Profil instastories

Cerpen_Ayat Penyemangat

Kata orang... semester lima merupakan semester yang paling menjenuhkan. Semester yang membuat para mahasiswa berjalan seperti mayat, otak dipenuhi oleh tugas-tugas yang belum sempat dikerjakan, organisasi mulai menuntut dedikasi penuh, dosen dikelas mulai memanas dan lihat postingan dia dengan yang lain hati semakin panas. Hmmm... aku sedang berada pada fase itu. Fase dimana ingin ku katakan bahwa aku lelah untuk memenuhi semua tuntutanmu wahai dunia.

“Ya Allah... cabut saja nyawaku ini” kalimat itu sering terlintas dalam benakku ketika merasa lelah akan tuntutan dunia yang fana. Berkali-kali aku bermimpi dan mencoba mewujudkannya, berkali-kali aku gagal dan selalu mendapat hinaan. Aku bingung, kenapa begitu sulit langkah untuk mewujudkan mimpi. Aku mulai banyak merenung, sampai di suatu malam aku bertemu dengan sosok perempuan yang ramah dan wajahnya sangat sejuk untuk dipandang. Dia bernama Rahma, terlintas beberapa pertanyaan dalam benakku: “Apakah dia salah satu bukti kasih sayang Allah? Apakah dia yang Allah kirimkan untuk membantu mengatasi segala kebingunganku? Apakah dia yang dapat membangkitkan semangat selain kedua orang tuaku?” dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya ingin ku dapatkan jawabannya pada malam itu.

Aku dan Rahma saling berbincang-bincang mengenai diri masing-masing. Kita saling bertukar kontak whatsapp. Ternyata usianya empat tahun lebih tua dariku. Mulai saat itu aku memanggilnya dengan sebutan kakak. Malam sudah semakin larut, memaksaku untuk mengakhiri perbincangan dengan kak Rahma.

Sejak pertemuan di malam itu aku dan kak Rahma sering chattingan.  Menurutku dia adalah sosok wanita sabar, wanita yang telah ku anggap sebagai  kakak saat merantau di kota kembang. Dia selalu mengingatkan ketika aku telah jauh dari Allah, dia sering mengingatkan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Satu nasehat yang selalu terngiang ditelingaku, saat dia mengatakan: “Allah tidak memberi semua keinginanmu bukan karena Allah tak sayang, justru Allah lebih tau kebutuhanmu. Coba bayangkan ketika adikmu yang masih kecil meminta ice cream, apakah akan kamu berikan? Padahal kamu tau jika diberikan ice cream mungkin dia akan batuk dan itu tidak baik untuknya. Apakah memberikan ice cream dan membiarkannya menjadi batuk itu merupakan kasih sayangmu padanya? Kamu sudah dewasa, kamu pasti mengerti maksud kakak”. Setelah mendengar nasehat itu, pikiranku mulai terbuka, hatiku menjadi lapang dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain, aku belajar bersyukur atas karunia dan nikmat-Nya yang selama ini mungkin terabaikan olehku.

Kamis, 28 Februari 2019... sahabat dan kerabat banyak yang mengucapkan Happy Birthday, padahal aku lahir tanggal 29 Februari 2000, dan tanggal 29 Februari ini hanya ada empat tahun sekali dan dikenal dengan tahun Kabisat. Pada hari itu, kak Rahma juga memberikan kado padaku. Kadonya berisi sajadah dan lima ayat penyemangat yaitu Q.S. Al-Baqarah ayat 45-46, 207-208, dan 216. Aku diberi amanat untuk membaca tafsirnya. Jika telah paham, dia memintaku untuk mendiskusikan hasil pemahaman dan hikmah apa saja yang didapatkan setelah membaca tafsir ayat-ayat ini. 

Setelah membaca Q.S. Al-Baqarah ayat 45-46, 207-208, dan 216 dalam tafsir Fi Zilalil Qur’an aku memahami bahwa kelima ayat ini merupakan ayat penyemangat ketika aku merasa begitu sulit untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan berjuang meningkatkan kualitas hidup selama merantau. Aku harus berjuang membahagiakan kedua orang tuaku dan ingin membantu mewujudkan mimpi mereka pergi ke Baitullah. Aku bingung bagaimana caranya mendapatkan uang, sedangkan aku sendiri masih mendapat transferan dari mereka.

Aku mulai mencari pekerjaan yang sekiranya tak mengganggu perkuliahan. Menjadi pegawai catering, reseller makanan ringan dan kerudung, guru privat, melamar menjadi asisten praktikum tetapi ditolak, mengikuti lomba karya tulis ilmiah dan lomba-lomba menulis lainnya. Aku sadar ternyata untuk mencari rupiah membutuhkan perjuangan yang cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran. 

Ada satu fase dimana aku merasa tak sanggup untuk memegang amanah yang telah Allah beri dan mempertahankan pintu rezeki dari-Nya. Sakit kepala yang telah ku alami selama 5 tahun ternyata semakin memburuk dan menggangguku dalam menjalani aktivitas. Aku sering tak mengikuti perkuliahan karena sakit kepala ini membuatku sulit untuk memahami materi-materi kuliah, ketika kambuh rasanya ingin ku benturkan kepalaku dengan tembok. Tetapi, aku teringat kembali dengan intisari kelima ayat yang telah kupahami. Allah mengajariku untuk tetap sabar, berjuang dan selalu positif thinking atas segala ketentuan-Nya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.