Profil instastories

Centang Biru

Centang Biru

Oleh: Cicci Ayata

 

 

'PUTUS!'

Mata gue berbinar membaca status yang baru saja diunggah oleh Yasmin, adik kelas gue. Calon pacar. 

Hanya satu kata tapi bikin gue sampai jungkir balik di ranjang. Tertawa, ciumin layar handphone berkali-kali. Sumpah, gue baru pertama kali sebahagia ini dan itu di atas penderitaan cewek yang gue suka.

Saat ini Yasmin pasti sangat sedih, namanya juga baru putus bakal ada drama nangis-nangisnya. Langsung ingin menawarkan bahu untuk do'i bersandar. Tetapi, itu hanya halu. Kenyataannya gue tidak pernah berani dekatin Yasmin secara terang-terangan. Malu, kalau gue sampai nongol di kolom komentarnya, Dibaca banyak orang, apalagi sebagian teman facebooknya adalah tetangga gue. Lewat inboks? Udah pernah nyoba tapi dicuekin.

Baru dua menit statusnya diunggah, kolom komentarnya sudah dibanjiri sebagian besar kaum buaya darat. Sementara gue, hanya bisa menatap. Payah.

"Abuu!" teriakan Emak menghentikan drama batin gue.

Gue menyahut dan bergegas menemui emak. 

"Tolong beliin soptek di warung." 

"Shiap, Mak," kataku sembari memutar badan hendak balik ke kamar. 

"Mau ke mana, Lu? Uangnya ada di sini." 

"Bentar doang, Mak." 

Gue bergegas ganti baju, rambut yang berantakan gue sisir rapi, tak lupa pakai parfum. Dua menit ngaca di depan cermin, buat mastiin wajah gue terlihat tampan sampai emak teriak berulang-ulang.

Semenjak jatuh cinta sama Yasmin anaknya Haji Dulloh yang punya toko sembako di kampung sebelah. Gue jadi rajin banget disuruh sama emak, biasanya juga ogah-ogahan. Gue bela-belain jalan jauh buat beli di warung bapaknya Yasmin padahal ada tiga warung yang gue lewatin.

Cinta memang bisa bikin orang jadi tidak waras.

"Ya Allah, Abuzar bin Mahmud! Emak cuman suruh ke warung bukan ke kondangan. Ngapain pake parfum banyak banget," sahut Emak yang berdiri di depan pintu.

Wanita yang kusebut sebagai pahlawanku itu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya seperti mencium bau busuk saja. Padahal wangi parfum gue itu.

"Emak kaya gak pernah muda saja. Abu lagi berusaha memperjuangkan cita-cita," sahut gue. Memainkan alis membuat bibir Emak miring. 

"Cita-cita apaan, cuman beli soptek doang di warung," katanya. 

Wanita berusia 47 tahun itu beringsut menghampiri gue, menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Kata almarhum abah. Cita-cita kudu diperjuangin. Nah, sekarang Abu lagi berjuang buat dapetin hati calon mantunya Emak."

Emak langsung mengusap kasar wajah gue.

"Ngimpi lu, sekolah aja belum kelar." 

Gue tertawa melihat ekspresi wajah wanita yang sudah melahirkanku itu. Sehat terus mak. Panjang Umur. 

-----

Dari mulai ke luar rumah sampai mendekati toko, gue terus hapalin ‘soptek’ biar tidak salah beli. Seperti waktu itu, disuruh beli garam malah beli terasi. Entah kenapa setiap ada di dekat Yasmin gue langsung lupa segalanya.

Tiba-tiba napas gue tak beraturan, dada berdegup tak seperti biasa melihat do'i berdiri di depan toko sedang mengatur barang.  Gue berusaha untuk terlihat santai meski rasanya jantung mau bergeser dari tempatnya. 

"Pp-pak hajinya ada?" 

Cewek berambut sepinggang itu menengok, menyungging senyum membuat hati gue kembali meleleh. 

"Oh, abah lagi keluar. Ada perlu apa ya?"

"Eh, anuh, cuman mau beli soptek." 

Gue jawab sembari garuk-garuk kepala.

Dia cekikikan memperlihatkan lesung di kedua pipinya yang halus tanpa jerawat. Tiba-tiba terasa ada angin sepoi-sepoi di sore yang panas saat melihatnya tertawa. Adem. 

Mata gue terpaku pada kertas yang menempel di tembok bertuliskan nomor whatsapp yang bisa dihubungi. Tak membiarkan kesempatan lewat begitu saja, gue diam-diam ambil handphone lalu mengetik dua belas digit itu dan menyimpannya.

-----

Sepanjang jalan pulang gue merutuk. Kalau gue tahu soptek itu adalah pembalut cewek, mana mau gue beli di tokonya Yasmin. 

Benar-benar apes, giliran diladenin Yasmin malah beli soptek. Malu kan gue! Ah Emak ada-ada saja. 

-----

Sudah tiga jam gue menatap layar handpone. Ketik 'malam' terus hapus lagi, ketik lagi hapus lagi. Berulang-ulang, sampai jarum panjang jam di dinding menunjuk angka sebelas.

Satu

Dua

Tiga

Akhirnya jempol gue tekan tombol kirim. Buru-buru handpone gue selipin di bawah bantal. Deg-degan. Menunggu selama dua menit, gue intipin lagi layar handphone masih centang satu. Sepertinya Yasmin sudah off.

-----

Sudah lima hari gue kirim chat setiap malam ke Yasmin, jangankan dibalas dibaca saja tidak. Hanya ada centang dua berwarna abu-abu. Artinya chatnya sudah sampai. 

'Ini gue, Abu. Gue pengen ngomong sesuatu sama kamu. Gue tunggu malam minggu di depan jalan dekat tokomu. Jam 8.' 

Kali ini gue ngetik pesan panjang, biasanya hanya satu kata. Dengan modal nekat gue tekan tombol kirim. Rasa malu kutanggalkan sejenak demi rasa yang tak bisa gue bendung lagi. Kalau pun ditolak, setidaknya gue sudah berusaha ungkapin perasaan. 

Tak menunggu lama pesan yang terkirim bercentang biru. Gue kucek mata berulang-ulang memastikan kalau ini nyata. 

Jangan tanya perasaan gue seperti apa melihat centang biru itu. Kakiku seolah tidak napak lagi di lantai. Gue melompat kegirangan, mencium handphone lama sampai bibir tebal gue panas. 

Baru centang biru saja gue senangnya bukan main, bagaimana kalau dibalas? Mungkin jantung gue sudah berpindah ke usus. 

Sebelum tidur tak lupa pasang alaram pukul 04.00 pagi. Gue sudah terlanjur berjanji kalau pesannya centang biru, gue akan puasa. 

-----

Gue mengenakan baju andalan, kemeja berwarna biru motif kotak-kotak lengan panjang yang gue lipat agak ke atas. Rambut gue pakaikan minyak rambut agar terlihat rapi. Tak lupa memakai sepatu kesayangan.

Berkali gue berkaca, mencari sosok tampan di cermin tapi tetap saja hanya wajah pas-pasan gue yang ada di sana. Tapi tidak apa, malam ini kepercayaan diri gue meningkat berpuluh kali lipat. 

-----

Suasana agak remang-remang, lampu jalan yang cuman satu-satunya rusak, hanya mengandalkan cahaya bulan berbentuk sabit.

Gue beridiri agak gusar, melirik benda berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan menunjuk pukul 08.05 malam. Lewat lima menit doang tidak masalah, gue yakin dia pasti datang meski chat gue tidak dibalas.

Gila! Tangan sampai keringatan. Ini pertama kalinya gue mau menyatakan cinta ke cewek. Apa lagi sama Yasmin, di sekolah saja gue enggak pernah berani bertegur sapa.

Derap kaki yang menginjak jalan bebatuan terdengar. Ritme jantungku langsung tak beraturan. Seperti gendang yang dipukul asal. 

Gue merogoh saku celana, mengambil handphone berpura-pura sibuk dengan benda pipih itu sembari mengatur napas. 

"Ehm ...." Dia berdehem. 

Gue langsung balik badan melihat dia si calon pacar datang.

"Ha-haji Dulloh?" 

 

 

***

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani