Profil instastories

Cinta Kamu, Cinta Indonesia

Tak pernah aku mencintai negeri yang permai ini begitu hebat seperti saat ini, Aku telisik kedalam diri apa yang berubah, terdapat satu nama di ruang hati yang sangat sempurna indahnya, Namamu.

Aku bersyukur dilahirkan di negeri yang bernama Indonesia, gugusan pulau, garis pantai, ribuan budaya, jutaan bahasa, senyum dan sapa penduduknya menjadikan aku tak takut melangkah meraih mimpi.

Sungguh istimewa negeriku, dan bertambah sangat istimewa karena rahimnya melahirkan satu perempuan yang dapat meredupkan cahaya bidadari, karena anginnya mampu membisikkan namamu di telingaku, karena tanahnya menyediakan tempat untuk langkah kita berhenti dititik yang sama, karena dengan segala dramanya kita bisa bergandengan tangan dan saling memeluk.

Tak pernah aku memeluk negeri ini dengan penuh haru, mengucap syukur dan terima kasih. Bersujud ditanahnya membisikkan ungkapan kagum karena dari ribuan penduduknya, ada satu sosok yang mampu membuat ku terpaku dan menunduk mengaku kalah, sosok itu kamu. Seseorang yang aku kira hanya ada didalam dongeng. Perempuan dengan gerai rambut yang indah, lurus dan menawan, mata yang bulat menatap dengan sendu, ah, iya genggaman tangan yang erat dan bergelantungan manja dilengan. Kamukah salah satu warisan keindahan nusantara? Yang cantik nya abadi dan semakin tua semakin menawan.

Usia mu sudah tidak lagi muda, tapi darah mu masih mengalir sangat deras, merah dan menggelora. Nafasmu, nafas kita pernah bersatu dalam satu ciuman hangat dan erangan tak terlupakan. Di malam ulang tahun mu, aku menangis diatas sajadah memohon agar kebahagiaan selalu menyertaimu, berharap akan selalu tetap hadir disetiap langkah mu dan bisa mengurangi derita yang mampir dalam hidupmu. Ya, aku sesayang itu pada mu. sesayang malam yang merindukan bintang, sesayang rumput yang merindukan angin, dan sesayang gula yang merindukan manis. Masihkah kamu ingat bagaimana kita mengisi pergantian malam? Hanya dibalut batik sedernaha, tanda glamor dan mewah. Sederhana, ya sederhana.

Merah putih berkibar ditiang tertinggi, menghiasi langit biru pagi ini, merah putih akan tetap menjadi merah putih. Dibawah tiangnya ada aku yang berdiri tegak, hormat dengan mata terpejam. Mencoba merajut kenangan. Bagaimana mungkin bambu runcing bisa mengalahkan meriam belanda, bagaimana mungkin aksara bisa membungkam penjajah, bagaimana mungkin ramah tamah bisa menyepak belanda kembali pulang kekampung halaman, dan anehnya saat ini tidak ada dendam terhadap mereka semua. sungguh indah didikan ibu pertiwi.

Tak terasa mataku mengeluarkan butiran bening, mengingat bagaimana awal kita bertemu. Berteman, bercanda, saling memukul manja, bertukan kabar dan tawa, sampai pada janjian untuk bertemu disore hari menjelang senja. Indonesia, terima kasih. Tanahmu menjadi saksi perjalanan kami, tentu ada peluh yang menetes karena gairah merah dan cinta suci yang putih.

Sama seperti negeri ini, bagaimanapun kita sekarang, cinta ku tetap bertambah besar. Ada satu lagi doa yang aku panjatkan belakangan ini. aku berdoa. Tuhan, ketika aku mati tolong pastikan cinta ku masih sama, tolong jangan hapus karena bagiku debu diujung kakinya lebih indah dan kucintai daripada dunia dengan segala isinya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS