang ayang bebeib,” ucap istriku di gerbang masuk rumah sambil membukanya.

 

Aku memasukan skuterku dan langsung memeluk istriku seraya mengucpkan rasa terima kasih karena sudah membukakan gerbang, kamipun berjalan masuk dengan bergandeng tangan.

 

“Beib, aku mandi dulu ya, gerah,” ucapku meminta mandi karena gerah dan bau badan.

 

“Nanti saja beib, sekalian mandi besar,” balasnya berbisik di telingaku dengan tangan di dadaku.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.