Profil instastories

Cerpen "Demi Raga Yang Lain" Lengkap

 
Cerpen "Demi Raga Yang Lain" 
Karya : Ester Rahel Simamora
Alamat : Jalan Tigaras - Komp.HKBP SIPOLDAS
No WA : 085232498010
Kelas : 2 SMA

"Demi Raga Yang Lain"

Setelah 1 pekan mama dan papa bekerja akhirnya hari ini papa dan mama memiliki hari libur. Papa ku bekerja sebagai supir di suatu Rumah Sakit swasta dan mama ku bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di kota kami. Aku bangga kepada mereka, walauoub mereka selalu bekerja, mereka selalu ingat pada ku. Tak jarang ketika mereka memiliki waktu kerja yang padat (lembur), mama dan papa pasti membawakan ku makanan kesukaan ku yaitu martabak manis. Mereka akan membangunkan ku dan langsung memeluk ku erat. Namanya saja orangtua, tentunya ada rasa khawatir bila meninggalkan anaknya seorang diri di rumah.

Pada hari sabtu ini, papa dan mama membawa ku ke Bukit Indah Simarjarunjung yang tidak jauh dari kota kami. Kami berangkat pukul 7 pagi.Aku, mama dan papa sangat menikmati perjalanan kami. Di setiap perjalanan, aku selalu bercerita panjang pada mama dan papa tetap mendengar kan ku dan memberi respond pada ku sambil menyetir mobil.

Perjalanan pun terhenti. Ternyata kami sudah sampai. "Wow.. pemandangannya indah sekali". Kata ku seraya mengangkat tangan sambil perlahan keluar dari mobil. "Apakah kamu suka tempat ini Essly?".Kata papa yang masih berjalan untuk membayar tiket masuk .
"Suka paaa" . Kata ku sambil berlari menuju menara tertinggi di tempat itu. "Hei Essly tunggu mama". Teriak mama memanggil ku karena menuju menara tertinggi itu. Ternyata, menara itu sangat tinggi. Langkah ku pun ku hentikan karena aku tidak berani menaiki menara itu. Akhirnya, mama pun menemui ku dan papa berlari menghampiri kami. "Aduh, Essly , jangan seperti ini lagi yah, papa lelah berlari". Seru papa yang masih kelelahan. "Baik pa.Maaf". Ujar ku dengan penuh ketulusan.

Setelah papa sudah tidak kelelahan lagi , kami pun menaiki menara itu bersama sama. Dengan peralatan khusus, kami mendaki dengan penuh ketakutan dan kesenangan. Mama yang sedang membuat siaran langsung pun sudah mendahului aku dan papa. "Ayo.. Semangat". Seru mama sambil melambai ke arah kami dan langsung melanjutkan langkah nya. Aku pun semakin memaksa melangkahkan kaki ku yang kian lelah. Mama dan papa pun sudah sampai di puncak. Sekitar 3 meter lagi aku sampai, tiba tiba seorang pria yang di atas ku terjatuh. "Tolonggg" . Teriaknya dengan suara keras. Papa pun langsung melompat dengan tetap menggunakan perlengkapan khusus itu dan langsung memeluk pria itu. Papa pun membawa pria itu turun. Mamapun turun perlahan lahan sambil mendekap ku untuk membawa turun . Dengan wajah yang memerah bercampur sedih dan takut pria itu mengatakan terimakasih kepada papa. Dengan senyum sambil menepuk bahu pria itu papa menjawab "Iya.. sama-sama. Tetapi lain kali hati-hati. Sebenarnya saya sudah memperhatikan anda dari awal. Saya rasa anda tadi melamun yah?" Kata papa. "Iya pak". Ujar pria itu. "Kalau seperti itu, lain kali jika memang hati dan pikiran tidak mood maka jangan sekali kali ambil resiko tinggi seperti ini" Jawab papa dengan penuh perhatian.
Aku yang hanya mampu mendengarkan perbincangan mereka pun terdiam dan tetap membantu mama untuk memberikan pertolongan pertama kepada pria itu karena tangan sebelah kanannya terluka.

Setelah semua selesai, kami pun melanjutkan pendakian menara itu. Setelah papa,mama dan aku sampai secara bersamaan aku langsung berseru "Terimakasih Tuhan... Aku akhirnya bisa."
Mamapun melanjutkan siaran langsungnya dan papa asyik memperhatikan ke bawah dan ke atas sambil mengatakan "Ternyata tempat ini sangat tinggi yah ". Lalu ku jawab "Iya pa. Tapi, papa hebat . Papa bisa jadi superman. Papa pertaruhkan nyawa papa demi raga yang lain". dengan senyum manisnya papa menatap ku dan menjawab ku "Essly, apapun yang ada pada mu jika kamu bisa maka bantulah". Aku pun mengangguk dan mengatakan "Pa.. Ma... Menara ini adalah saksinya berjanjilah pada ku, jika pekerjaan mu itu sangat berbahaya jangan mau ambil resiko tinggi. Karena aku sayang pada kalian". ucapku sambi melihat ke wajah papa dan mama yang langsung menghentikan siaran langsungnya. Papa dan mama pun mengangguk seraya menunjukkan jari kelingkingnya menandakan mereka berjanji pada ku.

Setelah menara itu , kami pun melanjutkan perjalanan menuju Taman 1000 Cinta dan terakhir Resto and Cafe Simarjarunjung. Tidak beberapa lama di tempat itu, pengunjung sudah banyak berdatangan. Patutlah jika dikatakan tempat ini adalah Bukit Indah Simarjarunjung.

Sekitar pukul 15.00 kami pun pulang. Mama, Papa dan Aku sangat menikmati liburan hari ini. Tidak beberapa jauh dari Bukit Indah Simarjarunjung , perjalanan kami terhenti. Tampak di depan kami keramaian. "Ada apa ini" kata papa sambil menyetir mobil ke pinggir jalan. "Ma, Essly papa lihat dulu yah sepertinya ada yang terluka di sana" kata papa sambil turun dari mobil. Ternyata itu adalah kecelakaan yang menyebabkan tangan kanan si pengendara motor terluka dan kaki kiri si pejalan kaki terluka. "Ma... Essly... Bawakan kotak obat " teriak papa dari keramaian. Awalnya banyak orang datang melihat namun tidak menolong. Aku pun turut membantu mama membalut perban kepada si pejalan kaki dan papa mengobati si pengendara motor.

Setelah kami selesai mengobati, perjalanan pun di lanjutkan. "Ma... Pa.. Terimakasih karena sudah mengajarkan ku KASIH " kata ku sambil terus mengibgat kejadian itu. "Essly, ketika Kasih sudah kamu pahami maka lakukanlah" kata mama seraya mencubit dagu ku.

Tak terasa matahari semakin menjauh, kami pun sampai di depan rumah. Aku pun turun dan membuka gerbang rumah. Papa pun memasukkan mobil. " Baiklah karena kita sudah sampai, sekarang mandi , ganti bajunya lalu kita makan malam" kata mama dengan penuh perhatian. Makan malam kami berlangsung nikmat ada ayam goreng, telur sambal, ikan asin , tahu dan tempe, nasi putih dan air putih.

Setelah kami makan malam, aku langsung menuju kamar ku. " Pa.. Ma.. Aku duluan tidur yah" kata ku sambil mengantuk. "Iya .. Selamat malam" kata papa dengan penuh perhatian.
Tidak beberapa lama aku memejamkan mata, aku di bangunkan oleh mama. "Essly, mama kerja dulu yah". "Loh..kenapa? bukannya mama hari ini libur?" kata ku sambil merenggek. " Iya, tapi ini lagi keadaan genting. Di rumah sakit sudah banyak pasien yang belum ditangani. Ini mungkin karena virus baru yang mama lihat tadi di internet. Namanya virus corona. Jadi, kamu besok bangun sendiri, makan sendiri yah karena mungkin papa akan berangkat pagi pagi sekali dari rumah". Kata mama dengan nada lembut. "Baiklah mama. Mama hati hati yah". Jawab ku dengan wajah murung.

Pagiku pun datang, hari ju sudah di mulai dengan rasa sepi. Tidak ada yang membangunkan ku. Tidak ada yang menghidupkan lagu rohani di rumahku. Dan tidak ada bunyi kuali dari dapur. Semuanya sunyi senyap. Akupun bergegas untuk ke sekolah. Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah aku berdoa " Tuhan kepada Mu ku serahkan jiwa raga kami. Amin" ucap ku dengan penuh ketulusan.

Suara Robin pun terdengar memanggil ku "Essly... Essly". Akupun langsung mengunci rumah dan berlari menuju Robin. "Maaf yah.. " kata ku . Robin atau adalah teman dekat ku dari mulai kecil. Aku sering memanggilnya Robin ataupun Robincon. Papa dan mama nya bekerja sebagai dokter. "Ro... apakah semalam orangtua mu ada di rumah?" tanya ku dengan penuh perhatian sambil berjalan menuju sekolah yang tidak jauh dari rumah. "Tidak Essly.. Orangtua mu? Pasti pergikan? yah ini memang karena Covid-19 yang kian mewabah".Ujar Robin. "Iya Ro.. Tapi, ya sudahlah namanya saja pejuang medis. Artinya mereka harus siap siaga untuk kesehatan raga yang lain". Ucap ku .
Sesampainya di sekolah, kami belajar dengan baik. Dan pelajaran di sekolah selalu membahas tentang covid -19 . Baik itu matematika, fisika, kimia, bahasa, sejarah dan penjas.

Proses pembelajaran pun selesai. Seluruh siswa/i SMA Sw YP Ester kembali kerumah dan kami di liburkan hingga suasana kondusif karena virus corona dengan catatan melakukan proses belajar mengajar online. Aku tidak suka hal ini. Ketika waktu menunjukan pukul 16.00 aku pergi kursus. Ternyata sama halnya dengan sekolah ku. Kami di liburkan. Aku berpikir, sebegitu kejamnya virus ini pada hidup ku.

Ketika matahari sudah mulai menghilang, mama dan papa belum pulang juga. Padahal jika mereka seperti ini pasti salah satu dari mereka pun akan memvideo-call aku. Tak ku pungkiri, HP Huawei berwarna hitam ku pun berdering. Itu video-call dari mama.
"Hello.. Essly... mama dan papa haru ini tidak pulang karena banyak pasien yang harus di tolong. Ok Essly? mama lanjut kerja dulu yah". Kata mama sambil menutup pembicaraan kami dengan wajah sedih dan berusaha tetap tersenyum. Aku pun mengerti maksud mama. Namun, tak beberapa lama mataku pun mulai berkaca-kaca dan akhirnya mengeluarkan air mata. "Ma.. Pa... Aku sayang kalian.. Tuhan lah yang menyertai mu..". Teriak ku sambil menangis tersedu-sedu. Tak ku pungkiri, teriakan ku terdengar ke rumah Robincon. "Essly...". Teriak Robincon sambil berlari menjumpai ku. " Kamu kenapa? Ada masalah? Tak seperti biasanya kau seperti ini, ada apa?". Tanya Robincon yang terlihat berusaha menenangkan ku. "A.....a.....k...u... sangat ingin menjumpai orang tua ku". Ucapku dengan gagap." Loh, emang ada masalah? orang tua kita sekarang lagi berjuang Essly. Berjuang menolong banyak orang. Lihat.... lihat berita itu ( sambil menunjuk TV yang sedang memberitakan kabar terkini mengenai Covid-19) mereka berjuang demi raga yang lain. Seharusnya kamu bangga dan berdoa. Kamu jangan egois. Tuhan mengerti keadaan mu. Kamu harus kuat. Jangan lemah. Dimana Essly yang biasanya?". Ucap Robincon sambil memukul pundak ku. Setelag mendengar perkataan Robincon, aku pun mulai menerima keadaan ku. "Terimakasih Robincon". Kata ku dengan senyum sambil menghapus air mata ku.

Ke esokan harinya mama pun memvideo-call aku. "Essly, kamu sedang apa? Jangan keluar keluar yah.. Kalau kamu bosan ke rumah si Robincon aja". Ucap mama. "Iyah mama... Essly sedang memasak kue. Mama dan Papa semangat kerjanya yah. Ingat pesanku di BIS kemarin yah..". Kata ku dengan senyum". "Iya... Udah dulu yah... byee". Ucap mama sambil menutup telepon.
Tak beberapa lama, Robincon datang dan membawakan ku bubur kacang hijau. " Essly, ini aku bawa bubur. Ini aku yang buat dan di pastikan tidak ada Covid-19 disini". Ucap Robincon sambil tertawa. "Terimakasih Ro". Ucapku dengan senyuman.
Setelah aku menghabiskan bubur kacang hijau, kami pun membuat tempat cuci tangan umum di tengah tengah rumah kami. Setelah itu, kami menghabiskan waktu dengan membaca, menonton, bernyanyi dan memasak. Aku suka itu semua..
Setelah beberapa hari berlalu akupun sudah lebih mengerti dan menerima keadaan ku.
Ternyata banyak orang yang memberikan perhatian lebih hanya untuk raga yang lain. Dan itu adalah pekerjaan yang mulia.
Contohnya adalah aku dan pasien covid-19. Terimakasih para pejuang Covid-19 kaulah pahlawan kami dan Allah tetap Pahlawan Agung Kita.
 
 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani