Profil instastories

CINTA ITU SAKIT

 

 

 

 

 

 

BAB I

AKHIRNYA KAU MENDUA

Aura bahagia terpancar dari wajah seorang gadis berusia 21 tahun. Gadis itu bernama Astu. Astu akan pulang hari ini. Banyak rencana yang akan dia buat untuk hari ini. Kebahagiaan itu tidak lain karena hari ini dia akan bertemu dengan sang kekasih yang ditinggalkan saat dia harus bekerja di Jakarta sekaligus meneruskan sekolah disana. Gadis itu masih sangat polos urusan berpacaran. Dia menganggap semua orang baik dan jujur sepertinya.

Dia merapikan semua barang bawaanya. Setelah diyakini sudah lengkap maka dia mengambil layar ponselnya sekaligus memesan ojek untuk mengantarkan keterminal. Dia memilih untuk naik bis. Menurutnya lebih nyaman naik bis. Setelah pesanan ojek datang, maka dia keluar dengan senyuman yang ramah menyambut tukang ojek. “Mudik mbak Astu?”demikian sapa abang ojek karena mereka memang langganan lama.”Iya,pak Yanto”. Pak yanto situkang ojek memberikan helm kepadanya, kemudian bersiap untuk menarik pedal gas membawa penumpang menuju tempat tujuan yaitu terminal.

“Tumben mbak nggak bawa apa-apa” tanya pak Yanto memecah kesunyian karena memang sejak naik Astu terdiam tidak seperti biasanya. Namun dari wajahnya jelas terpancar aura bahagia.

”Enggak,pak. Saya Cuma dapet cuti 3 hari Cuma mau ketemu sama seseorang” jawabnya tidak mampu menahan perasaanya yang bahagia.

“Pacar ... ?” Tebak pak yanto. Astu tidak menjawab dia hanya senyum-senyum tanda setuju dengan ucapan pak yanto.

Setelah pembicaraan itu, merekapun terdiam. Hanya suara kendaraan yang menderu menambah polusi kota Jakarta. Sesekali ojek yang ditumpangi Astu disalip oleh kendaraan lain.

Mereka melaju terus membelah macetnya jalanan Jakarta. Taukan, bagaimana Jakarta?. Apalagi saat jam pulang kerja seperti ini. Tapi, tidak masalah bagi pak Yanto. Ojek langganan Astu ini pandai mencari celah ditengah macetnya Jakarta. Itu pula alasan Astu memilihnya. Ditengah populernya ojek online, ojek konvensional seperti pak Yanto masih dia minati. Hanya kalau terpaksa saja Astu baru akan memesan ojek online.

“Sudah sampai mbak” Kata pak Yanto membuat Astu terhenyak dari lamunan yang entah apa.

“Iya,pak. Terimakasih“. Astipun turun dan memberikan satu lembar duapuluh ribuan lalu pergi menuju penjualan tiket. Banyak calo tiket yang menawarinya, tapi dia memilih untuk pergi sendiri ke agen tiket. Terkadang para calo itu mengambil untung yang tidak kira-kira. Diputuskanya membeli tiket dengan tujuan Tegal Jawa Tengah dengan bis ber Ac supaya perjalanan lebih nyaman karena perjalanan akan jauh. Apalagi dengan perasaanya saat ini yang berkecamuk tidak karuan karena akan memberi kejutan pada sang tunangan.

Jam 06.45 bis yang ditunggupun datang. Dengan langkah pasti maka dia menaiki bis yang sudah dibeli tiketnya. Dia naik di kursi barisan ke 5 dekat jendela. Sesekali dia menatap keluar jendela. Hari mulai gelap dan bis terus melaju menuju salah satu kota di Jawa Tengah. Dengan  kelincahan sang sopir, maka pada jam 3 pagi sudah sampai di terminal Tegal. Dia melihat layar ponselnya, dia ingin menghubungi sang pacar. Namun diurungkan niatnya. Dia memilih untuk naik angkutan umum. Dia ingin memberi kejutan pada sang pacar.

Maka dari itu, dia memilih menunggu angkot diluar terminal sambil membeli teh anget karena memang sejak naik bis dia tidak makan dan minum. Setelah pukul lima pagi maka angkot berjejer menawarkan untuk ditumpangi. Maka dia pun dengan pasti memilih angkot kecil berwarna kuning menuju ke daerah Kali Mati , Tegal. Salah satu desa di kabupaten Tegal.

Sesekali kernet berteriak memanggil penumpan”Kalimati ... Kalimati ... yo less langsung ... Banjaran ... Banjaran ... ”Tanpa sadar dia sudah sampai ditempat tujuan. Langkahnya pasti menuju sebuah gang sempit. Dia melangkah sambil sesekali bersenandung. 

Kemudian rumah yang ditujupun nampak. Senyumnya mengembang setelah melihat rumah khas pedesaan namun lumayan moderen dengan cat berwarna putih. Beberapa kali dia mengetok pintu namun tidak ada jawaban. Dia merasa aneh karena ibu tunanganya berjualan sarapan. Dan tunanganya tersebut bernama Ian ya bernama Ian. Seseorang yang telah mamapu membuat Astu yang orang paling sesuai logika membuang jauh logikanya hanya demi Ian seorang.

Setelah mengetok lagi, baru ada jawaban. “Ya siapa?”seseorang menjawab. Aura bahagia sekaligus deg-degan menguasai jantungnya. Suara itu milik laki-laki yang dia sayangi. “crrrrekkk” Pintu di buka. Alangkah terkejutnya Ian terperanjat setelah melihat yang datang. “Kamu ... ?” dia bertanya tak percaya. Sebelum sempat berfikir, maka ada satu suara yang membuat mereka kaget.

”siapa sayang ... ?”suara itu memanggil dengan mesra disusul dengan sosok perempuan yang keluar dari kamar Ian. Dengan keadaan yang tak seharusnya. Rambutnya yang acak-acakan dan menggunakan baju tidur yang kancing bajunya tidak terkait dengan rapi membuat fikiran Astu tak karuan. Mereka saling termangu. “Jam Setengah enam, ada sosok wanita yang keluar dari kamar mas Ian?, apa yang mereka perbuat?dimana semua anggota keluarga Yasmin, Ibu,Bapak, Bang Ari, dimana mereka?.” Dia berkata dalam hati. Perasaanya berkecamuk, tapi dengan optimis dia akan menunggu semua anggota keluarga pulang,dia masih belum percaya apa yang dilihatnya. Dia masih berharap ini hanya salah faham. Dan yang barusan terjadi dihempaskan dari fikiranya. Walau jujur, masih ragu.

Astu tidak berniat membuat keributan. “Wanita ini ...? dia menerawang menuju masa lalu ketika beberapa bulan lalu saat tunangan dikenalkan sebagai sahabat Ian. ”Oh ya itu dia ... ”katanya dalam hati namun tidak terucap. Mereka bertiga membisu dengan penerawangan masing-masing.

Hati Ian mulai tak tenang mungkin mencari kata yang tepat untuk menjelaskan kepada wanita didepanya.  Wanita didepanya yaitu kekasihnya yang dia pasangkan cincin beberapa bulan yang lalu. Seorang wanita yang akan dia nikahi satu bulan kedepan. Namun mengapa sangat cepat pulang padahal semalam dia bilang akan pulang satu minggu sebelum mereka menikah. Dan sekarang sepagi ini dari kamarnya keluar wanita lain.  Dia mengingat apa yang terjadi semalam. Sesekali Ian menggaruk kepalanya. Entah sudah berapa rokok yang dia hisap sedari tadi. Sesekali dia berdiri dan menatap kejendela. Sedangkan kedua wanita dihadapanya hanya membisu. Mereka semua membisu. Sampai tiba jam delapan pagi Bang Ari dan Yasmin adik Ian datang.

Seperti biasa saat bertemu dengan calon kakak iparnya Yasmin selalu ramah.”Ada tamu rupanya,Mbak Astu ...” Teriak Yasmin dengan wajah sumringah memecah kebisuan sedari tadi.”Udah dari tadi mbak?”tanyanya tanpa memperdulikan ada Ian dan wanita,ah iya namanya Kiana. “ Jam setengah enam” Jawab astu singkat. Sedangkan Bang Ari hanya tersenyum kepada Astu seperti biasa.” Setengah enam? Kenapa nggak telpon aku, mas Ian kenapa gak dibuatin minum? dan Kiana kenapa pagi sekali kamu sudah kesini” kata Yasmin membrondong. Kemudian Yasmin kebelakang untuk membuatkan minuman. Kebisuan kembali terjadi diantara mereka.

Yang ditunggu Astu pun datang dengan motor Astrea keluaran entah tahun berapa bapak dan ibu Ian datang. Maka Astu berdiri untuk menyambut mereka dengan salim taklim kedua orang tua Ian menyambut Astu calon menantunya.”Udah dari tadi, nok” sebuah sapaan hangat keluar dari mulut bapak Ian. Nok adalah sebutan layaknya nak dalam bahasa Indonesia.

”Lumayan pak. Saya datang setengah enam” Jawab Astu sambil masih tersenyum.

Kemudian ibu Ian menambahkan“ capek ya, dari Jakarta atau sudah pulang ke Batang?”.

“Jakarta,Bu” Jawabnya. Ibu Ian mengernyitkan kening setelah melihat wanita lain duduk dikursi pojok.” Kiana ... ?” tiba-tiba raut wajah ibu Ian berubah , disusul dengan Ayah Ian tak kalah terkejutnya.

Mereka membisu seketika. Untuk memecah kebisuan maka ayah Ian mengajak Astu bicara. Setelah mengobrol sebentar maka Ibu dan Bapakpun pamit kebelakang berganti dengan Yasmin yang membawa minuman dan makanan kecil.

Giliran Astu membuka percakapan karena tidak mau lagi menduga-duga dan menunggu lama. ”Mas Ian ... "dia memulai.

”hmmm ... ” Jawab Ian.

”Mau aku yang cerita kejadian tadi atau mas Ian cerita sendiri” katanya kemudian.

Ian menarik nafas panjang kemudian menjawab“aku bisa jelaskan, Dik” katanya mulai menjelaskan.

“Baik, aku akan mendengarkan. Tapi harus ada Bapak dan Ibu “ Kata Astu berkaca-kaca.

Yasmin yang mendengar perdebatan itu maka menyetop perdebatan Ian dan Astu sedangkan Kiana dari tadi Cuma membisu sekali-kali dia hanya tersenyum tipis entah apa artinya.

“Ini ada apa to sebenarnya mas Ian mbak Astu ?” kata Yasmin mencoba mencairkan suasana.

“Yasmin, tolong panggilkan bapak ibu dan kak Ari” Kata Astu agak lirih mencoba mengatur perasaanya yang sedari pagi berkecamuk.

“Baik, mbak saya kebelakang “ Jawab Yasmin.

Kemudian datanglah ketiga orang yng diminta Astu. Dengan lembut ibu dari Ian duduk disamping Astu dan membelai rambut Astu yang kala itu ditutup oleh jilbab warna ungu yang senada dengan baju yang ia kenakan. Astu mulai bicara sedangkan Ian dan Kiana hanya tertegun namaun sesekali Kiana mengulum senyum entah apa yang ada difikiranya. “Ibu, bapak ... ” Astu mulai bicara namun mulutnya terasa berat hingga beberapa kali dia harus mengambil nafas panjang dan menunduk.

“Kedatangan saya kali ini memang tidak direncanakan ...” dia meneruskan dengan hati-hati. “ Dan saya minta maaf kalau tidak memberi tau sebelumnya”lanjutnya.” Tapi ... ”Astu tak kuasa melanjutkan ceritanya. Matanya berkaca-kaca. Ada genangan disudut matanya, namun ia tahan sekuat mungkin. “ Namun, ketika saya sampai disisni ... saya terkejut karena tidak ada orang “. Pungkasnya.

“Iya Nok, karena ada acara khitan dirumah pak dhe dan bapak ibu juga minta maaf karena tidak memberitahumu.” Kata bapak Ian kemudian. “ Bukan itu bapak ... Tapi ... ” Astu tak kuasa melanjutkan.

"Ian sekarang jelaskan ada apa sebenarnya“ Kak Ari bertanya dengan tatapan tajam menatap Ian dan Kiana seolah akan menginterogasi mereka. 

 “Saya minta maaf " kata Astu lirih. 

"Ian, sebenarnya ada apa?" tanya Kak Ari.

"Bagaimana, apa yang akan aku jelaskan. Sepertinya kalian bersekongkol untuk menyudutkanku” Jawab Ian dengan penuh amarah. "Seperti yang kalian lihat, aku tidur dengan Kiana. Dan Astu melihatnya." Pungkas Ian. 

“ Ian ... !” Bentak Ayah Ian.

” Apakah aku salah tidur dengan Kiana? selama kita bersama apa kamu mau disentuh? Bagaimana mungkin aku percaya kau mencintaiku jika kucium saja kau sudah tidak mau?apa aku salah?” Jawab Ian dengan nada tinggi dan mata tajam mengarah ke Astu.

“Ian ... ! ayah Ian mulai kehilangan kendali sebuah tinju melayang diwajahnya ... plakkk. 

“ Ian, ternyata kau laki-laki pengecut!” Tangan Kak Ari mulai mengepal siap untuk menambahkan.

”Sudah cukup” Jawab Astu lirih. Bagaikan disambar petir disiang bolong dan beribu pedang menghujani dadanya.  Perih, pedih, berdarah, menganga. 

Hatinya sungguh pilu, namun dia berusaha tegar dan mengakhiri semuanya.”Baiklah Pak, Bu, Kak Ari, Astu pamit. Dan mas Ian maafkan aku sudah mengecewakanmu. Ini perhiasan darimu aku kembalikan. Biaya pesta pertunangan tolong dirinci akan aku kembalikan walaupun mungkin tidak bisa tunai.” Astu menanggalkan perhiasan yang dia pakai kalung, gelang, cincin dan sebuah liontin yang bahkan atas nama mereka berdua.

Sesak penuh didadanya rasanya air bening disudut matanya sudah hampir menetes namun ditahanya. “Semuanya saya permisi, maafkan saya” Kata Astu berpamaiatan.

”Tunggu ... ”Ayah mencegah membuat langkah Astu berhenti “Nok, Bapak tidak akan meminta kembali biaya pertunangan yang sudah kami keluarkan, Hanya kami mohon maaf tidak dapat mendidik Ian dengan baik, kami mohon maaf melukaimu. Dan kami menyesal” Kata Ayah Ian sambil menghampiri Astu.

“Tidak apa-apa,pak. Mungkin pemikiran kami yang tidak sejalan” kata Astu.

”Bawa ini” Katanya seraya merebut perhiasan yang sudah ditangan Ian.

“Tidak pak, itu bukan hak saya lagi” Kata Astu.

”Ini untuk kenang-kenangan, kapanpun kami selalu ada untukmu. Jangan lupakan kami”Kata Ayah Ian sembari memberikan Astu dan menggerakan tangan Astu supaya mau membuka dan menggenggam perhiasan itu di tanganya.

”Saya permisi” Katanya.

Astu lari sekencang-kencangnya, dia ingin pergi sejauh mungkin. kalau perlu keluar angkasa hingga tidak ada lagi yang menemukanya. Perasaanya campur aduk seperti gado-gado atau ketoprak yang pedas dengan lima cabai. Namun ini bukan ketoprak atau gado-gado yang walaupun pedas tetep enak dimakan. Bukan pula jamu yang walaupun pahit tetapi berkhasiat. Ini adalah kehidupan. Kehidupanya, yang baru menyadari bahwa sebenarnya tidak pernah ada yang dinamakan cinta sejati.

Semua busyit ....Sampai di ujung gang disebelah tembok yang mulai usang dia berhenti dan terengah-engah. Butiran air mata membanjiri pipinya kemudian membasahai kerudung ungu yang dikenakanya. Ia menangis sejadi-jadinya hingga terisak. Dadanya penuh sesak dengan pekataan Ian.” Salahkah aku tidur dengan orang lain, Kau tak pernah mau ku sentuh...sentuh..sentuh” Mengulang kalimat yang diucapkan Ian di pikiranya.“ Mas, aku mau. Aku ingin tapi hatiku tidak bisa karena kita belum menikah” Dia bergumam lirih.

Setelah dadanya lumayan kendur, dia melanjutkan melangkah walaupun masih gontai karena menahan tangis. Dia ingin segera lari dari kota itu dia ingin buang jauh semua yang baru dialami. Akan dia kubur sedalam inti bumi. Akan dia lupakan Ian ya Ian seorang pria yan g dia cintai. Seorang pria yang nyaris sempurna dimatanya.

Perawakan yang tinggi. Kulit yang bersih dan pekerjaan yang lumayan mapan walau tidak sekaya CEO yang dibacanya dalam novel. Tapi dia mencintainya dengan seluruh jiwa dan raganya. Walaupun ternyata gayung tak bersambut. Semua sudah berakhir bersama luka yang berdarah. Pertama jatuh cinta pertama patah hati. Gagal nikah entah apa yang akan dia jelaskan nanti dengan ibunya dirumah.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
KRISMANTO ATAMOU - Apr 21, 2020, 2:53 AM - Add Reply

Luar biasa 👍

You must be logged in to post a comment.
KRISMANTO ATAMOU - Apr 21, 2020, 2:53 AM - Add Reply

Luar biasa 👍

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani