Profil instastories

Cerpen || Family Bobrok

Di sebuah desa di kota X, ada sebuah keluarga yang beranggotakan sepuluh orang. Sepasang suami istri, dan delapan anak-anaknya. Si suami yang di sapa Paksu dan si istri yang di sapa Butri. 

Paksu dan Butri memiliki anak yang masing-masing di beri nama, Nakta Putri ( anak pertama), Nakua Putri ( anak kedua), Angga Putra ( anak ketiga), Nakem Putri ( anak keempat), Nalima Putri (  anak kelima), Anam Putra ( anak keenam), Najuh Putri (anak ketujuh), dan Andel Putra (anak kedelapan). 

Suatu hari si anak bungsu atau Andel (9 tahun) terusik oleh Najuh (10 tahun). Terjadilah pertengkaran hebat di antara keduanya. Najuh dengan perkataan pedasnya dan Andel dengan amarah dahsyatnya. Seketika rumah Paksu dan Butri ribut akibat pertengkaran kedua anaknya yang masih kecil. 

"Lo tuh yang gak ada otak!" cecar Andel marah. 

"Idih dari pada Lo gak ada akhlak!" tuding Najuh tak kalah. 

"Apa Lo liat-liat? Mau mata Lo gue colokin?" tantang Andel kesal. 

Najuh tersenyum miring. "Ya bodo amat. Anak kesayangannya mommy," ledeknya. 

Tak lama kemudian datanglah Nakem si anak keempat (16 tahun). 

"Eh-eh Lo kok pada berantem?" tegurnya pada adik-adiknya. 

"Itu si bandel nge-gas!" lapor Najuh.

"Eh sorry, gue gak lagi ngendarain motor bleee," timpal Andel meledek. 

Kelakuan keduanya justru membuat Nakem tertawa. "Wkwk, lucu amat lu pada. Mau ngelawak? Yaudah gw antar ke Stand up comedy, deh." 

Kedua adiknya lantas meliriknya sinis. 

Tiba-tiba Paksu datang bersama Angga. 

"Ada apa ini ribut-ribut!" tegur Paksu. Angga yang berdiri di belakang Paksu mengeluarkan lidahnya meledek adiknya. 

"Si Najuh gangguin aku belajar Pa!" lapor Andel pada Paksu. 

"Najuh! Kamu tak akan bisa sukses jika orang lain kau rugikan. Sebab, kesuksesanmu tak akan berarti apa-apa tanpa di saksikan orang lain." Paksu menasihati anak perempuannya itu. 

Najuh menunduk. "Iya, Paksu." 

"Denger tuh kata papa, lagi pula kamu sukses sendirian tanpa di lihat siapapun sama aja gak sukses," timpal Angga menatap adik-adiknya. 

"Terus maksudnya 'kesuksesanmu tak perlu di perlihatkan orang lain cukup kau rasakan sendirian' itu maksudnya apa coba?" celetuk Nakem. 

"Itu artinya dia adalah orang yang gagal. Gak mungkin kau di katakan sukses tanpa orang lain melihat kesuksesanmu itu. Lagi pula menurut papa, orang yang mengatakan hal itu adalah orang kurang pintar yang tak tahu makna sosial." Paksu menjawab pertanyaan Nakem. Gadis itu mengangguk paham. 

...

Seperti itulah penyelesaian kasus keluarga Paksu dan Butri pada hari ini. Nantikan kasus mereka berikutnya.

:V

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani