Profil instastories

Choices

"Ternyata cewek nakal lebih menggoda, daripada paras cantiknya."

 

∆ Kenzie ∆

 

 

 

 

 

-Happy Reading-

 

Kenzie Andreas Syahputra, siapa yang tak mengenali kepandaiannya di dalam bidang segala hal. Bahkan, sebagian murid SMA Pancasila sangat terkagum dengan ketampanannya. Tapi sangat disayangkan, dialah sosok yang sangat pelit mengeluarkan sepatah kata kepada orang yang tak mengenalinya. Dia akan berbicara panjang, jika merasa perlu. Jika tidak? Maka dia akan diam saja. Karena, menurutnya hanya membuang tenaganya saja.

 

Peluh keringat membasahi keringatnya, napas yang sudah tersengal-sengal, sebab baru saja dia menyelesaikan pertandingan bola basket antar tim. 

 

Mengibas-ngibaskan kerah baju tim yang dipakai dengan pelan, karena cuaca ini lumayan panas. Dan itu sudah membuat dirinya merasakan gerah. Duduk di bawah pohon rindang, yang tak jauh dari lapangan. Dengan kedua kaki yang diluruskan ke depan sambil meminum minuman yang tadi sempat dibawa dari rumah. 

 

Dari jauh, sudah banyak para perempuan berjejer hingga belakang dan saling berebutan untuk memberikan minum. Atau juga meneriaki namanya. Beruntungnya, dia memiliki ketiga teman yang selalu menghalangi para kaum hawa untuk tidak mengganggu ketenangannya. 

 

Menatap para jejeran gadis-gadis yang sedari tadi meneriaki namanya.

 

Pusing dengerin, batinnya menatap satu persatu. 

 

Kenzie bangkit, menghampiri ketiga temannya yang sedang menghadang banyaknya gerombolan gadis yang tengah berkerumunan. Menepuk sebelah bahu temannya dan membisikkan di telinganya. Kemudian, dia menganggukkan kepalanya. Menginterupsi kepada teman-temannya untuk pergi ke arah kantin. 

 

###

 

"Pusing pala gue, ngahadapin para cewek cantik. Bingung mau pilih yang mana?" ujar cowok dengan bername tag Gavriel Akbar Nugroho yang tertempel di dada kiri seragam sekolahnya dengan raut wajah yang tampak kewalahan saat menghalangi para gadis.

 

"Alah mana mau, tuh cewek sama kembaran tai kuda kaya elo," nyinyir cowok blasteran itu, yang bernama Reiza Keindrick.

 

"Sorry-sorry aja nih." dengan menepuk bahu Reiza, "walaupun gue kembaran tai kuda, sekalipun anak sultan mah tetap bisa membuat hati para perempuan memikat," lanjutnya dengan berlagak sombong.

 

Cowok yang berkulit gelap yang bernama Febrian Ady Wijayanto, yang melemparkan bekas gumpalan tisu bekas yang tadi sempat dipakai. "Hilih, ngomong sono sama tembok." Beruntungnya, Gavriel bisa mengelak. 

 

"Eh Ken, dari tadi diem-diem aja. Ngopi apa ngopi," celetuk Reiza.

 

"Jangan diajak ngopi, nanti tuh bocah gumoh. Langsung koid, kan berabe."

 

"Oiyaya, ntar imbasnya kita-kita kaga dapet jatah dari para kenvers." Gavriel dan Febrian saling bertos ria, karena sangat menyetujui perkataan Febrian. 

 

'Kenvers' adalah sebutan bagi para penggemar berat Kenzie. Jadi, setiap anggota Kenvers memiliki agenda tertentu, seperti berkumpul di aula. 

Mereka meramalkan doa untuk Kenzie, agar ketampanannya tak akan luntur. 

 

Padahal tua nanti, wajahnya akan berubah jadi keriput juga.

 

Lalu, setelah berkumpul mereka selalu rutin memberikan makanan atau minuman untuknya. Kalau kata mereka, biar Kenzie semakin berenergi setiap harinya.

 

"Tapi Ken, gue kasihan sama kenvers. Mereka hampir tiap hari ngasih makan ke lu. Tapi lu ga mau terima. Emangnya lu ga kasian sama mereka?"

 

"Ga."

 

"Sadis, anjer. Bener-bener teman gue yang paling pinter." Reiza sampai pangling dengan perkataan Kenzie yang tak bisa di percaya.

 

"Ah lu, kaya kaga tau aja si Ken. Manusia jelmaan kulkas. Yang tak memiliki hati, layaknya tak ada yang mengisi makanan di dalam kulkas. Harus ada seseorang yang menyimpan makanan di dalamnya."

 

"Yeu ... Ngomong apa si tong?" ucap Reiza. Sambil menoyor kepala Gavriel hingga ke belakang. 

 

Kenzie merasa tak peduli dengan perkataan mereka bertiga. Toh, menurutnya tidak penting.

 

###

 

Ketika mereka sudah asik, dengan gadget masing-masing dan sedikit racikan toxic yang menguasai ruang lingkupnya. Tiba-tiba saja, suara kegaduhan terdengar di Indera pendengaran mereka. Begitu lantang suara itu, dan murid disini malah mempertontonkan aksi kegaduhan itu. Tanpa ada yang minat, untuk memisahkannya. Mereka berempat, mengikuti suara kegaduhan itu. Ternyata suara itu, berasal dari pintu utama untuk menuju keluar dari arah kantin.

Terlihat dua gadis, dimana salah satu gadis tersebut dengan gaya khas rambut ponytail itu menunduk dengan rasa ketakutan. Dan yang satunya lagi dengan rambut yang berwarna biru muda, dan baju yang sangat pas-pasan di tubuhnya itu sedang menahan amarah tercetak jelas dari raut wajah yang mulai memerah. 

 

"Mata lu buta, hah?!" tanyanya dengan penuh lantang. Kini mereka sudah menjadi bahan pertontonkan. Dan tanpa rasa malu, perempuan ini menyentak seseorang di hadapan beberapa murid.

 

"Maaf, saya tidak sengaja," cicitnya.

 

"Apa lo bilang?" gadis itu benar-benar sudah dikuasai dengan rasa amarah, hingga gadis itu mendekat, dan mencengkeram dagunya dengan kencang. Tatapan mereka bertemu, tetapi dengan tatapan yang menyalang tajam. 

 

Gadis dengan gaya rambut ponytail itu meremas rok abu-abu yang dipakainya. "Lo tau kan, kalau gue paling anti sama orang yang suka tumpahin minuman, di seragam milik gue. Dan, bodohnya hari ini lo lakuin." melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Gadis dengan rambut gaya ponytail itu menunduk, karena merasa takut dan malu dengan tatapannya. 

 

"Dasar manusia bodoh," ucapnya penuh dengan nada seringai. Baru saja, ia ingin menarik paksa tangan perempuan itu. Ketika ada seseorang, yang ikut menggenggam tangannya sebelahnya. Ia menoleh, tatkala tatapannya bertemu dengan lelaki dengan postur tubuh yang melebihi dirinya. Tatapan itu sama sekali datar dan tidak membuat dirinya merasa takut. 

 

"Lepasin!" ucap lelaki itu yang ikut menimbrung dengan nada suara yaang dingin.

 

"Ga usah ikut campur urusan gue!" sergahnya. Lalu, tanpa ada aba-aba lelaki itu melepaskan genggaman tangan dengan paksa. 

 

Kemudian, menarik tangannya dengan kencang, hingga si gadis dengan seragam sekolah yang terdapat noda itu pun hampir saja tersungkur di lantai. Jika, tadi ia tidak menjaga keseimbangannya dengan baik dan benar. 

 

Lelaki itu menyeret kan langkahnya sampai ke taman belakang sekolah. Yang tak jauh jaraknya dengan kantin. Berhenti tepat dengan tujuan, kemudian berbalik hingga menghadap perempuan itu. Melepaskan genggamannya dengan kasar, perempuan itu memberengut sebal sambil mengelus pergelangan tangannya yang sedikit kemerahan. 

 

"Dasar hama!" umpat perempuan itu karena merasa tak terima dengan perlakuannya yang tadi. Mengangkat sebelah alis mata, tanpa mengucapkan satu kata pun.

 

Kemudian, dengan rasa kesal yang menggerogoti dalam pikirannya. Ia menginjak sebelah kaki Kenzie, dan langsung melenggang pergi meninggalkan dengan rasa kekesalannya yang masih terpendam. 

 

==

Rachel Anindya Putri, gadis cantik yang sangat terkenal dengan kenakalannya. Rambut yang sengaja di cat warna-warni layaknya anak ayam yang dijual ketika waktu SD. Di tambah lagi, dengan kemeja sekolah yang sengaja di keluarkan. Saat ditanya kenapa tidak di masukan? Jawabannya sangat simple. Yaitu, gerah. 

 

Dan satu hal lagi, ia terkenal sebagai 'primadona sekolah'. Meski dengan kepintaran yang di bawah rata-rata, tetapi Ia bisa membuat orang-orang terdekatnya tersenyum kembali dengan aksi konyolnya. Meski keadaannya sendiri sangat berantakan, yang sulit untuk ditata rapi. 

 

Selain itu, ia memiliki nyali yang sangat besar. Tak tanggung-tanggung, apabila seseorang mengusik dirinya, maka akan mendapatkan risiko untuk bermain-main dengannya. 

 

Ya, bisa di bilang dengan kejadian yang di kantin.

Setelah rasa luapan amarahnya yang belum kelar, karena diganggu oleh manusia hama itu. Jadi sebagai pelampiasannya, ia jadikan tong sampah seperti bola. 

 

Menendang-nendang dengan keras, tak peduli dengan rasa sakit kakinya. Yang terpenting, rasa kekesalannya bisa hilang. Petugas kebersihan di sekolah ini saja sampai menggeleng-geleng kepalanya, tak percaya melihat kelakuan perempuan hampir mirip seperti laki-laki. 

 

Padahal, perempuan lebih dominan lemah lembut. Tetapi ini berbanding terbalik dari yang lainnya. 

 

"Akh ... sialan. Ganggu aja, kapan sih tuh bocah mati," gerutunya. Masih dengan menendang-nendang, tanpa menyadari kehadiran seorang pria yang berdiri di belakangnya dengan posisi istirahat ditempat.

 

"Widihh ... pintar sekali kamu ya!"

 

"Terima kasih untuk pujiannya, tapi sayangnya gue ga terpengaruh sama sekali," jawabnya dengan acuh. 

 

Pria itu melotot, saat muridnya mengacuhkan kehadirannya sekaligus mendengar jawabannya. Dengan rasa geram, pria itu langsung menjewer telinga Rachel dengan kencang. Rachel mengaduh kesakitan, lalu melirik siapa yang sudah menjewer telinganya. 

 

Ternyata, ia sudah tau siapa pelakunya. 

 

Pak Boni, dengan rambut yang sangat gondrong sekali. Hingga menyamai kegondrongannya dengan matahari. Bahkan di saat malam hari pun rambutnya tetap bersinar, layaknya seperti lampu LED. Dan tubuhnya yang sangat kurus kering. Hampir mirip seperti lidi. 

 

“Kamu ya, jadi anak kok bandel sekali. Tong sampah mau kamu jadikan bola. Hmm...?” dengan sengaja, beliau mengencangkan tenaganya untuk menjewer telinganya

Dan itu sontak, Rachel menjerit kesakitan. “Duh ... duh ... siapa juga yang mau jadiin tong sampah kaya bola. Orang tadi saya ga sengaja ngelihat ular di dalamnya. Mangkanya saya tendang-tendangin biar ularnya keluar. Kurang baik apa sih saya pak, sebagai murid teladan,” alibinya. Yang tak bisa masuk akal. 

 

“Jangan suka mengada-ngada kamu, mana mungkin didalam tong sampah sekolah kita ada ular. Sekarang juga kamu ikut bapak ke ruangan!”

 

“Mau ngapain pak?” tanya dengan pura-pura sok polos. 

 

“Ngajiin kamu!” sarkas pak Boni.

Subhanallah, sepertinya saya akan berhutang budi kepada bapak. Jika setan yang ada di dalam saya keluar. Nanti bapak saya kasih dorprize deh buat bapak yang spesial kaya martabak.”

 

“Jangan banyak bicara, cepat ikut saya!” Pak Boni pun menarik sebelah telinganya, hingga Rachel harus mengikuti pak Boni ke ruangan. 

 

'Harus sabar, titisan princess ga boleh menghujat yang sudah legenda.' ucapnya dalam hati.

 

===

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani