Profil instastories

Cinta Dalam Do'a

Kumandang adzan subuh terdengar syahdu. Muadzin menyerukan panggilan Allah untuk menunaikan kewajibannya. Raniya terbangun dari nyenyaknya bersemanyam dipulau kapuk. Ia duduk diatas ranjang sambil menyahut suara merdu tersebut. Bagai mendengar suara muadzin yang ada di Mekkah. Begitulah menurut Raniya.

 

 "Masyaa Allah indahnya seruanmu" Gumam Raniya. Kemudian bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sunnat dan fardu subuh. Tiga bulan terakhir ini ia menjadi pengagum rahasia muadzin di Mesjid yang tak jauh dari tempatnya tinggal. Suara nan merdu dan sangat khas. Siapapun yang mendengar pastilah tersentuh akan lantunannya.

 

"Ya Allah, cintakanlah hamba pada orang yang mencintaiMu dan mencintai RasulMu. Berilah hamba jodoh yang terbaik menurutMu ya Allah." Diakhir shalat tak lupa Raniya menyisipkan do'a khusus. Do'a yang ia untaikan mewakili perasaannya terhadap sosok yang ia kagumi. 

 

Raniya berharap muadzin tersebut belum menikah. Agar dia disandingkan dengannya. Membayangkan hal itu membuatnya tersipu dan malu sendiri. Andai dan andai... "Bolehkah aku membayangkan bagaimana rupanya" Lirihnya dalam khayalan entah berkenala kemana.

 

Setelah menkhayal ria ia membantu ibu di dapur membuat sarapan pagi. Pun mengepel seluruh rumah. Raniya termasuk anak yang rajin dan supel kesemua orang. Namun sayang, diusianya yang sudah seperempat abad lebih ini ia belum menemukan tambatan hati. Slow aja, jodoh nggak akan kemana. Kalimat itu menjadi salah satu penyemangatnya.

 

Semilir angin berhembus riang. Nyanyian burung pun ikut bersorak beriringan. Seperti biasa Raniya semangat berangkat menuju sekolah menegah atas untuk mengabdi. Kurang lebih dua tahun ini ai menjadi tenaga honorer di sekolah tersebut. Meski gaji yang diterima tak cukup untuk ongkos hidup sendiri apalagi tambahan untuk belanja di rumah. Tapi Raniya tak habis akal, ia juga punya online shop dan pandai membuat bross cantik. Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Disitulah tambahan untuk biaya hidupnya dan keluarga.

 

Hampir pukul tiga sore ia baru pulang ke rumah. Tetiba ia dikejutan dengan sosok cantik berjilbal lebar hampir menjuntai kelantai yang tengah ngobrol diruang tamu dengan ibunya. Ia menatap gadis cantik yang dikenalnya itu.

 

"Ehh... Rani sudah pulang, Nak" Ucap ibunya.

 

"Iya Bu. Tadi ucap salam nggak ada yang nyahut. Ternyata ada tamu" Sahut Raniya dengan senyum yang mengembang lalu duduk dan ikut nimbrung di ruang tamu.

 

"Ran, aku kesini mau ngasih undangan. Minggu depan pernikahanku. Jangan lupa dateng sekeluarga ya" Jelas gadis bernama Ayesha teman sekelas Raniya di SMA dulu. Walau tinggal satu kampung tapi mereka jarang bertemu. Sibuk dengan dunia masing-masing.

 

"Insyaallah, Sha. Emmm... Calonmu orang mana? Gimana ceritanya ketemu dia" Tanya Raniya kepo. Ibunya kembali ke dapur meninggalkan anak muda yang asyik ngerumpi.

 

"Orang sini kok masih satu kampung kita. Dia lulusan pesantren dan ternyata rumahnya nggak jauh dari Mesjid. Ada seratus meteran kali. Mungkin jaraknya setengah kilo lah dari rumahmu. Bisa jadi kamu kenal. Namanya Syakir" Penuh antusias Asyesa bercerita.

 

"Dekat Mesjid? Lulusan pesantren? Apa mungkin dia lelaki yang ku kagumi selama ini?" lirih Raniya dalam hati.

 

"Kami dijodohkan, Ran. Pertemuan pun baru dua kali. Taarufan seminggu langsung deh atur tanggal. Soalnya kami sama-sama klik dan sama-sama ingin mencari ridho Allah dengan menyempurnakan setengah agama. Inti dari pernikahan kan ibadah. Dan ibadah terlama adalah pernikahan. Saat Syakir melanjutkan proses ta'aruf dan berniat mengkhitbah disitu Allah memberiku keyakinan bahwa Syakirlah jodoh dunia akhiratku, Insyaallah." Panjang lebar Ayesha bercerita.

 

"Semoga kamu pun segera dipertemukan dengan jodoh terbaik pilihan Allah, Ran" Lanjut Asyesha dengan kata-kata indah keluar dari bibir manisnya.

 

 Sepulang Ayesha, Raniya sedikit diam. Ia kalut dengan pertanyaan yang membuncah di kepala. Mungkin inilah takdirku, ucap Raniya. Cinta dalam do'a. Apa yang diinginkan belum tentu itu yang terbaik. Karena Allah tahu apa yang dibutuhkan hambanya. Raniya mulai berkompromi dengan hatinya. 

 

"Benar, Allah pasti menyediakan yang terbaik untukku. Seseorang yang mampu membimbingku dan akan mendekatkan diriku pada Allah. Mencintaiku dan dapat membahagiakanku dunia ahirat." Ucapnya sembari membolak balik undangan Ayesha.

 

Tiga hari lagi Ayesha akan menikah. Namun, Raniya belum menyiapan kado untuk temannya itu. Sepulang dari sekolah Ia mampir ke toko buku untuk membeli kado. Bingung dengan banyaknya pilihan. Akhirnya ia menjatuhkna pilihan pada buku berjudul "Menjadi Istri Sholehah." Tidak hanya mengambil satu, tapi dua yang ia beli. Siapa tau buku itu bermaafat untuknya, pikir Raniya. Setelah membayar buku tersebut ia pulang. Sambil merapikan jilbal Raniya berjalan dengan santainya menuju tempat parkir. 

 

"Mbak, tunggu" Ia dihentikan dengan suara seorang lelaki. Sontak ia berbalik.

 

"Iya, ada apa Mas" Raniya kebingungaan.

 

"Ini, KTP Mbak jatuh tadi pas dikasir. Raniya Amalia, Punya Mbak, kan ?" Tanya lelaki itu menyakinkan.

 

"Ohh, Iya. Terimakasih" Sahut Raniya.

 

"Maaf, Mbak. Bolehkah aku mengenlamu lebih dalam?" Ucap lelaki yang tidak dikenalnya sama sakali. 

 

"Maaf, tanyakan itu pada yang lebih berhak atas diriku" Jawab Raniya berlalu dibarengi dengan seulas senyum. Lelaki yang sengaja tidak begitu diperhatikan wajahnya membuat Raniya sedikit takut. "Siapa lelaki itu. Apa ia kawanan copet. Apa mungkin sedang membuntutiku" Pikiran Raniya mulai digelayuti hal-hal yang tidak seharusnya. Suudzon. 

***

Hari yang ditunggu Asyeha pun tiba. Pernikahan yang sederhana namum elegan. Akad dilaksanakan di rumah Ayesha. Tamu undangan yang cukup banyak dari berbagai kalangan. Secara ayahnya Ayesha seorang pengusaha ternak sapi. Raniya salah satu kawan karibnya pun tak lupa mengucap selamat. Untuk resepsi diadakan seminggu kemudian.

 

"Semoga kamu cepat nyusul ya, Ran" Ucapnya sambil cupika cupiki yang diaminkan Raniya.

 

Hari berganti bulan pun berlalu. Ia sudah melupakan khayalnnya. Tapi suara indah itu tetap menggema dikala pagi untuk mengumandangkan adzan. Setiap muadzin pasti punya ke khasan tetsendiri. Kagum, ia. Raniya masih menikmati lantunan merdu tersebut. Walau tak setiap saat. Raniya masih menggeluti rutinitas seperti biasa. Hanya hari Minggulah ia bisa mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari segala kepenatan. Raniya seperti merasakan sesuatu yang aneh sejak pagi. Ia bolak balik maju mundur syantik di rumah. Seolah ada firasat akan ada hal besar terjadi.

 

"Tok... Tok.. Tok... Assalamu'alaikum" Terdengar suara seseorang di depan pintu. 

 

"Wa'alaikumsalam" Sahut Raniya sembari membuka pintu. Terpana dengan sesosok lelaki hitam manis berbaju gamis berdiri dihadapannya. Detik kemuadian ia tersadar dan menyuruh masuk seraya menanyakan perihal apa kedatangannya. 

 

"Apa Ayah kamu ada di rumah?" Ucapnya sopan yang diiyakan Raniya. Ia bergegas memanggil ayahnya yang sedang sibuk memperbaiki kandang ayam dibelakang rumah.

 

Ayah Raniya seketika membersihkan diri lalu menuju ruang tamu. Tertegun melihat seseorang pemuda tidak dikenalnya itu. 

 

"Saya, Rayyan Saukani anak Pak Yusman Saukani, Pak." Lelaki muda itu memperkenalkan diri. Dan mengingatkan bahwa Ayahnya adalah teman sekolah Ayahnya Raniya dulu. Rayyan baru kembali dari Bangil beberapa bulan ini. Seketika mereka asyik mengobrol. Semua keluaraga mendengarkan penuturan Rayyan, termasuk Raniya. Kemudian menanyakan perihal kedatangan pemuda yang dihadapannya tersebut. 

 

"Kedatangan saya kesini semata-mata berniat ingin mengkhitbah anak kesayangan Bapak, Raniyya Amalia." Ucapnaya jelas. 

 

Mata Raniya membulat sempurna mendengar kata lelaki itu. Kaget, bingung dan berdebar-debar didada. Itulah yang ia rasakan sekarang. Raniya menatap Ayah, Ibunya meminta pendapat. Ayahnya menyerahkan sepenuhnya kepada Raniya.

 

"Mohon maaf, saya tidak bisa menjawab sekarang. Insyaallah saya akan jawab tiga hari kedepan." Benar saja, ini bukanlah masalah ynag harus diputuskan secepat kilat. Ini baru pertama kali bertemu gumamnya. Rayyan pun menyetujui permintaan Raniya. 

 

Tiga hari diisi Raniya dengan shalat istiharat untuk menyakinkan diri. 

"Ya Allah, bila lelaki yang berniat mengkitbah hamba adalah jodoh yang Kau pilihkan, maka mudahkanlah. Restui dan Ridhailah kami, Ya Allah" Lirihnya dalam do'a di sepertiga malam. Ketenangan setelah shlaat istikharah diperoleh Raniya. Tak bisa di pungkiri, ia mulai membayangkan wajah Rayyan menjadi bagian hidupnya. Raniya yakin inilah yang terbaik, kekasih dunia akhirat yang Allah berikan untuknya. Tidak mungkin salah alamat, pikirnya. Ia mantap menerima lamaran Rayyan Saukani.

 

Tepat tiga hari Rayyan pun datang bersama Ayah Ibunya seolah mengetahui kalau Raniya sudah menerima lamarannya. Dengan segala keyakinan yang Allah kirimkan dalam hatinya, Raniya menerima lamaran Rayyan. Semuanya mengucapa syukur atas keputusan Raniya. Tak ingin berlama-lama tangga petnikahan pun ditetapkan.

 

****

"Saya terima nikahnya...." Ucap Rayyan lantang dengan satu tarikan nafas.

 

"Sah." Terdengar saksi dan para tamu undangan mengucapkan dengan serempak. Akhirnya Rani keluar dari kamar menemui kekasih halalnya. Pandangan Rayyan tak lepas dari Raniya bahkan saat duduk berdampingan. Keduanya tersipu malu saat Rani di suruh mencium Rayyan. Rumah di isi dengan kehadiran tetangga karena tidak ada kabar hubungan mereka apalagi pacaran. Hal itulah yang membuat banyak penasaran. Bahkan kawan Rani yang belum menemukan kekasih halal pun baper dibuatnya. Masyaa Allah indahnya

 

***

 

Nikmatnya ibadah penyatuan di bawah restu Ilahi. Setelah mandi Rayyan bersiap menuju Mesjib untuk menuniakan shalat subuh berjamaah. Dan Raniya melakasanakan shalat di dalam kamar. Karena bagi perempuan itu lebih baik.

 

"Mas, siapa yang adzan di Mesjid tadi. Suaranya sangat merdu sekali?" Raniya penasaran. Karena tebakannya Syakir suami Ayesha lah selama ini yang mengumandangkan adzan. Namun, Raniya baru menyadari bahwa seminggu ini mereka sudah pindah rumah ke luar kota. Jadi siapa pemilik suara merdu itu? Siapapun dia, Raniya sudah menjatuhkan hati pada kekasih halalnya, Rayyan.

 

"Mas yang adzan." Ucap Rayyan santai. Namun cukup membuat mata Raniya membulat sempurna. 

 

"Apa Mas tau, beberapa bulan terakhir ini, suara itu telah menghepnotisku?" Ucap Raniya sambil mendekap suaminya dan membenamkan kepala di dadanya. Akhirnya mereka saling bertukar cerita dan mengenal satu sama lain. 

 

"Apa kamu juga tau. Aku merasa kamu jodohku sejak pertama kali kita bertemu. Ada semacam keyakinan yang Allah timpakan pada hatiku. Ya, saat KTP mu terjatuh. Disitulah aku tau nama dan alamatmu. Aku mencari tau tentang kamu." Dan ternyata Rayyan pun menaruh hati pada Raniya sejak pertama kali bertemu. 

 

Mereka saling memahami dan menyelami satu sama lain. Karena menikah adalah proses mengenal sampai akhir hayat. Tentunya menikah adalah ibadah terlama. Maha kuasa Allah atas segala sesuatunya. Saat manusia mengharapkan manusia lainnya, hanya kecewalah yang Allah timpakan. Tetapi, saat manusia mengharapkan ke Ridhaan Allah, maka apa yang di inginkan manusia itu pastilah ia kabulkan. Percayalah, keajaiban akan terjadi saat manusia percaya pada Allah Ta'ala.

End

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani