Profil instastories

Penikmat malam

Cinta dan Persembahan Alam

Gumpalan kapas putih di langit menghiasi setiap kilometer jalan di bumi. Pohon yang terlewati memberikan senyum saat kita mendekat ke arah mereka. Saat ini di depanku hanya ada seorang berbalut cinta di hatinya. 

Motor yang ia kendarai menjadi saksi saat kita sangat menikmati suguhan alam yang diberikan oleh Tuhan. Lewat dirinya aku mengerti cinta, lewat dirinya aku juga mulai merasa.  Senyum tercipta mewarnai setiap jarak yang kita tempuh berdua.

Kita berhenti di sebuah jalan yang membelah persawahan. Dia berjalan di depan dan aku mengikuti dari belakang. Dia tunjuk gunung yang menjulang tinggi sambil tersenyum ke arahku. Betapa kulihat cintamu yang begitu nyata di depanku.

"Lihat itu!" Jarinya menunjuk gunung yang jauh di sana.

Mataku mengikuti suruhan bibirnya. Terlihat gunung tinggi yang menjulang di depan mata. Memanjakan siapapun yang melihatnya.

"Kau tau? Di sana adalah harapan setiap Sang Pencinta," serunya sambil menatap gunung itu dengan bahagia.

"Maksudmu?"

"Sang Pencinta akan berusaha sekuat tenaga agar dapat meletakkan cintanya di atas sana." Mata coklatnya kini beralih tepat menatap bola mataku. Aku memiringkan tubuh agar dapat menatapnya leluasa.

"Seperti itukah?"

"Seperti aku, Sang Pencinta yang mencoba meletakkan cintaku di atas sana." 

"Memangnya kamu mencintai siapa?"

"Aku mencintai wanita yang saat ini menatap bola mataku"

Keheningan datang saat bibirnya mulai membuatku terbang karena kalimat yang keluar begitu membuat hatiku melayang. Di bibirku memang tidak terlukis senyum tapi di dalam sana ia merasa sangat bahagia.

"Aku mencintaimu" 

Tangan besarnya meraih tubuh mungilku. Hangat tubuhnya membawaku seperti masuk ke dimensi yang berbeda, rasanya seperti surga saat detak jantungnya bersatu dengan detak jantungku.

Detik demi detik terlewati, aku masih di posisi ini, berada di dalam dekapan Sang Pencinta seperti yang ia bilang tadi.

Tuhan tolong hentikan waktu untuk saat ini, aku tak ingin ini berakhir dengan cepat. Aku ingin berada di dalam dekapan tubuhnya. Merasakan cinta yang luar biasa istimewa. Dari luar memang terlihat sederhana, tapi begitu aku masuk ke dalam aku menemukan berlian yang bersembunyi di balik hati Sang Pencinta ini.

Detak jantungku dan detak jantungnya seirama. Bergerak cepat tanpa memberikan celah untuk melambatkan geraknya. Kupejamkan mata, membiarkan jantungku bersorak bahagia. 

"Kau merasakannya?" 

Suaranya membuat mataku kembali terbuka, aku mendongakkan kepala namun masih tetap memeluknya.

"Menurutmu terlalu cepatkah jantung kita berdetak?" tanyaku 

Dia tertawa kecil lalu memberikan kecupan tepat di keningku. Aku sedikit aneh dengan sikapnya itu, tapi entah mengapa ini sangat membuatku tenang.

"Menurutku tidak, karena cinta akan mengubah segalanya, termasuk detak jantungmu."

"Dan detak jantungmu juga" tambahku sambil tersenyum bahagia.

"Aku selalu merasa seperti ini saat bersamamu" 

Tangannya mengusap surai ku dengan lembut. Membuatku kembali membenamkan wajahku di dada bidang miliknya. 

Awan bergerak di atas dua insan yang sedang menyatukan kehangatan. Mencoba saling merasakan cinta yang hadir dari setiap detiknya.

Aku tahu bahwa dia adalah manusia yang selama ini berhasil memecahkan sedihku, dia mengganti semua itu dengan melukis bahagia dengan cara sederhana. Sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya. Dia Sangat misterius menurutku, karena dia hanyalah teman biasa yang tiba-tiba meyatakan cinta. Sekarang aku tahu, betapa mudahnya mata membuat seseorang menjadi cinta, seperti halnya aku yang jatuh cinta saat melihat sisi terdalam darinya.

Aku merasakan titik air jatuh tepat di atas kepalaku. Titik air terasa semakin banyak jatuh di kulitku. Apa ini bagian dari rasa yang ditimbulkan saat aku di dekapnya?

"Hey kamu mau mandi hujan?" 

Aku membuka mata setelah terpejam cukup lama di dekapannya. Aku mendongakkan kepala menatap langit yang sudah berganti warna. Air yang jatuh semakin banyak membuat basah siapapun yang ada di bawahnya. Aku sangat meninkmati ini karena aku masih tetap memeluknya.

"Hey?" Suaranya menyadarkanku.

"Apa?" Balasku tanpa membuka mata. Tubuhku sangat menikmati tetesan air yang terjatuh langsung membasahi wajahku.

"Kamu tahu ini hujan?" Ucapannya membuat aku tertawa pelan. Saat ini aku sudah beralih menatapnya. Kulihat wajahnya yang sudah basah akibat hujan yang sudah deras.

"Aku menikmatinya, saat hujan jatuh membasahi dua insan yang sedang kasmaran" senyum jahil aku tampakkan tapat ke arahnya. 

Dia terkekeh pelan lalu melepaskan pelukan yang dari tadi dia berikan. Kini sudah ada jarak yang memisahkan tubuhku dan tubuhnya. Sedih rasanya saat dia melepaskan pelukannya. Aku menatapnya dalam.

Dia berjalan ke arah belakang tubuhku. Jari jemarinya memegang erat jari jemariku. Apa yang dia lakukan? Dia mengangkat kedua tanganku yang sudah meyatu dengan tangannya. Kali ini tubuh belakangku yang merasa hangat oleh tubuhnya yang tidak ada jarak dengan punggungku.

"Bagaimana? Lebih nyaman bukan?" 

Aku kembali menatap langit di atas lalu memejam mata, membiarkan tetesan ujan menghujam wajahku. Ini lebih terasa tenang saat tanganku di rentangkan oleh tangannya dari belakang.

"Kamu selalu tahu caranya menikmati persembahan alam yang tuhan berikan", ucapku sambil terus memejamkan mata.

"Aku mencintaimu bersama dengan alam ini,"

"Apa maksudmu?" Aku menoleh ke arah nya, hanya wajah sampingnya yang dapat kulihat. Dia tidak menjawab dia sibuk memejam mata.

"Bagaimana dengan gunung itu?"

Kini dia melepaskan kaitan jarinya dengan jariku. Dia menghadapku dengan tatapan cinta yang hanya kutemukan di wajahnya.

"Cintaku sudah berada di atas sana" tunjuknya pada gunung yang sudah tidak terlalu jelas akibat hujan yang sangat deras.

"Sejak kapan?"

"Sejak mengenalmu, aku langsung meletakkan cintaku di atas sana, karena ku tahu kamu adalah wanita terakhir yang akan aku cintai"

Menikmati alam bersamanya buatku menemukan hal yang orang lain tidak temukan. Terima kasih tuhan, kau menciptakan manusia sederhana dengan bermilyar cinta di dalamnya. 

 

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani