Profil instastories

Kusuma Yanuwar Dani, lebih akrab di panggil Dani tapi orang rumah biasa memanggilnya dengan sebutan Goday. Lahir di Cirebon - Jawa Barat pada tanggal 31 Oktober 2002. Saat ini ia adalah siswa di SMK MUHAMMADIYAH LEMAHABANG sebagai siswa kelas XII di Jurusan Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM). Ia alumni dari SMP NEGERI 1 LEMAHABANG & SD NEGERI 2 BELAWA. Saat ini ia tinggal di Desa Belawa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon. Lebih jelas bisa cek media komunimasi di bawah.☟ Facebook : Kusuma Yanuwar Dani Instagram : @goday311002 YouTube : 1. Dani Goday Creator 2. Dani Goday Email : kusumayanuwardani@gmail.com

Cerpen | Aku Bodoh

Udara pagi terasa begitu menyegarkan, dinginnya udara pagi begitu menusuk tubuhku. Hari itu hari pertama aku memulai pelajaran setelah seminggu menjalani masa orientasi yang begitu melelahkan. Seketika ibu membangunkanku dari tidur yang nyenyak ini.

“Anton, bangun nak kamu harus mandi dan berangkat ke sekolah.” Ujar Ibu.

Aku tak bergerak sedikit pun untuk bangun dari tidurku. Ku tengok jam dinding di kamarku.

“Ah, masih jam 5 pagi juga.” Ujarku kesal.

Ibuku memang sangat disiplin masalah waktu, tak heran jika ibuku suka membangunkan anak-anaknya begitu pagi, bahkan ketika fajar belum menampakkan sinar merahnya. Aku pun tertidur lagi dengan selimut tebal yang menyelimuti tubuhku. Namun sekitar 10 menit kemudian, tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Aku kaget dan langsung buru-buru mandi untuk bersiap-siap berangkat sekolah.

“Alhamdulillah, Ibu tidak marah padaku.” Ucapku dalam hati.

Seusai mandi, aku langsung memakai seragam sekolahku yang kemarin baru ku ambil di penjahit seberang komplek itu. Sambil berkaca, dalam diri aku berkata. “Keren juga seragam ini, pas dipakai di tubuhku.” Setelah sekian lama merapikan seragam yang kupakai di tubuhku ini, tiba-tiba dari luar kamar ibu memanggilku lagi.

“Anton, apa sudah ganti bajunya? Ibu sudah siapin sarapan buatmu.” Panggil Ibu.

“Iya Ibu, Anton segera keluar.” Jawabku.

Tanpa menunggu lama, aku bergegas keluar menuju ruang makan. Aku menyantap makanan dengan begitu lahap, apalagi saat itu ibu memasak makanan favoritku, nasi goreng. Kini, perutku terasa sudah kenyang, lantas aku langsung berpamitan kepada ibu untuk berangkat sekolah. Tidak lupa ku pasang sepasang sepatu hitam kesayanganku. Aku berangkat dengan menaiki angkot, maklumlah waktu itu aku tidak memiliki SIM sehingga aku tak berani membawa sepeda motor sendiri. Tepat pukul 06.00, ku melangkahkan kakiku keluar menuju jalan raya tempat menunggu angkot itu.

Setelah tiba di sekolahku yang terletak di sebelah selatan hotel berbintang itu, ternyata jam masih menunjukkan pukul 06.10 WIB. Cepat sekali abang supir angkot mengantarku sampai ke sekolah. Aku tak langsung memasuki kelas, karena memang saat itu aku belum tau aku masuk kelas mana. Ku duduk di bawah rindangnya pohon beringin di halaman sekolah. Ku pandangi setiap siswa dan siswi yang melintas di halaman sekolah. “Cantik-cantik jiga siswi-siswi disini.” Gumamku dalam hati.

Seketika aku melihat sesosok wanita, ku taksir tingginya sekitar 150 cm, lebih rendah dari aku sedikit. Wajahnya memang tidak begitu cantik, namun parasnya begitu menarik. Dia begitu manis, ingin rasanya aku berkenalan saat itu, namun rasa maluku untuk berkenalan mengalahkan hasrat dan keinginanku untuk berkenalan dengannya. Hingga dia benar-benar hilang dari pandangan mataku sebelum aku benar-benar tau siapa nama dia sesungguhnya.

“Ah, bodohnya diriku ini, menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan wanita semanis dia.” Ujarku penuh penyesalan.

Tiba saatnya pengumuman pembagian kelas yang ditempel di mading sekolah. Tak perlu menunggu lama, aku sudah menemukan namaku dalam daftar siswa di kelas tersebut dan aku langsung bergegas menuju kelas. Ketika aku sampai di pintu kelas, seketika aku terkaget. Aku berpapasan dengan wanita manis yang tadi ku ingin ajak berkenalan.

“Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik ini lagi.” Pikirku dalam hati.

Dalam kecamukan dan keraguan di dalam diriku akhirnya aku berani berkenalan dengannya, meskipun dengan suara terbata-bata aku berkata padanya.

“Ehmmm… Hai.” Ujarku.

“Hai juga.” Jawabnya penuh keceriaan.

“Kalau boleh tau siapa namamu dan dari kelas mana kamu berasal?” Tanyaku penasaran.

“Namaku Putri.” Ucapnya sembari memberikan senyum manisnya padaku.

“Oh ya, aku dari kelas ini.” Tambahnya.

Beruntungnya dan betapa senangnya bisa sekelas sama dia. Entah mengapa Putri begitu berbeda di mataku. Dia memang terlihat sederhana, tetapi dia sungguh berbeda. Tidak ada wanita semanis dia, tidak ada wanita selucu dia. Dia benar-benar berbeda. Aku sangat kagum padanya.

Dalam lamunanku tiba-tiba bel masuk sekolah yang begitu nyaring membuyarkan lamunanku seketika. Aku pun langsung bergegas mencari kursi kosong di kelasku. Beruntung, masih tersisa satu kursi kosong tepat di bangku pojok kanan depan meja guru itu. Lantas aku langsung duduk di sebelah seorang laki-laki, lebih tinggi dariku dan juga lebih gemuk dariku. Sebelum guru benar-benar datang ke kelas, kita sempat untuk saling berkenalan. Walaupun sama-sama malu untuk berbicara.

Guru pun datang dan memperkenalkan dirinya ke hadapan murid-muridnya. Pak Aris, seorang guru matematika di kelasku. Meski baru pertama mengajar, beliau telah membuatku mati gaya. Bagaimana tidak, aku dibuat malu di hadapan teman-teman sekelas. Memang salahku, aku terlalu memperhatikan senyum manis si Putri hingga tidak sadar Pak Aris memanggilku berkali-kali. Aku disuruhnya mengerjakan soal matematika di papan tulis.

“Sulit sekali ini soal, profesor saja tidak mungkin bisa ngerjakan.” Pikirku dalam hati.

Memang dasarnya sih aku ini tidak bisa dan malas berurusan dengan pelajaran, tidur di rumah sambil menikmati santapan kue kering buatan ibu itu lebih menyenangkan.

Aku tak terlalu memikirkan kejadian itu, ketika bel pulang aku langsung pulang menaiki angkot ke rumahku tanpa singgah kemana-mana. Saat pulang masakan ibu yang selalu aku rindukan.

“Pasti Ibu sudah menyiapkan nasi goreng nih buat aku. Yummyyy…” Ujarku sambil membayangkan nasi goreng itu.

Dan benar saja, ibuku menyambutku dan mengatakan telah menyiapkan nasi goreng favoritku.

“Anton, ganti baju dulu terus cuci tangan dan kakimu, Ibu sudah siapin masakan favoritmu.” Ujar Ibu.

“Siap Ibu.” Kataku membalas ucapan ibu.

Kita pun menikmati nasi goreng bersama. Namun tak seperti biasanya, kini tiba-tiba aku kepikiran si Putri lagi.

“Apa dia sudah pulang ya? Dia pulang sama siapa? Bagaimana kalau dia kenapa-napa di jalan?.” Tanyaku dalam hati sembari melamun.

Tak sesendokpun nasi goreng yang aku makan. Hingga ibu memanggilku dan mengagetkanku.

“Anton! Kenapa kamu bengong? Kamu sakit? Apa nasi gorengnya tidak enak?” Tanya Ibu.

“Ti.. ti... tidak kok bu, Anton tidak apa-apa.” Jawabku dengan terbata-bata.

Memang saat itu entah mengapa aku jadi tidak enak makan, pikiranku dipenuhi Putri, Putri dan Putri.

Selesai...

@goday311002

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani